12 Februari 2023

Manfaat Pap Smear untuk Deteksi Kanker Serviks, Begini Prosesnya!

Deteksi dini terhadap penyakit kanker bisa dilakukan melalui pap smear

Pap smear atau kepanjangan dari papanikolaou test adalah pemeriksaan yang sebaiknya Moms lakukan setelah menikah.

Sampai saat ini, rasanya masih banyak wanita yang belum memahami manfaat pap smear dan pentingnya melakukan tes tersebut.

Padahal, melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pap smear sebaiknya dilakukan sejak wanita berusia 21 tahun atau yang sudah aktif secara seksual.

Setelahnya, Moms wajib mendapatkan pap smear 2-3 tahun sekali. Lalu, sebenarnya apa kegunaan dari tes pap smear ini? Yuk simak penjelasannya.

Baca Juga: Berapa Biaya Vaksin HPV untuk Mencegah Kanker Serviks dan Kapan Harus Dilakukan?

Pengertian Pap Smear

Ilustrasi Serviks
Foto: Ilustrasi Serviks (Freepik.com/freepik)

Melansir Asia-Pacific Journal of Oncology Nursing, pap smear adalah prosedur skrining untuk kanker serviks. Ini menguji keberadaan sel prakanker atau kanker pada leher rahim wanita.

Pemeriksaan ini juga dapat menemukan sel-sel abnormal (sel prakanker) di leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker.

Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel sel di serviks.

Setelah itu, pemeriksaan di laboratorium akan dilakukan agar diketahui apakah di dalam sampel tersebut terdapat sel prakanker atau sel kanker.

Baca Juga: Kanker Rahim: Jenis, Gejala, dan Perawatannya

Manfaat Tes Pap Smear untuk Deteksi Kanker Serviks

Kegunaan Pap Smear yang Perlu Moms Tahu-1.jpg
Foto: Kegunaan Pap Smear yang Perlu Moms Tahu-1.jpg (womenshealth.gov)

Kanker adalah salah satu penyakit yang menjadi momok menakutkan bagi siapa saja, terkhususnya bagi kaum wanita.

Ketika terdapat sel-sel dalam tubuh yang tumbuh di luar kendali pada bagian serviks, maka ini disebut kanker serviks.

Serviks sendiri adalah bagian bawah rahim yang terhubung langsung oleh vagina.

Kanker serviks, yang hanya dapat dialami oleh wanita, tidak dapat dikatakan sebagai penyakit yang sepele. Komplikasi kesehatan dapat terjadi dan fatalnya bisa mengancam nyawa.

Sebuah penelitian PLoS One menunjukkan bahwa, di Indonesia kasus kejadian dan kematian akibat kanker serviks menduduki peringkat kedua setelah kanker payudara.

Untuk itu, Moms butuh pencegahan terhadap kanker serviks. Salah satunya adalah rutin melakukan tes pap smear.

Pap smear dapat mendeteksi dini terjadinya kanker serviks. Ketika kanker bisa dideteksi lebih awal, maka dapat mengurangi risiko perkembangan dan akan lebih mudah untuk ditangani,” ungkap Dr. Johnathan Lancaster, direktur pusat onkologi wanita di H. Lee Moffitt Cancer Center & Research Institute.

Dengan menjalani pemeriksaan ini secara rutin, kondisi leher rahim dapat dipantau dan kanker serviks dapat terdeteksi secara dini.

Dokter juga dapat memperkirakan apakah ada risiko terjadinya kanker melalui hasil pemeriksaan pap smear.

Pap smear dapat dimulai ketika berusia 21 tahun, terpenting adalah sudah aktif secara seksual. Nah, ketika Moms berusia di atas 30 tahun, skrining kesehatan tidak terbatas pada tes pap smear saja.

American College of Obstetricians and Gynecologists mengungkapkan, Moms harus menggunakan kombinasi tes pap smear dengan tes HPV (human papillomavirus) untuk mendeteksi lesi serviks yang abnormal lebih akurat.

Baca Juga: Infeksi Puerperalis, Infeksi Bakteri di Rahim setelah Melahirkan

Kriteria Perempuan yang Dianjurkan Test Pap Smear secara Rutin

Prosedur Pap Smear
Foto: Prosedur Pap Smear (Freepik.com/stefamerpik)

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pemeriksaan ini dianjurkan setiap dua sampai tiga tahun sekali pada perempuan usia 21 tahun ke atas serta yang sudah aktif dalam melakukan hubungan seksual.

Pap smear sendiri sangat dianjurkan bagi perempuan yang memiliki risiko tinggi terserang kanker leher rahim. Untuk kasus yang satu ini, pemeriksaannya tidak mengenal usia ya, Moms.

