Kesehatan

28 Mei 2021

Demam Kelenjar Pada Anak: Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Demam kelenjar ditularkan melalui air liur yang mengandung virus
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Dalam dunia medis, demam kelenjar pada anak dikenal juga dengan istilah mononukleosis. Penyakit menular ini memang lebih sering dialami oleh remaja dan orang dewasa, tapi tidak menutup kemungkinan menyerang anak usia sekolah dasar.

Untuk melindungi Si Kecil dari demam kelenjar, silakan simak dulu informasi yang sudah kami rangkum berikut ini ya, Moms.

Gejala Demam Kelenjar pada Anak

Demam Kelenjar Pada Anak Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya 1.jpeg

Foto: baby-chick.com

Mengutip penjelasan dari Health Direct, sebagian besar anak yang mengalami demam kelenjar tidak menunjukkan gejala yang dramatis dan terkadang mirip seperti demam biasa.

Namun pada beberapa kasus, demam kelenjar pada anak bisa disertai beberapa gejala yang muncul secara bertahap, seperti demam, tubuh terasa lemas dan lelah, sakit tenggorokan, ruam merah di kaki atau tangan, kelenjar getah bening membengkak, serta nyeri di perut.

Gejala lainnya yang mungkin menyertai demam kelenjar, yaitu perasaan tidak enak badan, otot sakit, panas dingin, berkeringat, kehilangan selera makan, dan nyeri di sekitar atau di belakang mata.

Tak hanya itu, amandel bengkak dan kelenjar gondok (gumpalan kecil jaringan di belakang hidung yang dapat mempengaruhi pernapasan, bagian dalam tenggorokan menjadi sangat merah dan mengeluarkan cairan, bintik-bintik merah atau ungu kecil di langit-langit mulut, hingga penyakit kuning (menguningnya kulit dan bagian putih mata) juga dapat menjadi gejala demam kelenjar.

Baca Juga: Mengenal Hiperbilirubinemia pada Bayi, Penyebab Penyakit Kuning pada Bayi

Sebagian besar gejala demam kelenjar biasanya akan sembuh dalam dua atau tiga minggu.

Tenggorokan akan terasa paling sakit selama tiga hingga lima hari setelah gejala dimulai sebelum berangsur-angsur membaik, dan demam biasanya dapat berlangsung 10 hingga 14 hari.

Menariknya, rasa lemas dan lelah akibat demam kelenjar ternyata bisa berlangsung selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan lho, Moms.

Jika Si Kecil mengalami satu atau lebih dari gejala, sebaiknya Moms segera membawanya ke dokter untuk memastikan demam kelenjar dan cara pengobatan yang tepat.

Selain riwayat kesehatan lengkap dan pemeriksaan fisik anak, diagnosis mononukleosis biasanya didasarkan pada gejala yang dilaporkan. Namun, diagnosis dapat dipastikan dengan tes darah tertentu dan tes laboratorium lainnya, termasuk jumlah sel darah putih dan tes antibodi.

Baca Juga: Tidak Selalu Demam, Ini 5 Penyebab Kepala dan Tubuh Bayi Terasa Panas

Penyebab Demam Kelenjar pada Anak

Demam Kelenjar Pada Anak Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya 2.jpeg

Foto: thekitchn.com

Demam kelenjar, baik pada anak maupun dewasa, disebabkan oleh infeksi virus Epstein-Barr, yang ditularkan melalui air liur. Karena pada orang dewasa sebagian besar penularan terjadi melalui ciuman, demam kelenjar juga sering disebut sebagai kissing disease.

Sedangkan penularan virus penyebab demam kelenjar pada anak umumnya terjadi karena berbagi sendok, garpu, dan peralatan makan maupun terkena cipratan air liur dari bersin atau batuk dari orang yang sudah terinfeksi.

Infeksi kemudian masuk ke sel darah putih sebelum menyebar melalui sistem limfatik.

Setelah infeksi berlalu, penderitanya akan mengembangkan sistem kekebalan seumur hidup terhadap virus dan sebagian besar tidak akan menunjukkan gejala lagi.

Baca Juga: 6 Makanan Sehat yang Bantu Lawan Infeksi Virus

Banyak orang pertama kali terpapar EBV selama masa kanak-kanak, ketika infeksi menyebabkan sedikit gejala dan seringkali tidak dikenali sebelum akhirnya berlalu.

Sementara pada orang dewasa muda, mereka mungkin paling berisiko terkena demam kelenjar karena mereka mungkin belum terpapar virus saat mereka masih muda, dan infeksi cenderung menghasilkan gejala yang lebih parah saat seseorang tumbuh lebih tua.

Selain EBV, cytomegalovirus dan rubella, kadang-kadang disebut campak Jerman, juga dapat menyebabkan demam kelenjar.

Selain itu dikutip dari Medical News Today, seseorang mungkin dapat mengalami gejala serupa demam kelenjar jika mereka memiliki toksoplasmosis, infeksi parasit.

Baca Juga: 4 Perawatan di Rumah yang Bisa Dilakukan Saat Anak Demam

Pengobatan Demam Kelenjar pada Anak

Demam Kelenjar Pada Anak Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya 3.jpg

Foto: medatrio.com

Menurut National Health Services, sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan demam kelenjar pada anak. Moms cukup menjaga asupan makanan dan kualitas istirahat Si Kecil hingga tubuhnya kembali pulih seperti sedia kala.

Selain itu, Moms mungkin bisa melakukan beberapa hal di bawah untuk membantu mengontrol gejala:

1. Cairan

Penting untuk minum banyak cairan (sebaiknya berikan anak air putih atau jus buah tanpa pemanis) untuk menghindari dehidrasi ketika mereka mengalami demam kelenjar.

2. Obat penghilang rasa sakit

Obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti parasetamol atau obat antiinflamasi non steroid (NSAID) seperti ibuprofen, dapat membantu mengurangi nyeri dan demam.

Anak-anak di bawah 16 tahun sebaiknya tidak mengonsumsi aspirin karena ada risiko kecil hal itu dapat memicu kondisi kesehatan langka namun serius yang disebut sindrom Reye.

Baca Juga: Benarkah Aspirin Memicu Cepat Hamil?

Berkumur secara teratur dengan larutan air hangat dan asin juga dapat membantu meredakan sakit tenggorokan.

3. Beristirahat

Si Kecil harus banyak istirahat selama pemulihan dari demam kelenjar, meskipun istirahat total tidak disarankan karena dapat membuat kelelahan berlangsung lebih lama.

Bantulah anak untuk meningkatkan aktivitas secara bertahap saat tingkat energi mereka kembali, tetapi hindari aktivitas yang membuat mereka merasa tidak nyaman, Moms.

4. Perawatan Rumah Sakit

Kebanyakan penderita dapat sembuh dari demam kelenjar di rumah, tetapi perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan selama beberapa hari jika anak Moms mengalami hal ini:

  • Mengalami napas serak (stridor) atau mengalami kesulitan bernapas
  • Merasa sulit menelan cairan
  • Mengalami sakit perut yang hebat

Perawatan di rumah sakit mungkin melibatkan pemberian cairan atau antibiotik langsung ke pembuluh darah (intravena), suntikan kortikosteroid dan pereda nyeri.

Biasanya, anak yang sudah pernah tertular virus Epstein-Barr menjadi kebal dan tidak akan mengalami demam kelenjar lagi saat dewasa nanti. Meski ada beberapa kasus demam kelenjar yang berulang, umumnya terjadi dalam waktu satu tahun setelah infeksi pertama.

Baca Juga: Jenis-jenis Demam Pada Anak yang Harus Kita Tahu

Komplikasi Demam Kelenjar

komplikasi demam kelenjar pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Melansir Everyday Health, anak-anak cenderung berisiko lebih tinggi mengalami masalah yang lebih serius ini jika tidak mendapatkan istirahat, mengikuti anjuran dokter, atau justru melanjutkan aktivitas normal terlalu cepat.

Beberapa kondisi tersebut mungkin dapat menyebabkan Si Kecil mengalami komplikasi di bawah ini:

  • Pembengkakan Limpa

Mononukleosis atau demam kelenjar yang parah dapat menyebabkan pembengkakan pada limpa.

Hal ini dapat meningkatkan risiko kerusakan organ jika terlalu banyak tekanan (misalnya, ketika saat jatuh atau jika seseorang yang menabrak tubuh anak Moms), itulah sebabnya dokter menyarankan untuk menghindari aktivitas berat dan kontak olahraga saat memulihkan diri dan berbulan-bulan setelah gejala hilang.

Limpa yang pecah dapat menyebabkan perdarahan internal yang berpotensi mengancam nyawa.

Baca Juga: Apa itu Fatty Liver? Kenali Gejalanya dan Hindari Penyebabnya

  • Hepatitis

Beberapa orang mungkin mengalami hepatitis (atau radang hati) setelah didiagnosis demam kelenjar. Penelitian menunjukkan sebanyak 14 persen orang yang terinfeksi EBV mengalami pembesaran hati.

  • Penyakit Kuning

Beberapa pasien demam kelenjar mungkin mengalami penyakit kuning, yaitu kulit menguning dan bagian putih di sekitar mata.

  • Pembengkakan Kelenjar Getah Bening
  • Tonsil Bengkak dan Pernapasan Mungkin Terhalang

Beberapa masalah kesehatan lain yang langka juga mungkin terjadi karena komplikasi demam kelenjar. Meski komplikasi ini lebih jarang, tetapi berkaitan dengan EBV, seperti:

  • Anemia

Ini adalah kondisi ketika tubuh memiliki jumlah sel darah merah yang lebih rendah dari biasanya.

Baca Juga: 11 Contoh Kuku yang Tidak Sehat, Bisa Jadi Tanda Anemia Hingga Penyakit Jantung

  • Trombositopenia

Kondisi ini terjadi ketika tubuh memiliki tingkat trombosit darah rendah, sel darah yang penting untuk membantu pembekuan darah saat mengalami pendarahan.

  • Miokarditis

Ini adalah peradangan pada otot jantung.

  • Masalah Sistem Saraf

Kondisi ini termasuk meningitis, ensefalitis, sindrom Guillain-Barré, Bell's palsy, dan kejang.

  • Kanker Tertentu

Ini termasuk limfoma Burkitt, limfoma Hodgkin, dan karsinoma nasofaring.

  • Multiple Sclerosis

Penelitian baru menunjukkan bahwa penyakit menular seperti demam kelenjar dapat menjadi pemicu gangguan autoimun, termasuk multiple sclerosis (MS).

Menurut Hank Balfour Jr., MD, seorang profesor kedokteran laboratorium dan patologi serta pediatri di University of Minnesota Medical School di Minneapolis, hampir semua orang dengan MS telah terinfeksi EBV. Dokter saat ini sedang menjajaki asosiasi dan bekerja untuk mengembangkan vaksin untuk EBV, yang mereka yakini juga dapat melindungi terhadap MS.

Baca Juga: Normalkah Demam Anak Naik Turun Selama 5 Hari? Ini Jawaban Menurut Ahli!

Mencegah Demam Kelenjar pada Anak

Demam Kelenjar Pada Anak Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya 4.jpg

Foto: lylamorris.com

Setelah tahu kalau demam kelenjar pada anak ditularkan melalui paparan air liur yang sudah terkontaminasi virus Epstein-Barr, akan lebih mudah meminimalisir risiko Si Kecil tertular.

Yang paling mudah, Moms bisa membiasakan Si Kecil untuk mencuci tangan sebelum makan dan sesudah beraktivitas. Jangan lupa, biasakan Si Kecil untuk tidak berbagi peralatan makan dengan orang lain dan menjaga jarak dengan orang yang sedang bersin atau batuk.

Yuk, jaga kesehatan anak-anak dengan baik agar tumbuh kembang mereka optimal dan terhindar dari masalah kesehatan yang berbahaya.

  • https://www.healthdirect.gov.au/
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/167390#causes
  • https://www.nhs.uk/conditions/glandular-fever/
  • https://www.everydayhealth.com/mononucleosis/complications/
  • https://childrensnational.org/visit/conditions-and-treatments/infectious-diseases/infectious-mononucleosis
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait