Scroll untuk melanjutkan membaca

PARENTING ISLAMI
05 Oktober 2022

Grebeg Maulud hingga Muludan, Ini 5 Tradisi Maulid Nabi di Pulau Jawa!

Tradisi-tradisi ini memiliki makna mendalam
Grebeg Maulud hingga Muludan, Ini 5 Tradisi Maulid Nabi di Pulau Jawa!

Foto: instagram.com/_bani_1505

Apa saja tradisi Maulid Nabi yang dirayakan di pulau Jawa? Simak penjelasan mengenai tradisi Maulid Nabi di Pulau Jawa di bawah ini, yuk!

Peringatan Maulid Nabi di tahun 2022 jatuh pada 8 Oktober 2022.

Dalam rangka perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, biasanya seluruh umat Muslim menyambut dengan penuh suka cita.

Tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya diselenggarakan di beberapa daerah di nusantara.

Salah satu daerah yang lekat dengan tradisi Maulid Nabi adalah pulau Jawa.

Namun, biasanya perayaan ini menggabungkan nilai-nilai Islam dan adat istiadat daerah setempat.

Tradisi Maulid Nabi di pulau Jawa tersebar di beberapa daerah besar, mulai dari Yogyakarta, Madura, dan Kudus.

Salah satu tradisi Maulid Nabi yang terkenal di pulau Jawa adalah Grebeg Maulud yang biasanya diselenggarakan oleh masyarakat Yogyakarta.

Ingin tahu mengenai tradisi Maulid Nabi di pulau Jawa lainnya? Simak penjelasaannya di bawah ini.

Baca Juga: Khutbah Jumat Rabiul Awal tentang Rasulullah SAW untuk Merayakan Maulid Nabi

Tradisi Maulid Nabi di Pulau Jawa

Berikut ini beberapa tradisi Maulid Nabi di pulau Jawa yang diselenggarakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

1. Grebeg Maulud

Grebeg Maulud

Foto: Grebeg Maulud (Wikimedia Commons)

Tradisi Maulid Nabi pertama di Pulau Jawa adalah Grebeg Maulud yang dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta setiap tanggal 12 Rabiul Awal.

Kegiatan ini setiap tahunnya diadakan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Awal mulanya, tradisi ini pertama kali dipelopori oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Sama seperti tradisi Maulid Nabi lainnya, Grebeg Maulud ini dilaksanakan dalam rangka mengucap syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, sebagai bentuk perayaan atas nikmat dan kemakmuran yang telah diberikan.

Grebeg Maulud memiliki ragam rangkaian acara, salah satunya adalah sekaten atau acara pasar malam yang terkenal.

Acara puncak Grebeg Maulud ditandai dengan arak-arakan gunungan atau susunan hasil Bumi yang dibentuk menggunung sesuai dengan namanya.

Nantinya, gunungan akan dibawa berkeliling area Keraton lalu menjadi bahan rebutan masyarakat.

2. Angkaan Bherkat

Angkaan Bherkat

Foto: Angkaan Bherkat (ariefbujanablogspot.co.id)

Tradisi Maulid Nabi di Pulau Jawa yang selanjutnya adalah Angkaan Bherkat.

Tradisi ini merupakan acara yang kerap dilakukan oleh masyarakat Bawean, Gresik, dalam merayakan Maulid Nabi.

Berbeda dengan gunungan yang dibuat dalam Grebeg Maulud, di Angkaan Bherkat masyarakat Pulau Bawean akan mengisi ember dengan makanan.

Tak hanya hasil Bumi, ember juga diisi dengan nasi, lauk-pauk, buah-buahan, hingga peralatan dapur.

Namun, tak hanya ember biasa, ember Angkaan Bherkat biasanya akan diberi hiasan menyerupai pagar menjulang ke atas yang terbuat dari bambu.

Kemudian, pada ujung bambu tersebut akan ditusukkan telur yang sudah direbus atau benda lainnya sebagai hiasan.

Lalu, pada penghujung acara Maulid Nabi, setelah pembacaan salawat dan doa, angkaan atau ember tersebut dibagikan atau dibarter ke peserta yang mengikuti rangkaian acara.

3. Kirab Ampyang

Kirab Ampyang

Foto: Kirab Ampyang (Klikaktual)

Tradisi Maulid Nabi di pulau Jawa selanjutnya adalah Kirab Ampyang yang biasanya dilaksanakan masyarakat Loram Kulon, Kudus.

Kirab Ampyang merupakan tradisi yang selalu diselenggarakan setiap tahunnya, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal.

Tradisi ini menjadi salah satu tradisi Maulid Nabi yang telah ada sejak zaman Tjie Wie Gwan.

Tjie Wie Gwan adalah Tionghoa Muslim asal Campa, dia yang membangun Masjid Wali Loram Kulon Kudus pada 1596-1597.

Sesuai dengan namanya, Kirab Ampyang merupakan sebuah tradisi kirab atau arak-arakan yang berisikan makanan dengan hiasan ampyang.

Sebagai informasi, ampyang adalah sejenis kerupuk yang terkenal di Kudus.

Dalam tradisi ini, biasanya kerupuk ampyang disusun sedemikian rupa dengan berbagai bentuk yang unik.

4. Panjang Jimat

Panjang Jimat

Foto: Panjang Jimat (Poltekpar Prima)

Panjang Jimat menjadi tradisi Maulid Nabi selanjutnya yang terkenal di pulau Jawa.

Tradisi ini dilaksanakan setiap tahunnya pada 12 Rabiul Awal di Keraton Cirebon.

Jika diartikan, 'panjang' artinya 'lestari' atau 'abadi' dan 'jimat' berarti 'pusaka'.

Dalam tradisi Panjang Jimat, masyarakat akan melihat arak-arakan makanan dengan ciri khas nasi tujuh rupa atau nasi jimat dari Bangsal Jinem.

Sebelum kirab makanan, tradisi ini dimulai dengan tradisi siraman panjang atau pencucian alat makan, guci, dan senjata yang akan digunakan selama Panjang Jimat.

5. Muludan

Muludan

Foto: Muludan (Nu Online)

Tradisi Maulid Nabi terakhir di pulau Jawa adalah Muludan yang dilakukan oleh masyrakat Madura.

Dalam tradisi ini, biasanya masyarakat akan membawa tumpeng ke masjid-masjid terdekat.

Berbeda dengan tumpeng pada umumnya, nasi tumpeng sat Muludan berisikan buah-buahan yang ditusukan dengan lidi dan berbentuk seperti tumpeng.

Selain pembagian tumpeng, dalam tradisi Muludan juga akan diisi dengan pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad SAW dan ceramah kisah-kisah Nabi.

Baca Juga: Kisah Nabi Muhammad SAW, Nabi dan Rasul Terakhir Suri Tauladan Umat Islam

Nah, itulah beberapa tradisi Maulid Nabi di pulau Jawa yang biasanya dilakukan dalam rangka menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di daerah Moms, bagaimana?