2-3 tahun

2-3 TAHUN
19 Maret 2020

Terapi Okupasi Anak Berkebutuhan Khusus

Apa saja yang dilakukan praktisi terapi untuk melatih keterampilan anak?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Tiga tahun pertama kehidupan adalah waktu kritis untuk perkembangan otak. Jika Si Kecil mengalami keterlambatan atau keterbatasan perkembangan, terapi okupasi anak berkebutuhan khusus bisa membantu.

Bagi orang dewasa yang sedang dalam pemulihan pasca kecelakaan atau stroke, terapi okupasi biasanya melatih kembali kemampuan tubuh yang berkaitan dengan pekerjaan.

Namun, untuk anak-anak, karena “pekerjaannya” adalah bermain dan belajar, terapi okupasi lebih fokus terhadap milestone perkembangan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk aktivitas bermain maupun akademis.

Praktisi terapi okupasi yang berhubungan dengan anak biasanya menggunakan teknik dan rutinitas yang kelihatan seperti bermain. Padahal, permainan tersebut dirancang untuk menangani keterlambatan dan kesulitan perkembangan Si Kecil. Memasukkan terapi ke kegiatan sehari-hari memang menjadi prinsip utama terapi okupasi.

Baca Juga: Dikaruniai Dua Anak Berkebutuhan Khusus, Agatha Suci Merasa Diberkati Sebagai Ibu

Terapi okupasi sering digunakan dalam program pendidikan anak berkebutuhan khusus. Latihannya menyangkut penguatan keterampilan motorik halus, seperti menulis, menggunting, mengikat tali sepatu, dan menggunakan peralatan.

Beberapa ahli terapi okupasi juga sudah mendapatkan pelatihan terapi dengan pendekatan integrasi sensori. Metode ini menggunakan kegiatan seperti bermain untuk membantu anak mengolah dan menoleransi informasi yang mereka dapatkan melalui indra mereka dengan lebih baik.

Tujuan Terapi Okupasi Anak Berkebutuhan Khusus

Tujuan Terapi Okupasi Anak Berkebutuhan Khusus

Foto: childrenshealthsurrey.nhs.uk

Intervensi dini adalah sekumpulan terapi dan layanan dukungan untuk bayi baru lahir sampai balita usia tiga tahun yang memiliki disabilitas atau berisiko mengalami disabilitas. Fungsinya adalah memberikan bantuan sesuai kebutuhan mereka agar bisa sukses di masa depan.

Terapi okupasi bermanfaat bagi anak dengan kondisi spesifik seperti down syndrome, autisme, maupun anak yang belum memiliki diagnosis jelas.

Untuk anak yang mengalami keterlambatan perkembangan maupun kondisi fisik dan mental yang berisiko tinggi menyebabkan keterlambatan perkembangan, terapi okupasi bisa membantu meningkatkan keterampilan motorik, kognitif, pengolahan sensori, komunikasi, dan bermain.

Tujuannya adalah meningkatkan perkembangan Si Kecil, meminimalisasi potensi keterlambatan perkembangan, serta membantu keluarga memenuhi kebutuhan khusus bayi maupun balita.

Baca Juga: 4 Mainan Terbaik Untuk Balita Berkebutuhan Khusus

Terapi Okupasi Anak Berkebutuhan Khusus Dilakukan di Rumah atau Sekolah

Terapi Okupasi Anak Berkebutuhan Khusus Dilakukan di Rumah atau Sekolah.jpg

Foto: penfieldbuildingblocks.org

Undang-undang Pendidikan Penyandang Disabilitas (IDEA) di Amerika Serikat mengamanatkan program intervensi dini memberikan layanan di lingkungan asli serta dalam rutinitas biasa dan kegiatan keluarga sehari-hari.

“Layanan diberikan di tempat di mana anak butuh belajar dan mempraktikkan keterampilan tersebut,” jelas Debra Rhodes, ahli terapi okupasi intervensi dini di Amerika Serikat.

Contoh lingkungan asli tersebut adalah di rumah, day care, taman bermain, atau sekolah PAUD, layaknya pada anak tanpa disabilitas. Jadi, tidak dilakukan di kelas atau klinik khusus anak berkebutuhan khusus, Moms.

Baca Juga: 7 Tips Membacakan Buku Pada Balita Berkebutuhan Khusus

Apa Saja yang Dilakukan Ahli Okupasi Terapi Anak Berkebutuhan Khusus?

Apa Saja yang Dilakukan Ahli Okupasi Terapi Anak Berkebutuhan Khusus.jpg

Foto: shutterstock

Apa yang dilakukan praktisi terapi okupasi sebagai intervensi dini tergantung dari tujuan keluarga untuk Si Kecil. Ahli terapi mengevaluasi anak, lalu mengidentifikasi hal yang orang tua dan pengasuh bisa lakukan seharian untuk melatih keterampilan dan meningkatkan pengolahan sensori atau memungkinkan pembelajaran baru bagi Si Kecil.

Anak yang masih sangat kecil memelajari keterampilan yang akan digunakan sehari-hari atau sering. Contohnya, jika Moms khawatir Si Kecil tidak bisa makan dengan tangan, praktisi terapi okupasi akan bekerja sama dengan Moms untuk mengidentifikasi kapan Si Kecil bisa melatih telunjuk dan jempolnya untuk mengambil benda-benda kecil.

Praktisi dan orang tua akan bersama-sama membuat strategi. Misalnya, memberikan potongan makanan yang besar saat makan agar mudah dipegang, menekan tombol di remote TV, dan mencoba menunjuk gambar di buku cerita saat didongengkan sebelum tidur.

Praktisi okupasi terapi sangat menganjurkan hubungan dekat antara orang tua dan anak. “Keinginan belajar pada anak yang masih kecil sangat tergantung pada fondasi hubungan kasih sayang dengan keluarga, guru, atau pengasuh,” jelas Rhodes.

Baca Juga: 7 Tips Membacakan Buku Pada Balita Berkebutuhan Khusus

Menurut penelitian yang disebut Rhodes, respons yang jelas, dapat diandalkan, dan memuaskan dari pengasuh memotivasi Si Kecil untuk belajar, bahagia dengan pencapaiannya, dan menikmati waktu bermain.

Jadi, waktu yang dihabiskan Moms untuk membina hubungan dan melatih Si Kecil di luar kunjungan ahli okupasi terapi anak berkebutuhan khusus sangat penting.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait