Parenting

7 Februari 2020

Ditinggal Suami, Saya Banting Tulang Membesarkan Tiga Orang Anak Sendirian

Suami saya pergi meninggalkan kami tanpa alasan dan kejelasan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Fitriani Larasati, 26 tahun. Ibu dari 3 anak, Shakila, 5 tahun, serta si kembar Nadhia dan Nadhira, 25 bulan.

Cerita kehamilan, melahirkan, menyusui, serta menikmati proses tumbuh kembang anak-anak akan membuat rumah tangga terasa semakin manis dan bahagia.

Saat menikah, tak ada satu pun orang yang terpikir ataupun berencana menjadi single parent. Jikapun nantinya akan berpisah? Biar maut saja yang memisahkan.

Tapi, kita sebagai manusia tidak ada yang pernah tahu bagaimana kehidupan kita masing-masing ke depannya. Pasti banyak lika liku dalam pernikahan. Jadi hanya Allah SWT yang tahu persis bagaimana skenario kehidupan kita untuk ke depannya.

Baca Juga: Punya Anak dengan Seabrek Aktivitas? Kenapa Tidak!

Tidak Mengorbankan Anak dalam Masalah Rumah Tangga

kehidupan rumah tangga

Foto: parents.com

Tahun ke-5 menuju tahun ke-6 pernikahan, rumah tangga yang saya bina bersama suami sudah mulai goyang. Begitu banyak masalah yang terjadi pasca melahirkan anak kembar.

Awalnya saya mengira bahwa masalahnya hanya di finansial, karena saya terpaksa untuk mengundurkan diri dan menjadi full time mom untuk ketiga anak saya.

Berat memang pada saat harus memutuskan untuk menjadi full time mom, karena akan banyak kehilangan masa di mana saya punya penghasilan sendiri.

Tetapi apa boleh buat, saya tidak boleh egois begitu saja, karena keluarga jauh lebih penting pada saat itu. Dan masalah mulai bermunculan, mulai dari uang bulanan yang kurang, lelah karena harus mengurus ketiga anak tanpa ART, suami mulai cari kesenangan dan kenyamanan sendiri (berdalih, karena aku sibuk sama anak dan aku jadi suka marah-marah), hingga berujung pada suami yang kurang berperan aktif dalam mengurus anak.

Baca Juga: Butuh Perjuangan untuk Berdamai dengan Preeklampsia

Terlepas dari semua itu, juga dituntut untuk tetap bahagia dan tidak stres. Mengapa? Karena saya harus menjalankan kewajiban untuk menyusui dan memberi ASI yang berkualitas.

Perlu digarisbawahi ya ASI merupakan hak anak, menyusui itu kewajiban ibu. Bonusnya bisa mengurangi beban pengeluaran untuk membeli susu formula hehe (Penting ya ibu-ibu catat!!!)

Saya mulai menikmati setiap kelelahan mengurus ketiga anak. Seringkali mencuri waktu untuk makan dan mandi, bahkan mengurus diri sendiri saja tidak sempat. Buat saya 24 jam itu sangat tidak cukup, waktu semua terbuang dan didedikasikan hanya untuk suami dan anak.

Bahkan mulai terbiasa menikmati pemandangan suami asik dengan gadget dan saya sibuk mengganti popok anak sembari tetap ajak bermain si kakak (anak pertama).

Buat saya, anak-anak adalah prioritas utama, tekanan demi tekanan karena prahara rumah tangga seringkali ku pendam, mencoba selalu memaafkan keadaan dan tidak ikut menjadi api seperti yang seringkali suami lakukan.

Tapi ternyata komunikasi yg tidak baik ini malah semakin memperkeruh keadaan.

Baca Juga: Ketika Daycare jadi Pilihan Satu-satunya dan Ternyata Memang yang Terbaik

Mengambil Keputusan Demi Masa Depan Saya dan Anak-Anak

kehidupan rumah tangga

Foto: todaysparent.com

Bulan Agustus 2018, saya sebut sebagai bulan patah hati saya. Di bulan ini, akhirnya suami menyerah dan pergi meninggalkan saya beserta ketiga anak (anak pertama 3,5 tahun dan si kembar 5 bulan) tanpa alasan dan kejelasan.

Mencari, menghubungi, meminta untuk kembali sudah saya lakukan, saat itu yang terpikirkan, saya harus bertahan demi anak-anak. Saya mau keluarga yang lengkap, utuh, dan saat itu aku tidak siap untuk melepas rumah tangga yg sudah kami bangun bersama.

Caci maki, perilaku kasar, hinaan bahkan sikap benci sudah mulai muncul. Semakin bingung dengan keadaan yang ada. Kesalahan apa yang sudah saya perbuat sehingga suami berperilaku seperti ini? Seperti bukan dia saja, seperti tidak mengenal dia lagi.

Kira-kira 1 sampai 3 bulan pasca suami pergi dari rumah adalah masa tersulit. Saya terus menerus menyalahi diri sendiri dan menangis karena yang ada dipikiran saat itu adalah rumah tangga yang bahagia itu memiliki formasi lengkap, ayah, Ibu, dan anak-anak.

Baca Juga: Moms Ingin Punya Me-Time? Apakah Terlalu Egois? Tidak Sama Sekali

Lambat laun waktu berlalu, dan permasalahan inti mengapa suami memilih pergi sudah mulai terlihat, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menerima kenyataan, bahwa rumah tangga ini memang sudah tidak bisa diselamatkan.

Ini keputusan yang berat, tapi saya harus sigap mengambil keputusan demi anak-anak. Jadi, statement ‘Harus Bertahan Demi Anak’ saat itu, berubah menjadi ‘Harus Berpisah Demi Anak-Anak’.

Karena anak-anak butuh rumah yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang, bukan butuh ayah ibu yang lengkap tapi tidak dipenuhi kasih sayang.

Tidak Mudah Menjadi Single Mom

kehidupan rumah tangga

Memutuskan untuk berpisah, bukan berarti masalah selesai. Saya harus memulai kehidupan yang baru, menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anak. Dan fase tersulitnya adalah:

  1. Berdamai dengan diri dan keadaan
  2. Memaafkan dan mengikhlaskan
  3. Buka lembaran baru
  4. Stigma seorang single mom

Dan mengalir begitu saja, saya telah melewati fase tersebut. Memang tidak mudah tapi karena saya mempunyai keyakinan yang kuat demi kebahagiaan anak-anak, saya sanggup melewatinya.

Untuk urusan omongan orang di luar, saya tidak ambil pusing, masa bodoh saja, biarlah dan tidak perlu dimasukin ke hati. Saya tidak mau menghabiskan energi untuk memikirkan hal yang tidak penting.

Fokus mencari nafkah halal jauh lebih penting demi kelangsungan hidup bersama ketiga anak.

Baca Juga: Tips Menyapih Anak Kembar dengan Penuh Cinta

Mulai dari jualan yogurt di jalanan, jadi tukang gojek, hingga jadi reseller sudah saya jalanin. Ternyata penghasilannya tidak seberapa, untungnya hanya cukup untuk jajan anak sehari-hari aja.

Perlahan saya mulai merintis bisnis homecare treatment massage karena skill saya memang di sini, ada pengalaman juga jadi lebih disalurkan.

Peran sebagai ayah dan ibu sekaligus dilakukan untuk mencari nafkah, mengurus anak, mengurus rumah tangga, menjadi pemimpin, dan bertanggung jawab atas hidup anak-anak. Bersyukur dan menikmati kembali setiap lelah yang ada.

Untuk para single moms, memang tidak mudah, tetapi ingat semua yang terjadi pasti karena suatu alasan. Memang sulit sekali awalnya, harus menata hati yang hancur berkeping-keping, kegalauan yang tiada akhir, air mata yang terus menetes, berjuang demi anak-anak, belum lagi omongan dan nyinyiran orang diluar sana.

Cari support system yang menurut kita itu penting dan bermanfaat, serius deh. Ini berguna banget, cari teman itu adalah salah satu solusi untuk kita supaya tidak merasa sendirian.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait