Trimester 3

22 September 2021

10 Larangan Ibu Hamil dengan Plasenta Previa, Wajib Ditaati!

Plasenta previa yang terlambat diketahui dapat membahayakan ibu dan janin
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Karla Farhana

Plasenta previa adalah kondisi yang perlu mendapatkan perhatian lebih. Tidak heran, ada beberapa larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang harus ditaati.

Plasenta adalah struktur yang berkembang di dalam rahim Moms selama kehamilan, menyediakan oksigen dan nutrisi serta membuang kotoran dari bayi kita.

Plasenta terhubung ke bayi melalui tali pusar. Pada sebagian besar kehamilan, plasenta menempel di bagian atas atau samping rahim ibu.

Salah satu gangguan yang bisa terjadi pada plasenta adalah plasenta previa.

Plasenta previa adalah suatu kondisi di mana plasenta terletak sangat rendah di dalam rahim, menutupi sebagian atau seluruhnya serviks ibu dan dapat menghalangi keluarnya bayi dari rahim karena jalan lahir yang tertutup.

Menurut American Pregnancy Association, ibu hamil dengan plasenta previa memengaruhi sekitar 1 dari 200 Moms pada trimester ketiga kehamilan.

Kondisi ibu hamil dengan plasenta previa biasanya menyebabkan pendarahan hebat sebelum atau selama persalinan.

Baca Juga: Mengenal Plasenta Previa yang Menutupi Jalan Lahir Bayi, Bagaimana Mengatasinya?

Ada 3 jenis plasenta previa pada ibu hamil, yang meliputi:

  • Plasenta previa lengkap: terjadi ketika plasenta menutupi seluruh lubang dari rahim hingga serviks.
  • Plasenta previa parsial: terjadi ketika plasenta menutupi sebagian bukaan serviks
  • Plasenta previa marjinal: terjadi ketika plasenta terletak berdekatan, tetapi tidak menutupi, bukaan serviks.

Jika Moms menderita plasenta previa, Moms mungkin mengalami perdarahan selama kehamilan dan selama persalinan.

Tenaga kesehatan akan merekomendasikan untuk menghindari aktivitas yang dapat menyebabkan kontraksi.

Termasuk berhubungan seks, douching, menggunakan tampon, atau melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan risiko pendarahan, seperti berlari, jongkok, dan melompat.

Perdarahan vagina berwarna merah cerah tanpa rasa sakit selama paruh kedua kehamilan adalah tanda utama plasenta previa. Beberapa wanita juga mengalami kontraksi.

Pemeriksaan ultrasonografi digunakan untuk mendeteksi plasenta previa.

Evaluasi ultrasonografi transabdominal (menggunakan probe di dinding perut) atau transvaginal (dengan probe dimasukkan ke dalam vagina tetapi jauh dari pembukaan serviks) dapat dilakukan, tergantung pada lokasi plasenta.

Terkadang kedua jenis pemeriksaan USG diperlukan.

Pemeriksaan ultrasonografi penting dilakukan sebelum pemeriksaan fisik panggul pada wanita dengan dugaan plasenta previa.

Karena pemeriksaan fisik panggul dapat menyebabkan perdarahan lebih lanjut.

Pada banyak wanita yang didiagnosis dengan plasenta previa di awal kehamilan mereka, plasenta previa menghilang.

Saat rahim tumbuh, itu mungkin meningkatkan jarak antara serviks dan plasenta.

Semakin banyak plasenta menutupi serviks dan semakin tua dalam kehamilan, plasenta tetap berada di atas serviks, semakin kecil kemungkinannya untuk sembuh.

Bahaya Ibu Hamil dengan Plasenta Previa

larangan ibu hamil dengan plasenta previa: bahaya

Foto: orami Photo Stock

Apa bahaya yang mungkin terjadi? Berikut ini merupakan bahaya plasenta previa bagi ibu dan janin.

1. Pendarahan

Plasenta previa dapat menyebabkan perdarahan vagina baik sebelum maupun selama proses melahirkan.

Pada tahap atau trimester akhir kehamilan, bagian bawah rahim menipis dan melebar untuk mengakomodasi bayi yang sedang tumbuh.

Jika plasenta berlabuh ke bagian bawah rahim, penipisan dan penyebaran ini akan menyobek plasenta dan menyebabkan perdarahan.

2. Syok

Ibu hamil yang mengalami pendarahan tentu saja juga akan mengalami anemia dan memicu syok hipovolemik.

Syok hipovolemik adalah kondisi darurat di mana jantung tidak mampu memasok darah yang cukup ke seluruh tubuh akibat volume darah yang kurang.

3. Ketuban Pecah Dini

Ketika pendarahan terjadi, maka resiko Premature Rupture of Membranes (PPRoM) juga ikut meningkat.

Itu artinya, persalin darurat sangat dibutuhkan untuk mengurangi resiko kematian.

Baca Juga: Melahirkan Normal Setelah Caesar (VBAC)? Bisa!

4. Operasi Caesar

Dikutip dari abclawcenters.com, dengan kondisi pendarahan dan ketuban yang pecah sebelum waktunya, maka persalinan darurat dengan operasi caesar atau sebelum bayi cukup bulan adalah jalan tercepat untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Sekitar 75% perempuan dengan plasenta previa pada trisemester ketiga akan melahirkan secara caesar.

Perempuan dengan plasenta previa marginal dapat melahirkan secara normal dengan pemantauan ketat, tetapi hampir semua perempuan dengan plasenta previa membutuhkan persalinan caesar.

5. Histerektomi atau Pengangkatan Rahim

Terkadang, plasenta previa menyebabkan plasenta akreta atau kondisi di mana plasenta melekat pada dinding rahim dan memiliki kesulitan lepas selama kelahiran.

Mengeluarkan plasenta dapat menyebabkan perdarahan dan untuk mengendalikan perdarahan ini.

pasien mungkin perlu beberapa transfusi dan dilakukan proses histerektomi atau pengangkatan rahim.

6. Permasalahan paru-paru

Dilansir dari website Birth Injury Guide, karena lahir prematur, maka plasenta previa menyebabkan bayi berisiko komplikasi.

Seperti masalah pernapasan atau paru-paru yang belum berkembang sesuai usianya.

Baca Juga: 7 Fakta Mengenai Cerebral Palsy Pada Bayi

7. Cedera Otak

Plasenta previa bisa tidak berbahaya bagi bayi jika terdeteksi dan diobati tepat waktu.

Akan tetapi jika dokter gagal memantau dan plasenta previa tidak diobati, bayi berisiko mengalami kerusakan otak, yang dapat menyebabkan cerebral palsy.

Cerebral palsy atau yang disebut dengan lumpuh otak adalah kelainan yang mempengaruhi otot, saraf, gerakan, dan kemampuan motorik seseorang untuk bergerak secara terkoordinasi dan terarah.

Cedera otak lainnya yang memungkinkan adalah penyakit ensefalopati atau perubahan kondisi mental.

Hal ini meliputi kehilangan konsentrasi, gangguan koordinasi gerak, serta kehilangan kemampuan dalam mengatasi masalah atau mengambil keputusan.

Selain itu, ibu hamil juga harus mematuhi larangan-larangan yang diberikan jika menderita kondisi plasenta previa.

Larangan Ibu Hamil dengan Plasenta Previa

Tidak hanya itu saja Moms, ada juga beberapa larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang harus dipatuhi lho. Apa saja? Yuk kita simak!

1. Jangan Berhubungan Seks

Larangan Ibu Hamil dengan Plasenta Previa

Foto: Orami Photo Stock

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang pertama adalah berhubungan seks.

Apabila hal ini terjadi, risiko perdarahan ibu hamil akan terjadi pada saat trimester ke-2 dan ke-3.

"Apabila ibu hamil terdiagnosis dengan plasenta previa, maka sebaiknya hindari berhubungan intim dengan suami sewaktu hamil dan juga mengurangi aktivitas olahraga," jelas dr. Muhammad Fadli, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Alasannya adalah bahwa aktivitas ini, terutama jika terjadi orgasme, dapat dikaitkan dengan kontraksi uterus sementara, yang pada gilirannya dapat memicu perdarahan.

Selain itu, ada kekhawatiran bahwa hubungan vagina (atau memasukkan benda apa pun jauh ke dalam vagina) dapat menyebabkan trauma langsung pada previa, mengakibatkan perdarahan hebat.

Tidak ada studi yang dipublikasikan untuk mendukung atau membantah rekomendasi ini.

