Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
18 Agustus 2022

Mengenal Kemoterapi: Biaya, Prosedur, dan Efek Sampingnya

Pengobatan untuk atasi kanker
Mengenal Kemoterapi: Biaya, Prosedur, dan Efek Sampingnya

Foto: Orami Photo Stock

Saat mendengar kemoterapi, Moms pasti sudah terbayang mengenai biayanya yang disebut-sebut hingga ratusan juta seperti yang banyak ditampilkan di film.

Biaya kemoterapi memang cukup mahal, apalagi bagi Moms yang tidak tergabung dalam BPJS maupun asuransi kesehatan lain.

Sebelum melakukan kemoterapi, Moms harus menjalani beberapa pemeriksaan dokter.

Lantas, berapa biayanya di Indonesia? Mari simak artikel di bawah ini untuk tahu informasi lengkap seputar kemoterapi.

Baca Juga: Yuk, Rekreasi ke Taman Suropati! Suasananya Adem, Sejuk, dan Asri, Cocok untuk Santai Sore

Apa itu Kemoterapi?

Apa itu Kemoterapi?

Foto: Apa itu Kemoterapi? (https://www.hotzerunkle.com/)

Foto: pasien kanker (Orami Photo Stock)

Kemoterapi (chemotherapy) adalah bentuk agresif dari terapi obat kimia yang dimaksudkan untuk menghancurkan sel-sel yang tumbuh dengan cepat di dalam tubuh.

Kemoterapi adalah pengobatan untuk kanker. Ini karena sel kanker tumbuh dan membelah lebih cepat daripada sel lain.

Melansir StatPearls Journal, pengobatan ini juga dianggap sebagai pengobatan sistemik. Artinya, ia akan memengaruhi seluruh tubuh.

Seorang dokter yang mengkhususkan diri dalam pengobatan kanker dikenal sebagai ahli onkologi.

Mereka akan bekerja sama dengan pasiennya untuk membuat rencana perawatan yang tepat.

Chemotherapy sering kali digunakan dalam kombinasi dengan terapi lain, seperti pembedahan, radiasi, atau terapi hormon.

Penggunaan terapi kombinasi juga akan tergantung pada beberapa hal, seperti:

  • Stadium dan jenis kanker
  • Kondisi kesehatan secara keseluruhan
  • Perawatan kanker sebelumnya yang pernah dilakukan
  • Lokasi sel kanker
  • Preferensi perawatan pribadi pasien

Meski telah terbukti efektif menyerang sel kanker, tetapi kemoterapi berpotensi menyebabkan efek samping yang serius yang dapat berdampak parah pada kualitas hidup.

Oleh karena itu, pasien harus mempertimbangkan efek samping dan risiko jika tidak diobati sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat apakah ia perlu dilakukan atau tidak.

Baca Juga: Serba-Serbi Wisata Papandayan, Serunya Camping dan Outbound Bersama Keluarga!

Mengapa Seseorang Perlu Melakukan Kemoterapi?

Mengapa Seseorang Perlu Melakukan Kemoterapi?

Foto: Mengapa Seseorang Perlu Melakukan Kemoterapi? (rd.com)

Foto: hidup sehat bebas kanker (Orami Photo Stock)

Mengutip American Cancer Society, umumnya kemoterapi akan digunakan untuk:

  • Menurunkan jumlah sel kanker dalam tubuh.
  • Mengurangi kemungkinan penyebaran kanker.
  • Mengecilkan ukuran tumor.
  • Mengurangi gejala yang saat ini dialami akibat kanker.

Jika seseorang telah menjalani operasi untuk mengangkat tumor kanker, seperti lumpektomi untuk kanker payudara, ahli onkologi mungkin merekomendasikan chemotherapy untuk memastikan bahwa sel kanker yang masih ada juga terbunuh.

Kemoterapi juga akan digunakan untuk mempersiapkan seseorang menghadapi perawatan lain.

Ini bisa digunakan untuk mengecilkan tumor sehingga bisa diangkat dengan operasi, atau untuk mempersiapkan seseorang menjalani terapi radiasi.

Dalam kasus kanker stadium akhir, chemotherapy juga dapat membantu menghilangkan rasa sakit.

Selain pengobatan untuk kanker, kemoterapi dapat digunakan untuk mempersiapkan orang dengan penyakit sumsum tulang untuk pengobatan sel induk sumsum tulang, dan dapat digunakan untuk gangguan sistem kekebalan.

Dosis yang jauh lebih rendah daripada yang digunakan untuk mengobati kanker dapat digunakan untuk membantu gangguan di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat, seperti lupus atau rheumatoid arthritis.

Berapa Biaya Kemoterapi?

Biaya Kemoterapi

Foto: Biaya Kemoterapi

Foto: pasien di rumah sakit (lawankanker.org)

Tak sedikit orang yang merasa saat didiagnosis mengidap penyakit kanker, mereka seakan menghadapi mimpi buruk.

Moms pasti paham bahwa kanker adalah salah satu penyakit yang menyebabkan banyak orang meregang nyawa.

Apalagi pengobatan kemoterapi yang ditujukan untuk melawan kanker juga tetap bisa menyebabkan efek samping yang mengkhawatirkan.

Obat-obatan dan tindakan yang digunakan untuk menghilangkan sel kanker tergolong mahal dan harus digunakan secara berkelanjutan hingga pasien dinyatakan sembuh dari kanker.

Biaya kemoterapi memang terbilang mahal dan bervariasi, tergantung pada jenis pengobatan, tipe dan kelas rumah sakit.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 52 tahun 2016, tarif Indonesian-Case Based Groups, untuk pasien kanker rawat inap di rumah sakit pemerintah tipe A biaya kemoterapi bisa mencapai belasan hingga puluhan juta Rupiah.

Berikut rincian biaya kemoterapi:

  • Untuk biaya rawat inap pasien leukimia ringan misalnya, tarif kelas satu memakan biaya Rp17.347.800,00
  • Sementara itu, pengobatan radioterapi ringan memakan tarif kelas 1 memakan biaya Rp6.012.500,00
  • Biaya kemoterapi yang umum dipakai oleh pasien kanker memakan hingga Rp4.520.200,00 untuk kemoterapi ringan dan biaya kemoterapi berat sebesar Rp11.515.700,00
  • Pencangkokan sumsum tulang belakang yang kerap dilakukan untuk pasien leukemia bahkan memakan biaya hampir seratus juta rupiah.

Namun untungnya, BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan juga menjamin biaya kemoterapi.

Banyak pasien di Indonesia yang menjadikan BPJS sebagai tumpuan pengobatan mereka.

Meski sudah ditanggung BPJS, Moms juga harus menyiapkan biaya tambahan, contohnya untuk biaya transportasi dan akomodasi anggota keluarga yang menemani.

Cara Pemberian Obat Kemoterapi

Cara Pemberian Obat Kemoterapi

Foto: Cara Pemberian Obat Kemoterapi

Foto: obat (Orami Photo Stock)

Obat kemoterapi dapat diberikan dengan berbagai cara, termasuk:

Infus

Kemoterapi paling sering diberikan sebagai infus ke pembuluh darah (intravena).

Obat dapat diberikan dengan memasukkan tabung dengan jarum ke pembuluh darah di lengan atau ke alat di pembuluh darah di dada.

Pil

Beberapa obat dapat dikonsumsi dalam bentuk pil atau kapsul.

Suntikan

Obat dapat disuntikkan dengan jarum, sama seperti saat menerima suntikan.

Krim

Krim atau gel yang mengandung obat dapat dioleskan pada kulit untuk mengobati jenis kanker kulit tertentu.

Obat untuk Satu Area Tubuh

Obat bisa diberikan langsung ke salah satu area tubuh.

Misalnya, diberikan langsung di perut (kemoterapi intraperitoneal), rongga dada (kemoterapi intrapleural), atau sistem saraf pusat (kemoterapi intratekal).

Kemoterapi juga dapat diberikan melalui uretra ke dalam kandung kemih (intravesika).

Kemoterapi Diberikan Langsung pada Kanker

Chemotherapy juga dapat diberikan langsung pada sel kanker maupun setelah operasi.

Sebagai contoh, obat dapat diletakkan di dekat tumor selama pembedahan.

Obat yang berbentuk seperti wafer akan rusak seiring waktu dan melepaskan obat.

Obat juga dapat disuntikkan ke pembuluh darah atau arteri yang secara langsung memberi makan tumor.

Baca Juga: 9 Cara Mengatasi Sakit Pinggang Saat Hamil, Hindari Mengangkat Beban Berat, ya Moms!

Persiapan Sebelum Kemoterapi

Persiapan Sebelum Kemoterapi

Foto: Persiapan Sebelum Kemoterapi (Orami Photo Stocks)

Foto: pemeriksaan pasien (Orami Photo Stock)

Dokter biasanya akan memberi pasien instruksi khusus untuk mempersiapkan perawatan.

Oleh karena itu, pasien mungkin perlu melakukan persiapan berikut.

1. Memasang Perangkat dengan Pembedahan sebelum Kemoterapi Intravena

Jika pasien akan menerima obat secara intravena (ke pembuluh darah), dokter mungkin merekomendasikan alat, seperti kateter, port atau pompa.

Kateter atau perangkat lain ditanamkan melalui pembedahan ke pembuluh darah besar, biasanya di dada.

Obat kemudian dapat diberikan melalui alat tersebut.

2. Menjalani Tes dan Prosedur untuk Memastikan Tubuh Siap Menerima Kemoterapi

Tes darah untuk memeriksa fungsi ginjal dan hati serta tes jantung untuk memeriksa kesehatan jantung dapat menentukan apakah tubuh siap untuk memulai pengobatan ini.

Jika ada masalah, dokter mungkin menunda pengobatan atau memilih obat dan dosis lain yang lebih aman.

3. Menemui Dokter Gigi

Dokter mungkin menyarankan dokter gigi untuk memeriksa gigi apakah ada tanda-tanda infeksi.

Mengobati infeksi yang ada dapat mengurangi risiko komplikasi selama pengobatan.

Sebab, beberapa obat dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.

4. Rencanakan Sebelumnya untuk Efek Samping

Tanyakan kepada dokter apa efek samping yang terjadi setelah kemoterapi dan buat pengaturan yang sesuai.

Misalnya, jika pengobatan akan menyebabkan kemandulan, pasien mungkin ingin mempertimbangkan pilihan untuk mengawetkan sperma atau sel telur untuk digunakan di masa mendatang.

Jika pengobatan ini menyebabkan kerontokan rambut, pertimbangkan untuk merencanakan menggunakan penutup kepala.

Baca Juga: Review Emina Creamy Tint Sun Beam oleh Moms Orami, Harganya Terjangkau!

5. Buat Pengaturan Bantuan di Rumah dan di Tempat Kerja

Kebanyakan perawatan diberikan di klinik rawat jalan.

Dengan kondisi ini, seseorang dapat terus bekerja dan melakukan aktivitas seperti biasa selama kemoterapi.

Dokter juga dapat memberitahu pasien secara umum seberapa besar chemotherapy akan memengaruhi aktivitas.

6. Persiapkan Perawatan Pertama

Tanyakan kepada dokter atau perawat untuk tahu bagaimana persiapan yang tepat.

Mungkin akan membantu jika pasien tiba untuk perawatan pertama dengan istirahat yang baik sebelumnya.

Pasien juga mungkin perlu makan makanan ringan sebelumnya jika obat dapat menyebabkan mual.

7. Minta Didampingi Saat Melakukan Kemoterapi

Kebanyakan orang dapat pergi sendiri saat sesi kemoterapi. Namun, untuk pertama kali Moms mungkin perlu ditemani.

Hal ini karena beberapa obat-obatan bisa membuat mengantuk atau menyebabkan efek samping lain yang membuat pasien kesulitan untuk pulang ke rumah sendiri.

Baca Juga: Profil Sabrina Chairunnisa, Istri Deddy Corbuzier yang Lebih Muda 16 Tahun!

Setelah Kemoterapi

Setelah Kemoterapi

Foto: Setelah Kemoterapi (Moffitt.org)

Foto: pemulihan pasien (Orami Photo Stock)

Dokter dan tim perawatan kanker akan secara teratur memantau keefektifan perawatan.

Ini bisa mencakup teknik pencitraan, tes darah, dan mungkin banyak lagi. Dokter juga dapat menyesuaikan perawatan kapan saja.

Tes-tes ini dapat memberi gambaran kepada dokter tentang bagaimana kanker merespons pengobatan.

Ahli onkologi akan menanyakan tentang efek samping yang dialami, karena banyak hal yang dapat dikontrol.

Semakin banyak pasien berbagi dengan dokter tentang bagaimana kemoterapi memengaruhi kondisi pasien tentu akan semakin baik pengalaman pengobatan kanker ini.

Pasien perlu memberi tahu dokter tentang semua efek samping atau masalah terkait perawatan yang dialami sehingga dapat membuat penyesuaian pada perawatan jika diperlukan.

Baca Juga: Pasar Ah Poong, Tempat Wisata Keluarga Sekaligus Kulineran Seru di Sentul

Kondisi yang Perlu Diperhatikan Selama Perawatan

Kondisi yang Perlu Diperhatikan Selama Perawatan

Foto: Kondisi yang Perlu Diperhatikan Selama Perawatan

Foto: pasien kanker (techno.id)

Selama menjalani pengobatan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan.

1. Kehamilan dan Kontrasepsi

Wanita harus menghindari hamil saat menjalani kemoterapi, karena banyak obat dapat menyebabkan cacat lahir.

Gunakan metode kontrasepsi penghalang, seperti kondom, dan segera hubungi tim perawatan jika pasien merasa mungkin sedang hamil.

Pria yang menjalani pengobatan juga harus menggunakan kondom selama menjalani perawatan, meskipun pasangannya menggunakan kontrasepsi.

2. Obat Lain

Saat menjalani kemoterapi, tanyakan kepada tim perawatan sebelum pasien minum obat lain, termasuk obat bebas dan pengobatan herbal.

Obat-obatan lain dapat bereaksi secara tidak terduga dengan obat, yang dapat memengaruhi seberapa baik kerjanya dan dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya.

3. Waktu Harus Menghentikan Pengobatan

Beberapa orang memutuskan bahwa manfaat kemoterapi tidak sebanding dengan kualitas hidup yang buruk karena efek sampingnya.

Jika pasien kesulitan dengan perawatan dan ragu apakah akan melanjutkan, ada baiknya untuk berbicara dengan tim perawatan.

Baca Juga: Manfaat Tes Pap Smear, Bisa Deteksi Kanker Serviks!

Efek Kemoterapi

efek-samping-kemoterapi.jpg

Foto: efek-samping-kemoterapi.jpg

Foto: rambut rontok (Orami Photo Stock)

Melansir Frontiers in Pharmacology, efek kemoterapi nyatanya bisa sangat signifikan.

Setiap obat memiliki efek samping yang berbeda, tapi tidak setiap obat menyebabkan efek samping.

Pasien perlu menanyakan kepada dokter tentang efek samping dari obat tertentu yang akan diterima.

Mengutip Mayo Clinic, efek samping yang umum dari obat kemoterapi meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Rambut rontok
  • Kehilangan selera makan
  • Kelelahan
  • Demam
  • Sariawan
  • Rasa sakit
  • Sembelit
  • Mudah memar
  • Berdarah

Banyak dari efek samping ini dapat dicegah atau diobati.

Sebagian besar efek samping juga akan mereda setelah pengobatan berakhir. Namun, ada efek samping yang bertahan lama dan berkembang lambat.

Beberapa obat kemoterapi juga dapat menyebabkan efek samping yang tidak terlihat sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah pengobatan.

Efek samping lanjut akan bervariasi, tergantung pada obat kemoterapi. Beberapa efek samping lanjut tersebut antara lain:

  • Kerusakan jaringan paru-paru
  • Masalah jantung
  • Infertilitas
  • Masalah ginjal
  • Kerusakan saraf (neuropati perifer)
  • Risiko terkena kanker kedua kali

Baca Juga: 9 Inspirasi Rumah Segitiga yang Unik, Ada yang Berbentuk Siku-Siku!

Tanda Kemoterapi Berhasil

Tanda Kemoterapi Berhasil

Foto: Tanda Kemoterapi Berhasil

Foto: pasien setelah kemoterapi (Orami Photo Stock)

Kemoterapi bekerja dengan menghancurkan sel-sel kanker di dalam tubuh.

Tergantung pada jenis dan stadium kanker, kemoterapi dapat menargetkan tumor atau sel primer yang telah menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Chemotherapy juga dapat membantu mengobati nyeri terkait kanker. Dokter biasanya akan membuat rekomendasi khusus berdasarkan:

Tergantung pada faktor-faktor ini, chemotherapy dapat diberikan dalam beberapa kali yang berjarak beberapa minggu atau bulan.

Jika Moms sedang menjalani rencana perawatan kemoterapi, mungkin ada pertanyaa bagaimana cara mengetahui apakah pengobatan ini berhasil atau tidak.

Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti secara efektif adalah melalui tes lanjutan dengan dokter.

Ini diberikan secara berkala di sekitar setiap kali melakukan kemo.

Untuk mengobati sel kanker dengan kemoterapi, dokter akan menentukan fase seluler terbaik untuk memberikan perawatan.

Karena sel kanker berkembang atau membelah dengan cepat, kemoterapi dapat dianggap sebagai pengobatan pertama untuk bentuk kanker yang lebih agresif.

Tes yang Digunakan untuk Mengukur Efektivitas

Sepanjang rencana perawatan, dokter perlu memeriksa perkembangan untuk mengukur efektivitas kemoterapi yang dilakukan.

Tergantung pada jenis kanker dan stadiumnya, dokter mungkin menggunakan beberapa teknik, seperti:

  • Pemeriksaan fisik, dengan mengidentifikasi benjolan yang terlihat atau kelenjar getah bening yang telah menyusut ukurannya.
  • Tes darah, termasuk hitung darah lengkap (CBC) mengukur sel darah merah dan putih, trombosit, dan banyak lagi.
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan computed tomography (CT) scan untuk mengukur tumor kanker untuk melihat apakah mereka telah menyusut, tumbuh, atau menyebar.
  • Tes penanda tumor (biomarker), untuk mengukur jumlah sel kanker melalui sampel darah, jaringan, atau urin

Tergantung pada jenis dan stadium kanker yang dimiliki, pasien mungkin melihat peningkatan gejala kanker jika kondisi sedang dirawat. Contohnya mungkin termasuk:

  • Tingkat energi yang ditingkatkan
  • Lebih sedikit rasa sakit
  • Mengurangi pembengkakan di kelenjar getah bening

Kemoterapi terkenal karena menyebabkan beberapa efek samping, seperti kelelahan, rambut rontok, hingga mual.

Ini terjadi karena chemotherapy membunuh sel kanker dan sel sehat.

Beberapa orang mungkin mengalami efek samping yang lebih parah daripada yang lain. Namun, efek samping bukanlah cara yang efektif untuk mengetahui bahwa kemoterapi berhasil atau tidak.

Bahkan, efek samping yang parah tidak selalu berarti bahwa pengobatan yang dilakukan sudah efektif membunuh sel kanker.

Baca Juga: Menyusui Mencegah Kanker, Benarkah?

Dokter Mengukur Respons Tubuh

Sebelum setiap sesi kemoterapi, dokter akan melakukan penilaian untuk memastikan bahwa perawatan tersebut aman untuk dilakukan.

Jika jumlah CBC terlalu rendah misalnya, dokter mungkin menyarankan untuk menjadwal ulang perawatan untuk hari lain.

Untuk menentukan keberhasilan kemo, dokter juga perlu melakukan tes darah dan pencitraan setelah siklus pengobatan.

Moms harus ingat bahwa siklus perawatan penuh mencakup hari-hari saat menerima kemo, serta minggu-minggu saat dalam pemulihan.

Menurut studiDiagnostics, saat menentukan efektivitas kemoterapi, dokter akan menentukan bagaimana tubuh merespons metode pengobatan ini.

Dokter mungkin menyatakan bahwa pasien memiliki salah satu tanggapan berikut:

  • Respons lengkap. Ini berarti tidak ada kanker yang terdeteksi tersisa di tubuh.
  • Respon parsial. Ini berarti bahwa chemotherapy telah membantu mengecilkan tumor kanker dan mencegah penyebarannya, tetapi sel-sel kanker masih ada di dalam tubuh.
  • Penyakit stabil. Ini berarti bahwa chemotherapy tidak mengubah jumlah kanker di tubuh, dan tumor apa pun yang dimiliki sebelumnya tidak menyusut atau tetap tumbuh.
  • Perkembangan penyakit. Dalam kasus seperti itu, kanker telah tumbuh dan ada bukti lebih banyak penyakit daripada sebelum dimulainya perawatan ini. Pengujian dapat menunjukkan bahwa kanker telah menyebar ke area baru.

Rekomendasi Perawatan Lain

Jika tidak ditemukan tanda kemoterapi berhasil, biasanya dokter akan mempertimbangkan perawatan kanker lainnya seperti:

  • Terapi bertarget, ini menargetkan protein dan reseptor kanker spesifik untuk menghancurkan sel kanker dan mencegahnya menyebar.
  • Imunoterapi, dengan menggunakan obat-obatan yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sehingga mampu menghancurkan sel-sel kanker sebelum mereka tumbuh.
  • Terapi hormon, untuk menghentikan kanker tertentu dari penggunaan hormon yang dibutuhkan untuk tumbuh, seperti dalam kasus kanker payudara, rahim, dan prostat.

Chemotherapy diberikan secara terus menerus selama beberapa minggu.

Misalnya, dokter mungkin merekomendasikan chemotherapy setiap hari hingga 1 minggu, dan kemudian 3 minggu, menurut National Cancer Institute .

Tujuannya adalah untuk menargetkan sel-sel kanker ketika mereka mungkin paling aktif, sekaligus memberikan waktu pemulihan bagi tubuh untuk membangun yang sehat.

Namun, rencana perawatan yang tepat tergantung pada:

  • Jenis kanker yang dimiliki.
  • Stadium kanker.
  • Jenis obat chemotherapy yang digunakan, dan apakah ada penggunaan obat lain, seperti terapi bertarget.
  • Alasan utama pengobatan ini. Misalnya, untuk mencegah penyebaran tumor atau untuk mengurangi rasa sakit.
  • Bagaimana kanker merespons pengobatan.
  • Bagaimana pasien mentolerir pengobatan.
  • Kemungkinan kondisi kesehatan lain yang mungkin dimiliki, seperti penyakit diabetes atau kondisi jantung.

Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, sulit untuk memprediksi garis waktu yang tepat kapan kemoterapi akan mulai bekerja.

Perawatan ini dapat bekerja segera untuk beberapa orang, sementara mungkin diperlukan beberapa kali perawatan selama berbulan-bulan untuk yang lain.

Itulah beberapa hal yang perlu dipahami mengenai kemoterapi sebagai pengobatan kanker.

Biaya kemoterapi memang mahal, maka dari itu sebaiknya Moms menggunakan BPJS atau asuransi kesehatan lainnya.

Selain itu, pengobatan ini juga memang cukup mengkhawatirkan karena berbagai efek sampingnya.

Oleh karena itu, alangkah lebih baik untuk mencegah kanker sedari dini.

Caranya adalah dengan menjaga pola makan sehat, cukup istirahat, mengelola stres, dan olahraga teratur.

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK564367/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5874321/
  • https://www.nhs.uk/conditions/chemotherapy/what-happens/
  • https://skata.info/article/detail/592/apakah-pengobatan-kanker-ditanggung-bpjs
  • https://www.healthline.com/health/chemotherapy#procedure
  • https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/chemotherapy/about/pac-20385033
  • https://www.cancer.org/treatment/treatments-and-side-effects/treatment-types/chemotherapy.html
  • http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._52_Tahun_2016_Tentang_Standar_Tarif_Pelayanan_Kesehatan_Dalam_Penyelenggaraan_JKN_.pdf
  • https://www.healthline.com/health/cancer/signs-that-chemo-is-working
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5373019/
  • https://www.cancer.gov/about-cancer/treatment/types/chemotherapy