Scroll untuk melanjutkan membaca

FASHION & BEAUTY
26 November 2022

Kain Khas Bali: Berbagai Motif, Harga, dan Cara Memakainya

Mengenal pesona keindahan kain khas Bali
Kain Khas Bali: Berbagai Motif, Harga, dan Cara Memakainya

Berbicara tentang warisan budaya, Indonesia patut berbangga karena memiliki banyak kain tradisional yang bahkan sudah diakui oleh dunia, salah satunya adalah kain khas Bali.

Kain khas Bali bukan hanya digunakan untuk menutup tubuh dalam keseharian atau saat upacara adat saja.

Namun, kain ini khas Bali juga bisa digunakan untuk menghias tempat- tempat upacara di pura, rumah, maupun di pusat desa.

Bahkan, masyarakat Bali memiliki kepercayaan bahwa ada kain tertentu yang berfungsi sebagai penolak bala.

Nah, jika seseorang sakit dan penyakitnya dianggap berasal dari gangguan roh jahat, penggunaan kain tertentu dipercaya bisa membawa kesembuhan.

Kalau dalam tiap upacara adat di Bali, setiap individu yang terlibat itu wajib mengenakan kain khas Bali.

Baca juga: Beragam Motif Kain Khas Palembang, Unik dan Menarik!

Macam-Macam Motif Kain Khas Bali

Bukan hanya dianugerahi potensi alam, terutama deretan pantai Bali yang indah, Bali juga dianugerahi warisan budaya yang kaya.

Salah satunya bentuknya adalah kain khas Bali.

Setiap jenis kain khas Bali, memiliki motif yang berbeda-beda yang biasanya terinspirasi dari kondisi setiap daerahnya.

Bagi Moms yang sedang mencari kain khas Bali, berikut ini beberapa motifnya yang cukup populer.

1. Kain Endek

Motif Endek Patra Kain Khas Bali

Foto: Motif Endek Patra Kain Khas Bali (Orami Photo Stock)

Memiliki ciri khas dari motif, corak, dan warna yang digunakan, kain tenun endek sempat menarik perhatian Christian Dior dalam koleksi terbaru Spring/Summer 2021.

Kain endek merupakan kain tenun khas Bali yang umumnya digunakan untuk upacara adat dan keagamaan di Bali.

Kain khas Bali ini memiliki makna yang berbeda pada setiap simbolnya.

Motif tertentu juga hanya bisa digunakan oleh kaum raja atau bangsawan.

Motif seperti encak saji dan motif patra menunjukkan rasa hormat kepada Sang Pencipta, sehingga hanya boleh digunakan dalam acara keagamaan saja.

Sementara, motif-motif yang bersumber dari alam seperti flora dan fauna, biasa digunakan saat kegiatan sosial atau aktivitas sehari-hari.

Ada pula motif yang bersumber dari tokoh pewayangan mitologi Bali.

Jika tertarik membeli kain ini bisa mengunjungi Desa Sidemen di Karangasem yang merupakan desa penghasil tenun endek atau belanja di spot oleh-oleh di Kabupaten Klungkung.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Glamping Bali yang Seru untuk Liburan!

2. Kain Gringsing

Motif Gringsing Kain Khas Bali

Foto: Motif Gringsing Kain Khas Bali (Orami Photo Stock)

Kain gringsing merupakan satu-satunya kain tenun khas Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat.

Proses ini memerlukan waktu rata-rata lima tahun untuk menyelesaikannya.

Proses tenunnya sendiri membutuhkan waktu sekitar dua bulan.

Namun, proses pembuatan motif ikat gandanya memerlukan waktu yang lama.

Tapi jangan khawatir, Moms tidak perlu menunggu selama itu untuk mendapatkan kain gringsing.

Moms cukup datang saja ke Desa Tenganan, karena banyak pengrajin yang menjual kain gringsing dan membolehkan pengunjung melihat proses pembuatannya.

Baca juga: Mengenal Tenun Ulap Doyo, Kain Khas Kalimantan Timur

3. Kain Rangrang

Kain Rang-rang

Foto: Kain Rang-rang (Orami Photo Stock)

Nama Rangrang secara harfiah berarti bolong-bolong.

Hal ini sesuai dengan karakteristik kain cepuk rangrang yang memiliki ciri pada kain tenunnya terdapat ruang-ruang kecil yang berlubang (bolong-bolong).

Pola berlubang atau bolong-bolong ini mencerminkan simbol sifat transparansi yang ada pada masyarakat Bali, yaitu sifat jujur dan terbuka.

Salah satu ciri kain tenun ini yang tidak berubah dari dulu adalah motifnya sederhana, tidak rumit, dan keberadaan garis tegas berbentuk zigzag atau bergelombang.

Kain rangrang banyak diproduksi di wilayah Nusa Penida dengan motif berbentuk simetris dan warnanya yang cerah.

Untuk motif kain rangrang biasanya terinspirasi dari daerah pegunungan dan perbukitan di wilayah Bali.

Sedangkan, untuk warnanya, penduduk setempat menggunakan pewarna alami yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan.

Seperti daun indigo, kulit mangga, daun indigo, dan serat kayu.

Dalam perkembangannya, motif kain Rangrang telah diaplikasikan dalam berbagai bentuk karya seni lain dan produk seni turunan lainnya, misalnya saja yang ada di daerah Yogyakarta.

Saat ini, motif kain Rangrang sudah mengisnpirasi Batik printing maupun tulis, tas, sepatu, dan produk-produk fashion lainnya.

Baca Juga: Mengenal Kain Tenun Khas Indonesia yang Bernilai Seni Tinggi

4. Kain Poleng

Kain kotak-kotak hitam putih yang dikenal dengan kain poleng atau saput poleng.

Saput artinya kain yang membalut.

Sedangkan poleng adalah istilah untuk warna hitam putih yang berseling merupakan lambang Rwa Bhineda, yaitu keseimbangan alam.

Filosofinya diambil dari kehidupan di mana ada hitam dan putih, dua hal yang berlawanan tetapi tetap bisa membuat alam tetap seimbang dan harmonis.

Perbedaan itu seperti baik-buruk, siang-malam, dan panas-dingin.

Menurut Budaya Indonesia, saput poleng biasanya dipakaikan pada pohon, patung, atau gapura.

Dalam kepercayaan lokal, saput poleng dianggap bsa memberi pertanda bahwa benda itu memiliki kekuatan magis yang dihormati dan melindungi, serta patut dijaga kelestariannya.

Saput poleng hanya bisa digunakan oleh orang-orang tertentu di Bali.

Seperti pada pecalang, dalang, dan pemain drama yang berperan sebagai punakawan.

Harga Kain Khas Bali

Jika Moms dan Dads tertarik membeli kain khas Bali, harganya beragam, tergantung dari kesulitan teknik tenun yang digunakan.

Namun untuk harga yang dibandrol biasanya berkisar antara Rp200.000 hingga Rp1.000.000.

Sekalipun harganya cukup terjangkau, proses pembuatan motifnya cukup rumit dan membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan 1 buah kain yang indah.

Baca Juga: 4 Destinasi Liburan di Bali yang Baru, Cocok buat Keluarga

Cara Memakai Kain Khas Bali

Selain mempunyai arti khusus, kain khas Bali biasanya digunakan untuk menutup bagian bawah tubuh agar tampak lebih sopan.

Cara penggunaannya tentu tidak mudah, Moms.

Berikut ini cara penggunaan kain yang memudahkan berjalan atau melangkah saat memakainya:

  • Lingkarkan kain di pinggang dari belakang tubuh.
  • Lalu, tarik hingga bagian kain yang berada di sisi kanan lebih panjang setengahnya dari kiri.
  • Lingkarkan sisi kanan kain sampai ke belakang badan, dan keluarkan sedikit ujungnya untuk diikat.
  • Kain yang berada pada sisi kiri biarkan di depan, dan pelintir-pelintir ujung atas kain sampai kain di depan terlihat seperti gelombang.
  • Nah, jika ingin menggunakan tumpal, masukkan ujung kain bagian depan ke lubang tumpal sebelah kiri, tarik tumpal sampai ke pusar.
  • Kemudian masukan ujung kain ke lubang tumpal yang kanan, dan tarik hingga kencang.
  • Ujung kain yang di depan, pertemukan dengan ujung kain yang di belakang.
  • Lalu, ikat keduanya sampai kencang.
  • Sembunyikan simpul kain ke dalam, sehingga tidak terlihat.

Moms, itulah tadi berbagai motif kain khas bali serta bagaimana cara memakainya.

Semoga bisa menjadi rekomendasi Moms dalam mencari kain khas Bali ketika berlibur ke Bali, ya!

  • https://budaya-indonesia.org/Kain-Poleng
  • https://www.indonesia.travel/id/id/ide-liburan/unik-dan-menarik-kenali-yuk-5-jenis-kain-tradisional-khas-bali-ini
  • https://fitinline.com/article/read/pelajari-10-jenis-kain-bali-yang-bisa-untuk-padu-padan-busanamu-jangan-sampai-salah-memakai-ya/