Nah, berikut perempuan yang berisiko tinggi terserang kanker leher rahim atau kanker serviks;

  • Menderita HIV
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya akibat transplantasi organ, kemoterapi, atau penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang
  • Mendapatkan hasil abnormal (lesi prakanker) pada pap smear sebelumnya
  • Terpapar atau menggunakan obat dietilstilbestrol (DES)
  • Memiliki kebiasaan merokok

Pemeriksaan pap smear secara berkala dapat dihentikan pada wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan seluruh rahim dan serviks (histerektomi total).

Namun dengan catatan, prosedur histerektomi total tidak dilakukan atas indikasi adanya kanker atau lesi prakanker.

Jika histerektomi total dilakukan karena kanker atau prakanker, pap smear harus tetap dijalani secara rutin.

Baca Juga: 4 Makanan Penyebab Kanker Serviks dan Faktor Risiko yang Harus Diwaspadai

Kriteria Wanita yang Tidak Perlu Lakukan Pap Smear

Wanita Lanjut Usia
Foto: Wanita Lanjut Usia (thenewpulse.com)

Melalui penjelasan sebelumnya, Moms sudah dapat menangkap informasi penting bahwa tes pap smear bertujuan untuk deteksi dini kanker serviks.

Kenyataannya, ada beberapa wanita yang tidak perlu lagi melakukan tes pap smear.

Nah, menurut CDC, ciri wanita yang tidak perlu lagi melakukan pap smear adalah:

  • Wanita yang sudah berusia di atas 65 tahun dan telah melakukan pap smear secara teratur sebelumnya. Ketika hasil pemeriksaan ini normal, maka pada usia ini Moms tidak perlu lagi melakukan tes lanjutan.
  • Wanita yang sudah tidak memiliki serviks. Ya, beberapa wanita harus diangkat serviksnya sebagai bagian dari operasi pengangkatan rahim atau histerektomi. Namun, sebagian kecil wanita masih dapat memiliki serviks meskipun sudah dioperasi. Jadi, sebaiknya tanyakan pada dokter untuk memastikannya.

Moms, itulah pentingnya manfaat tes pap smear.

Tidak perlu takut, prosedur pap smear tidak menyeramkan dan tidak menyakitkan. Dokter hanya akan memasukkan alat yang disebut spekulum ke vagina sebagai langkah pemeriksaannya.

Terpenting, ingat akan manfaat yang bisa didapatkan dari pap smear yaitu mencegah keterlambatan mendeteksi kanker serviks. Jadi, rasa takut dan ragu akan hilang seketika, ya, Moms!

Baca Juga: 5 Alasan Harus Cek Rutin Ginekologi ke Dokter Kandungan, Bisa Cegah Kanker Serviks

Persiapan Sebelum Pap Smear

Edukasi Organ Reproduksi
Foto: Edukasi Organ Reproduksi (Freepik.com/freepik)

Ternyata untuk melakukan pemeriksaan pap smear tak bisa dilakukan begitu saja tanpa persiapan apapun, Moms. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan ini.

Hal yang tidak boleh Moms lakukan selama 2 hari sebelum pemeriksaan, yaitu:

  • Membersihkan bagian dalam vagina atau douching dengan menggunakan air, cuka atau cairan lain
  • Memasukkan benda apapun ke dalam vagina termasuk tampon, krim vagina atau obat-obatan yang dikhususkan untuk vagina
  • Berhubungan seksual

Baca Juga: 6 Bahan Herbal untuk Detox Rahim untuk Mempercepat Program Hamil

Proses Pap Smear

Pemeriksaan Pap Smear
Foto: Pemeriksaan Pap Smear (Freepik.com/artphotostudio)

Proses pemeriksaan ini tidak memakan waktu yang lama, Moms.

Nah dalam pelaksanaannya, pemeriksaan ini akan dilakukan oleh dokter yang sudah ahli dalam bidang kebidanan dan juga kandungan.

Berikut langkah yang akan dilakukan oleh dokter ketika melakukan pemeriksaan:

  • Moms akan diminta melepaskan pakaian bagian bawah. Setelah itu akan diminta untuk berbagai di meja dengan posisi paha terbuka dan lutut yang ditekuk
  • Dokter akan memasukkan spekulum, yakni alat yang bentuknya seperti cocor bebek ke dalam vagina. Nah fungsi alat ini adalah untuk membuka dinding vagina agar bagian leher rahim bisa dilihat dengan jelas. Merasakan tidak nyaman di area panggul sangat normal ketika proses ini dilakukan, Moms.
  • Dokter akan mengambil sampel jaringan yang berada di leher rahim dengan menggunakan salah satu atau 2 alat yakni spatula atau sikat.
  • Nah setelah selesai, dokter akan menyimpan sampel tersebut dalam wadah khusus untuk kemudian memeriksanya di laboratorium.

Setelah tes selesai dilakukan, beberapa efek yang muncul adalah vagina terasa sedikit tertekan dan mengeluarkan sedikit darah.

Tak perlu panik, ini adalah hal yang normal terjadi setelah pap smear dan dapat membaik dengan sendirinya.

Salah satu penyebab hal tersebut terjadi adalah adanya ketegangan otot-otot vagina selama tes ini berlangsung.

Oleh karenanya, apabila otot vagina lebih rileks, rasa tidak nyaman setelah tes ini dapat lebih minim.

Baca Juga: Ciri-ciri Rahim Bermasalah dan Penyebabnya, Moms Wajib Tahu!

Hasil Pap Smear

Konsultasi Dokter saat Pap Smear
Foto: Konsultasi Dokter saat Pap Smear (Freepik.com/stefamerpik)

Ada dua kemungkinan hasil dari tes ini, yakni normal atau tidak. Berikut penjelasan masing-masing hasilnya.

1. Negatif (Normal)

Hasil pap smear yang negatif adalah sebuah kabar baik. Artinya, Moms tidak memiliki pertumbuhan sel abnormal di dalam serviks atau negatif dari kanker serviks.

Itulah sebabnya hasil tes negatif ini disebut juga dengan hasil tes normal. Meski begitu, bukan berarti Moms tidak harus melakukan pemeriksaan lagi.

Moms tetap perlu melakukan tes screening ini sekitar tiga tahun kemudian. Ini karena sel kanker dapat tumbuh sangat lambat.

Itu sebabnya tes ini yang perlu diulang secara rutin untuk memantau perkembangan sel kanker.

2. Positif (Tidak Normal)

Hasil pemeriksaan ini dikatakan positif jika pasien memiliki sel-sel abnormal, baik kanker maupun lesi prakanker. Beberapa jenis sel serviks abnormal tersebut adalah:

  • Sel skuamosa atipikal

Sel abnormal yang tumbuh di jaringan yang melapisi dinding luar leher rahim. Kondisi ini dapat menandakan infeksi HPV, infeksi jamur, atau tumor jinak, seperti kista atau polip.

  • Lesi skuamosa intrarepitel

Sel-sel epitel abnormal yang cepat atau lambat dapat berubah menjadi sel kanker.

  • Sel glandular atipikal

Sel abnormal yang menghasilkan lendir, tetapi belum bisa dipastikan apakah sel-sel ini akan berubah menjadi kanker.

  • Kanker sel skuamosa dan adenokarsinoma

Jika pada hasil pemeriksaan pap smear ditemukan sel-sel abnormal ini, besar kemungkinan pasien menderita kanker.

Jika Moms memperoleh hasil pap smear positif, akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dengan kolposkopi.

Kolposkopi adalah pemeriksaan jaringan leher rahim, vagina, dan vulva dengan menggunakan kaca pembesar khusus (kolposkop).

Bila diperlukan, dokter akan mengambil sampel jaringan yang terlihat abnormal pada saat melakukan kolposkopi.

Sampel jaringan ini selanjutnya akan diperiksa di laboratorium untuk memastikan diagnosis.

Baca Juga: Mengenal Adenomiosis, Masalah yang Dapat Hadir pada Rahim Perempuan

Moms, perlu diakui bahwa hasil dalam pemeriksaan ini bisa tidak akurat karena menghasilkan data negatif yang palsu.

Ketika hasil negatif palsu, pasien sebenarnya memiliki sel abnormal yang berada di dalam serviks mereka. Namun hal tersebut tidak terlihat dalam pemeriksaan yang sudah dilakukan.

Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab hasil negatif palsu terjadi dalam pemeriksaan, yakni;

  • Sampel sel serviks yang diambil oleh dokter tidak cukup
  • Sel abnormal tertutup oleh darah atau sel lain yang tengah mengalami peradangan
  • Sel abnormal yang berada dalam dinding rahim berjumlah sedikit

Nah itu dia Moms penjelasan mengenai pap smear. Pemeriksaan ini adalah metode yang aman untuk perempuan yang ingin mendeteksi kanker serviks.

Yuk lakukan pap smear secara rutin untuk ketahui kondisi tubuh lebih cepat!

  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32203527/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5996593/
  • https://www.acog.org/Patients/FAQs/Cervical-Cancer-Screening?IsMobileSet=false
  • https://www.cdc.gov/cancer/cervical/pdf/cc_basic.pdf
  • https://www.healthline.com/health/pap-smear
  • https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/pap-smear/about/pac-20394841

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.