06 Maret 2020

7 Penyebab Tidak Bisa Melahirkan Normal, Wajib Tahu!

Kehabisan tenaga saat proses persalinan awal bisa jadi penyebab Moms tidak bisa melahirkan normal

Melahirkan dan punya anak tentu saja adalah impian semua perempuan. Namun, proses melahirkan atau persalinan sendiri bisa menjadi pengalaman yang menakutkan bagi perempuan mana pun.

Komplikasi yang terjadi saat persalinan, mungkin akan berbeda dari satu persalinan dan persalinan berikutnya. Tetapi percayalah, segala usaha dan jerih payah mengandung hingga persalinan, akan terbayarkan ketika mendengar Si Kecil yang baru lahir ke dunia mulai menangis.

Hampir semua perempuan yang hamil mengharapkan dapat melakukan persalinan dengan normal. Menurut ilmu kedokteran, kelahiran bayi melalui rute vagina dengan sedikit intervensi bedah disebut sebagai persalinan normal.

Jenis persalinan ini tidak memerlukan anestesi atau penggunaan prosedur bedah. Satu-satunya intervensi bedah yang diperlukan selama persalinan normal adalah episiotomi, yang diperlukan untuk memperluas lubang vagina dan memfasilitasi persalinan normal agar lebih mudah.

Sejauh ini, para ibu dan dokter percaya bahwa persalinan normal dianggap sebagai metode terbaik untuk melahirkan ketika tidak ada masalah dengan kesehatan ibu dan bayi dalam perut.

Bayi harus dalam posisi kepala berada di bawah dan tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan. Sang ibu juga harus sehat dan mampu secara fisik untuk melahirkan normal.

Penyebab Tidak Bisa Melahirkan Normal

Namun, terkadang ada kasus dimana ibu dan bayi di perut menunjukan tanda-tanda gangguan kesehatan, sehingga terjadi kontraindikasi untuk melakukan persalinan normal.

Kasus yang paling sering terjadi adalah kesehatan ibu secara umum yang tidak memungkinkan adanya persalinan normal.

Berikut ini adalah beberapa kondisi yang menyebabkan kontraindikasi dari persalinan normal, sehingga pilihan persalinan lain yaitu bedah caesar adalah solusinya.

Baca Juga: Bisakah Ibu Hamil Hb Rendah Melahirkan Normal?

1. Bayi Sungsang

Bayi Sungsang
Foto: Bayi Sungsang (Rockthecradle.ca)

Foto: rockthecradle.ca

Penyebab tidak bisa melakukan persalinan normal yang pertama adalah bayi sungsang. Sembilan bulan bukan waktu yang sebentar sehingga bayi di dalam perut akan terus berkembang dan posisinya bisa jadi mengalami perubahan.

Namun, pada saat mendekati waktu persalinan, kepala bayi harus lebih rendah atau di bawah sehingga keluar pertama kali saat persalinan normal.

Dikutip dari worldlistmania.com, pada beberapa kasus, terjadi posisi bayi yang kepalanya di atas atau sungsang. Akhirnya kelahiran dengan persalinan normal tidak bisa dilakukan dan harus memilih bedah caesar.

Pada tahun 2000, sebuah penelitian dari Belanda menemukan bahwa bayi sungsang yang dilahirkan dengan persalinan normal, memiliki risiko cedera atau kematian 33 persen lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang dilahirkan oleh melalui operasi caesar.

"Penelitian itu menyebabkan perubahan dalam perawatan kesehatan ibu di seluruh dunia, dengan lebih banyak wanita dan dokter yang akhirnya memilih operasi caesar," katanya seperti dikutip dari Reuters.com.

2. Cervical Cerclage atau Pengikatan Leher Rahim

cervical-cerclage.jpg
Foto: cervical-cerclage.jpg (http://rishona.net/2016/06/08/cerclage/)

Foto: rishona.net

Pengikatan leher rahim juga bisa membuat Moms tidak bisa melahirkan normal. Prosedur ikat leher rahim atau cervical cerclage adalah prosedur bedah kecil di mana lumen serviks ditutup dengan cara dijahit selama kehamilan untuk membantu mencegah kelahiran prematur.

Prosedur ini diperlukan pada ibu hamil yang menunjukkan kelemahan otot serviks, pemendekan serviks dini dan gangguan serviks lainnya yang mungkin dapat menyebabkan keguguran.

Seorang ibu hamil yang telah menjalani pengikatan leher rahim selama kehamilan bukanlah kandidat yang cocok untuk melakukan persalinan normal.

3. CPD

cpd.jpeg
Foto: cpd.jpeg (https://medium.com/the-m-word/its-okay-to-say-giving-birth-is-traumatic-3d13184051fb)

Foto: medium.com

Cephalopelvic Disproportion (CPD) adalah suatu kondisi ketika persalinan terhambat atau tidak ada perkembangan karena bayi tidak dapat bergerak maju dari rahim ibu karena beberapa gangguan fisik. Penyebab umum dari CPD adalah ukuran kepala bayi yang besar, ukuran panggul ibu yang kecil atau sempit, dan alasan lainnya.

Persalinan normal tidak dianjurkan selama CPD karena dapat menyebabkan tekanan fisik pada ibu dan bayi.

Dr. Boyd Cooper, MD, Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Los Angeles, mengatakan dua penyebab umum bayi tersangkut adalah bayi berada pada posisi abnormal atau kepala bayi terlalu besar.

Namun, ada dua pilihan untuk mengatasinya yang pertama yaitu dengan menggunakan forceps saat persalinan normal. Forceps adalah alat yang digunakan untuk mencabut bayi keluar dengan menggenggam kepala bayi melalui vagina untuk menariknya.

Namun, menurutnya, dibutuhkan dokter yang sangat terampil untuk menggunakan forceps dengan benar dan aman. Selain itu, saat ini forceps tidak digunakan sesering dulu, sehingga pilihan lainnya adalah operasi caesar.

"Jika seorang bayi terjebak dalam persalinan, saya berani mengatakan bahwa pilihan modern yang paling masuk akal adalah operasi caesar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam proses bedah ini, karena caesar adalah prosedur yang sangat aman dan standar," katanya.

4. Tidak Memiliki Tenaga Lebih

tidak-ada-energi.jpg
Foto: tidak-ada-energi.jpg (https://www.pregnancyweeks.org/fatigue-early-pregnancy-feeling-tired-pregnancy/)

Foto: pregnancyweeks.org

Kadang-kadang ketika tidak ada kelainan atau permasalahan medis pada ibu atau bayi, persalinan normal mungkin masih dikontraindikasikan atau dilarang. Kadang-kadang persalinan normal tidak berhasil dilakukan bahkan setelah waktu berlalu cukup lama.

Hal ini bisa menyebabkan kelelahan atau kehabisan tenaga dan dehidrasi pada ibu. Dalam kasus seperti itu, tidak disarankan untuk melanjutkan persalinan normal dan pasien akhirnya menjalani persalinan caesar.

Megan Davidson, doula atau pendamping ibu hamil yang berbasis di Brooklyn dan penulis buku Your Birth Plan, mengatakan bahwa TV dan film akan membuat semua orang percaya bahwa persalinan dimulai dengan pecah ketuban, diikuti oleh kontraksi yang cepat, sehingga terburu-buru ke rumah sakit karena merasa waktu lahiran sudah dekat.

"Itu sangat, sangat jarang terjadi pada proses persalinan normal terutama ketika itu adalah bayi pertama Anda. Banyak orang terkejut bahwa persalinan normal bisa memakan waktu 12-24 jam atau bahkan lebih lama," katanya seperti dikutip dari romper.com.

Baca Juga: Hamil Ketika Menderita Talasemia, Berbahayakah?

5. Hamil Kembar atau Lebih Dari Satu Anak

birthing-twins.jpg
Foto: birthing-twins.jpg (https://www.thetot.com/pregnancy-and-fertility/can-you-have-a-natural-birth-with-twins/)

Foto: thetot.com

Ketika ibu hamil memiliki lebih dari satu janin di rahimnya, maka kondisinya dikenal sebagai kehamilan gemeli atau kembar. Ibu yang hamil kembar, kembar tiga, atau kembar empat, biasanya menjalani persalinan caesar karena menjalani persalinan normal dinilai sangat berisiko.

Dr. Mary Mirto, Spesialis Kebidanan dan Kandungan, Austin, Amerika Serikat, mengatakan kehamilan kembar adalah kehamilan yang berisiko tinggi. Ibu hamil dengan hamil kembar membutuhkan tingkat pengawasan yang lebih tinggi dan biasanya membutuhkan konsultasi dokter dan USG yang lebih sering.

"Mereka memiliki peningkatan risiko persalinan prematur dan komplikasi selama proses persalinan. Banyak dokter percaya bahwa dengan merekomendasikan persalinan caesar untuk semua pasien dengan kehamilan berisiko tinggi, maka mereka dapat mengurangi risiko komplikasi dan pertanggungjawaban," ujarnya.

6. Dislokasi Plasenta

placenta-dislocation.jpg
Foto: placenta-dislocation.jpg (http://www.fetalultrasound.com/online/text/34-034.htm)

Foto: fetalultrasound.com

Plasenta adalah sumber utama hidup bayi ketika tumbuh di dalam rahim ibunya. Idealnya, plasenta seharusnya tetap melekat pada rahim sampai bayi dilahirkan.

Dalam beberapa kasus, plasenta cenderung lepas sebelum waktunya persalinan berlangsung. Ini adalah keadaan darurat medis dan merupakan kontraindikasi yang kuat untuk persalinan normal.

7. Memiliki Sejarah Caesar

caesar.jpg
Foto: caesar.jpg (https://www.shutterstock.com/video/clip-13592972-operation-cesarean-section-new-born-infant-operating)

Foto: Shutterstock.com

Ibu hamil yang sebelumnya menjalani prosedur caesar, biasanya tidak bisa menjalani persalinan normal pada kehamilan berikutnya.

Amy Romano, CNM, Bidan perawat di Connecticut dan Penulis blog Lamaze International's Science & Sensibility, mengatakan banyak penyedia layanan kesehatan dan rumah sakit menolak untuk menawarkan persalinan normal pada ibu hamil yang memiliki sejarah caesar.

Bahkan beberapa bidan telah berhenti menawarkan persalinan normal bagi ibu hamil yang memiliki sejarah caesar karena masalah pertanggungjawaban. Ini dikarenakan persalinan normal pada kondisi tersebut dapat menyebabkan ruptur uteri, robeknya otot uterus yang berbahaya pada bekas luka operasi caesar yang lampau.

“Kehancuran rahim dapat menjadi bencana bagi bayi dan dapat mengancam jiwa ibu,” kata Marilynn Frederiksen, MD, Profesor Kebidanan Sekolah Kedokteran Feinberg di Universitas Northwestern.

Menurut KidsHealth, jenis persalinan caesar yang memungkinan untuk melakukan persalinan normal setelahnya (VBAC) adalah persalinan caesar dengan sayatan horisontal.

Sementara persalinan caesar dengan sayatan vertikal punya risiko yang cukup besar untuk melakukan persalinan normal karena mungkin terjadi ruptur uteri.
Baca Juga: Terlambat Ditangani, Ini Bahaya Plasenta Previa bagi Ibu dan Janin

Itulah beberapa kondisi ibu hamil yang tidak memungkinkan untuk menjalani persalinan normal. Jika Moms mengalami salah satunya, diskusikan lebih dalam mengenai rencana persalinan dengan ahlinya.

(RIE/ERN)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.