Parenting Islami

26 Maret 2021

Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah: Panutan Keluarga Harmonis

Balap lari pun menjadi kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Siti Aisyah adalah salah satu istri Nabi Muhammad yang menonjol. Selain karena yang paling muda, Aisyah adalah perempuan yang cerdas dan mampu mendampingi nabi. Bukan hanya itu, kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah kini juga banyak yang mengikuti karena begitu mengesankan.

Dari segi kecakapan, Dirosat Journal of Islamic Studies mengatakan bahwa Siti Aisyah adalah sosok perempuan dalam Islam yang dikenal dengan kecerdasannya. Dirinya memberikan kontribusi yang lebih nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan Islam.

Di sisi lain, Siti Aisyah juga pandai memikat hati nabi. Sehingga, nabi yang memiliki sisi romantis bisa menjadi pasangan suami istri yang cocok dan saling melengkapi satu sama lain. Pasangan yang saling mengasihi ini dapat menjadi panutan bagi banyak pasangan lain, yang juga ingin mengikuti sunnah nabi.

Seperti apa kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah? Simak ulasannya di bawah ini!

Baca Juga: 5 Film Romantis Terbaik untuk Tingkatkan Kemesraan Suami Istri

Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah

Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah -1

Foto: Orami Photo Stock

Kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah sudah ada sejak Siti Aisyah kecil. Namun, ketika itu romantisme Nabi Muhammad berbentuk kasih sayang. Kasih sayang Nabi Muhammad disebut-sebit melebihi kasih sayang orang tua Si ti Aisyah.

Selama kehidupannya bersama Nabi Muhammad, Aisyah ikut tumbuh dengan didikan dari Rasulullah SAW. Sebab, Aisyah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang masih perawan karena dinikahi oleh Rasulullah SAW ketika usianya masih kanak-kanak.

Oleh karena itu, Aisyah dibiarkan menggunakan masa kanak-kanaknya sesuai usianya, baik pola pikir atau pun tingkah laku bermainnya. Nabi pun memperlakukan Aisyah sesuai dengan umurnya, Beliau tidak menuntut Aisyah berbuat sesuatu di luar batas umurnya.

Bahkan, Nabi memberinya cinta, kasih sayang, dan kelembutan melebihi yang pernah didapatkan dari kedua orang tuanya. Semua itu Nabi lakukan agar hidup Aisyah berjalan sesuai dengan tabiat dalam dirinya. Tak ada paksaan kecuali yang menyangkut larangan atau lepas dari hukum syara.

Pertumbuhkan Aisyah tidak luput dari penatauan nabi. Aisyah tumbuh semakin dewasa dan matang. Suatu hari Aisyah keluar bersama Nabi, beliau mengajak bertanding lari untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya mereka pernah melakukannya ketika akan pergi ke Madinah.

Namun kali ini pertandingan lari tersebut dimenangkan oleh Nabi. Aisyah karena tubuhnya sudah padat dan berisi. Aisyah cemberut, tetapi Nabi meledeknya dengan memberikan senyuman. Dikenangnya bahwa dulu Aisyah yang menang, tetapi kali ini nabi yang menang.

Bahkan, Nabi sangat mengetahui karakter Aisyah. Beliau tahu kapan jiwanya sensitif, tahu kapan jiwanya bahagia. Dan inilah yang sering menjadi kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah. Dalam kisah lain, Nabi Muhammad berkata kepada Aisyah, “Aku tahu kapan kamu marah, kapan kamu bahagia,”.

Merasa heran, Aisyah pun bertanya kepada Nabi Muhammad: “Bagaimana bisa mengetahui suasana hati yang aku sembunyikan begitu rapi?”. Nabi menjawab: “Jika sedang marah, kau bersumpah ‘Demi Tuhan Ibrahim’. Jika hatimu sedang lapang kau bersumpah ‘Demi Tuhan Muhammad’.”

Aisyah kemudian tersipu, tawanya lepas tak tertahan “Demi Allah, Wahai Rasulullah hanya namamu yang tertinggal di hatiku.”

Sikap Nabi Muhammad yang sangat romantis ini juga pernah diceritakan oleh Aisyah. Dalam sebuah hadis, Aisyah RA berkata: “Saya biasa mandi bersama Nabi saw. dari satu bejana dan dengan satu gayung, yang disebut faruq.” (HR Bukhari).

Ini menggambarkan sangat intimnya Aisyah bersama Nabi Muhammad. Tentu saja mandi bersama hanyalah salah satu dari contoh kecil dari praktik keintiman dan keromantisan demi memupuk rasa cinta antara suami dan istri.

Karena keintiman dan keromantisan tidaklah melulu tentang hubungan seksual seperti yang dipikirkan banyak orang. Namun, keintiman dan keromantisan bisa dilakukan dengan semua aktifitas yang dilakukan bersama-sama yang bisa menumbuhkan rasa ketentraman satu sama lain.

Meski sering disebut kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah, aktifitas seperti itu secara umum sangatlah dibutuhkan oleh suami maupun istri. Masing-masing harus peka untuk melayani dan merasa dilayani pada saat bersamaan. Ini bahkan bisa dilakukan dengan tersenyum dan saling menggoda.

Baca Juga: 6 Cara Hidupkan Romantisme Bersama Pasangan Saat Merencanakan Kehamilan

Bentuk Kemesraan Nabi Muhammad dan Siti Aisyah

Kisah Romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah -2

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui beberapa kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah, ada juga bentuk-bentuk kemesraan dari pasangan suami istri ini. Dilansir NU Online, inilah beberapa hal dari kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah yang bisa dijadikan contoh demi kebahagiaan hubungan suami istri.

1. Menempelkan Mulut pada Bekas Makan dan Minum Istri

Kemesraan ini tentunya melibihi kemesraan makan sepiring berdua. Hal ini diriwayatkan oleh Aisyah RA. Ia berkata: “Terkadang Rasulullah SAW disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid.

Lantas Rasulullah SAW mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah SAW mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR Ahmad).

2. Mandi Bersama

Melihat sosok Nabi Muhammad yang berwibawa, ternyata juga memiliki sisi romantisme kepada istrinya. Dalam sebuah hadis, Aisyah RA berkata: “Dahulu aku mandi junub bersama Rasulullah SAW dari satu bejana di mana tangan kami bergantian (mengambil air) di dalamnya.” (HR Bukhari Muslim).

Ini menunjukkan sisi romantisme dan kasih sayang bahkan setelah melakukan hubungan seksual. Nabi Muhammad sosok suami panutan yang ideal, bahkan pernah berkata bahwa sebagaik-baik laki-laki adalah yang baik perlakuannya kepada istrinya.

3. Memberi Perlakuan Baik saat Istri Haid

Saat haid, seorang perempuan bisa berada dalam mood swing. Sebagai suami, Nabi Muhammad mencontohkan perlakuan terbaik kepada istri., Aisyar RA berkata: “Dahulu Rasulullah SAW meletakkan kepalanya di pangkuanku kemudian membaca (Alquran) sedangkan aku dalam keadaan haid,” (HR Abu).

Bukan hanya itu, bahkan nabi Muhammad juga menunjukkan sisi lembutnya dengan cara yang tidak pernah dibayangkan. Dalam hadis lain, Aisyah RA berkata: “Dahulu aku menyisir rambut Rasulullah SAW sedangkan aku dalam keadaan haid.” (HR Bukhari dan Muslim).

4. Memberi Panggilan Khusus

Rasulullah SAW suka memanggil Siti Aisyah dengan panggilan ‘Ya Aisy’ (HR Bukhari dan Muslim). Dalam kultur Arab, pemenggalan huruf akhir dan panggilan kecil menunjukkan panggilan manja/tanda sayang. Bukan hanya memenggal panggilan kecil, nabi Muhammad juga mempunyai panggilan khusus.

Rasulullah SAW memanggil Aisyah RA dengan panggilan Humaira’ yang artinya adalah putih kemerah-merahan. Qadhi Iyadh menyebutkan dalam Masyariqul Anwar: “Perkataan beliau kepada Aisyah ‘Ya Humaira’ adalah bentuk tasghir (panggilan kecil) kasih sayang dan cinta.” (juz I, halaman 702).

Baca Juga: Romantis tapi Simple. Lakukan Kegiatan ini Bareng Pasangan Setiap Hari

5. Berbincang Bersama Istri di Luar

Berjalan bersama di malam hari bersama istri kemudian membincangkan banyak hal di luar rumah. Kemudian berbicara dari hati ke hati hingga mengingat memori bersama. Bukankah itu sangat mesra? Dan ini pun dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah hadis, Aisyah RA meriwayatkan tentang kebiasaan Rasulullah SAW yang keluar kota selalu membawa istri ini. “Nabi SAW ketika malam hari berjalan bersama Aisyah, berbincang dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

6. Mengajak Istri Makan di Luar

Diriwayatkan dari Anas RA, ia berkata: “Seorang lelaki Persia yang merupakan tetangga Nabi SAW mempunyai kuah kaldu paling sedap. Kemudian dia membuat makanan dan mendatangi Nabi SAW lantas mengundangnya untuk makan, sedangkan Aisyah berada di samping Nabi.

Kemudian Nabi SAW berkata, ‘Yang ini bagaimana?’ Ia menunjuk Aisyah dan berkata, “Tidak” Kemudian memberi isyarat kepadanya, “Bagaimana dengan ini?” Dia berkata, “Tidak.” Kemudian Nabi memberi isyarat yang ketiga kalinya dan bersabda, “Ini bersamaku?” Kemudian ia berkata, “Ya.” (HR Ibnu Hibban).

7. Menenangkan Amarah dengan Cara Unik

Sudah selayaknya pasangan suami istri memiliki perbedaan pendapat dan dapat mengatasinya dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar perbedaan itu tidak memicu amaran dan berakhir menjadi konflik. Hal ini pernah dialami oleh Nabi Muhammad saat melihat Siti Aisyah marah.

Ibnus Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah, meriyawatkan hadis dari Aisyah RA: “Ketika Aisyah marah, maka Nabi SAW mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah,‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan’.”

8. Hanya Menikah Sekali

Dikutip Huffpost, kisah romantis nabi Muhammad dan Siti Aisyah bukan hanya terjadi saat mereka hidup. Dicatatkan sebagai kisah cinta yang sejati, Aisyah tidak pernah menikah lagi setelah nabi meninggal.

Mengingat banyaknya momen-momen indah yang pernah mereka lalui bersama, Aisyah merasakan rasa duka yang begitu mendalam karena kehilangan. Bagaimana tidak, sosok yang begitu dicintainya itu meninggal dalam pangkuannya.

Semoga kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah ini menjadi inspirasi dalam menambahkan bumbu kasih sayang dalam kehidupan rumah tangga bagi seluruh pasangan suami istri.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait