Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING ISLAMI
12 April 2022

Bacaan Doa Iktidal Lengkap dengan Tata Caranya, Wajib Tahu!

Penting, jangan sepelekan doa iktidal dan posisinya saat salat
Bacaan Doa Iktidal Lengkap dengan Tata Caranya, Wajib Tahu!

Foto: Orami Photo Stocks

Karena gerakan salat harus dilakukan dengan benar, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah posisi dan juga doa Iktidal.

Iktidal setelah bangkit dari ruku’ adalah salah satu rukun salat. Oleh karena itu, umat muslim harus memperhatikan gerakan tersebut agar bisa melakukannya sesuai tuntunan syariat.

Baca Juga: Sholat Qobliyah Subuh, Sunnah yang Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

Apa Itu Iktidal?

i'tidal -1.jpg

Foto: i'tidal -1.jpg

Foto: Bbc.co.uk

Iktidal adalah salah satu gerakan salat yang dilakukan setelah posisi ruku’, dan termasuk dalam rukun salat.

Para ulama menetapkan ruku’ sebagai rukun salat berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعً

Artinya: “Kemudian ruku’lah sampai engkau tenang (tuma’ninah) dalam keadaan ruku’.” (HR Imam Bukhari)

Iktidal juga merupakan salah satu gerakan wajib dalam salat. Hal ini berdasarkan pendapat Abu Hurairah yang menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ

Artinya: “Rasulullah apabila mendirikan salat, maka beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’. Kemudian mengucapkan: ‘sami’allahu liman hamidah’ ketika bangkit dan meluruskan tulang punggungnya dari ruku’. Kemudian bangkit seraya mengucapkan: ‘rabbana lakal hamdu’." (HR Bukhari)

Karena hukumnya wajib , gerakan iktidal harus dilakukan secara benar dan sesuai dengan yang disyariatkan.

Ada juga juga hadis yang menganjurkan melakukan gerakan iktidal dalam waktu yang agak lama, sebagai cara mensyukuri nikmat Allah SWT.

Al-Barra’ bin Azib RA, mengatakan: “Ketika Nabi SAW salat, sujud beliau, rukuk beliau, duduk di antara dua sujud, semuanya hampir sama panjangnya.” (HR Abu Daud)

Selain memperlama Iktidal, dianjurkan juga agar melakukannya dalam posisi badan yang lurus. Hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah SAW:

ثم اركَعْ حتى تَطمَئِنَّ راكِعًا، ثم ارفَعْ حتى تستوِيَ قائِمًا

Artinya: “… Lalu rukuk dengan tuma’ninah, kemudian angkat badanmu hingga lurus.” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Bacaan Doa, Niat, dan Tata Cara Sholat 5 Waktu yang Benar

Perhatikan Ini Saat Iktidal

i'tidal -2.jpg

Foto: i'tidal -2.jpg

Foto: Iqraa.com

Ada beberapa hal terkait Iktidal yang harus diperhatikan agar dapat menjalankan salat dengan baik, sehingga mendapatkan pahala dari ibadah yang diwajibkan ini.

1. Wajib Tuma’ninah Hingga Punggung Lurus

Iktidal adalah gerakan mengangkat badan setelah posisi ruku’ hingga berdiri kembali dengan punggung dalam keadaan lurus.

Dalam hadis Abu Humaid As Sa’idi RA, dirinya mengatakan:

فإِذا رفَع رأسه استوى قائماً حتى يعود كلّ فقار مكانه

Artinya: “Ketika Rasulullah SAW mengangkat kepalanya (dari rukuk) untuk berdiri hingga setiap ruas tulang punggung berada di posisinya semula.” (HR Bukhari)

Allah SWT dan Rasulullah SAW mencela orang yang tidak melakukan Iktidal sampai lurus punggungnya padahal mampu.

Ini bisa jadi karena terlalu cepat salatnya, atau terburu-buru. Dalam hadis dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

إن الله لا ينظرُ يوم القيامة إلى مَن لا يقيم صُلبَه بين ركوعه وسجودِه

Artinya: “Sesungguhnya di hari kiamat Allah tidak akan memandang orang yang tidak meluruskan tulang sulbinya di antara rukuk dan sujud.” (HR Tirmidzi, Abu Ya’la, dan Ath Thabrani)

2. Mengangkat Saat Ketika Bangun dari Ruku’

Dalil-dalil mengenai disyariatkannya ‘raf’ul yadain’ atau mengangkat tangan sangat banyak. Di antaranya adalah hadis dari Ibnu Umar RA:

أنَّ النبيَّ صلّى الله عليه وسلّم كان يرفعُ يديه حذوَ مَنكبيه؛ إذا افتتح الصَّلاةَ، وإذا كبَّرَ للرُّكوع، وإذا رفع رأسه من الرُّكوع

Artinya: “Nabi SAW biasanya ketika memulai salat, ketika takbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala setelah ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya.” (HR Bukhari)

3. Membaca Tasmi’ Ketika Bangun dari Ruku’

Dalam rukuk ada bacaan tasmi’, yaitu mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’ (Allah mendengar orang yang memuji-Nya).

Dan ada bacaan tahmid, yaitu mengucapkan ‘rabbana walakal hamdu’ (Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu).

Terkait dengan hal ini, sebuah hadis dari Anas bin Malik RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنّما جُعل الإِمام ليؤتمّ به، فإِذا كبّر فكبِّروا، وإِذا سجد فاسجدوا، وإِذا رفع فارفعوا، وإِذا قال: سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربّنا ولك الحمد، وإِذا صلّى قاعداً فصلّوا قعوداً أجمعُون

Artinya: “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah. Jika ia sujud maka sujudlah. Jika ia bangun (dari rukuk atau sujud) maka bangunlah.

Jika ia mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Maka ucapkanlah: rabbana walakal hamdu. Jika ia salat duduk maka salatlah kalian sambil duduk semuanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Wajib Tahu, Inilah 11 Keutamaan Sholat Subuh Berjamaah Bagi Umat Islam

Doa Iktidal dengan Tulisan Arab, Latin, dan Artinya

i'tidal -3.jpg

Foto: i'tidal -3.jpg

Foto: Nuonline.org

Dikutip dari Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ada perbedaan pendapat mengenai hukum bersedekap ketika Iktidal.

Ada yang membid’ahkan dan ada juga yang mengisyaratkan. Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani, bersedekap ketika Iktidal hukumnya bid’ah.

Namun menurut Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, bersedekap ketika Iktidal disyari’atkan. Meski begitu, tampaknya lebih tepat dengan menggunakan teori fiqih ikhtilaf karena menggunakan dalil hadis yang sama.

Terdapat beberapa doa Iktidal yang harus diketahui umat Islam. Jika salat sendirian atau sebagai imam, maka ketika bangkit dari ruku’ menuju iktidal harus membaca doa Iktidal.

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’allahu Liman Hamidah)

Artinya: “Aku mendengar orang yang memuji-Nya.”

Setelah sampai pada posisi Iktidal maka baru membaca bacaan-bacaan ketika Iktidal. Dikutip Bekal Islam Firanda, beberapa di antaranya ada yang pendek hingga panjang, yakni:

1. Doa Iktidal Pertama

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد

(Rabbanaa lakal hamdu)

Artinya: “Wahai Rabb kami, bagi-Mu segala puji.”

2. Doa Iktidal Kedua

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

(Rabbanaa wa lakal hamdu)

Artinya: “Wahai Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji,”

3. Doa Iktidal Ketiga

اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْد

(Allahumma rabbanaa lakal hamdu)

Artinya: “Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji),”

Baca Juga: Salat Lailatul Qadar: Waktu, Niat, Tata Cara, dan Bacaan Zikirnya

4. Doa Iktidal Keempat

اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْد

(Allahumma rabbanaa wa lakal hamdu)

Artinya: “Ya Allah Rabb kami, dan bagi-Mu segala puji,”

5. Doa Iktidal Kelima

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد

(Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du)

Artinya: “Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya,”

6. Doa Iktidal Keenam

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَد

(Rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu)

Artinya: “Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya, dan tidak bermanfaat bagi-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan.”

7. Doa Iktidal Ketujuh

اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ، وَمِلْءَ الْأَرْضِ، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْد

(Allahumma rabbanaaa lakal hamdu mil-as-samaawaati wa mil-al-ardhi wa mil-a maa syik-ta min syai-im ba’du)

Artinya: ‘Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya).”

8. Doa Iktidal Kedelapan

اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

(Allahumma rabbanaaa wa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa maa bainahumaa wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-i wal majdi ahaqqu maa qoolal ‘abdu wa kullunaa ‘abdun, allahumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu)

Artinya: “Ya Allah Rabb kami,dan bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh yang ada di antara langit dan bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya."

"Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. (Ucapan ini) yang paling pantas diucapkan seorang hamba. Dan semua kami adalah hamba-Mu semata."

"Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan).”

9. Doa Iktidal Kesembilan

اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ الْأَرْضِ، وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

(Allahumma rabbanaaa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa maa bainahumaa wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-I wal majdi, laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu)

Artinya: “Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh yang ada di antara langit dan bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya."

"Engkau adalah Dzat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan. tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan).”

10. Doa Iktidal Kesepuluh

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ، أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

(Rabbanaaa lakal hamdu mil-us-samaawaati wa mil-ul-ardhi wa mil-u maa syik-ta min syai-im ba’du ahlats tsanaa-I wal majdi ahaqqu maa qoolal ‘abdu wa kullunaa laka ‘abdun, allahumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu)

Artinya: “Rabb kami, bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi, serta sepenuh apa yang Engkau inginkan dari sesuatu setelahnya. Engkau adalah Zat yang berhak mendapat pujian dan kemuliaan."

"(Ucapan ini) yang paling pantas diucapkan seorang hamba. Dan semua kami adalah hamba-Mu semata. Ya Allah, tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau tahan. Tidak bermanfaat dari-Mu kemuliaan/kedudukan orang yang memiliki kemuliaan).”

Baca Juga: Tata Cara Salat Ashar, Lengkap dengan Niat, Bacaan, dan Keutamaannya!

11. Doa Iktidal Kesebelas

لِرَبِّيَ الْحَمْدُ لِرَبِّيَ الْحَمْدُ

(Li rabbiyal hamdu… Li rabbiyal hamdu)

Artinya: “Pujian hanya untuk Rabbku, pujian hanya untuk Rabbku.”

12. Doa Iktidal Kedua Belas

رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

(Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa)

Artinya: “Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya).”

13. Doa Iktidal Ketiga Belas

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ جَزِيلًا

(Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi jaziilan)

Artinya: “Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi, yang banyak di dalamnya).”

14. Doa Iktidal Keempat Belas

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ؛ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيْهِ مُبَاركَاً عَلَيْهِ؛ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى

(Rabbanaa lakal hamdu hamdan katsiiron thoyyiban mubaarokan fiihi, mubaarokan ‘alaihi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhoo)

Artinya: “Wahai Rabb kami, hanya untuk-Mu segala pujian. Pujian yang banyak, yang baik, yang diberkahi di dalamnya, yang diberkahi atasnya sebagaimana yang dicintai dan diridhoi oleh Rabb kami.”

Itulah doa Iktidal beserta hal lain yang terkait dengan gerakannya yang wajib dilakukan saat melaksanakan salat 5 waktu dan salat sunnah agar mendapatkan ketentraman saat menjalakannya.

  • http://digilib.uinsgd.ac.id/30996/
  • https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-itidal-dalam-shalat
  • https://muslim.or.id/43284-fikih-itidal-dalam-shalat.html
  • https://www.fathulghofur.com/bacaan-itidal-dalam-sholat-arab-latin-dan-artinya/
  • https://bekalislam.firanda.com/2910-itidal-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%90%D8%B9%D9%92%D8%AA%D9%90%D8%AF%D9%8E%D8%A7%D9%84%D9%8F-bangkit-dari-ruku.html