Namun, seperti dibahas di atas, palpasi plasenta previa melalui serviks yang melebar sebagian dapat menyebabkan perdarahan hebat.

Selain itu, menurut dr. Fadli, ibu hamil perlu untuk selalu memantau kehamilan secara rutin.

2. Tidak Bisa Melahirkan secara Alami

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang selanjutnya adalah melahirkan normal.

Melahirkan dengan metode sesar (C-section) diperlukan untuk Moms yang menderita plasenta previa lengkap dan mungkin diperlukan untuk jenis plasenta previa lainnya.

Kelahiran dengan sesar biasanya direncanakan untuk wanita dengan plasenta previa segera setelah bayi dapat dilahirkan dengan aman (biasanya setelah 36 minggu kehamilan).

Meskipun persalinan sesar darurat pada usia kehamilan yang lebih awal mungkin diperlukan jika terjadi perdarahan hebat yang tidak dapat dihentikan setelahnya.

Baca Juga: 3 Tahapan Sakit Melahirkan Normal, Moms Perlu Tahu!

3. Harus Menghindari Olahraga

Larangan Ibu Hamil dengan Plasenta Previa

Foto: Orami Photo Stock

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang selanjutnya adalah berolahraga.

Moms yang mengalami pendarahan aktif atau yang mengalami perdarahan yang tidak dapat dihentikan akan dirawat di rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.

Jika hanya ada sedikit atau tidak ada perdarahan, istirahat di rumah mungkin akan disarankan dokter.

Namun ibu hamil yang menderita plasenta previa pada trimester ke-3 kehamilan disarankan untuk menghindari hubungan seksual dan olahraga serta mengurangi tingkat aktivitasnya.

Moms disarankan untuk menghindari olahraga tingkat sedang hingga berat, seperti angkat beban, atau berdiri untuk periode waktu yang lama (misalnya 4 jam).

Tingkat aktivitas ini telah dikaitkan dengan peningkatan kecil tetapi signifikan secara statistik pada kelahiran prematur.

4. Tidak Melakukan Perjalanan Jauh di Kehamilan Tua

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang selanjutnya adalah melakukan perjalanan jauh saat hamil tua.

Ibu dengan plasenta previa biasanya dijadwalkan untuk melakukan persalinan sesar pada 36 + 0 hingga 37 + 6 minggu pada kehamilan dengan plasenta previa tanpa komplikasi.

Hal ini sesuai dengan rekomendasi dari American College of Obstetricians and Gynecologists dan Society for Maternal-Fetal Medicine.

Plasenta previa tanpa komplikasi didefinisikan sebagai tanpa hambatan pertumbuhan janin, preeklamsia tumpang tindih, atau masalah lain yang menjadi preseden untuk pengambilan keputusan persalinan.

Makanya Moms disarankan untuk tetap di rumah agar dekat dengan rumah sakit.

5. Hindari Olahraga Aerobik dan Jalan Cepat

Larangan Ibu Hamil dengan Plasenta Previa

Foto: Orami Photo Stock

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang selanjutnya adalah olahraga aerobik dan jalan cepat.

Wanita hamil yang sehat membutuhkan setidaknya 2½ jam aktivitas aerobik intensitas sedang setiap minggu.

Namun Moms dengan kondisi plasenra previa disarankan untuk menghindari jenis olahraga aerobik atau kardio yang harus menggerakkan otot besar, seperti lengan dan kaki.

Aerobik yang masuk dalam kategori olahraga intensitas tinggi ini akan membuat Moms bernapas lebih cepat dan dalam serta membuat jantung kita berdetak lebih cepat.

Sedangkan jalan cepat adalah contoh aktivitas aerobik intensitas sedang.

Jika Moms melakukannya dan bekerja terlalu keras karena kedua jenis olahraga ini, Moms berisiki mengalami perdarahan hebat.

Baca Juga: 9 Olahraga Kardio yang Mudah Dilakukan di Rumah

6. Mandi dengan Air yang Agak Panas

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang selanjutnya adalah mandi dengan air agak panas.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu di sauna atau bak mandi air panas dapat membuat suhu tubuh Moms terlalu tinggi.

Hal ini dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan cacat lahir, dan bisa meningkatkan risiko perdarahan.

Untuk amannya, jangan menghabiskan lebih dari 15 menit sekaligus di sauna atau lebih dari 10 menit sekaligus di bak mandi air panas.

7. Tidur Telentang dengan Posisi Badan Rata

tidak boleh tidur telentang

Foto: Orami Photo Stock

Posisi tidur ibu hamil dengan kondisi ini yang dilarang selanjutnya adalah telentang.

Tidur telentang umumnya dianggap aman selama trimester pertama.

Setelah itu Moms mungkin pernah mendengar bahwa sebuah studi dari Obstetrics and Gynecology pada 2015, tidur sepanjang malam terlentang berhubungan dengan lahir mati untuk Si Kecil.

Namun, sebelum terlalu khawatir, pahami bahwa penelitian ini kecil dan mungkin ada faktor lain seperti sleep apnea.

Posisi ini juga tidak disarankan sebab dapat membuat Moms sesak nafas.

8. Tidak Boleh Tidur Tengkurap

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang selanjutnya adalah tidur tengkurap.

Saat hamil, perubahan fisik paling mencolok adalah perut. Ketika usia kehamilan Moms bertambah tentu keadaan berbaring tengkurap pun tidak memungkinkan.

Posisi ini juga membuat tekanan di rahim dan posisi ari-ari semakin dalam tertekan pada ibu hamil dengan kondisi plasenta previa.

Dikhawatirkan ari-ari tumbuh semakin lebar dan menutup jalan lahir seluruhnya.

Bidan di Amerika Serikat, Liz Wilkes mengungkapkan pada awal kehamilan, berbaring tekurang aman dan nyaman secara umum.

”Meskipun aman saat perut semakin bertumbuh tidak akan tetap nyaman, tubuh pun akan memberi sinyal untuk perubahan posisi tidur,” katanya.

Sebagian besar ibu hamil menemukan bahwa tidak lama kemudian mereka tidak dapat berbaring tengkurap sebelum ketidaknyamanan membuat mereka tidak mampu tidur tengkurap.

Tetapi, menghindari tidur tengkurap ibu hamil dengan plasenta previa pun bukan sekedar soal kenyamanan.

Ada juga alasan keamanan, tidur tengkurap memiliki efek negatif yang sama dengan tidur telentang.

Tidur tengkurap dapat menyebabkan tonjolan Si Kecil bergerak ke dalam perut dan menekan aorta dan IVC.

9. Stres dan Banyak Pikiran

plasenta previa pada ibu hamil

Foto: Orami Photo Stock

Larangan ibu hamil dengan kondisi ini yang selanjutnya adalah stres dan banyak pikiran.

Tidak hanya aktivitas fisik saja, masalah pada mental seperti stres, banyak pikiran dan depresi juga bisa memengaruhi kesehatan ibu hamil dengan kondisi plasenta previa.

Stres dapat memicu ketidakseimbangan hormon serta masalah kesehatan lainnya yang dapat mengganggu kesehatan ibu hamil.

Selain itu, saat stres Moms juga cenderung akan menjadi susah tidur, tidak mau makan dan bahkan menjadi tertutup dengan orang lain.

Kombinasi efek-efek stres ini tidak baik bagi kesehatan lho, Moms.

10. Harus Menjaga Makan, Tidak Boleh Sembarangan

Larangan ibu hamil dengan plasenta previa yang selanjutnya adalah makan sembarangan.

Ibu hamil yang menginginkan kehamilan yang sehat walaupun didiagnosis dengan kondisi ini, memenuhi nutrisi yang dibutuhkan ibu hamil adalah hal yang paling utama.

Baca Juga: 5 Tips Mengatasi Alergi Makanan pada Ibu Hamil

Larangan ibu hamil dengan kondisi ini agar tidak mengkonsumsi makanan secara sembaragan terutama makanan yang terlalu pedas, terlalu asam, dan tidak terjamin kebersihannya.

Pasalnya, kondisi kekuatan kandungan ibu hamil plasenta previa tentu lebih lemah dibandingkan kehamilan biasanya.

Itulah beberapa larangan ibu hamil dengan plasenta previa. Larangan-larangan tersebut tentu bukan tanpa alasan ya Moms.

Nah Moms, sebaiknya segera diskusikan dengan dokter kandungan jika Moms berisiko mengalami plasenta previa ya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait