Jalan-jalan

21 Juli 2021

Yuk, Jelajahi Rumah Adat NTT di Kampung Adat Bena, Wae Rebo dan Ratenggaro!

Alternatif wisata budaya di Nusa Tenggara Timur (NTT)
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Meiskhe
Disunting oleh Karla Farhana

Kalau jalan-jalan ke Nusa Tenggara Timur (NTT), jangan cuma mengeksplor keindahan lautnya di Labuan Bajo dan Pulau Padar, atau berkunjung ke Pulau Komodo saja. Moms, juga wajib menjelajahi keindahan kampung adatnya yang menampilkan ragam rumah adat NTT.

Nusa Tenggara Timur terdiri dari beberapa pulau, di antaranya Pulau Flores, Pulau, Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor dan pulau-pulau lainnya, di mana di pulau-pulau tersebut terdapat kampung adat.

Ragam Rumah Adat NTT di Kampung Adat Bena, Waerebo dan Ratenggaro

Misalnya saja, di Flores terdapat Kampung Adat Bena dan Kampung Adat Wae Rebo yang populer bagi turis domestik dan mancanegara. Sementara di Pulau Sumba, ada Kampung Adat Ratenggaro yang memiliki sejarah unik, juga dikelilingi pemandangan yang indah.

Selain bisa melihat rumah adat NTT dari dekat, di kampung adat ini Moms juga bisa merasakan langsung kearifan lokal penduduk lokal NTT, lho.

Baca Juga: 14 Makanan Khas NTT, Sudah Pernah Coba yang Mana?

1. Rumah Adat NTT di Kampung Adat Bena

rumah adat ntt

Foto: Pinterest.com

Kampung Bena adalah sebuah kampung adat tertua yang terletak di Kabupaten Ngada, Flores, NTT, tepatnya di Desa Tiwuriwu, Kecamatan Aimere. Letaknya di puncak bukit dengan latar belakang Gunung Inerie, sehingga membuat suasana Kampung Bena asri dan tenang.

Kalau berkunjung ke Kampung Bena, kita akan menemui 43 rumah adat NTT. Susunan rumahnya sangat unik karena bentuknya melingkar membentuk huruf U, atau dari jauh tampak seperti kapal dengan dua baris rumah adat yang saling berhadap-hadapan.

Rumah adat di Kampung Bena disebut sa'o atau diartikan sebagai rumah. Sa'o ini dihuni oleh 9 suku, di mana tiap rumah memiliki nama masing-masing.

Misalnya saja, Sa'o Saka Lobo, rumah yang mewakili leluhur kaum pria dan Sa'o Saka Pu'u yang mewakili leluhur wanita, dan sa'o-sa'o lainnya.

Ciri Khas Rumah Adat Sa'o Saka Lobo dan Sa'o Saka Pu'u

rumah adat ntt

Foto: Jakartapost.com

Di dalam adat Bena, Sa'o Saka Pu'u berada pada posisi tertinggi dan menjadi pemimpin rumah-rumah adat lainnya. Ciri khas rumah ini yaitu adanya Anaie pada bubungan atap yang merupakan simbol dari perempuan yang dibuat dari kayu oja dan alang-alang.

Sementara Sa'o Saka Lobo kedudukan berada di posisi kedua setelah Sa'o Saja Pu'u. Karakteristiknya dapat dilihat pada bubungan atap terdapat boneka kayu yang memegang parang di tangan kanan dan tombak di tangan kiri. Simbol ini disebut Ata yang berarti manusia.

Kedua jenis rumah ini berbentuk panggung dan material yang digunakan merupakan material yang ada pada kearifan lokal kampung Bena.

Untuk ruangan di dalamnya, dibagi menjadi 3 bagian yaitu Tedha Wesa atau ruang luar yang berfungsi untuk menerima tamu atau kadang digunakan sebagai area menenun.

Tedha One atau ruang tengah adalah ruangan untuk berkumpul keluarga, makan bersama, ataupun untuk tidur. Kemudian One atau ruang ini menjadi tempat ritual adar, kediaman leluhur, tempat tidur kepala rumah tangga dan tempat memasak. Semua aktiviyas ini bisa dilakukan di One.

Selain sebagai tempat tinggal, Sa'o Saka Pu'u dan Sa'o Saka Lobo juga merupakan ruang sakral, di mana roh para leluhur tinggal dan menjaga anak cucunya di dalam rumah tersebut.

Baca Juga: Menyingkap Keunikan Rumah Adat Aceh dan Filosofinya

2. Rumah Adat NTT di Kampung Adat Wae Rebo

rumah adat ntt

Foto: Iindonesia-tourism.com

Kampung Wae Rebo merupakan salah satu desa tertinggi di Indonesia, yang berada di dataran tinggi Manggarai, Flores. Di Kampung Adat Wae Rebo terdapat 7 rumah adat yang disebut Mbaru Niang dan satu rumah Gendang sebagai rumah ketua desa adat. Setiap Mbaru Niang ditinggali 6 keluarga, sedangkan rumah Gendang dihuni 8 keluarga.

