Rupa-rupa

5 Oktober 2021

Cerita Sejarah Sunan Kudus dengan Toleransi Beragama yang Tinggi

Sunan Kudus dikenal sebagai tokoh yang memiliki toleransi beragama sangat tinggi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Merna
Disunting oleh Debora

Sunan Kudus menjadi salah satu anggota Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, tepatnya di daerah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Beliau lahir di Kudus pada tahun 1400 Masehi. Sunan Gunung Jati hidup di era kerajaan Hindu-Jawa sedang runtuh dan agama Islam baru mulai menyebar di daerah Jawa.

Sunan Kudus adalah anak dari Habib Utsman Haji atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Ngudung.

Ayahnya ini merupakan seorang menantu dari Sunan Ampel. Sedangkan ibunya bernama Syarifah Ruhul atau Dewi Ruhil yang merupakan adik dari Sunan Bonang.

Menurut silsilah dari keluarga Sunan Kudus, beliau merupakan keturunan ke-10 lewat jalur Husein, yaitu putera dari pernikahan puteri Nabi Muhammad yakni Siti Fatimah dengan Sayyidina Ali Ra.

Baca Juga: Mengenal Sunan Gresik, Wali Songo Pertama di Tanah Jawa

Nama Asli Sunan Kudus

Sunan Kudus

Foto: lazada.co.id

Sunan Kudus memiliki nama asli Jafar Shadiq.

Beliau mendapatkan gelar raden karena ayahnya merupakan senopati atau panglima pada masa pemerintahan Kesultanan Demak.

Beliau juga mendapat julukan sebagai Raden Amir Haji.

Hal ini dikarenakan sewaktu naik haji, Sunan Kudus selalu mendapat peran sebagai pemimpin rombongan atau amir.

Perjalanan naik hajinya ini sangat sering sehingga nama Raden Amir Haji sangat dikenal oleh masyarakat.

Sebutan nama Sunan Kudus disematkan karena beliau memilih daerah Kudus sebagai tempat berdakwahnya.

Sunan Kudus menetap dan berdakwah di daerah ini selama bertahun-tahun lamanya sehingga masyarakat setempat kemudian memanggilnya dengan sebutan Sunan Kudus.

Baca Juga: Mengenal Sunan Bonang yang Berdakwah dengan Gamelan

Berdakwah dengan Ajaran Toleransi Beragama

Sapi Sunan Kudus

Foto: metrojateng.com

Diketahui kalau Sunan Kudus memiliki toleransi beragama yang sangat tinggi.

Beliau sangat menghargai agama lain yang ada di Pulau Jawa seperti agama Budha dan Hindu.

Pernah diceritakan kalau di masa awal berdakwah Sunan Kudus, ada sebuah kejadian yang hingga saat ini masih sangat diingat oleh masyarakat kota Kudus.

Jadi, suatu hari beliau membeli sapi yang disebut dengan kebo gumarang.

Sapi ini ukurannya sangat besar sekali dan didatangkan langsung dari India menggunakan kapal besar.

Sapi yang ukurannya besar ini tentu saja menarik perhatian masyarakat karena kandangnya tepat berada di pekarangan rumah yang bisa terlihat dari jalanan.

Di masa itu, masyarakat kota Kudus mayoritas beragam Hindu karena ajaran Islam baru mulai masuk pada saat Sunan Kudus datang ke sana.

Masyarakat yang melihat Sunan Kudus memelihara sapi berukuran besar itu pun penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh sang pemilik.

Baca Juga: Mengenal Sunan Kalijaga yang Berdakwah Lewat Wayang

Dalam ajaran Hindu, sapi adalah hewan suci karena dianggap sebagai kendaraan yang digunakan oleh para dewa.

Oleh karena itu, rasa penasaran mereka sangat tinggi dan membuat banyak orang berkerumun di depan pekarangan rumah Sunan Kudus setiap harinya.

Sunan Kudus yang melihat hal tersebut akhirnya keluar dari rumah dan mengatakan kalau sapi yang ada di pekarangannya ini adalah peliharannya dan tidak boleh ada yang menyakitinya apalagi membunuhnya.

Beliau pun menceritakan kalau di masa kecil dirinya pernah ditolong oleh seekor sapi saat sedang dalam keadaan bahaya.

Oleh karena itu, sebagai ucapan rasa terima kasihnya, Sunan Kudus melarang pengikutnya untuk menyakiti dan membunuh sapi.

Beliau juga mengatakan kalau salah satu di antara surat yang ada di Al-Quran ada surat yang bernama Surat Al-Baqarah yang memiliki arti sapi dalam bahasa Arab.

Mendengar hal tersebut, tentu saja masyarakat pemeluk agama Hindu jadi terkagum-kagum dengan sosok Sunan Kudus dan mulai bersedia untuk mendengarkan ceramah serta dakwahnya.

Sebagian dari mereka bahkan ada yang mempercayai kalau Sunan Kudus ini adalah titisan Dewa Wisnu.

Larangan untuk membunuh sapi ini masih diterapkan oleh masyarakat Kudus karena setiap hari raya Idul Adha, mereka lebih memilih untuk berkurban kerbau.

Baca Juga: Mengenal Candi Singosari yang Jadi Peninggalan Terakhir Kerajaan Singasari

Menarik Perhatian Masyarakat Hindu dengan Arsitekstur Bangunan

Menara Kudus

Foto: indonesiakaya.com

Pendekatan dakwah Sunan Kudus juga mengambil jalur arsitektur.

Jadi saat beliau akan membangun sarana dan pra sarana untuk digunakan oleh masyarakat setempat, Sunan Kudus menggabungkan corak dari agama islam dan Hindu.

Salah satu bangunan yang memiliki unsur arsitekstur Islam dan Hindu adalah menara Kudus.

Meski Sunan Kudus berdakwah ajaran Islam, tapi beliau masih menghormati orang-orang yang memiliki kepercayaan agama lain dan tidak mau memaksa mereka untuk masuk agama Islam.

Sikapnya inilah yang justru membuat orang-orang setempat merasa segan dan sangat menghormati Sunan Kudus sehingga lambat laun mereka akhirnya bisa menerima ajaran beliau yakni ajaran Islam.

Meski membutuhkan waktu yang cukup lama dalam membantun kepercayaan masyarakat setempat, Sunan Kudus tetap berusaha dan tidak menyerah untuk menyebarkan ajaran Islam di Kudus.

Selain menggabungkan unsur Hindu ke dalam arsitektur bangunan, Sunan Kudus juga menyempurnakan alat-alat pertukangan yang berhubungan dengan teknik pandai besi, kerajinan emas, dan keris pusaka dengan unsur Islami.

Jadi di dalam kerajinan-kerajinan tersebut akan diselipkan ukiran berupa ayat-ayat Al-Quran.

Baca Juga: Mengenal 9 Wali Songo, Para Tokoh Penyebaran Ajaran Islam di Pulau Jawa

Karier Berpolitik Sunan Kudus

Kesultanan Demak

Foto: kompasiana.com

Selain berdakwah dengan cara toleransi beragam, Sunan Kudus juga berdakwah melalui jalur politik.

Setelah ayahnya wafat, beliau kemudian menggantikan posisi ayahnya untuk memperluas wilayah kekuasaan Kesultanan Demak.

Mendapat posisi sebagai senopati membuat Sunan Kudus memanfaatkannya untuk menyebarkan ajaran Islam dan berdakwah di setiap kesempatan.

Saat menjabat sebagai senopati, Sunan Kudus juga sempat diangkat sebagai imam besar Masjid Agung Demak serta menjadi hakim di Kesultanan Demak.

Hal ini dikarenakan Sunan Kudus dinilai sebagai orang yang adil dalam memutuskan suatu perkara dalam masyarakat dan tidak memihak suatu golongan tertentu.

Inilah kisah dari Sunan Kudus yang mengajarkan kepada kita kalau toleransi antar umat beragama itu sangat penting untuk menjaga kedamaian suatu bangsa.

  • https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kudus
  • https://jateng.inews.id/berita/sunan-kudus
  • https://www.kompas.com/skola/read/2021/01/21/155037769/sunan-kudus-menghormati-ajaran-hindu?page=all
  • https://tirto.id/sejarah-profil-sunan-kudus-wali-songo-bernama-asli-jafar-shadiq-gbBk
  • https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5550941/kisah-wali-songo-sunan-kudus-dakwah-dengan-cara-jalan-damai
  • https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210428181106-20-636076/dakwah-kompromistis-ala-sunan-kudus
  • https://m.merdeka.com/jateng/5-fakta-menarik-masjid-sunan-muria-di-kudus-lokasinya-berada-di-puncak-gunung.html
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait