Scroll untuk melanjutkan membaca

PROGRAM HAMIL
09 Maret 2022

5 Alasan Harus Cek Rutin Ginekologi ke Dokter Kandungan, Bisa Cegah Kanker Serviks

Yuk, mulai cek rutin kesehatan ginekologi atau sistem reproduksi!
5 Alasan Harus Cek Rutin Ginekologi ke Dokter Kandungan, Bisa Cegah Kanker Serviks

Foto: shutterstock.com

Sebagai wanita, penting bagi Moms untuk menjaga kesehatan sistem reproduksi. Selain melakukan perawatan sendiri, Moms juga perlu melakukan pemeriksaan ginekologi.

Ini berguna untuk mengecek ada tidaknya gangguan atau penyakit pada organ kewanitaan dan reproduksi.

Pemeriksaan ini bisa mengatasi keluhan umum seperti masalah keputihan, haid tidak lancar dan masalah kesuburan.

Di sisi lain, cek ginekologi rutin juga memiliki manfaat jangka panjang, yaitu mencegah risiko penyakit seperti kanker rahim dan kanker serviks.

Nah, pemeriksaan ginekologi bisa Moms lakukan di dokter speasialis obgyn, yang juga menangani masalah terkait kehamilan dan kandungan.

Baca Juga: 5 Jenis Pemeriksaan Kesehatan Berkala yang Dianjurkan untuk Pria dan Wanita, Wajib Tahu!

Apa Itu Ginekologi?

5 Konsultasi Dokter.jpg

Foto: 5 Konsultasi Dokter.jpg (Orami Photo Stock)

Foto: Orami Photo Stock

Istilah ginekologi mungkin sudah tidak asing lagi di telinga, apalagi kalau Moms sudah rutin melakukan pengecekan kesehatan organ kewanitaan atau sedang hamil.

Ginekologi adalah bidang medis yang fokus mempelajari masalah kesehatan dan dan sistem reproduksi wanita.

Mulai dari diagnosis masalah kesehatan reproduksi, pemeriksaan, perawatan dan pengobatannya.

Untuk lebih jelasnya, berikut cakupan layanan ginekologi seperti dikutip dari Medical News Today.

  • Masalah yang berkaitan dengan kesuburan, menstruasi serta menopause
  • Masalah vagina seperti keputihan
  • Program KB seperti kontrasepsi dan sterilisasi
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
  • Kista atau tumor seperti kista ovarium dan fibroid rahim atau tumor non kanker lainnya
  • Radang kandung kemih
  • Inkontinensia urin
  • Masalah payudara dan kanker payudara
  • Masalah seksualitas termasuk disfungsi seksual dan penyakit menular seksual
  • Penyakit radang panggul
  • Gangguan endometriosis
  • Kanker ginekologi seperti kanker serviks, kanker ovarium, kanker rahim, kanker vagina dan kanker vulva

Baca Juga: Mengenal PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome, Kondisi yang Memengaruhi Kesuburan Wanita

Perbedaan Ginekologi dan Obstetri

yang harus dicek di dokter kandungan saat awal kehamilan hero

Foto: yang harus dicek di dokter kandungan saat awal kehamilan hero

Foto: Orami Photo Stock

Sama-sama menangani kesehatan wanita, ginekologi dan obstetri seringkali dianggap sama.

Padahal kedua bidang ini berbeda lho, Moms! Kalau ginekologi menangani seputar kesehatan organ reproduksi wanita, obstetri lebih fokus pada masalah kehamilan dan persalinan.

Agar Moms makin paham beda di antara keduanya, simak lingkup layanan obstetri yang menangani masalah kelainan pada masa kehamilan berikut.

  • Kehamilan ektopik
  • Preeklampsia
  • Gawat janin atau fetal distress
  • Abruptio placenta atau placenta abruption
  • Distosia bahu
  • Ruptur uteri
  • Prolaps tali pusat
  • Pendarahan Post Partum (PPH)
  • Sepsis

Selain gangguan kehamilan di atas, bidang obstetri juga mencakup prosedur seperti:

  • Pemeriksaan USG
  • Amniosintesis atau pengambilan air ketuban untuk mengetahui kelainan janin
  • Pemeriksaan laboratorium
  • Prosedur persalinan baik normal atau caesar

Baca Juga: Preeklamsia saat Hamil: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Pencegahannya

Apabila Moms mengalami keluhan masalah organ kewanitaan atau ingin memeriksakan kehamilan, apakah harus ke masing-masing ahli ginekologi atau ahli obstetri?

Nah di Indonesia, kedua bidang ini tergabung dalam satu spesialisasi yaitu OB-GYN.

Jadi, jika Moms mengalami keluhan baik itu terkait dengan ginekologi atau obstetri, Moms bisa berkunjung ke spesialis obstetri & ginekologi yang disingkat SpOG, atau dokter kandungan.

Pentingnya Pemeriksaan Ginekologi

usg-4d.jpg

Foto: usg-4d.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Masih ingat kapan Moms pertama kali memeriksakan kesehatan organ kewanitaan ke dokter?

Banyak orang yang baru melakukan pemeriksaan ginekologi saat akan menikah, program hamil dan di masa-masa kehamilan.

Padahal, mengutip dari Teenshealth, cek ginekologi sebaiknya dimulai sejak dini, yaitu rentang usia 13 - 15 tahun atau usia-usia pubertas.

Disarankan pula untuk memeriksakan kesehatan reproduksi setidaknya satu kali dalam setahun.

Karena organ reproduksi berada di dalam tubuh, sehingga gangguan atau keluhan sulit diketahui tanpa melakukan pengecekan internal.

Tujuannya tak lain adalah untuk mencegah terjadinya risiko penyakit yang menyerang organ reproduksi, ataupun penyakit bisa tertangani lebih cepat.

Baca Juga: 5 Kondisi Kesehatan Yang Dapat Sebabkan Wanita Sulit Hamil, Waspadalah!

Apa saja pemeriksaan ginekologi yang dilakukan untuk mendeteksi kelainan pada organ kewanitaan?

1. Pemeriksaan Payudara

Ini Pilihan Olahraga untuk Menghilangkan Benjolan di Payudara, Banyak Manfaatnya!

Foto: Ini Pilihan Olahraga untuk Menghilangkan Benjolan di Payudara, Banyak Manfaatnya!

Foto: Orami Photo Stock

Kanker payudara termasuk jenis kanker yang kerap mengintai para wanita.

Untuk mencegahnya, Moms perlu rutin melakukan pemeriksaan payudara untuk mengetahui kelainan atau perubahan pada payudara.

Sebenarnya, mengecek payudara bisa dilakukan secara mandiri, namun tentu tidak seefektif jika dilakukan oleh dokter.

Nah, disarankan bagi wanita berusia 20-39 tahun melakukan pemeriksaan minimal sekali dalam 3 tahun. Sedangkan untuk wanita di atas 40 tahun, minimal sekali dalam setahun.

Khusus untuk yang memiliki faktor risiko kanker payudara, biasanya dokter akan merekomendasikan skrining mammogram ataupun USG payudara.

2. PAP Smear

Yuk Pahami Langkah Tes Pap Smear, Tidak Perlu Takut!

Foto: Yuk Pahami Langkah Tes Pap Smear, Tidak Perlu Takut!

Foto: Orami Photo Stock

PAP Smear adalah salah satu metode pemeriksaan ginekologi yang wajib dilakukan untuk mencegah kanker serviks atau kanker leher rahim.

Mengutip jurnal Asia Pacific Journal of Oncology Nursing, kanker serviks merupakan jenis kanker berbahaya dan menjadi penyebab kematian para perempuan di dunia.

Bahkan di Indonesia sendiri, disebut sebagai kanker pembunuh perempuan nomor satu.

Pemeriksaan PAP Smear sebaiknya dimulai sejak usia 21 tahun, karena aktivitas seksual mulai aktif di usia ini.

Terutama dianjurkan bagi wanita yang telah melakukan hubungan seksual setidaknya dalam satu tahun terakhir.

Pemeriksaan ini dilakukan minimal satu kali dalam 1 hingga 3 tahun.

Pemeriksaan PAP Smear oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari leher rahim.

Kemudian dilakukan pengecekan di laboratorium. Moms akan mendapatkan hasil pemeriksaan dalam beberapa hari.

Baca Juga: Seberapa Sering Kita Harus Lakukan Tes Pap Smear?

3. Pemeriksaan Kolposkopi

Pap Smear setelah Vaksin HPV, Perlukah?

Foto: Pap Smear setelah Vaksin HPV, Perlukah?

Foto: Orami Photo Stock

Kolposkopi adalah pemeriksaan lanjutan yang dilakukan apabila PAP Smear memberikan hasil yang kurang baik.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel jaringan leher rahim, vagina dan vulva dengan menggunakan kaca pembesar khusus yang disebut kolposkop.

Sama halnya dengan PAP Smear, kolposkopi adalah salah satu metode untuk mendeteksi kanker serviks. Infeksi organ reproduksi dan HIV juga dapat diketahui lewat pengecekan ini.

4. Pemeriksaan Histeroskopi

Apabila Moms mengalami menstruasi terus menerus atau keguguran berulang, dokter kandungan mungkin akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan histeroskopi.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan histeroskop, alat berbentuk selang tipis dan dilengkapi kamera di ujungnya.

Alat ini dimasukkan ke dalam rahim melalui vagina untuk melihat kondisi bagian dalam rahim lewat layar monitor.

Histeroskopi bertujuan untuk mengetahui penyebab keluhan yang dialami, seperti terdapat:

  • Miom
  • Penyumbatan pada tuba falopi
  • Pertumbuhan abnormal termasuk kanker endometrium

Baca Juga: Mengenal Histeroskopi, Prosedur Medis untuk Cek Rahim

5. USG Transvaginal

7 Manfaat USG Transvaginal Sebelum IVF.jpg

Foto: 7 Manfaat USG Transvaginal Sebelum IVF.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Prosedur USG ada bermacam-macam. Ada USG endovaginal yang biasanya dilakukan untuk memeriksa kehamilan.

Ada pula USG transvaginal yang bertujuan memeriksa kesehatan sistem reproduksi, baik sedang merencanakan kehamilan atau tidak.

USG jenis ini biasanya dilakukan dokter jika ada keluhan infertilitas atau ketidaksuburan pada wanita.

Metode ini akan membantu dokter melihat kondisi vagina, tuba falopi, leher rahim atau serviks, rahim serta ovarium.

Baca Juga: Ini Cara Membaca Hasil USG Berdasarkan Jenisnya, Jangan Bingung Lagi ya!

Bagaimana, Moms? Sudah paham kan tentang pentingya cek ginekologi dan jenis-jenis pemeriksaan ginekologi yang perlu dilakukan oleh setiap perempuan.

Jangan lupa untuk selalu cek rutin kesehatan organ kewanitaan dan reproduksi ke dokter kandungan ya, Moms!

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5996593/
  • https://www.healthline.com/health/pregnancy/what-is-an-obstetrician#when-to-see-an-obstetrician
  • https://ciputrahospital.com/pemeriksaan-ginekologi-penting-untuk-kesehatan-organ-reproduksi/
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/324292#what-is-an-ob-gyn
  • https://kidshealth.org/en/teens/obgyn.html
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/288354#when_to_see_one