Kesehatan

17 Februari 2021

Mengenal Rematik, Penyebab Nyeri Sendi yang Menganggu Aktivitas

Rematik atau rheumatoid arthritis adalah radang sendi akibat kondisi autoimun
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Intan Aprilia

Rheumatoid arthritis atau yang biasa disebut rematik oleh masyarakat Indonesia adalah sebuah penyakit autoimun yang menyebabkan inflamasi.

Ini berarti bahwa sistem kekebalan tubuh secara tidak sengaja menyerang sel-sel sehat di tubuh dan kemudian menyebabkan peradangan (pembengkakan yang menyakitkan) di bagian tubuh yang terkena.

Rematik umumnya menyerang persendian dan biasanya banyak persendian sekaligus. Rematik biasanya memengaruhi persendian di tangan, pergelangan tangan, dan lutut.

Sendi yang mengalami rematik akan memiliki lapisan sendi yang meradang dan menyebabkan kerusakan jaringan sendi.

Kerusakan jaringan ini dapat menyebabkan nyeri yang berlangsung lama atau kronis, goyah (kurang keseimbangan), dan kelainan bentuk (cacat bentuk).

Baca Juga: Benarkah Mandi Malam Bisa Bikin Rematik?

Rematik juga dapat memengaruhi jaringan lain di seluruh tubuh dan menyebabkan masalah pada organ seperti paru-paru, jantung, dan mata.

Oleh karena itu, perawatan yang benar diperlukan untuk mengurangi gejala sehingga pengidapnya bisa menjalani aktivitas tanpa gangguan.

Ciri-ciri dan Gejala Rematik

Ciri-Ciri dan Gejala Rematik

Foto: meduniwien.ac.at

Ciri-ciri dan gejala rematik mungkin termasuk:

  • Sendi menjadi lebih lembut, hangat, dan bengkak.
  • Kekakuan sendi yang biasanya memburuk di pagi hari dan setelah tidak bergerak.
  • Kelelahan, demam, dan kehilangan nafsu makan

Mengutip Mayo Clinic, rematik dini cenderung mempengaruhi sendi kecil terlebih dahulu, terutama sendi yang menempelkan jari ke tangan dan jari kaki ke kaki.

Seiring perkembangan penyakit, gejala sering menyebar ke pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, siku, pinggul dan bahu. Dalam kebanyakan kasus, gejala muncul pada persendian yang sama di kedua sisi tubuh.

Sekitar 40 persen penderita rematik juga akan mengalami tanda dan gejala yang tidak melibatkan persendian. Rematik dapat mempengaruhi banyak struktur yang bukan sendi, termasuk:

  • Kulit
  • Mata
  • Paru-paru
  • Jantung
  • Ginjal
  • Kelenjar ludah
  • Jaringan saraf
  • Sumsum tulang
  • Pembuluh darah

Tanda dan gejala rematik dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan bahkan dapat datang dan pergi.

Periode peningkatan aktivitas penyakit, yang disebut flare, bergantian dengan periode remisi relatif, yakni saat pembengkakan dan nyeri memudar atau menghilang.

Seiring waktu, rematik dapat menyebabkan persendian berubah bentuk dan bergeser keluar dari tempatnya.

Baca Juga: Mengenal Ankylosing Spondylitis, Peradangan Sendi Tulang Belakang Kronis

Sebaiknya Moms segera buat janji dengan dokter jika Moms atau orang terdekat mengalami ketidaknyamanan dan pembengkakan yang terus-menerus pada persendian.

Dokter mungkin akan melakukan diagnosis dahulu dan kemudian menyarankan pengobatan yang bisa dilakukan.

Penyebab Rematik dan Faktor Risikonya

Penyebab Rematik dan Faktor Risikonya

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip American Arthritis Foundation, rematik terjadi ketika sistem kekebalan menyerang sinovium, yakni lapisan selaput yang mengelilingi persendian.

Peradangan yang dihasilkan akan mengentalkan sinovium, yang pada akhirnya dapat menghancurkan tulang rawan dan tulang di dalam sendi.

Tendon dan ligamen yang menahan sendi kemudian melemah dan meregang. Secara bertahap, sendi pun kehilangan bentuk dan kesejajarannya.

Para ahli sejauh ini tidak tahu apa yang memulai proses ini, meskipun komponen genetik kemungkinan besar terlibat.

Meskipun sebenarnya tidak menyebabkan rematik, gen dapat membuat Moms lebih rentan terhadap faktor lingkungan, seperti infeksi virus dan bakteri tertentu, yang kemudian dapat memicu penyakit.

Sementara itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko rematik, seperti:

  • Jenis Kelamin. Wanita nyatanya lebih mungkin dibandingkan pria untuk mengembangkan rematik.
  • Usia. Rematik dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering dimulai pada usia paruh baya.
  • Riwayat Keluarga. Jika anggota keluarga mengidap rematik, Moms sangat mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tersebut.
  • Merokok. Merokok meningkatkan risiko terkena rematik, terutama jika Moms memiliki kecenderungan genetik untuk mengembangkan penyakit tersebut. Merokok juga tampaknya dikaitkan dengan keparahan penyakit yang lebih buruk.
  • Paparan Lingkungan. Meskipun kurang dipahami, beberapa paparan seperti asbes atau silika dapat meningkatkan risiko pengembangan rematik.
  • Kegemukan. Seseorang, terutama wanita berusia 55 tahun ke bawah yang kelebihan berat badan atau obesitas tampaknya memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan rematik.

Baca Juga: Ini Penyebab Kelainan Tulang pada Anak dan Dampaknya, Catat!

Waspadai Komplikasi Rematik

Waspadai Komplikasi Rematik

Foto: Orami Photo Stock

Rematik akan meningkatkan risiko Moms mengalami beberapa penyakit lain, seperti:

  • Osteoporosis. Rematik itu sendiri, bersama dengan beberapa obat yang digunakan untuk mengobati rematik, dapat meningkatkan risiko osteoporosis, yakni suatu kondisi yang melemahkan tulang dan membuatnya lebih rentan terhadap patah tulang.
  • Nodul Reumatoid. Tonjolan jaringan yang kuat ini paling sering terbentuk di sekitar titik-titik tekanan, seperti siku. Namun, nodul ini bisa terbentuk di mana saja di tubuh, termasuk paru-paru.
  • Mata dan Mulut Kering. Jika Moms menderita rematik, Moms lebih mungkin mengalami sindrom Sjogren, kelainan yang menurunkan jumlah kelembapan di mata dan mulut.
  • Infeksi. Penyakit itu sendiri dan banyak obat yang digunakan untuk memerangi rematik dapat merusak sistem kekebalan, yang menyebabkan peningkatan infeksi.
  • Komposisi Tubuh Tidak Normal. Proporsi lemak terhadap massa tanpa lemak seringkali lebih tinggi pada orang yang menderita rematik, bahkan pada orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal.
  • Sindrom Carpal Tunnel. Jika rematik memengaruhi pergelangan tangan, maka peradangan dapat menekan saraf yang melayani sebagian besar tangan dan jari.
  • Masalah Jantung. Rematik dapat meningkatkan risiko arteri yang mengeras dan tersumbat, serta peradangan pada kantung yang membungkus jantung.
  • Penyakit Paru-paru. Orang dengan rematik memiliki peningkatan risiko peradangan dan jaringan parut pada jaringan paru-paru, yang dapat menyebabkan sesak napas yang progresif.
  • Limfoma. Rematik meningkatkan risiko limfoma, yakni sekelompok kanker darah yang berkembang di sistem getah bening.

Baca Juga: Mengenal Brittle Bone Disease, Penyakit Tulang Langka Pada Balita

Pengobatan Rematik

Pengobatan Rematik

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention, sayangnya tidak ada obat untuk rematik. Namun, studi klinis menunjukkan bahwa perawatan yang berfokus untuk mengurangi gejala lebih mungkin dilakukan.

Ada beberapa jenis pengobatan yang bisa dilakukan untuk atasi rematik, misalnya:

1. Pemberian Obat

Jenis obat yang direkomendasikan oleh dokter akan bergantung pada tingkat keparahan gejala dan berapa lama telah mengidap rematik. Beberapa obat yang biasa diresepkan antara lain:

  • NSAID. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dapat meredakan nyeri dan mengurangi peradangan. NSAID yang dijual bebas termasuk ibuprofen (Advil, Motrin IB) dan naproxen sodium (Aleve). NSAID yang lebih kuat tersedia dengan resep. Efek sampingnya mungkin termasuk iritasi perut, masalah jantung dan kerusakan ginjal.
  • Steroid. Obat kortikosteroid, seperti prednison, mengurangi peradangan dan nyeri serta memperlambat kerusakan sendi. Efek samping mungkin termasuk penipisan tulang, penambahan berat badan dan diabetes. Dokter sering meresepkan kortikosteroid untuk meredakan gejala akut, dengan tujuan mengurangi pengobatan secara bertahap.
  • Obat Antirematik Pemodifikasi Penyakit (DMARDs). Obat ini dapat memperlambat perkembangan rematik dan menyelamatkan sendi dan jaringan lain dari kerusakan permanen. Efek samping bervariasi tetapi mungkin termasuk kerusakan hati, penekanan sumsum tulang, dan infeksi paru-paru yang parah.

2. Terapi

Dokter juga mungkin meminta Moms mendatangi ahli terapi fisik atau okupasi yang dapat mengajari latihan untuk membantu menjaga sendi tetap fleksibel.

Terapis mungkin juga menyarankan cara baru untuk melakukan tugas sehari-hari, yang akan lebih memudahkan persendian.

Alat bantu juga dapat memudahkan Moms menghindari stres pada persendian yang nyeri.

Misalnya, pisau dapur yang dilengkapi pegangan tangan membantu melindungi sendi jari dan pergelangan tangan.

Alat tertentu, seperti kancing, dapat memudahkan Moms untuk berpakaian.

3. Operasi

Jika obat gagal mencegah atau memperlambat kerusakan sendi, Moms dan dokter mungkin perlu mempertimbangkan operasi untuk memperbaiki sendi yang rusak.

Pembedahan dapat membantu memulihkan kemampuan Moms untuk menggunakan sendi. Itu juga dapat mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsinya.

Operasi rematik mungkin melibatkan satu atau lebih dari prosedur berikut ini:

  • Sinovektomi. Pembedahan untuk mengangkat lapisan sendi yang meradang (sinovium) dapat dilakukan pada lutut, siku, pergelangan tangan, jari tangan dan pinggul.
  • Perbaikan Tendon. Peradangan dan kerusakan sendi dapat menyebabkan tendon di sekitar sendi kendor atau pecah. Dokter bedah mungkin dapat memperbaiki tendon di sekitar sendi.
  • Fusi Sendi. Menggabungkan sendi secara bedah mungkin disarankan untuk menstabilkan atau menyetel kembali sendi dan untuk menghilangkan rasa sakit ketika penggantian sendi bukanlah pilihan.
  • Penggantian Sendi Total. Selama operasi penggantian sendi, ahli bedah akan mengangkat bagian sendi yang rusak dan memasukkan prostesis yang terbuat dari logam dan plastik.

Baca Juga: 5 Makanan yang Harus Dihindari Bagi Penderita Arthritis

Namun, pembedahan membawa risiko perdarahan, infeksi, dan nyeri. Diskusikan manfaat dan risikonya dengan dokter sebelum memilih metode ini.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait