Keluarga

KELUARGA
23 Desember 2019

Gina S Noer: Jadi Ibu adalah Hal Terbaik dalam Karir Saya

Gina sempat merasa gagal jadi ibu dan terus-menerus menyalahkan diri sendiri
placeholder

Foto: doc pribadi

placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pecinta film Indonesia pasti kenal betul dengan sosok Gina S Noer. Sutradara film Dua Garis Biru ini juga dikenal sebagai peulis skenario hebat. Film-film yang skenarionya ditulis oleh Gina berhasil sukses di pasaran.

Karya-karyanya bahkan mendapatkan 5 nominasi Piala Citra dan berhasil membawa pulang 2 Piala Citra dalam festival Film Indonesia (FFI) 2019. Berkat karya-karyanya itu, nama Gina pun semakin berkibar. Karirnya semakin meroket.

Tapi, siapa sangka, pencapaiannya sebagai sineas papan atas Indonesia bukan apa-apa dibandingkan dengan statusnya sebagai seorang ibu. Ya, bagi Gina, menjadi seorang ibu adalah hal terbaik dalam karirnya.

“Hal terbaik dalam karir saya adalah saat menjadi seorang ibu. Melihat anak tumbuh semakin besar dan permasalahannya semakin kompleks, itulah tantangan menjadi seorang ibu,” tutur Gina S. Noer saat ditemui di kawasan Pondok Indah.

Sempat merasa Gagal jadi Seorang Ibu

gina s. noer

Foto: instagram.com/ginasnoer/

Gina punya dua anak dari pernikahannya dengan sesama penulis Salman Aristo pada 2005 silam. Dua anak Gina yang diberi nama Biru Langit Fatiha dan Akar Randu Furqan. Gina sangat dekat dengan Biru dan Bung.

Dengan kegiatannya sebagai penulis dan sutradara, Gina selalu punya waktu untuk dua anaknya itu. Kehadiran mereka membuat hidup Gina makin sempurna sebagai seorang perempuan.

Tapi, siapa sangka, jauh sebelum sekarang, Gina pernah merasa gagal sebagai seorang ibu. Hal ini terjadi di tahun 2011, ketika anak kedua Gina lahir. Anak laki-laki yang kini sudah berusia 8 tahun itu lahir dengan bibir sumbing. Hal ini diketahui 2 minggu sebelum Gina melahirkan sang buah hati.

Kabar tersebut membuat dunia Gina runtuh seketika. Dia tidak pernah membayangkan bahkan meyangka akan dikaruniai anak dengan kondisi seperti itu. Gina merasa gagal menjadi seorang ibu. Betapa tidak, selama hamil, dia betul-betul menjaga kandungannya.

Dia juga merupakan tipe wanita yang menjaga sekali tubuhnya, termasuk saat dirinya sedang hamil. Ia mengaku rajin minum vitamin untuk memberikan nutrisi pada dirinya dan janin di dalam perut, lalu rutin kontrol kandungan juga, dan lainnya.

Jadi saat mendapatkan kabar tersebut, ia merasa telah gagal menjaga anak di dalam kandungannya.

“Saya menangisi semuanya sendiri selama beberapa hari,” kenang Gina.

Berhasil Bangkit dan Berjuang

gina s. noer

Foto: instagram.com/ginasnoer/

Setelah larut dalam kesedihan dan terus menerus menyalahkan diri sendiri, Gina akhirnya menyadari bahwa semua hal tersebut bukanlah salah dirinya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan hal ini terjadi dan merasa bahwa hal ini tidaklah apa-apa.

It’s okay kalau kita enggak tahu,” ujar ibu yang juga berprofesi sebagai sutradara, penulis naskah film, dan produser ini.

Dirinya tidak lagi berlarut dalam kesedihan. Ia mulai melakukan riset mengenai bibir sumbing dan menemukan Rumah Sakit Harapan Kita, yang ternyata memiliki banyak pasien para ibu dengan masalah bibir sumbing pada anaknya.

Mulai dari sinilah, akhirnya Gina tahu bahwa bibir sumbing tidak hanya berhenti saat anak selesai melakukan operasi. Masih ada tahapan-tahapan lain termasuk di dalamnya terapi wicara.

Komunitas Satu Senyum

gina s noer

Foto: instagram.com/ginasnoer/

Gina mencurahkan waktu dan perhatiannya agar Si Bungsu bisa berkembang sesuai dengan usianya. Bukan hanya itu, Gina juga ingin memberikan dukungan kepada para ibu yang memiliki anak dengan masalah bibir sumbing.

Berdasarkan pengalamannya, seorang ibu yang memiliki anak dengan masalah bibir sumbing akan sangat terpukul. Dalam kondisi ini, dukungan orang sekitar akan sangat membantu untuk bisa bangkit dan menerima kondisi dan menjadi bantuan untuk sang anak.

Dari situ, Gina bersama sahabat-sahabatnya sesama ibu dari anak dengan bibir sumbing atau istilanya celah bibir langit-langit (CBL) Diah Asri, Dwi Chahyaningsih, dan Naniek Ariastuti, serta Rita Rahmawati A.md. TW, S.Pd penanggung jawab terapi wicara, klinik Sehati, Tim Celah Bibir dan Langit-langit Mulut RS Harapan Kita mendirikan Komunitas Satu Senyum (KiSS) pada 4 November 2013.

Kominitas ini adalah komunitas forum berbagi untuk para individu terlahir dengan celah bibir langit-langit (CBL), orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.

“Karena ini saya punya banyak teman dan support system baru,” ujar ibu dari Biru dan Bung ini. Selain itu menurutnya sang anak, Bung, juga menjadi lebih rileks dan juga sifat optimisme dalam melihat hidup lebih luas lagi.

Melalui komunitas ini, menurut Gina, para orang tua bisa berbagi informasi dan pengalaman mengenai perawatan untuk anak-anaknya. Apalagi sebagian besar orang tua dari anak yang terlahir dengan CBL serta masyarakat umum belum sepenuhnya memahami berbagai tahap perawatan CBL secara lengkap.

Komunitas ini sangat membantu dan membuka peluang bagi para ibu untuk lebih memiliki harapan untuk buah hatinya. Mereka juga tidak bingung lagi, karena saling membantu satu sama lain dan saling sharing mengenail hal-hal yang didapatkan dan dilakukan untuk anak. Setidaknya para ibu tidak sendiri dan memiliki teman untuk saling bertukar pikiran mengenai kondisi anaknya.

Jadi diharapkan KiSS bisa dijadikan sebagai wadah untuk para ibu saling mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Kaitan Menjadi Ibu dan Filmmaker

gina s. noer

Foto: instagram.com/ginasnoer/

Menurutnya, menjadi seorang ibu dan filmmaker merupakan dua hal yang sangat erat kaitannya. Film membuat anak-anak Gina memiliki kesempatan yang lebih luas untuk melihat hidup dari berbagai sudut.

Melalui film juga, anak-anaknya bisa memiliki lebih banyak alternatif dalam karir, lalu bisa mengeksplor cerita, dan datang ke lokasi syuting untuk melihat bagaimana proses membuat sebuah film hingga bisa disaksikan di layar kaca.

Menurut Gina, ia melihat bahwa semakin baik dirinya menjalani peran sebagai seorang ibu, maka semakin baik pula ia menjadi seorang filmmaker.

Peran yang ia jalani sebagai seorang ibu secara tidak langsung membantunya untuk memunculkan sifat-sifat yang baik sekali dalam pekerjaan Gina S. Noer sebagai filmmaker. Misalnya ketika berbicara mengenai empati, bagaimana pembagian tugasnya di rumah, trus delegasi-delegasi yang dilakukan, ini merupakan hal yang menurut Gina jarang sekali ditemukan di industri film.

Gina S. Noer mengatakan bahwa jika ada yang bertanya bagaimana cara menjadi seorang produser yang baik? Ia akan menjawab, menjadi seorang ibu. Di mana kita bisa menjadi sosok yang lembut saat mendengarkan, namun di satu sisi memiliki ketegasan juga.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait