Kehamilan

KEHAMILAN
5 Februari 2020

Saya Sukses Hamil Alami, setelah 7 Tahun Menunggu dan Hampir Inseminasi

Berhasil hamil alami tanpa inseminasi, rasanya luar biasa bahagia
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Sharing Ratnasanti Sulistyorini, Mom dari Benedictus Genta Meru Narendra, 1 bulan.

Sekarang saya sedang bahagia-bahagianya menimang bayi laki-laki, buah cinta pernikahan saya dengan suami, Ignatius Bayu Ari. Saya tahu, setiap anak membawa kebahagiaan luar biasa untuk orang tuanya, tapi kisah saya mendapatkan Meru, bisa dibilang luar biasa. Menunggu hampir 7 tahun, lengkap dengan cucuran air mata dan perjuangan panjang.

Begini cerita lengkap perjuangan saya sampai sukses hamil!

Saya dan suami hanya 6 bulan dekat dan berpacaran sampai akhirnya sepakat menikah. Itu yang jadi alasan setelah menikah memang kami sengaja menunda punya momongan. Kami ingin merasakan punya waktu lebih lama saling mengenal, supaya lebih kenal dekat sifat masing-masing. Bahkan sempat setelah satu tahun menikah, kami mencoba hobi baru, yaitu mendaki gunung. Kegiatan yang sama sekali belum pernah kami lakukan sebelumnya! Pilihan gunungnya pun bukan yang mudah untuk pemula. Kami memilih Gunung Semeru!

Setelah menunda, akhirnya kami sepakat mulai program hamil

RatnaGunung.jpg

Pertengahan 2013, setelah puas “berpacaran” dan lebih mengenal, kami pun memulai program hamil. Saat konsultasi ke dokter, kami diminta menjalani sebuah program. Mulai dari minum obat pembesar sel telur, pemecah sel telur, sampai dibuatkan jadwal untuk berhubungan. Diagnosa dokter, saya mengidap PCOS kelainan hormon dan indung telur saya memproduksi banyak kantong cairan, yang berakibat sel telur tidak berkembang sempurna

Sekitar satu tahun kami menjalankannya. Perjalanan yang melelahkan, tapi tak kunjung membuahkan hasil. Setiap kali menstruasi, malam harinya saya selalu menangis dan berkeluh kesah pada Tuhan. Tetapi suami selalu berusaha menenangkan dan meminta saya untuk bersabar dan terus berdoa.”

Genap satu tahun menjalani program yang tak kunjung membuahkan kehamilan, dokter meminta saya untuk laparoskopi. Dari segi mental, saya tidak siap, belum lagi biayanya juga mahal. Jadinya saya tidak menuruti saran dokter dan berhenti program. Bagaimana dengan solusi lain? Sudah pasti kami tak berhenti. Saya juga mencoba pengobatan alternatif. Diurut orang pintar yang ini dan yang itu, atas rekomendasi banyak sahabat dan saudara. Tapi tetap saja, tak juga hamil.

Kata orang-orang, saya diminta sabar menjalani prosesnya. Saya selalu berusaha melakukannya, tapi tetap tidak sanggup untuk terus legowo. Walau sudah berusaha, tapi tetap saya tak berhenti berpikir, kapan saya hamil, apalagi usia terus bertambah.

Program Kedua Dimulai

Tak mau berhenti berusaha, kami sepakat lanjut mencari program lain, di rumah sakit yang berbeda. Atas saran seorang rekan kantor, saya memilih seorang Profesor ternama. Nama besar profesor itu ternyata sukses bikin saya dan suami harus menunggu sampai jam 1 pagi, hanya untuk berkonsultasi. Kesabaran kami memang diuji saat itu. Saya hampir putus asa karena setiap kontrol harus menunggu sampai dini hari. Programnya pun hampir sama dengan yang pertama. Pembesaran sel telur, pemecah sel telur, hydro, dan irigasi. Satu siklsus program saya harus kontrol 3 sampai 4 kali.

Tapi akhirnya saya menyerah, mau melakukan laparoskopi, yang bertujuan untuk memastikan apakah benar saya mengidap PCOS dan melihat kemungkinan adanya kista. Laparoskopi tak berhenti sampai di situ. Selanjutnya diikuti dengan suntik Tapros untuk berhenti menstruasi selama 3 bulan. Biayanya tidak murah. Satu kali suntik, hampir 3 juta rupiah. Ini kami lakukan selama 3 bulan. Setelah suntik selesai, kamu diminta kembali menjalani program seperti biasa. Tapi dokter sempat bilang, jika belum berhasil juga kami disarankan untuk berhenti program dulu selama 3 bulan untuk santai sejenak.

Setiap gagal dan menstruasi, saya kembali merasa terpukul, sedih, dan tak henti menangis. Setiap kali itu juga suami saya kembali mengajak saya berdoa bersama dan bikin saya selalu menangis di pangkuannya, minta maaf belum bisa membahagiannya dengan memberikan keturunan.

Sempat Bikin Rencana Inseminasi

JIka 3 bulan setelah kami rehat dan belum berhasil juga, kami berencana melakukan program inseminasi. Bulan April 2019 saya mengajak suami untuk kontrol ke dokter, untuk konsultasi soal inseminasi. Tapi ide saya ditolak. “Nanti saja kita santai dulu,” kata suami saya saat itu. Saya pun menurutinya. Kami berdua mencoba untuk santai dan relaks. Walaupun tidak bisa, tapi saya coba pasrahkan semua pada Tuhan.

Sebulan kemudian, akhirnya kami sepakat kembali ke dokter buat konsultasi. Saya ingat betul, jadwal menstruasi sebelumnya 12 April 2019 seharusnya yang berikutnya di tanggal 9 mei 2019. Satu minggu ditunggu, tak juga datang menstruasinya. Saya mulai panik dan bingung, apakah saya hamil? Tetapi rasanya tidak mungkin karena pada bulan April 2019 itu kami jarang berhubungan dan kondisi tubuh saya pun waktu itu sedang tidak fit.

Saya putuskan buat menunggu. Ternyata 2 minggu kemudian, jdawal saya menstruasi saya tak juga hadir. Sepulang kantor, saya memberanikan diri untuk mampir ke apotik membeli testpack diam-diam, tanpa sepengetahuan suami. Saya sampai tidak bisa tidur memikirkan bagaimana menggunakan test pack tersebut tanpa diketahui suami.

Pagi itu, tanggal 16 Mei 2019 jam 05.00 pagi saya pakai testpack-nya dan doa saya terjawab. Saya melihat hasilnya berupa 2 garis merah. Tangan saya gemetar, menatap nanar hasilnya sambil berpikir mana mungkin saya hamil. Jangan-jangan hasilnya salah.

Suami ternyata curiga dengan tingkah saya yang tidak biasanya bangun pagi-pagi untuk buang air kecil. Saat ia sedang bersiap-siap kantor, saya menangis. Ketika ditanya alasannya, saya bilang “Saya hamil” dan tangisan saya semakin menjadi sambil memeluknya erat dan menunjukkan testpack.

Suami langsung memeluk saya erat dan menangis “Terima kasih Tuhan jika ini memang berkatmu,” begitu ujarnya sambil memeluk saya penuh kebahagiaan.

Hari itu juga kami berencana langsung periksa ke dokter. Tapi kami tahu benar kalau baru mendaftar di Hari H, maka gilirannya bisa sampai dini hari jika kontrol ke dokter langganan. Akhirnya saya pilih ke dokter lain. Senangnya luar biasa waktu dokter bilang saya sudah hamil 4 minggu. Saya pun dibekali vitamin dan penguat janin.

Saya Hamil dan Menjalaninya Penuh Haru

RatnaUSG.jpg

Awal kehamilan saya merasa selalu mual di pagi, siang, dan malam hari. Terus begitu sampai usia kehamilan saya memasuki 5 bulan. Makan pun mual, apalagi kalau nasi putih. Berat saya sampai turun 4 kg di awal kehamilan.

Pastinya saya panik, takut kondisi saya mengganggu janin di dalam kandungan. Sejak hamil pun saya dilarang naik motor sendiri oleh suami atau beraktivitas yang berat. Pokoknya saya wajib menjaga kondisi kehamilan yang sudah ditunggu-tunggu ini.

Lucunya, di awal kehamilan saya selalu mual makan di rumah tetapi jika jajan saya mau makan meskipun sedikit demi sedikit. Jadilah saya sering jajan selama masa kehamilan berlangsung, hahaha.

Kondisi janin saat ini normal dan bagus, perkembangan yang setiap waktu mengesankan terlebih ini adalah kehamilan yang saya nantikan, setiap dia gerak saya selalu amazing ternyata begini toh rasanya hamil, seru dan mengesankan.

Tetapi yang lucu adalah setiap ayahnya merasakan gerakan si janin, dia tidak mau gerak hahaha sampai sampai ayahnya kesal kepada saya.

Nama untuk si bayi, kami menyiapkan nama dari kesamaan hobi kami yang sama-sama suka naik gunung, mungkin nanti nama anak kami nanti adalah salah satu nama gunung di Indonesia hehehehe.

Kami sudah berangan-angan ingin mengajak si kecil untuk traveling ke gunung jika sudah berumur 5 tahun nanti, jadi harus mempersiapkan peralatan gunung si kecil mulai dari sekarang hihihi.

Kebahagiaan yang Dinanti Hadir

RatnaBertiga.jpg

Akhirnya mimpi jadi orang tua terwujud. Jagoan kecil, buah hati yang kami nanti selama 7 tahun lahir lewat operasi caesar. Ganteng dan sehat. Sudah kami pilihkan nama spesial, Benedictus Genta Meru Narendra, yang berarti Pemimpin yang berwibawa, diikuti, dan berpendirian kokoh seperti gunung. Inspirasinya sudah tentu dekat dengan hobi saya dan suami naik gunung sebelum Meru hadir.

Rasanya terus seperti non stop bermimpi, bisa menggendong dan menyusui Meru. Walaupun perjuangan di rumah mengurus dan mengasuh Meru pun tak mudah. Tapi saya dan suami sudah bertekad terus berusaha dan berusaha memberikan semua yang terbaik.

Pesan saya buat para calon Moms dan Dads yang masih berjuang bisa hamil, jangan pernah berhenti berharap. Bisa jadi waktu kita belum tentu waktu terbaik buat Tuhan. Kita tidak pernah tahu kapan keajaiban akan terwujud. Persis seperti yang terjadi pada saya. Ketika tidak berani berharap, Tuhan malah memberikan.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait