04 Maret 2022

Mengenal Sindrom Inflamasi Multisistem, Penyakit yang Menyerang Anak Pasca COVID-19

Sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak jarang terjadi, tetapi tidak boleh diabaikan

Pandemi COVID-19 masih terjadi dan terus menyebar dengan banyak varian barunya, salah satunya Omricon. Tidak hanya pada dewasa, virus COVID-19 juga bisa menyerang anak-anak dan bahkan menyebabkan sindrom inflamasi multisistem (MIS-C). 

Moms tentu mungkin pernah mendengar tentang kemungkinan hubungan antara COVID-19 dan kondisi kesehatan yang langka, tetapi serius pada anak-anak.

Ya, kondisi itu disebut sindrom inflamasi multisistem pada anak-anak.

Hubungan antara COVID-19 dan sindrom inflamasi multisistem tidak dipahami dengan baik.

Akan tetapi, para pakar dan dokter anak terus mencoba mempelajari apakah beberapa anak lebih berisiko terhadap sindrom inflamasi multisistem atau tidak.

Namun, dikutip dari Health Children Organization, American Academy of Pediatrics (AAP) ingin meyakinkan orang tua bahwa sangat sedikit anak yang sakit parah dari virus penyebab COVID-19 ini.

Sejauh ini, sebagian besar anak yang terdiagnosis sindrom inflamasi multisistem telah pulih setelah mendapatkan perawatan medis.

Perlu Moms ketahui, Jhons Hopkins Medicine menyatakan bahwa sindrom inflamasi multisistem pertama kali diidentifikasi pada April 2020 oleh dokter di rumah sakit anak-anak di Amerika Serikat dan Inggris.

Kondisi ini juga disebut pediatric inflammatory multisystem syndrome (PIMS).

Meskipun sindrom ini jarang terjadi, sindrom inflamasi multisistem tetap harus diwaspadai karena dapat menjadi serius.

Baca Juga: 3+ Manfaat Rivanol, Bukan untuk Mencegah COVID-19!

Apa Itu Sindrom Inflamasi Multisistem?

multisystem inflammatory syndrome
Foto: multisystem inflammatory syndrome (standfordchildrens.org)

Foto: standfordchildrens.org

Sindrom inflamasi multisistem adalah penyakit yang dapat terjadi setelah infeksi COVID-19 dan mempengaruhi sebagian besar anak usia sekolah.

Sindrom inflamasi multisistem pada anak, atau disebut sindrom inflamasi multisistem pediatrik, ada kaitannya dengan SARS CoV-2 (PMIS atau PIMS-TS).

Penyakit ini berpotensi serius pada anak-anak yang efeknya tertunda atau pascakomplikasi infeksi dari infeksi COVID-19.

Anna Sick-Samuels, M.D., M.P.H., dokter anak di Johns Hopkins Medicine mengatakan bahwa sindrom inflamasi multisistem memiliki ciri-ciri yang sama dengan sindrom syok toksik dan penyakit yang disebut penyakit Kawasaki.

Kedua penyakit ini menyebabkan peradangan di seluruh tubuh di mana arteri koroner membesar atau membentuk aneurisma.

Sindrom ini merupakan reaksi peradangan dalam tubuh sekitar empat minggu setelah terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Gejala awalnya sering berupa demam, ruam, mata merah, diare dan muntah. Namun, bisa bertambah parah selama beberapa hari.

Menurutnya, peradangan dapat mempengaruhi jantung, pembuluh darah, dan organ lain yang dapat membuat beberapa anak sakit parah dan membutuhkan perawatan segera.

Sindrom inflamasi multisistem umum terjadi dengan peradangan jantung atau gangguan fungsi jantung, tekanan darah rendah, ruam atau mata merah, dan gejala gastrointestinal.

Gejala ini dapat terjadi dalam kombinasi yang berbeda.

Baca Juga: Jangan Lengah, Kenali 4 Gejala Covid Varian Mu

Gejala Sindrom Inflamasi Multisistem

multisystem inflammatory syndrome
Foto: multisystem inflammatory syndrome (healio.com)

Foto: healio.com

Gejala sindrom inflamasi multisistem dapat bervariasi dari anak ke anak.

Gejala utama yang harus diperhatikan adalah demam terus-menerus (berlangsung lebih dari 24 jam dan biasanya muncul selama beberapa hari).

Hubungi dokter anak segera jika Si Kecil mengalami demam persisten 38 derajat Celsius atau lebih yang berlangsung lebih dari tiga atau empat hari.

Si Kecil yang mengalami sindrom inflamasi multisistem juga mungkin dapat merasa tampak lelah dan tidak enak badan, ruam, mata merah, sakit perut , muntah, diare, atau kehilangan nafsu makan serta tidak minum cukup cairan.

Gejala sindrom ini bisa memburuk dengan cepat.

Jadi, cari bantuan medis segera jika Moms melihat sesuatu yang mengkhawatirkan.

Beberapa gejala lainnya yaitu:

  • Ruam, mata merah, tangan dan kaki bengkak atau merah, selaput lendir mulut meradang, bibir pecah-pecah, dan lidah bengkak seperti stroberi
  • Gejala dan tanda syok atau masalah jantung, seperti dingin, kulit lembab, tekanan darah sangat rendah, sulit bernapas, sesak napas parah saat beraktivitas, pusing dan detak jantung sangat tinggi atau detak jantung yang tidak teratur
  • Gejala gastrointestinal, seperti diare, muntah, atau sakit perut
  • Gejala pernapasan, seperti batuk dan sesak napas
  • Gejala neurologis baru, seperti sakit kepala, nyeri leher, kebingungan, mati rasa/kesemutan pada tangan dan kaki, atau kejang.

Meskipun masih dipelajari lebih lanjut tentang kondisi ini, inilah yang diketahui dokter dan ilmuwan sejauh ini:

  • Sindrom inflamasi multisistem adalah komplikasi COVID-19 yang jarang terjadi, tetapi bisa berbahaya. Gejalanya dapat tumpang tindih dengan infeksi dan penyakit lain. Anak-anak yang menunjukkan gejala harus diperiksakan ke dokter
  • Sindrom inflamasi multisistem biasanya mempengaruhi usia sekolah, paling sering anak usia 8 dan 9 tahun. Namun, sindrom ini juga terlihat pada bayi dan dewasa muda
  • Gejala sindrom inflamasi multisistem muncul antara dua dan enam minggu (rata-rata empat minggu) setelah infeksi COVID-19.
  • Sebagian besar anak dengan Sindrom inflamasi multisistem memiliki antibodi terhadap virus SARS-CoV-2.
  • Sindrom inflamasi multisistem adalah kondisi yang dapat diobati dan sebagian besar anak pulih sepenuhnya dari penyakit ini.

Pemberian obat-obatan dapat mengontrol peradangan dan membantu mencegah kerusakan organ yang berkepanjangan, terutama yang melibatkan jantung.

Baca Juga: 3 Risiko Tidak Mau Vaksin COVID-19, Salah Satunya Long COVID, Waspada!

Penyebab Sindrom Inflamasi Multisistem

COVID19_related_Rash_12-YO_girl_multi_system_inflammatory_syndrome_copyright_Damien-Bonnet
Foto: COVID19_related_Rash_12-YO_girl_multi_system_inflammatory_syndrome_copyright_Damien-Bonnet (dicardiology.com)

Foto: dicardiology.com

Penyebab sindrom inflamasi multisistem belum sepenuhnya dipahami.

Hal ini adalah pertanyaan yang sedang diselidiki secara aktif, bahkan di luar negeri.

Beberapa peneliti menduga bahwa sindrom inflamasi multisistem disebabkan oleh respons imun yang tertunda terhadap virus COVID-19 yang entah bagaimana menjadi berlebihan dan menyebabkan peradangan yang merusak organ.

Antibodi anak terhadap virus atau beberapa sel kekebalan mereka mungkin menciptakan penyakit ini.

Sebab hanya sejumlah kecil anak yang mengembangkan sindrom inflamasi multisistem.

Ada kemungkinan terdapat faktor genetik yang membuat beberapa anak rentan.

Penting untuk diingat bahwa secara keseluruhan, anak-anak memiliki gejala COVID-19 yang lebih baik atau lebih ringan dibandingkan dengan orang dewasa.

Hanya sejumlah kecil anak-anak yang tampaknya mengalami tanda dan gejala sindrom inflamasi multisistem dan sebagian besar telah pulih dengan cepat.

Baca Juga: Jangan Anggap Sepele, Berikut Cara Pencegahan COVID-19 pada Anak

Diagnosis Sindrom Inflamasi Multisistem

top-10-child-specialist-clinics-in-kl-selangor
Foto: top-10-child-specialist-clinics-in-kl-selangor (tallypress.com)

Foto: tallypress.com

Saat ini, sindrom inflamasi multisistem didiagnosis berdasarkan gejala seperti demam terus-menerus dan disfungsi satu atau lebih organ, seperti jantung atau sistem pencernaan.

Hal itu didukung dengan tes laboratorium untuk mencari tanda-tanda peradangan dalam tubuh.

Anak-anak juga harus memiliki tes positif untuk COVID-19.

Pengujian ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari gejala, seperti infeksi lain.

Setelah sindrom inflamasi multisistem didiagnosis, anak-anak perlu dipantau dari waktu ke waktu dengan tes laboratorium untuk menilai peradangan, pembekuan darah, fungsi hati, fungsi jantung, dan aspek lain dari penyakit mereka.

Anak-anak juga harus menjalani ekokardiogram untuk mengevaluasi jantung dan arteri koroner mereka.

Beberapa anak dengan masalah jantung mungkin juga memerlukan pengujian tambahan seperti MRI jantung, monitor Holter, atau pengujian olahraga.

Baca Juga: Rekomendasi Pemberian Vaksin COVID-19 pada Anak Usia 6-11 Tahun dari IDAI

Perawatan Sindrom Inflamasi Multisistem

multisystem-inflammatory-sydrome-in-children-blog-image-780
Foto: multisystem-inflammatory-sydrome-in-children-blog-image-780 (ebsco.com)

Foto: ebsco.com

Anak-anak yang didiagnosis dengan sindrom inflamasi multisistem memerlukan pemantauan ketat.

Semua anak harus dirawat di rumah sakit, sedangkan beberapa di antaranya mungkin memerlukan perawatan intensif.

Spesialis anak di bidang reumatologi, perawatan kritis, dan kardiologi dapat mengantisipasi dan menangani berbagai aspek penyakit.

Perawatannya termasuk imunoglobulin IV (digunakan untuk mengobati penyakit Kawasaki) dan obat antiinflamasi (kortikosteroid, dan obat yang memblokir IL-1 atau IL-6).

Perawatan lain dapat digunakan tergantung pada hasil tes laboratorium. Anak-anak juga diobati dengan aspirin dosis rendah untuk mengurangi risiko pembekuan darah.

Anak-anak perlu dipantau setelah keluar dari rumah sakit dengan ekokardiagram berulang untuk memantau jantung dan arteri koroner mereka, bahkan jika mereka tidak memiliki masalah serius di rumah sakit.

Anak-anak yang pulih sepenuhnya pada enam bulan tidak lagi memerlukan tindak lanjut yang ketat .

Baca Juga: 57 Lokasi Vaksin COVID-19 untuk Anak 12-17 Tahun di Jabodetabek, Tersedia Vaksin Pfizer!

Jika Moms berpikir Si Kecil mungkin menderita sindrom inflamasi multisistem, konsultasikan dengan dokter atau Si Kecil ke Unit Gawat Darurat.

Tes darah mungkin direkomendasikan, tergantung pada gejala sindrom inflamasi multisistem yang dialami.

Anak-anak dengan sindrom inflamasi multisistem memerlukan observasi ketat oleh spesialis pediatrik di reumatologi, kardiologi, perawatan kritis, dan kadang-kadang ahli hematologi dan dokter penyakit menular. 

  • https://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/m/mis-c
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/coronavirus/misc-and-covid19-rare-inflammatory-syndrome-in-kids-and-teens?amp=true

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.