26 Oktober 2022

Hari Kanker Payudara Sedunia: Tingkatkan Pemahaman dan Kesadaran tentang Kanker Payudara

Rutin periksa payudara sendiri untuk sedini mungkin mendeteksi keanehan di payudara

Setiap tahunnya pada tanggal 26 Oktober diperingati sebagai Hari Kanker Payudara Sedunia.

Peringatan ini bertujuan mengedukasi dan menyebarkan kewaspadaan masyarakat tentang bahaya, penyebab, gejala, tindakan pencegahan, hingga pengobatan jika terkena penyakit kanker payudara.

Ini berlaku untuk setiap usia, baik itu yang masih muda hingga lansia.

Berikut ini informasi lengkap mengenai Hari Kanker Payudara Sedunia, serta data penyakit kanker payudara di Indonesia,

Baca Juga: Benjolan Kecil seperti Jerawat di Payudara, Berbahayakah?

Sejarah Hari Kanker Payudara Sedunia

Kanker Payudara
Foto: Kanker Payudara (Istockphoto.com)

Pita warna merah muda atau pink sering menjadi simbol kepedulian terhadap penyakit kanker payudara.

Penggunaan pita pink sendiri sebagai lambang kanker payudara dimulai pada tahun 1991 ketika Yayasan Peduli Kanker Payudara Susan G. Komen membagikan pita pink dengan skala kecil pada lomba lari di kota New York, Amerika Serikat.

Ide penggunaan pita pink ini pun kemudian diikuti editor in chief majalah Self, Alexander Penney, dan Wakil Presiden perusahaan Estee Lauder, dan Evelyn Lauder.

Mereka kemudian membentuk yayasan Breast Cancer Research dan menetapkan pita pink sebagai simbol mereka.

Pada saat itu, Self Magazine membagikan 1,5 juta pita pink dan 200 ribu petisi kepada pemerintah untuk memberikan perhatian lebih kepada penelitian dan fasilitas penanganan kanker payudara.

Warna pita pink dipilih tidak hanya karena dianggap sebagai warna yang feminin, yang membangkitkan emosi feminin, kepedulian terhadap orang lain, kecantikan, kebaikan dan kerja sama.

Selain itu juga merupakan simbol harapan dan keteguhan para pejuang serta penyintas kanker payudara di seluruh dunia.

Warna ini melukiskan harapan akan masa depan, dan kebaikan pihak-pihak yang mendukung gerakan peduli kanker payudara.

Diharapkan pita pink dapat memupuk rasa solidaritas antar perempuan yang menderita kanker payudara.

Sejak hari kanker payudara sedunia menjadi salah satu agenda dunia internasional, makin banyak manfaat yang bisa dirasakan para penderita kanker payudara.

Setidaknya, tercipta gerakan penggalangan dana di tingkat internasional yang pastinya sangat membantu para penderita berjuang melawan penyakit ganas ini.

Di Indonesia, ada beberapa gerakan atau komunitas yang mendukung pasien kanker payudara. Di antaranya:

  • Komunitas Lovepink

Komunitas ini berfokus pada kegiatan sosialisasi deteksi dini dengan cara SADARI (Periksa Payudara Sendiri), SADANIS (Periksa Payudara Secara Klinis), dan pendampingan bagi sesama perempuan dengan kanker payudara.

Lovepink bergerak dengan basis komunitas survivors yang bekerja secara sukarela untuk mendukung visi dan misi organisasi.

Seluruh kegiatan berpusat dari Lovepink Care Center yang juga menjadi sarana untuk beraktivitas bagi para perempuan dengan kanker payudara, seperti meditasi, demo masak, demo kecantikan, seminar, dan lain-lainnya.

  • Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI)

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) adalah organisasi nirlaba mitra pemerintah untuk menggalakan kegiatan penyuluhan dan penanggulangan kanker payudara di Indonesia.

Pada 2020, YKPI dianungerahi penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI sebagai instansi atau lembaga yang telah mewujudkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), Kategori Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular di Indonesia dalam upacara puncak Hari Kesehatan Nasional 2020 secara daring.

  • Knitted Knockers Indonesia

Komunitas ini terdiri dari sukarelawan yang telah mendedikasikan waktu mereka untuk merajut knockers, rajutan berbentuk payudara untuk wanita yang telah menjalani mastektomi atau lumpektomi.

Baca Juga: 10 Olahraga Mengencangkan Payudara yang Efektif

Data Penyakit Kanker Payudara di Indonesia

Kanker Payudara
Foto: Kanker Payudara (Istockphoto.com)

Di Indonesia, kanker payudara menjadi salah satu penyakit penyumbang kematian pertama yang disebabkan kanker serta jumlah pasiennya yang menempati urutan pertama terbanyak.

Data Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization (WHO) menunjukkan kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker.

Kanker serviks (leher rahim) merupakan jenis kanker kedua yang paling banyak terjadi di Indonesia sebanyak 32.469 kasus atau 9,3% dari total kasus.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, angka kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk.

Rata-rata kematian akibat kanker ini mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk.

Sementara itu, angka kanker serviks di Indonesia mencapai 23,4 orang per 100 ribu penduduk.

Rata-rata kematian akibat kanker serviks mencapai 13,9 orang per 100 ribu penduduk.

Data Penyakit Kanker di Indonesia
Foto: Data Penyakit Kanker di Indonesia (Orami Photo Stock)

Pada tahun 2020, data dari Globocan yang dikutip dari Kementerian Kesehatan, mencatat jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 68.858 kasus, atau sekitar 16,6% dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia.

Adapun jumlah kematiannya mencapai 22 ribu lebih kasus. Diketahui sekitar 70% pasien dideteksi sudah di tahap lanjut.

Padahal sekitar 43% kematian akibat kanker bisa dicegah ketika pasien rutin melakukan deteksi dini dan menghindari faktor risiko penyebab kanker.

Selain angka kematian yang cukup tinggi, penanganan pasien kanker yang terlambat menyebabkan beban pembiayaan yang kian membengkak.

Pada periode 2019-2020, pengobatan kanker telah menghabiskan pembiayaan BPJS kurang lebih 7,6 triliun Rupiah.

Data Penyakit Kanker di Asia
Foto: Data Penyakit Kanker di Asia (Orami Photo Stock)

Sementara di Asia sendiri, kasus kanker payudara tahun 2020 tersebut, Indonesia menempati urutan negara ke-4 dengan jumlah kasus tertinggi, setelah China, Jepang, India, dan Jepang.

Baca Juga: 15 Manfaat Daun Jarak, Bisa Mengencangkan Payudara!

Gejala Kanker Payudara

Payudara Sakit
Foto: Payudara Sakit (Istockphoto.com)

Menurut dr. Cahyo Novianto, Sp.B.SubBOnk, Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi, RS Pondok Indah – Puri Indah, kanker payudara terkadang muncul tanpa gejala.

Namun, Moms bisa mengetahui gejala yang khas dan jelas dengan cara pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).

dr. Cahyo Novianto juga menambahkan tidak ada perbedaan gejala kanker payudara pada perempuan dan laki-laki.

Gejalanya sama, tetapi pada laki-laki biasanya lebih cepat menjadi parah.

Melansir laman resmi Breastcancer.org, berikut ciri-ciri kanker payudara stadium 1-4:

1. Stadium 1

Kanker payudara stadium awal menunjukkan kondisi sel kanker mulai menerobos atau menyerang jaringan payudara normal di sekitarnya.

"Pada stadium dini, akan muncul benjolan keras yang melekat, tetapi tepinya tidak rata." jelas dr. Cahyo Novianto.

Tahapan dalam kanker payudara stadium 1 dibagi menjadi stadium 1A dan stadium 1B.

Berikut ciri-ciri kanker payudara stadium awal 1A:

  • Muncul tumor di payudara, namun ukurannya kurang dari 2 sentimeter.
  • Sel kanker belum menyebar di luar jaringan payudara.

Sedangkan ciri-ciri kanker payudara stadium awal 1B yakni:

  • Tumor di payudara terkadang sudah ada atau belum ada.
  • Ditemukan sekelompok sel kanker dengan ukuran antara 0,2 millimeter sampai 2 millimeter di kelenjar getah bening.

2. Stadium 2

Menurut dr. Cahyo Novianto, Sp.B.SubBOnk, pada stadium lanjutan terdapat benjolan di ketiak dan ada luka atau koreng di payudara.

"Pada stadium ini, terkadang juga sudah ada tanda metastase atau penyebaran sel kanker yang menyebabkan sesak napas, nyeri tulang, perut buncit, serta pusing yang berat." ucap dr. Cahyo Novianto.

Kanker payudara stadium 2 dibagi menjadi stadium 2A dan 2B.

Berikut ciri-ciri kanker payudara stadium awal 2A:

  • Belum ada tumor di payudara, tapi sudah ada sel kanker berukuran lebih dari 2 milimeter di kelenjar getah bening di bawah lengan atau dekat tulang dada (bisa diketahui lewat biopsi).
  • Ditemukan tumor berukuran kurang dari 2 sentimeter dan kanker mulai menyebar ke 1-3 kelenjar getah bening di ketiak.
  • Muncul tumor berukuran antara 2-5 sentimeter tapi terkadang sel kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak.

Sedangkan ciri-ciri kanker payudara stadium 2B yakni:

  • Muncul tumor berukuran antara 2-5 sentimeter.
  • Ditemukan sekelompok sel kanker payudara dengan ukuran antara 0,2-2 milimeter di antara 1-3 kelenjar getah bening.
  • Sel kanker menyebar ke 1-3 kelenjar getah bening di ketiak atau dekat tulang dada.
  • Ada tumor dengan ukuran lebih dari 5 sentimeter tapi sel kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak.

3. Stadium 3

Kanker payudara stadium 3 dibagi menjadi stadium 3A, 3B, dan 3C.

Ciri-ciri kanker payudara stadium 3A yakni:

  • Belum ada tumor di payudara atau sudah muncul tumor, namun sel kanker ditemukan di 4-9 kelenjar getah bening di ketiak atau dekat tulang dada.
  • Ada tumor berukuran lebih dari 5 sentimeter dan ada sekelompok sel kanker payudara berukuran antara 0,2-2 millimeter di kelenjar getah bening.
  • Muncul tumor berukuran lebih dari 5 sentimeter dan kanker telah menyebar di 1-3 kelenjar getah bening di ketiak atau dekat tulang dada.

Sedangkan ciri-ciri kanker payudara stadium 3B yakni:

  • Ditemukan tumor dan sel kanker telah menyebar ke dinding dada dan kulit payudara serta menyebabkan payudara bengkak atau muncul luka.
  • Kanker menyebar sampai ke sembilan kelenjar getah bening di ketiak atau dekat tulang dada Sebagian besar kulit payudara kemerahan.
  • Payudara terasa panas dan bengkak Sel kanker menyebar ke kelenjar getah bening dan sudah tampak di kulit.

Sementara itu, ciri-ciri kanker payudara stadium 3C yakni:

  • Ditemukan tumor dan kanker telah menyebar ke dinding dada dan atau kulit payudara.
  • Kanker telah menyebar ke 10 kelenjar getah bening di tubuh bagian atas atau bawah tulang selangkangan.
  • Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak atau di dekat tulang dada.

4. Stadium 4

Ciri kanker payudara stadium akhir atau stadium 4 ditandai dengan kanker payudara sudah mengganas dan menyebar ke luar jaringan payudara dan kelenjar getah bening.

Di stadium akhir ini, kanker bisa merembet ke organ lain seperti paru-paru, kulit, tulang, hati, sampai ke otak.

Untuk menentukan stadium kanker, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan.

Dengan mengetahui dengan pasti tahapan atau stadium kanker payudara, dokter bisa memberikan jenis perawatan paling pas untuk mengendalikan kanker.

Baca Juga: Ciri-Ciri Benjolan Berbahaya di Leher dan Payudara

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Payudara

Wanita Obesitas
Foto: Wanita Obesitas (Istockphoto.com)

Kanker payudara disebabkan pertumbuhan sel-sel abnormal (sel kanker) yang tidak terkontrol pada jaringan payudara. Awalnya, sel kanker ini merupakan sel normal.

Namun, mutasi DNA mengubah sel normal tadi menjadi sel kanker. Sel kanker membelah lebih cepat daripada sel normal.

Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan sel yang kemudian membentuk benjolan tumor ganas pada payudara.

Jika tak segera ditangani, sel kanker bisa menyebar melalui payudara ke kelenjar getah bening..Sel mematikan ini juga berpotensi menyerang bagian tubuh yang lain.

Sebenarnya, penyebab mutasi DNA yang membentuk sel kanker tidak diketahui secara pasti.

Meski begitu, beberapa faktor diduga berperan dalam perkembangannya. Di antaranya:

1. Hormon Estrogen dan Progesteron Berlebih dalam Tubuh

Hormon estrogen dan progesteron mempunyai peranan penting dalam aktivitas seksual.

Namun, jumlahnya yang berlebihan ternyata dapat berbahaya bagi tubuh.

Menurut National Cancer Institute, wanita dengan kadar hormon estrogen dan progesteron tinggi lebih berisiko terkena kanker payudara.

Pasalnya, produksi hormon yang berlebihan dapat meningkatkan risiko perkembangan sel secara abnormal.

2. Keturunan

Seseorang akan lebih berisiko mengalami kanker payudara apabila memiliki keluarga kandung yang juga menderita kanker yang sama.

Hal ini berhubungan dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2.

Apabila ibu, saudari, atau anak perempuan seseorang terdiagnosis kanker payudara (terutama di usia muda), maka individu tersebut juga berisiko mengalami kanker payudara.

3. Kebiasaan Merokok

Merokok meningkatkan risiko kanker payudara pada orang usia muda dan wanita premenopause.

Kebiasaan ini juga bisa meningkatkan risiko komplikasi saat proses pengobatan kanker payudara, seperti:

  • Kerusakan paru-paru akibat terapi radiasi.
  • Sulitnya penyembuhan pasca-operasi dan rekonstruksi payudara.
  • Tingginya risiko penggumpalan darah selama terapi hormon.

4. Obesitas

Memiliki berat badan berlebih dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara terutama pada wanita setelah menopause.

Pasalnya, jaringan lemak di dalam tubuh menjadi sumber utama estrogen.

Apabila memiliki kadar lemak yang tinggi, kadar estrogen pun juga akan meningkat yang kemudian dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Pada sebuah penelitian terbitan jurnal BMJ Open, disebutkan bahwa risiko kanker ini meningkat 33% pada wanita usia 20–60 tahun yang obesitas.

5. Usia di Atas 50 Tahun

Semakin bertambah usia, peluang terkena kanker payudara juga akan semakin meningkat.

Pada beberapa kasus, kanker payudara terjadi pada wanita yang berusia lebih dari 50 tahun. Namun, bukan berarti usia di bawahnya tak berisiko.

Sebab, kanker payudara bisa terjadi pada anak-anak yang berusia mulai dari 15 tahun.

Baca Juga: Mengetahui 9 Jenis Payudara dan Bra yang Tepat Sesuai Bentuknya

Cara Mencegah Kanker Payudara

Makan Sayur
Foto: Makan Sayur (Istockphoto.com)

Sampai saat ini, belum ada langkah pencegahan kanker payudara secara pasti.

Namun Moms dapat menerapkan beberapa langkah di bawah ini untuk mengurangi risikonya:

1. Konsumsi Makanan Bergizi

Pola makan sehat adalah salah satu cara penting untuk mencegah kanker payudara.

Pasalnya, banyak pakar kesehatan yakin ada beberapa makanan yang menyebabkan kanker payudara.

Konsumsilah makanan yang sehat dengan gizi seimbang secara rutin, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, serta berbagai makanan untuk kanker payudara lainnya.

Pilihlah makanan dengan dengan kandungan serat yang tinggi, lemak baik, protein yang memiliki kadar lemak jenuh rendah, serta sumber karbohidrat yang sehat.

2. Rajin Berolahraga

Aktif secara fisik dapat menurunkan risiko kanker payudara.

Sebaliknya, risiko kanker payudara meningkat pada wanita yang sudah bertahun-tahun tidak pernah melatih fisiknya lagi.

Standar untuk melakukan olahraga intensitas sedang, seperti bersepeda dan jalan cepat, adalah selama 2 jam 30 menit per minggu.

3. Tidak Merokok

Cara mencegah kanker payudara selanjutnya adalah berhenti merokok. Moms pun perlu menghindari paparan asap rokok meski tidak merokok.

Bagi penderita kanker payudara, merokok pun dapat meningkatkan kemungkinan komplikasi dari pengobatannya.

Oleh karena itu, cobalah untuk berhenti merokok pelan-pelan dan mulai dengan mengurangi jumlah batang rokok yang dihisap setiap harinya.

4. Menyusui Bayi Secara Teratur

Sebuah penelitian American Journal of Preventive Medicine, wanita yang menyusui bayinya selama minimal satu tahun mengalami penurunan risiko terkena kanker payudara sebesar 4% dibandingkan mereka yang tidak menyusui.

Menyusui dapat membantu keseimbangan hormon, mencegah paparan zat pemicu kanker, dan menghindari kerusakan sel payudara.

5. Menghindari Pil KB pada Kondisi Tertentu

Penggunaan pil KB, terutama jika Moms sudah berusia lebih dari 35 tahun, dapat meningkatkan risiko mengalami kanker payudara.

Risiko ini akan hilang saat Moms menghentikan penggunaan pil KB.

Oleh karena itu, jika memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara, sebaiknya Moms memilih alat kontrasepsi lain atau konsultasikan dengan dokter untuk cara mencegah kehamilan yang tepat.

Cara Mencegah Kanker Payudara
Foto: Cara Mencegah Kanker Payudara (Orami Photo Stock)

Baca Juga: Kenali Ginekomastia, Pembesaran Payudara yang Terjadi pada Pria

Periksa Payudara Sendiri (SADARI)

Ilustrasi Periksa Payudara (Orami Photo Stocks)
Foto: Ilustrasi Periksa Payudara (Orami Photo Stocks) (Shutterstock.com)

Sebelum mendatangi pelayanan kesehatan, Moms bisa mendeteksi kanker payudara dengan memeriksa payudara sendiri di rumah, lho!

Periksa payudara sendiri ini dikenal dengan gerakan SADARI. Ini merupakan sebuah program penyuluhan yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia.

Tak hanya itu, periksa payudara sendiri juga menjadi salah satu gerakan yang dicanangkan oleh Lembaga Kanker Payudara Dunia.

Secara garis besar gerakan SADARI ini ditujukkan untuk membantu Moms melindungi diri dari kanker payudara.

Hal ini dikarenakan gerakan ini dapat mendeteksi benjolan atau tumor sedini mungkin.

Menurut dr. Cahyo Novianto, Sp.B.SubBOnk, Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi, RS Pondok Indah – Puri Indah juga mengatakan bahwa SADARI menjadi salah satu langkah pemeriksaan awal kanker payudara.

“Pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan cara SADARI. Jika ragu, segera periksakan diri ke dokter spesialis bedah subspesialis bedah onkologi,” jelas dr. Cahyo Novianto.

Namun, dr. Cahyo Novianto juga menyarankan untuk melakukan SADARI pada 5-7 hari setelah masa menstruasi selesai.

Hal utama yang harus Moms lakukan untuk memulai gerakan SADARI adalah dengan berdiri di depan cermin dan melihat apakah ada perbedaan atau perubahan bentuk dari payudara.

“Posisikan diri Anda berdiri di depan cermin, kemudian lihat apakah ada perubahan bentuk payudara yang besar tetapi tidak simetris, terdapat cekungan, serta puting yang tertarik ke arah dalam.

Mulailah untuk meraba seluruh permukaan payudara dari tepi melingkar ke tengah seperti obat nyamuk,” jelas dr. Cahyo Novianto.

dr. Cahyo Novianto
Foto: dr. Cahyo Novianto (Orami Photo Stock)

Di Indonesia melalui Yayasan Kanker Indonesia terdapat beberapa langkah SADARI yang bisa dilakukan di rumah.

Lebih lengkapnya, berikut ini 6 langkah SADARI menurut Yayasan Kanker Indonesia.

1. Berdiri Tegak

Cermati bila ada perubahan pada bentuk dan permukaan kulit payudara, pembengkakan atau perubahan pada puting.

Namun, jika bentuk payudara kanan dan kiri tidak simetris? Jangan cemas, itu biasa.

2. Angkat Kedua Lengan

Langkah selanjutnya adalah angkat kedua lengan ke atas, tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala.

Lalu, dorong siku ke depan dan cermati payudara; dan dorong siku ke belakang dan cermati bentuk maupun ukuran payudara.

3. Posisikan Kedua Tangan pada Pinggang

Kemudian Moms perlu memposisikan kedua tangan pada pinggang, condongkan bahu ke depan sehingga payudara menggantung

Setelah itu, dorong kedua siku ke depan, lalu kencangkan otot dada.

4. Angkat Lengan Kiri ke Atas

Langkah keempat angkat lengan kiri ke atas, dan tekuk siku sehingga tangan kiri memegang bagian atas punggung.

Dengan menggunakan ujung jari tangan kanan, raba dan tekan area payudara, serta cermati seluruh bagian payudara kiri hingga ke area ketiak.

Lakukan gerakan atas-bawah, gerakan lingkaran dan gerakan lurus dari arah tepi payudara ke puting, dan sebaliknya. Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan.

5. Cubit Kedua Puting

Cubit puting dilakukan untuk mencermati bila ada cairan yang keluar dari puting. Berkonsultasilah ke dokter seandainya hal itu terjadi.

Baca Juga: 10 Ciri-Ciri Payudara Sehat, Yuk Periksa Sendiri!

6. Meletakkan Bantal di Bawah Pundak Kanan

Pada posisi tiduran, letakkan bantal di bawah pundak kanan. Lalu, angkat lengan ke atas.

Cermati payudara kanan dan lakukan 3 pola gerakan seperti sebelumnya. Dengan menggunakan ujung jari-jari, tekan-tekan seluruh bagian payudara hingga ke sekitar ketiak.

Itulah beberapa langkah yang bisa Moms lakukan untuk periksa payudara sendiri di rumah.

Ini merupakan hal yang sangat penting, karena dengan melakukan SADARI, Moms bisa mendeteksi benjolan sedini mungkin.

Jika, Moms menemukan benjolan atau keraguan atas bentuk payudara yang Moms miliki, ada baiknya untuk Moms segera mendatangi dokter ahlinya, ya.

Jangan pernah takut untuk melakukan konsultasi, ya Moms!

Periksa Payudara Sendiri
Foto: Periksa Payudara Sendiri (Orami Photo Stock)

Cara Periksa Payudara Sendiri
Foto: Cara Periksa Payudara Sendiri

Baca Juga: 5 Manfaat Yoga untuk Penderita Kanker Payudara

Pemeriksaan Kanker Payudara

Diagnosis Dokter (Orami Photo Stocks)
Foto: Diagnosis Dokter (Orami Photo Stocks) (Volusonclub.net)

Jika menemukan adanya benjolan di area payudara dan Moms merasa khawatir, ada baiknya untuk segera mengunjungi dokter untuk mendapatkan layanan yang tepat.

Dalam upaya untuk menemukan gejala yang disebabkan oleh kanker payudara atau tumor pada payudara, dokter umumnya akan melakukan beberapa pemeriksaan.

Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan payudara dan pemeriksaaan fisik menyeluruh.

Moms, juga perlu melewati beberapa tes diagnostik untuk menemukan gejala dan diagnosa yang tepat.

Beberapa tes yang umumnya digunakan dokter untuk mendiagnosa kanker payudara, meliputi:

1. Mammogram

Tes mammogram merupakan cara paling umum untuk melihat kondisi bawah permukaan payudara.

Ini merupakan tes yang dilakukan jika Moms memiliki kecurigaan atau kekhawatiran dengan kondisi payudara Moms.

Tes mammogram menjadi langkah awal pemeriksaan kanker payudara yang dilakukan oleh dokter.

Jika terdapat area atipikal terlihat pada mammogram, dokter mungkin meminta tes tambahan.

2. USG

Ilustrasi USG (Orami Photo Stocks)
Foto: Ilustrasi USG (Orami Photo Stocks)

Tes pemeriksaan payudara selanjutnya adalah USG payudara. USG payudara dilakukan dengan menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar jaringan jauh di dalam payudara.

Ultrasonografi dapat membantu dokter membedakan antara massa padat, seperti tumor, dan kista jinak.

3. Biopsi Payudara

Jika dokter mencurigai kanker payudara berdasarkan tes mammogram atau USG, mereka mungkin melakukan tes yang disebut biopsi payudara.

Dalam pelaksanaan tes ini dokter akan mengambil sampel jaringan dari area yang mencurigakan untuk diuji. Di dunia medis umumnya terdapat beberapa jenis biopsi payudara.

Jenis biopsi yang pertama adalah dokter menggunakan jarum untuk mengambil sampel jaringan.

Kemudian jenis biopsi payudara yang lain, dokter membuat sayatan di payudara dan kemudian mengeluarkan sampelnya.

Setelah diambil sampel payudara, dokter akan mengirim sampel jaringan ke laboratorium.

Jika sampel tes positif kanker, lab dapat mengujinya lebih lanjut untuk memberi tahu dokter jenis kanker apa yang Moms miliki.

Namun, pemeriksaan atau tes dapat berbeda-beda setiap orangnya tergantung kondisi dan dokter yang menangani.

Beberapa pemeriksaan di atas merupakan pemeriksaan yang umum dilakukan oleh para dokter, ya Moms.

Baca Juga: 4 Cara Mendeteksi Kanker Payudara yang Paling Mudah

Pengobatan Kanker Payudara

Kemoteraspi (Orami Photo Stocks)
Foto: Kemoteraspi (Orami Photo Stocks) (Orami Photo Stock)

Sama seperti kanker pada umumnya, kanker payudara juga memiliki stadium yang tergantung dengan seberapa jauh virus kanker telah menyerang tubuh atau tumor yang telah tumbuh.

Penanganan sedini mungkin untuk kondisi kanker sangat dibutuhkan, menurut dr. Cahyo Novianto penanganan yang terlambat dapat membuat panjang proses pengobatan.

“Jika kanker payudara mendapatkan penanganan yang terlambat, maka proses terapi pengobatan akan menjadi lebih panjang dan berbiaya lebih mahal. Selain itu, kemungkinan sembuh menjadi lebih kecil,” ujar dr. Cahyo Novianto.

Semakin dini kanker terdeteksi maka semakin cepat pula pengobatan dapat berlangsung. Selain itu, kemungkinan sembuh juga akan semakin besar.

Dengan mengetahui stadium atau tingkatan kanker memainkan peran besar dalam menentukan jenis perawatan apa yang diperlukan.

Dengan begitu, setelah pemeriksaan melalui beberapa tes yang disebutkan di atas, dokter akan menentukan ukuran, stadium, dan tingkat kanker.

Tingkat kanker berfungsi menggambarkan seberapa besar kemungkinannya untuk tumbuh dan menyebar. Setelah itu, Anda dapat mendiskusikan pilihan perawatan.

Salah satu pengobatan yang paling umum dilakukan untuk kanker payudara adalah pembedahan atau operasi.

Namun, tak hanya operasi penyembuhan kanker payudara juga membutuhkan perawatan tambahan, seperti kemoterapi, terapi bertarget, radiasi, atau terapi hormon.

Ingin mengetahui pengobatan kanker payudara yang umumnya dilakukan? Simak penjelasannya di bawah ini.

1. Operasi

Beberapa jenis operasi dapat digunakan untuk mengangkat kanker payudara, termasuk:

  • Lumpektomi

Operasi yang bertujuan untuk mengangkat tumor dan beberapa jaringan di sekitarnya dan membiarkan sisa payudara tetap utuh.

  • Mastektomi

Dalam prosedur ini, ahli bedah mengangkat seluruh payudara. Dalam mastektomi ganda, mereka mengangkat kedua payudara.

  • Biopsi nodus sentinel

Operasi ini mengangkat beberapa kelenjar getah bening yang menerima drainase dari tumor. Kelenjar getah bening ini akan diuji.

Jika tidak menderita kanker, mungkin tidak memerlukan operasi tambahan untuk mengangkat lebih banyak kelenjar getah bening.

  • Diseksi kelenjar getah bening aksila

Operasi ini merupakan prosedur medis pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kelenjar getah bening.

  • Mastektomi profilaksis kontralateral

Operasi ini bertujuan untuk mengangkat payudara sehat guna menurunkan risiko terkena kanker payudara lagi.

2. Terapi Radiasi

Pengobatan kanker payudara selanjutnya adalah dengan terapi radiasi.

Sesuai dengan namanya, terapi radiasi merupakan terapi dengan menggunakan sinar radiasi bertenaga tinggi untuk menargetkan dan membunuh sel kanker.

Kebanyakan perawatan radiasi menggunakan radiasi sinar eksternal. Teknik ini menggunakan mesin besar di bagian luar tubuh.

Mengutip Breastcancer.org, jenis perawatan radiasi ini disebut brachytherapy.

Baca Juga: 5 Penyebab Kulit Payudara Gatal dan Mengelupas

3. Kemoterapi

Jenis pengobatan kanker payudara selanjutnya adalah kemoterapi.

Kemoterapi adalah pengobatan obat yang digunakan untuk menghancurkan sel kanker.

Pengobatan kemoterapi biasanya digunakan bersama dengan perawatan lain, terutama pembedahan.

Misalnya, beberapa orang akan menjalani operasi terlebih dahulu diikuti dengan perawatan lain, seperti kemo atau radiasi yang disebut terapi adjuvant.

Orang lain mungkin menjalani kemoterapi terlebih dahulu untuk mengecilkan kanker, yang disebut terapi neoadjuvant, kemudian operasi.

Namun, sayangnya kemoterapi memiliki banyak efek samping yang tidak diinginkan, jadi diskusikan kekhawatiran dengan dokter sebelum memulai perawatan.

Seperti yang dijelaskan oleh dr. Cahyo Novianto, kemoterapi menimbulkan efek samping mual dan kerontokan rambut.

“Pengobatan dengan kemoterapi akan menimbulkan efek mual.

Selain itu, kemoterapi juga dapat menyebabkan kerontokan rambut yang biasanya akan tumbuh kembali setelah 3 bulan menyelesaikan pengobatan kemoterapi,” ungkap dr. Cahyo Novianto.

4. Terapi Hormon

Jika jenis kanker payudara sensitif terhadap hormon, dokter mungkin akan memberi terapi hormon.

Dua hormon wanita, yaitu Estrogen dan progesteron dapat merangsang pertumbuhan tumor kanker payudara.

Terapi hormon bekerja dengan menghalangi produksi hormon-hormon ini di tubuh atau memblokir reseptor hormon pada sel kanker.

Tindakan ini dapat membantu memperlambat dan mungkin menghentikan pertumbuhan kanker.

5. Obat Tambahan

Perawatan tertentu dirancang untuk menyerang penyimpangan atau mutasi tertentu di dalam sel kanker, seperti pemberian obat tambahan.

Salah satu obat yang diberikan adalah Herceptin (trastuzumab) yang dapat memblokir produksi protein HER2 tubuh.

HER2 membantu memperlambat sel kanker payudara tumbuh.

Ketika didiagnosa mengidap kanker payudara, Moms tak perlu bersedih serahkan semua kepada dokter yang menangani Moms.

Karena biasanya dokter akan memberitahu Moms lebih banyak tentang perawatan khusus yang mereka rekomendasikan.

Selain itu, Moms juga tidak boleh putus asa karena dengan mendeteksi kanker payudara sedini mungkin dapat meningkatkan kemungkinan sel kanker yang hilang atau Moms dapat dinyatakan sembuh.

Pengobatan Kanker Payudara
Foto: Pengobatan Kanker Payudara (Orami Photo Stock)

Baca Juga: 15 Manfaat Daun Afrika untuk Kesehatan, Bisa Mengobati Kanker Payudara

Upaya Pemerintah dalam Penanganan Kanker Payudara

Mencegah Kanker Payudara (Orami Photo Stocks)
Foto: Mencegah Kanker Payudara (Orami Photo Stocks) (Pexels/Anna Tarazevich)

Sayangnya, hingga tahun 2020 kanker payudara menjadi urutan pertama jumlah kanker terbanyak di Indonesia serta menjadi salah satu penyumbang kematian pertama akibat kanker.

Nah, dengan tingginya angka kematian yang disebabkan oleh kanker payudara membuat kondisi ini menjadi prioritas penanganan oleh pemerintah Indonesia.

Namun, meski demikian bukan berarti kondisi kanker lainnya menjadi terabaikan.

Salah satu upaya pemerintah yang dibantu oleh Kemenkes RI adalah dengan menyusun Strategi Nasional Penanggulangan Kanker Payudara Indonesia mencakup 3 pilar yakni promosi kesehatan, deteksi dini dan tatalaksana kasus.

Dalam strategi tersebut, Kemenkes menargetkan 80% perempuan usia 30-50 tahun dideteksi dini kanker payudara, 40% kasus didiagnosis pada stage 1 dan 2 dan 90 hari untuk mendapatkan pengobatan.

Guna dapat menyebarkan informasi secara luas, Kemenkes bekerja sama dengan pihak Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI).

Salah satu program unggulan yang mereka lakukan adalah sosialisasi skrining dan deteksi dini kanker payudara.

Tak hanya itu, YKPI juga membantu pemerintah Indonesia dengan menyediakan mobil mammografi serta aktif melakukan praktek SADARI bagi masyarakat awam dan kader kesehatan di beberapa kota dan daerah Indonesia.

Selain bekerja sama dengan YKPI, Kemenkes Indonesia juga membentuk Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) berdasarkan SK Menkes pada 2014.

Komite ini dibentuk dalam upaya menyebarluaskan program-program deteksi dini dalam upaya pengendalian kanker.

Baca Juga: Wajib Tahu, Ini 8 Makanan yang Harus Dihindari Penderita Kanker Payudara

Nah, itulah informasi lengkap mengenai kanker payudara mulai dari gejala, risiko, pengobatan dan langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

  • https://doi.org/10.1136/bmjopen-2014-005400
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6069526/
  • https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/45/menyusui-turunkan-risiko-kanker-payudara
  • https://breastcancernow.org/about-us/news-personal-stories/history-pink-ribbon
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/breast-cancer/symptoms-causes/syc-20352470
  • https://www.nhs.uk/conditions/breast-cancer/prevention/
  • https://www.webmd.com/breast-cancer/understanding-breast-cancer-basics#1
  • https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20220202/1639254/kanker-payudaya-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan/
  • https://www.kemkes.go.id/article/print/17020300001/pemerintah-terus-tingkatkan-akses-pelayanan-kanker.html
  • http://p2ptm.kemkes.go.id/tag/enam-langkah-sadari-untuk-deteksi-dini-kanker-payudara
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/breast-cancer/symptoms-causes/syc-20352470
  • https://www.cdc.gov/cancer/breast/basic_info/screening.htm
  • https://www.nhs.uk/conditions/breast-cancer/treatment/
  • https://www.healthline.com/health/breast-cancer#diagnosis/
  • https://gco.iarc.fr

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb