30 Mei 2020

Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Tes Pap Smear?

Berikut golongan umur dan waktu tepat untuk pap smear

Pap smear merupakan prosedur diagnostik yang digunakan untuk melihat adanya kanker serviks atau tidak pada wanita.

Tes ini melibatkan pengumpulan sel-sel dari leher rahim kita dan itu dapat mendeteksi perubahan-perubahan dalam sel-sel serviks kita.

Selama beberapa dekade, kanker serviks juga menjadi salah satu penyebab kematian wanita terbanyak. Sehingga, Moms harus melakukan pap smear sebagai bentuk pencegahan awal dari kanker serviks.

Dilansir dari Health Maintenance Guidelines for Women oleh Cleveland Clinic, wanita berusia 21-65 tahun harus melakukan tes pap smear.

Pap smear dimaksudkan sebagai tes skrining yang mengingatkan perlunya pemeriksaan lebih lanjut.

Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa skrining pap smear rutin mendeteksi 92 persen dari kasus kanker serviks.

Baca Juga: Yuk Pahami Langkah Tes Pap Smear, Tidak Perlu Takut!

Kapan Harus Melakukan Pap Smear?

Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Pap Smear - kapan melakukan pap smear.jpg
Foto: Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Pap Smear - kapan melakukan pap smear.jpg (shutterstock)

Foto: shutterstock.com

Kematian yang diakibatkan oleh kanker serviks yang tinggi dikarenakan kurangnya kesadaran wanita untuk melakukan tes pap smear.

“Sebagian besar kematian akibat kanker serviks muncul pada wanita yang tidak diskrining atau tidak diobati dengan tepat, sehingga sangat penting bagi wanita untuk mendapatkan skrining secara teratur,” kata Dr. Doug Owens, MD., wakil ketua United States Preventive Services Task Force.

Sehingga, Office on Women's Health telah memberikan rekomendasi waktu yang tepat untuk melakukan pap smear.

  • Umur kurang dari 21 tahun, tidak diperlukan.
  • Umur 21-29 tahun, tes berlaku setiap 3 tahun.
  • Umur 30-65 tahun, tes berlaku setiap 3 tahun; tes HPV setiap 5 tahun, atau tes pap smear dan tes HPV bersama setiap 5 tahun.
  • Umur 65 tahun ke atas, dilakukan sesuai rekomendasi dari dokter.

Namun, jika Moms mendapatkan hasil pap smear yang abnormal, Moms mungkin perlu melakukan tes pap smear lebih sering.

Moms juga akan memerlukan skrining lebih sering jika memiliki riwayat kanker serviks, HIV+, sistem kekebalan yang melemah, atau terpapar dietilstilbestrol (bentuk sintetis estrogen) di dalam rahim.

Baca Juga: Manfaat Tes Pap Smear yang Perlu Moms Tahu

Bagaimana Jika Kita Telah Mendapat Vaksin HPV?

Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Pap Smear - vaksin hpv.jpg
Foto: Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Pap Smear - vaksin hpv.jpg (shutterstock)

Foto: shutterstock.com

Pada tahun 2016, sebuah studi dalam Journal of National Cancer Institute menyarankan bahwa wanita yang telah menggunakan ketiga dosis vaksin HPV hanya perlu empat kali pemeriksaan kanker serviks sepanjang hidup mereka.

Namun, Dr. Owens mengatakan jika belum banyak bukti soal dampak vaksin HPV.

Walau begitu, ia menyampaikan jika sudah melakukan vaksin HPV, Moms harus tetap mengikuti rekomendasi untuk kelompok usia Moms.

Mempersiapkan Tes Pap Smear

Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Pap Smear - mempersiapkan pap smear.jpg
Foto: Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Pap Smear - mempersiapkan pap smear.jpg (Shutterstock)

Foto: shutterstock.com

Untuk meningkatkan akurasi pap smear yang akan Moms lakukan, ada beberapa hal yang harus dihindari selama 48 jam sebelum tes, yakni:

  • Berhubungan seks
  • Douching vagina atau mencuci miss v dengan menyemprotkan larutan khusus ke dalam saluran miss v
  • Menggunakan tampon atau pembalut
  • Menggunakan pelumas vagina atau obat-obatan
  • Sedang haid

National Cancer Institute menjelaskan kalau ahli medis melakukan tes pap smear dengan cara memasukkan alat bernama speculum ke vagina pasien supaya bagian atas vagina dan serviks bisa terlihat.

Ahli medis pun akan mengambil sampel sel serviks yang kemudian akan dites di laboratorium.

Baca Juga: Tes Pap Smear untuk Wanita, Pentingkah Dilakukan?

Para peneliti menemukan bahwa tes pap smear akan sulit dilakukan pada wanita obesitas, karena bagian serviks lebih sulit terlihat. Sehingga ahli medis harus menggunakan speculum berukuran lebih besar.

Sebagian besar wanita tidak mengalami rasa sakit selama tes, tetapi mungkin merasakan sedikit rasa "jepitan" atau tekanan.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.