28 Desember 2022

Kenali 10 Tanda Perkawinan Toksik, Termasuk Sering Bertengkar Hebat dan Merasa Tidak Bahagia

Waspada jika tanda-tanda ini Moms alami dalam rumah tangga

Tidak semua pernikahan atau perkawinan dapat selalu bahagia, sebab ada juga yang mengalami perkawinan toksik.

Pertengkaran dan perbedaan adalah hal yang lumrah ketika hidup dan tinggal bersama pasangan.

Dua sifat dan karakter manusia yang berbeda dan harus membaur dalam satu atap yang sama tentu kerap menimbulkan perselisihan.

Meski begitu, perselisihan antara pasangan suami istri dinilai wajar ketika ada solusi, pengertian, dan komunikasi yang baik dalam hubungan.

Di sisi lain, Moms juga harus tahu seperti apa tanda perkawinan toksik.

Pertikaian bukan lagi menjadi sesuatu yang wajar apabila berubah menjadi saling menyalahkan, Moms merasa tidak bahagia, meragukan diri sendiri hingga pasangan berubah menjadi posesif.

Jika demikian, maka Moms perlu waspada, karena bisa jadi itu adalah tanda perkawinan toksik.

Apa Itu Perkawinan Toksik?

Pasangan Bertengkar
Foto: Pasangan Bertengkar (Freepik/stefamerpik)

Perkawinan toksik menjadi suatu hal yang setiap pasangan sehat ingin hindari.

“Setiap hubungan memiliki tingkat toksik masing-masing. Namun, jika Anda merasa tidak nyaman berada dalam suatu hubungan, maka Anda harus berhenti dan bertanya apa yang menjadi penyebabnya,” kata Ginnie Love Thompson, PhD, seorang psikoterapis di Florida, melansir dari Women's Health Magazine.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa bila tingkat toksisitas menjadi lepas kendali, maka sejumlah masalah dalam hubungan akan muncul.

Mengutip dari TIME, Dr. Lillian Glass, seorang ahli komunikasi dan psikologi yang berbasis di California sekaligus penulis buku Toxic People (1995) mendefinisikan perkawinan toksik sebagai hubungan antar pasangan yang tidak saling mendukung.

Selain itu, ketika ada konflik, salah satu pasangan berusaha merusak kebahagiaan pasangan lainnya.

Lalu, dalam hubungan yang toksik juga terdapat persaingan, rasa saling tidak menghormati, dan kurangnya kekompakkan dalam pernikahan.

Sementara itu, jurnal penelitian yang diterbitkan di Semantic Scholar, dijelaskan bahwa toxic relationship, di mana perkawinan toksik juga termasuk, ditandai dengan perasaan tidak aman, egois, dominasi, dan suka mengontrol.

Baca Juga: 5 Tanda Kita Terjebak dalam Pernikahan Tidak Bahagia

Apa Saja Tanda Perkawinan Toksik?

Pasangan Toxic (Orami Photo Stock)
Foto: Pasangan Toxic (Orami Photo Stock)

Banyak dari pasangan yang tidak menyadari bahwa pernikahan yang sedang mereka jalani adalah hubungan toksik.

Namun, bukan berarti Moms tidak bisa membedakan atau melihat tanda-tanda perkawinan toksik.

Mengutip dari Women's Health Magazine, Seth Meyers, PsyD, seorang psikolog klinis dan penulis buku berjudul Overcome Relationship Repetition Syndrome and Find the Love You Deserve (2010), menjelaskan bahwa tak sedikit pasangan yang sering lupa tujuan pernikahan adalah untuk memberikan rasa aman dan dukungan emosional.

Namun jika suatu ketika salah satu atau kedua pasangan memilih berhenti untuk saling mendukung, maka kesehatan mental dan emosional diri sendiri lebih berharga ketimbang mempertahankan pernikahan.

Berikut ini tanda bahwa Moms terjebak dalam perkawinan toksik.

1. Mengalami Masalah Emosional

Menurut Joel Block, seorang psikolog sekaligus penulis buku berjudul The 15-Minute Relationship Fix (2018) menjelaskan bahwa hal ini mengarah pada perasaan kebencian, merasa terasingkan secara emosional, dan masalah rumah tangga terasa menyesakkan bahkan mengganggu keintiman hubungan.

Menahan emosi bukanlah hal baik, begitu pun dengan saling tidak menghargai percakapan antara pasangan ketika sedang mengutarakan isi hatinya. Moms perlu tahu tanda perkawinan toksik ini.

Misalnya, pasangan mengatakan bahwa ia tak suka ketika Moms marah lalu merendahkannya di hadapan keluarga besar.

Alih-alih tak menghiraukan, biarkan pasangan mengungkapkan hal-hal yang membuatnya sedih dan sakit hati atas perilaku yang Moms perbuat.

Kemudian cari solusi atau jalan tengah yang bisa mengantarkan kebahagiaan pada Moms dan Dads.

Baca Juga: 5 Tanda Kekerasan Emosional dalam Pernikahan

2. Pasangan Suka Mengkritik Berlebihan

Pasangan Bertengkar (Orami Photo Stock)
Foto: Pasangan Bertengkar (Orami Photo Stock)

Jika pasangan kerap mengkritik berlebihan, bisa jadi itu pertanda bahwa ia merasa kurang percaya diri dengan penampilannya sendiri atau hal-hal lain dalam kehidupannya.

Perilaku semacam ini akan menimbulkan kebencian dan kekhawatiran dalam pernikahan. Ini juga menjadi tanda perkawinan toksik yang lainnya.

Untuk mengatasinya, Dr. Tony Ortega, PsyD, seorang penulis buku #AreYouHereYet: How to STFU And Show Up for Yourself (2020) menyarankan Moms untuk mengidentifikasi apa yang membuat pasangan merasa insecure dalam hubungan.

Bicarakan hal ini dengan Dads, jadikan diskusi tersebut sebagai upaya untuk merekatkan kembali hubungan pernikahan.

3. Pasangan Membatasi Pergaulan

Perkawinan Toxic (Orami Photo Stock)
Foto: Perkawinan Toxic (Orami Photo Stock)

Selama menjalani rumah tangga bersama pasangan, apakah Moms merasa memiliki kebebasan untuk bertemu keluarga dan teman-teman?

Ataukah pasangan malah melarangnya? Jika ya, maka itu adalah tanda perkawinan toksik.

Tidak akur dengan mertua atau tidak menemukan kecocokan dengan sahabat adalah hal bisa dimengerti apabila pasangan terkadang enggan untuk bertemu dengan keluarga maupun sahabat.

Namun, yang menjadi tidak wajar ialah ketika pasangan membatasi waktu dan pergaulan Moms untuk bertemu keluarga maupun sahabat. Membatasi pergaulan juga menjadi tanda perkawinan toksik.

Keinginan dan perasaan melindungi maupun memiliki secara berlebihan bisa menyebabkan pasangan jadi posesif dan membuat hubungan renggang.

Menurut penelitian yang diterbitkan di American Psychological Association, dijelaskan bahwa posesif mengacu pada kumpulan sikap, perasaan, dan perilaku mengendalikan dan kontrol berlebihan atas tindakan orang lain dalam sebuah hubungan.

Moms perlu menjelaskan kepada pasangan bahwa orang tua dan sahabat adalah orang-orang terpenting dalam hidup Moms.

Sehingga sudah sewajarnya pasangan mendukung pertemanan dan hubungan keluarga yang sehat.

Terlebih ketika tahu bahwa hal itu penting untuk Moms.

Baca Juga: 13 Cara Memuaskan Pasangan dari Jarak Jauh untuk Pasangan LDR

4. Kerap Bertengkar Hebat

Pasangan Bertengkar (Orami Photo Stock)
Foto: Pasangan Bertengkar (Orami Photo Stock)

Banyak yang beranggapan perdebataan maupun pertengkaran adalah "bumbu" cinta dalam rumah tangga.

Tapi, jika pertengkaran diwarnai dengan kekerasan, kata-kata makian, dan perilaku kasar tentu itu bukan hal yang sehat.

Melansir Bustle, jika pasangan kerap memotong pembicaraan, tidak mau mengalah, hingga melakukan tindakan kekerasan maka Moms perlu waspada. Sebab, ini adalah salah satu tanda perkawinan toksik.

Moms dan Dads harus ingat, bahwa mungkin sebagian orang bisa berlapang dada untuk memaafkan, tapi mereka tak bisa melupakan. Terlebih ketika peristiwa itu menyakitkan atau menimbulkan trauma.

Moms dan Dads pun perlu sadar bahwa, adalah hal yang wajar jika muncul perasaan marah dan frustasi saat bertengkar hebat.

Namun, tidak ada hak yang memperbolehkan pasangan atau Moms untuk menggunakan cara-cara kasar saat bertengkar. Apalagi hingga mengeluarkan ancaman untuk bercerai.

5. Tidak Merasa Bahagia dalam Pernikahan

Pasangan Suami Istri Bertengkar (Orami Photo Stock)
Foto: Pasangan Suami Istri Bertengkar (Orami Photo Stock)

Tanda perkawinan toksik ini diketahui dengan Moms yang tidak ingat kapan terakhir kali merasa begitu bahagia setelah menikah.

Selain itu, perasaan tidak bahagia ini terus muncul meskipun hubungan dengan pasangan baik-baik saja dan pasangan masih menjadi suami yang selalu ada saat dibutuhkan.

Keinginan untuk melukai pasangan atau mempertimbangkan kembali pernikahan ini selalu muncul dalam hati maupun pikiran Moms.

6. Keluarga dan Teman-teman Merasa Khawatir pada Hubungan yang Dijalani

Ini terjadi ketika keluarga atau teman-teman terdekat merasa khawatir dan menanyakan tentang sikap pasangan yang terlihat toksik.

Mereka mungkin juga akan menampakkan perilaku tidak suka pada pasangan Moms yang dianggap toksik.

Bila Moms belum menyadari seberapa toksiknya pasangan, maka perkataan mereka mungkin akan terdengar menyakitkan dan tidak nyaman untuk Moms dengar.

Alih-alih merasa marah, sebaiknya Moms bertanya kembali, mengapa mereka menanyakan hal tersebut.

Maka mungkin tanggapan dari mereka akan membantu Moms dapat melihat berbagai hal melalui pandangan baru.

Baca Juga: Ini 10 Tanda Pasangan Terlalu Clingy, Waspadai!

7. Selalu Menunggu dan Berharap Pasangan Dapat Berubah

Istri Bersedih
Foto: Istri Bersedih (Freepik.com/freepik)

Perkawinan toksik, tidak hanya ditandai dengan sifat dan perilaku pasangan yang buruk, namun juga kesediaan seseorang untutk tetap tinggal bersama seorang toksik, dan berharap mereka dapat berubah.

Dengan kata lain, Moms bertahan dengan harapan pasangan yang toksik dapat berhenti dari perilakunya yang buruk.

"Seseorang perlu menyadari bahwa hanya karena mereka dapat menemukan sedikit hal positif dalam hubungan tersebut, tidak berarti mereka harus tetap berada di dalamnya," ungkap Gary Lewandowski Jr., PhD, seorang Professor Psychology di Monmouth University, Amerika Serikat, melansir dari Women's Health Magazine.

Baca Juga: 14 Prosesi Pernikahan Adat Batak Toba, Mulai dari Persiapan hingga Setelah Upacara Pernikahan

8. Pasangan Melakukan Silent Treatment

Melakukan perdebatan hingga pertengkaran tidak menjadi tanda bahwa hubungan yang dijalani adalah perkawinan toksik.

Melainkan, sikap silent treatment, atau mendiamkan pasangan adalah perilaku toksik yang sebenarnya.

Ini terjadi ketika pasangan tidak ingin mendengarkan apapun yang Moms katakan dan tidak ingin membicarakan masalah yang terjadi.

Mereka juga akan bertindak tidak responsif, atau bahkan langsung pergi ketika Moms ingin mendiskusikan sesuatu hal yang penting.

"Tanda hubungan yang sehat adalah di mana satu sama lain dapat terbuka dan jujur, serta memberi umpan balik dengan menggunakan komunikasi yang efektif," jelas Rebecca Hendrix, LMFT, seorang psychotherapist di New York, Amerika Serikat

9. Membuat Tubuh Terasa Lelah secara Fisik

Salah satu tanda perkawinan toksik juga bisa dirasakan oleh tubuh secara fisik.

Berada dalam toxic relationship dapat menyedot banyak energi tubuh.

Akibatnya, tubuh menjadi mudah kelelahan sepanjang hari dan tidak bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

10. Merasa Tidak Menjadi Diri Sendiri

Perempuan Bersedih
Foto: Perempuan Bersedih (Freepik.com/8photo)

Bila Moms berada dalam hubungan yang sehat, dan memiliki pasangan yang mencintai apa adanya, maka Moms akan tampil percaya diri dan selalu menjadi diri sendiri.
Beda lagi bila Moms berada dalam perkawinan toksik, maka Moms akan sulit menjadi diri sendiri di sekitar pasangan.

Pasangan toksik menginginkan Moms untuk selalu menjadi yang mereka inginkan, meskipun hal tersebut bukanlah hal yang dimiliki pada diri sendiri.

Sehingga, Moms selalu harus menyeseuaikan dengan hal-hal yang mereka katakan.

Baca Juga: Pernikahan Syighar, Pernikahan yang Menjadikan Perempuan sebagai Pengganti Mahar

Itu dia tanda perkawinan toksik, apakah Moms mengalami tanda-tanda di atas? Jika ya, mungkin Moms perlu membicarakan hal ini dengan pasangan, utarakan hal-hal yang mengganggu pikiran.

Namun, jika tidak berhasil, Moms tak perlu takut atau ragu untuk mendatangi pakar hubungan hingga psikolog untuk mencari solusi terbaik bagi hubungan rumah tangga Moms dan Dads.

  • https://www.bustle.com/p/11-signs-of-a-toxic-partner-according-to-divorce-lawyers-9258012
  • https://psycnet.apa.org/record/1985-24287-001
  • https://www.semanticscholar.org/paper/Human-Networks-and-Toxic-Relationships-Solferino-Tessitore/dd45f7f757f73bb7d3423790866f0644e2b977bb
  • https://time.com/5274206/toxic-relationship-signs-help/
  • https://www.healthline.com/health/toxic-relationship
  • https://www.womenshealthmag.com/relationships/a19739065/signs-of-toxic-relationship/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.