Mbaru Niang berbentuk kerucut dengan atap hampir menyentuh tanah. Atapnya menggunakan daun lontar kemudian ditutupi dengan ijuk. Tiang-tiang utama menggunakan kayu worok yang besar yang diambil satu pohon utuh.

Bentuknya dibuat rumah panggung, dengan tujuan untuk melindungi dari binatang buas, karena letaknya berada di tengah hutan.

Pembagian ruangan Mbaru Niang

rumah adat ntt

Foto: Odysseyindonesia.com

Mbaru Niang terdiri dari lima tingkat yang masing-masing tingkatnya memiliki fungsi yang berbeda-beda.

  1. Tingkat pertama disebut lutur digunakan sebagai tempat tinggal dan berkumpul dengan keluarga. Tingkat lutur dibagi tiga, bagian depan ruangan untuk digunakan bersama, semacam ruang keluarga. Di bagian dalam adalah kamar-kamar yang disekat menggunakan papan, dan dapur di bagian tengah rumah.
  2. Tingkat kedua berupa loteng atau disebut lobo yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang-barang sehari-hari.
  3. Tingkat ketiga disebut lentar untuk menyimpan benih-benih tanaman pangan, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan.
  4. Tingkat keempat disebut lempa rae digunakan untuk menyimpan cadangan bahan pangan yang bisa digunakan dalam keadaan darurat, misalnya gagal panen.
  5. Tingkat kelima atau merupakan tempat paling atas dalam rumah Mbaru Niang dan merupakan tempat suci yang disebut hekang kode. Tempat ini digunakan untuk menempatkan sesaji untuk leluhur.

Bagi suku Manggarai yang menghuni Kampung Adat Wae Rebo, Mbaru Niang bukan hanya sekedar rumah untuk berlindung dan beristirahat, namun juga merupakan wujud keselarasan manusia dengan alam serta merupakan cerminan fisik dari kehidupan sosial warga desa Wae Rebo.

Baca Juga: 10 Rangkaian Pernikahan Adat Bali yang Begitu Syahdu

3. Rumah Adat NTT di Kampung Adat Ratenggaro

rumah adat ntt

Foto: Indonesia-tourism.com

Dari Flores, mari kita menuju ke Pulau Sumba. Di Pulau Sumba terdapat beberapa kampung adat. Salah satu yang populer adalah kampung Ratenggaro yang terletak di Sumba Barat Daya, NTT. Kampung Adat Ratenggaro berada di tebing muara Sungai Waiha. Dari tebing ini kita bisa melihat Samudra Hindia.

Nama Ratenggaro berasal dari kata rate berarti kuburan, dan garo yang berarti orang-orang Garo. Orang-orang Garo kalah perang dikubur di Ratenggaro, makanya di sana terdapat ratusan kuburan batu dengan bentuk yang unik dan punya kesan magis.

Selain kuburan batu, di kampung adat ini juga terdapat rumah adat yang memiliki ciri khas menyerupai menara menjulang tinggi mencapai 15-20 meter. Rumah adat NTT di kampung Ratenggaro ini dikenal dengan sebutann Uma Kelada.

Atapnya terbuat dari jerami dan tinggi rendahnya atap didasarkan atas status sosial orang yang mendiaminya.

Pembagian ruangan rumah adat Uma Kelada

rumah adat ntt

Foto: Pinterest.com

Rumah adat Uma Kelada terdiri atas 4 tingkat dengan tingkat paling bawah digunakan sebagai kandang hewan peliharaan.

Tingkat kedua adalah tempat tinggal pemilik rumah. Tingkat ketiga untuk menyimpan hasil panen dan tingkat keempat untuk memasak dan menyimpan benda pusaka.

Karakteristik rumah adat di Kampung Ratenggaro ini, hampir mirip dengan rumah adat Tongkonan dari Sulawesi Selatan, di mana terdapat tanduk kerbau dan rahang babi digantung sebagai simbol pemilik rumah pernah melaksanakan upacara adat.

Baca Juga: Selain Joglo, Inilah 7 Rumah Adat Jawa Timur Lainnya

Itulah dia rumah adat NTT yang ada di Kampung Adat Beno dan Kampung Adat Wae Rebo di Flores, serta Kampung Adat Ratenggaro di Sumba. Berniat untuk jalan-jalan ke sana, Moms?

  • http://digilib.isi.ac.id/
  • https://indonesiakaya.com/
  • https://media.neliti.com

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait