2-3 tahun

7 Oktober 2021

Mengenal Down Syndrome, dari Ciri hingga Deteksi Dini

Sangat kecil kemungkinannya bahwa down syndrome disebabkan karena faktor keturunan orang tua
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

World Down Syndrome Day (WDSD) atau Hari Sindrom Down Sedunia diperingati setiap 21 Maret.

Berkaitan dengan ini, apakah Moms sudah tahu seluk-beluk tentang down syndrome pada anak?

Mengutip studi dalam NDSS, down syndrome merupakan kelainan kromosom genetik paling umum yang menyebabkan ketidakmampuan belajar pada anak.

Pada umumnya, down syndrome bukanlah penyakit keturunan.

Lantas apakah yang memicu down syndrome pada anak? Serta bagaimana cara pengobatannya?
Mari simak penjelasan down syndrome di bawah ini, Moms!

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Down Syndrome

Ciri-ciri Anak dengan Down Syndrome

penyebab anak down syndrome memiliki wajah sama hero banner magz (1510x849)

Foto: Orami Photo Stocks

Meskipun kemungkinan melahirkan bayi dengan down syndrome dapat diperkirakan dengan skrining selama kehamilan, adapun gejala fisik yang bisa dilihat untuk anak yang mengidap down syndrome.

Anak dengan down syndrome cenderung tumbuh lebih lambat jika dibandingkan dengan anak sebayanya.

Hal ini disebabkan karena ototnya kurang terbentuk dengan sempurna.

Namun demikian, postur tubuhnya tergolong proporsional.

Saat lahir, bayi dengan down syndrome biasanya memiliki tanda-tanda khas tertentu, di antaranya:

  • Penampilan wajah yang khas, misalnya memiliki tulang hidung rata dan telinga yang kecil
  • Ukuran kepala lebih kecil dan bagian belakangnya datar
  • Mata agak naik ke atas dengan lipatan kulit keluar dari kelopak mata atas dan menutupi sudut mata bagian dalam
  • Muncul bintik-bintik putih di bagian hitam mata (disebut bintik Brushifield)
  • Leher pendek dengan kulit di belakang leher terlihat agak kendur
  • Mulut berukuran kecil dan lidah yang terjulur
  • Otot kurang terbentuk dengan sempurna
  • Ada celah antara jari kaki pertama dan kedua
  • Telapak tangan yang lebar dengan jari-jari yang pendek dan satu lipatan pada telapak
  • Berat dan tinggi badan rendah dibanding rata-rata

Selain memengaruhi fisik, down syndrome juga menghambat perkembangan anak dalam membaca, berjalan, dan bicara.

Penderita sulit untuk berkonsentrasi, memecahkan masalah, dan memahami akibat dari perbuatannya.

Umumnya, penderita down syndrome memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata.

Biasanya dokter dapat mendiagnosis anak yang akan lahir atau sudah dilahirkan dengan kondisi down syndrome.

Bila Moms ragu dengan kondisi kesehatan bayi dalam kandungan, segera konsultasikan dengan dokter.

Baca Juga: Bagaimana Cara Meningkatkan Peluang Hamil di Usia 35 Tahun?

Penyebab Down Syndrome

top image menyambut kelahiran bayi down syndrome

Foto: Orami Photo Stocks

"Trisomi adalah suatu kondisi ketika salah satu kromosom bayi memiliki 3 salinan kromosom. Sedangkan normalnya setiap kromosom hanya berjumlah sepasang," ujar dr. Ardiansjah Dara, SpOG dalam Konferensi Pers "5th Trisomy Awareness Bash" pada Sabtu, 20 Maret 2021.

Down syndrome terbagi menjadi T21, T13 dan T18, yakni trimosom tersebut muncul pada urutan ke-21, 13 dan ke-18.

Paling sering terjadi down syndrome trimosom 21.

Ini merupakan kondisi dengan tingkat hidup cukup tinggi dibandingkan jenis lainnya.

Kondisi ini terjadi karena suatu kelainan genetik yang terjadi ketika bayi yang berada dalam kandungan.

Kondisi tersebut menambah kromosom 21, baik salinan penuh atau hanya sebagian, yang terbentuk saat perkembangan sel telur, sperma, atau embrio.

Belum ada penelitian ilmiah yang pasti yang menunjukkan bahwa down syndrome disebabkan oleh faktor lingkungan atau bawaan orang tua sebelum atau selama kehamilan.

Tingkat keparahan down syndrome dapat menyebabkan cacat intelektual seumur hidup dan keterlambatan perkembangan.

Ini adalah kelainan kromosom genetik yang paling umum dan menyebabkan ketidakmampuan belajar pada anak-anak.

Kondisi ini juga biasanya menyebabkan kelainan medis lainnya, termasuk gangguan jantung dan gangguan saluran cerna.

Baca Juga: Kenali Tanda Keterlambatan Perkembangan Fisik Bayi 0-12 Bulan

Down Syndrome dan Jenisnya

mencegah bayi down syndrome lahir 2.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Mengutip Cleveland Clinic, ada 3 jenis down syndrome pada anak, antara lain:

1. Trisomi 21

Istilah "trisomi" berarti memiliki salinan kromosom ekstra.

Sekitar 95% kasus down syndrome disebabkan oleh trisomi 21.

Kondisi ini terjadi saat seseorang memiliki tiga salinan kromosom 21. Pada kondisi normal, seharusnya jumlah kromosom adalah 46.

Namun, orang dengan down syndrome memiliki 47 jumlah kromosom. 

Hal ini terjadi akibat pembelahan sel yang abnormal selama perkembangan sel sperma atau sel telur. 

2. Translokasi

Pada jenis ini, ada sejumlah kromosom 21 penuh atau sebagian ekstra yang melekat pada kromosom lain. Translokasi menyumbang 4 persen kasus.

Orang yang lahir dengan kondisi ini memiliki 2 salinan kromosom 21 serta materi genetik tambahan dari kromosom 21 yang melekat pada kromosom lain.

Kondisi ini bisa terjadi sebelum atau saat proses pembuahan.

Down syndrome translokasi ini merupakan satu-satunya jenis down syndrome yang bisa diturunkan dari salah satu pihak orangtua.

3. Mosaikisme

Pada jenis ini yang paling langka (hanya 1%), beberapa sel biasanya mengandung 46 kromosom, dan beberapa mengandung 47.

Meskipun penderita down syndrome mungkin bertingkah dan berpenampilan serupa, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.

Orang dengan down syndrome biasanya memiliki IQ (ukuran kecerdasan) dalam rentang lebih rendah untuk berbicara dibandingkan anak-anak lain.

Baca Juga: Bagi Wanita Hamil, Tahukah Sindrom Alkohol Janin Pada Bayi?

Faktor Risiko Down Syndrome

down syndrome tak halangi anak anak indonesia ini raih prestasi internasional hero

Foto: Orami Photo Stocks

Meski demikian, sangat sedikit kasus yang diturunkan dari salah satu orangtua. Sedangkan, menurut Centers for Disease Control and Prevention, banyak faktor lain yang menjadi penyebab down syndrome seperti:

Baca Juga: Gianti Giadi, Pemilik Sanggar Tari untuk Anak Down Syndrome Gigi Art of Dance

1. Usia Ibu Hamil

Down syndrome dapat terjadi pada berapapun usia Moms saat mengandung, namun risiko ini akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Melansir dari Mayo Clinic, risiko mengandung bayi dengan masalah genetika, resiko down syndrome meningkat saat usia wanita hamil mencapai 35 tahun atau lebih tua saat memasuki masa kehamilan.

Tak hanya itu, pada rahim wanita yang mendekati usia menopause, risiko infertilitas juga meningkat.

Ini juga mempengaruhi kemampuan menyeleksi embrio cacat menurun dan meningkatkan risiko anak yang dikandungnya akan mengalami kemunduran perkembangan sepenuhnya.

Penelitian menunjukkan bahwa penurunan kemampuan seleksi ini adalah respons adaptif wanita untuk menjelaskan alasan mengapa down syndrome cenderung meningkat seiring dengan bertambahnya usia wanita.

2. Jumlah Saudara Kandung dan Jarak Lahir

Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa risiko bayi lahir dengan down syndrome bergantung pada seberapa banyak saudara kandung dan seberapa besar jarak usia antar anak paling bungsu dengan bayi tersebut.

Risiko memiliki bayi dengan down syndrome semakin tinggi pada ibu yang hamil untuk pertama kali di usia yang lebih tua.

Risiko ini juga akan semakin meningkat bila jarak antar kehamilan semakin jauh.

Tak hanya itu, wanita yang pernah mengandung janin dengan down syndrome memiliki risiko 1:100 untuk bayi selanjutnya juga mengidap down syndrome.

Down syndrome adalah kondisi kelainan kromosom yang paling umum terjadi di Amerika Serikat.

Sekitar 6.000 bayi dilahirkan dengan kondisi tersebut di setiap tahunnya.

Untuk di Indonesia sendiri menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia, setiap harinya 16 bayi lahir dengan kondisi tersebut.

Baca juga: Menyambut Kelahiran Bayi Dengan Down Syndrome

Deteksi Dini Down Syndrome

Deteksi Dini Down Syndrome.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Tenang Moms, down syndrome bisa diketahui sejak awal kehamilan, lho.

Pada minggu 11-14 usia kehamilan, dokter akan menjalankan tes darah yang dikombinasikan dengan USG, yang memeriksa ketebalan leher belakang janin alias nuchal translucency.

Kedua prosedur dapat bisa mendeteksi down syndrome hingga 82-87%, dengan risiko minimum terhadap diri Moms dan janin.

Dalam perkembangan teknologi, mulai diterapkan program skrining Non-Invasive Prenatal Test (NIPT) dengan mendeteksi mulai dari usia kehamilan 10-45 minggu.

"Skrining kelainan kromosom untuk ibu hamil ini telah direkomendasikan The American College of Obestetricians and Gynecologist, terlepas dari usianya," jelas dr. Meriana Virtin, Medical Advisor PT Cordlife Persada.

Tes ini memilki 99% keakuratannya karena tes ini akan mengurutkan bagian-bagian kecil dari DNA janin Moms yang beredar di dalam darah anda selama kehamilan.

Caranya cukup mudah, yakni hanya mengambil sekitar 10 ml darah dari ibu dan dilakukan pengujian di laboratorium.

Hasilnya nanti terbagi menjadi dua, yakni low dan high risk.

Untuk low risik sendiri artinya anak tersebut berisiko rendah terhadap kelainan kromosom atau down syndrome.

Sedangkan untuk high risk itu sebaliknya.

Ada pemeriksaan lanjutan untuk hasil high risk.

Jika salah satu dari tes ini mengindikasikan risiko tinggi, Moms dapat menjalankan tes diagnostik, seperti amniocentesis atau chorionic villus sampling.

Moms perlu mengetahui bahwa kedua prosedur ini membawa risiko keguguran, walaupun terhitung rendah.

Baca Juga: 7 Ciri Moms Hamil Bayi Kembar, Penasaran?

Pengobatan Down Syndrome

3 Tips Merawat Anak Down Syndrome saat Pandemi, Jangan sampai Si Kecil Sakit Gigi!

Foto: Orami Photo Stocks

Risiko memiliki bayi dengan down syndrome meningkat seiring bertambahnya usia seorang wanita.

Down syndrome tidak bisa disembuhkan, namun ada beberapa program pengobatan dini yang dapat membantu meningkatkan keterampilan mereka.

Dengan dukungan dan pengobatan, banyak penderita down syndrome menjalani kehidupan lebih bahagia dan produktif.

1. Perawatan medis

Hampir setengah dari anak-anak dengan down syndrome dilahirkan dengan kelainan jantung bawaan.

Bayi dengan kondisi jantung bawaan akan dirawat oleh ahli jantung pediatrik, dalam mendiagnosis dan mengobati masalah jantung.

Perawatan didasarkan pada tingkat keparahan kondisi kesehatan anak. Beberapa kelainan jantung ringan tidak memerlukan perawatan apa pun.

Bergantung pada masalah medis anak lainnya, pengobatan dapat mengobati kondisi seperti gangguan kejang, hipotiroidisme, dan leukemia.

Pembedahan mungkin diperlukan untuk mengobati kelainan leher bagian atas dan masalah perut.

"Tak jarang 70 persen mereka juga mengalami infeksi kulit," tambah dr. Lydia pada Sabtu lalu.

2. Terapi Fisik dan Perilaku

Berbagai terapi tersedia untuk menangani kebutuhan fisik, perilaku, dan komunikasi uanak dan dapat memberikan dampak positif yang signifikan pada pembelajaran dan perkembangan anak.

Terapi down syndrome meliputi:

  • Terapi okupasi untuk meningkatkan keterampilan motorik
  • Terapi fisik untuk meningkatkan mobilitas dan kekuatan otot serta membantu anak bekerja dalam keterbatasan fungsional
  • Terapi wicara untuk membantu meningkatkan keterampilan komunikasi dan ekspresi diri
  • Terapi perilaku difokuskan pada pengelolaan masalah emosional dan perilaku
  • Terapi pendidikan

Sebagian besar terapi pendidikan yang digunakan untuk mengatasi gejala inti down syndrome berupa sekolah untuk anak berkebutuhan khusus.

Baca Juga: Ini dia Tips Diet untuk Anak dengan Kelainan Cystic Fibrosis

Nah, itu dia Moms penjelasan mengenai anak dengan down syndrome serta cara pengobatannya.

  • https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/downsyndrome.html
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/down-syndrome/symptoms-causes/syc-20355977
  • https://www.healthline.com/health/down-syndrome#causes
  • https://www.webmd.com/children/understanding-down-syndrome-basics
  • https://www.ndss.org/about-down-syndrome/down-syndrome/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait