10 Juli 2017

5 Mitos dan Fakta Seputar Alergi Makanan Pada Anak

Salah percaya mitos, dampaknya bisa bahaya, Ma!

Apakah buah hati Mama punya alergi makanan tertentu? Entah anak punya alergi atau tidak, sangat penting bagi Mama untuk mempelajari berbagai mitos dan fakta seputar alergi makanan pada anak.

Pasalnya, alergi adalah sebuah kondisi yang sangat tak bisa diprediksi. Alergi bisa muncul kapan saja karena makan apa saja, meskipun tadinya anak sudah biasa mengonsumsi makanan tersebut.

Nah, karena alergi makanan akibatnya bisa fatal, jangan sampai Mama salah percaya terhadap mitos tertentu seputar alergi makanan pada anak. Untuk membedakan mana yang mitos dan mana yang fakta, simak penjelasan berikut ini.

Mitos 1: Alergi makanan tidak membahayakan

Faktanya, alergi makanan adalah kondisi yang bisa mengancam nyawa. Dalam kebanyakan kasus alergi makanan memang hanya akan menimbulkan reaksi seperti gatal-gatal, mual, hidung atau mata berair, dan muntah. Namun, ada kondisi yang disebut syok anafilaksis. Ini adalah reaksi alergi serius yang jika tidak ditangani segera dapat menyebabkan kematian.

Maka, jangan sampai Mama meremehkan alergi makanan pada anak, ya. Sebaiknya perhatikan apa saja bahan makanan yang dikonsumsi anak sehari-hari. Bila anak menunjukkan gejala serius seperti sulit bernapas atau hilang kesadaran, segera bawa ke pusat layanan kesehatan gawat darurat.

Mitos 2: Mengonsumsi makanan penyebab alergi bakal membuat anak jadi kebal

Faktanya, belum ada penelitian yang bisa membenarkan efek tersebut. Anak mungkin saja lama-lama jadi lebih kebal. Akan tetapi, tak ada jaminan kalau anak terus dipaksa makan makanan yang membuatnya alergi ia akan sembuh.

Justru anak mungkin saja mengalami reaksi alergi yang lebih serius. Ini karena sistem imun tubuh melihat semakin banyak ancaman yang harus dilawan dengan melepaskan histamin. Histamin inilah yang menyebabkan anak mengalami gejala alergi.

Baca Juga : Berbahayakah Alergi Untuk Tumbuh Kembang Balita?

Mitos 3: Lama-lama alergi akan sembuh sendiri

Faktanya, alergi memang mungkin saja sembuh sendiri seiring anak beranjak dewasa. Hal ini disebabkan oleh sistem imun anak yang akhirnya berkembang dengan sempurna. Pasalnya, alergi disebabkan oleh kesalahan sistem imun yang melihat makanan tertentu sebagai zat yang berbahaya bagi tubuh.

Tak jarang anak yang alergi susu, telur, atau makanan laut nantinya akan sembuh sendiri. Namun, karena lagi-lagi alergi adalah hal yang bisa diprediksi, Mama sebaiknya berhati-hati. Jangan sembarangan menjejalkan makanan yang bisa menimbulkan reaksi alergi serius pada si kecil karena efeknya bisa bahaya.

Mitos 4: Alergi tidak akan kumat kalau hanya makan sedikit

Faktanya, makan sesuap saja sudah bisa menimbulkan reaksi alergi serius atau syok anafilaksis. Ini karena sistem imun tidak bisa membedakan berapa banyaknya makanan yang masuk. Bila zat yang bikin si kecil alergi sudah dicerna, tubuh pun langsung bereaksi secara berlebihan, tak peduli berapapun jumlahnya.

Mitos 5: Kebanyakan alergi makanan disebabkan oleh zat kimia

Faktanya, tim ahli dari University of Nebraska-Lincoln di Amerika Serikat mencatat bahwa 90 persen dari seluruh kasus alergi disebabkan oleh bahan pangan alami. Misalnya kacang, ikan, susu, udang, telur, gandum, dan kedelai.

Akan tetapi, si kecil mungkin saja mengalami alergi kalau mengonsumsi zat kimia seperti pengawet, pewarna, dan penguat rasa.


Itu dia lima mitos dan fakta seputar alergi makanan pada anak. Mama pernah dengar mitos lain seputar alergi makanan? Silakan tulis pertanyaan Mama di kolom komentar, ya!

(IA)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.