Pasca Melahirkan

13 Mei 2021

Mengenal Retensio Plasenta, Kondisi Plasenta Tertinggal setelah Proses Persalinan

Bisa menimbulkan pendarahan yang mengancam nyawa ibu
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Floria Zulvi
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Retensio plasenta menjadi salah satu hal yang mengkhawatirkan untuk Moms yang baru saja melahirkan. Rentensio plasenta adalah sebuah kondisi tidak keluarnya plasenta dalam waktu 30 menit usai melahirkan Si Kecil.

Mengenai hal tersebut, dr. Andry, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan yang praktik di RS Pondok Indah Puri Indah dan RS Pondok Indah Bintaro Jaya mengatakan bahwa plasenta yang tertinggal dapat memicu timbulnya perdarahan yang membahayakan nyawa ibu.

Penyebab retensio plasenta antara lain lemahnya kontraksi rahim, plasenta yang sukar lepas, baik karena tempat perlekatan, bentuk, maupun ukurannya, perlekatan plasenta yang terlalu dalam, lebih dalam dari lapisan endometrium (sampai ke miometrium).

Baca Juga: Jangan Panik, Ini 15 Tanda-tanda Mau Melahirkan yang Wajib Diketahui!

Cara mengatasi retensio plasenta adalah dengan pemberian obat untuk memicu kontraksi uterus oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Selain itu dapat dilakukan pelepasan plasenta secara manual dengan pembiusan agar ibu tidak merasakan sakit hebat saat prosedur pelepasan plasenta manual.

Kelompok yang lebih berisiko mengalami retensio plasenta antara lain ibu dengan multiparitas (melahirkan anak lebih dari satu kali), berusia di atas 30 tahun, persalinan kurang bulan, ibu dengan penyakit anemia, ibu dengan preeklampsia, proses persalinan yang diinduksi, ibu yang memiliki riwayat abortus, dan ibu yang memiliki jaringan parut dari bekas operasi sebelumnya pada rahim.

Plasenta sendiri adalah organ yang terbentuk dan berada di dalam rahim ketika masa kehamilan dimulai. Nah, plasenta sendiri memiliki fungsi sebagai penyedia nutrisi serta oksigen untuk janin.

Selain itu, plasenta pun memiliki tugas untuk membuang limbah sisa metabolisme dari darah.

Nah, itu adalah sekilas mengenai retensio plasenta. Yuk kita bahas lebih dalam mengenai kondisi yang bisa menimpa Moms yang baru melahirkan ini!

Tadi kita sudah membahas garis besar dari retensio plasenta, kini kita akan membahas lebih dalam mengenai kondisi ini. Dilansir dari sebuah jurnal yang berjudul Retained Placenta After Vaginal Delivery: Risk Factors and Management menyebutkan bahwa Bukan hanya plasenta yang tidak keluar selama 30 menit, kondisi ini juga bisa didiagnosis ketika pasien mengalami perdarahan yang signifikan sebelum plasentanya keluar.

Sementara itu, dari sebuah jurnal lain yang berjudul The Retained Placenta menjelaskan retensio plasenta adalah penyebab utama dari mordibitas dan mortalotas ibu di negar berkembang. Kondisi ini mempesulit 2 persen persalinan dan memiliki angka kematian kasis hampir 10 persen di daerah pedesaan.

Nah, retensio plasenta sendiri memiliki gejala yang bisa Moms rasakan. Berikut gejala dari kondisi retensio plasenta yang bisa Moms jadikan acuan agar lebih awas dan berhati-hati!

Baca Juga: Ibu Hamil Dengan Kondisi Ini Sebaiknya Melahirkan Secara Caesar

Gejala Retensio Plasenta

Retensio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah diketahui, tertahannya plasenta di dalam tubuh hingga lebih dari 30 menit usai proses persalinan dinamakan retensio plasenta. Hal ini pun menjadi gejala utama dari kondisi ini.

Jadi, jika plasenta masih tertinggal di dalam rahim, akan ada gejala lain yang bisa muncul satu hari setelah persalinan.

Nah, gejala yang bisa saja Moms rasakan ketika mengalami kondisi ini adalah:

  • Perdarahan yang hebat
  • Demam
  • Nyeri dan berlangsung lama
  • Keluarnya carian serta jaringan dengan bau tak sedap dari dalam vagina

Nah, usai mengetahui gejala retensio plasenta, yuk ketahui faktor apa saja yang bisa memicu terjadinya kondisi ini!

Faktor Pemicu Retensio Plasenta

Retensio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang sudah disebutkan, Moms akan merasakan nyeri berkepanjangan, perdarahan hebat, serta hadirnya cairan dan jaringan yang memiliki bau tak sedap keluar dari vagina.

Nah sekarang, yuk kita bahas faktor apa saja yang bisa meningkatkan risiko seorang perempuan mengalami kondisi ini. Faktor tersebut adalah;

  • Kontraksi rahim yang terjadi sangat kuat
  • Bayi yang meninggal ketika dilahirkan
  • Pernah mengalami operasi bedah rahim
  • Ukuran plasenta yang sangat kecil
  • Kondisi plasenta tertanam dan memasuki keseluruhan lapisan otot pada rahim
  • Pengalaman lebih dari lima kali dalam melahirkan
  • Pernah mengalami retensio plasenta di kehamilan sebelumnya
  • Kehamilan pada wanita yang sudah berusia di atas 30 tahun
  • Persalinan perematur, yakni ketika usia kehamilan masih di bawah 34 minggu
  • Plasenta tertanam di dalam rahim yang dikarenakan penyempitan terjadi di mulut rahim
  • Kehmilan ganda yang perlu implasi plasenta yang luas
  • Respon terhadap suntikan induksi atau obat tambahan saat proses melahirkan berlangsung

Usai mengetahui faktor penyebabnya, sebenarnya apa sih bahaya dari kondisi ini?

Bahaya Retensio Plasenta

melahirkan normal setelah caesar.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Moms, kondisi retensio plasenta bisa membahayakan, lho! Jadi, Moms perlu berhati-hati ketika hal ini terjadi, ya!

Kondisi ini bisa menyebabkan kondisi pembuluh darah yang menempel pada plasenta terus mengalirkan darah. Dan lagi, ketika rahim tak bisa menutup dengan sempurna, tubuh akan sulit untuk menghentikan perdarahan yang sedang berlangsung.

Moms, ketika plasenta tidak keluar dalam kurun waktu 30 menit usai persalinan, perdarahan akan terjadi secara signifikan dan bisa mengancam nyawa ketika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Baca Juga: 3+ Fungsi Plasenta Bayi dan Serba Serbinya, Moms Wajib Tahu!

Retensio plasenta sendiri memiliki tiga tipe. Tipe tersebut adalah:

1. Retensio Plasenta

Kondisi ini terjadi ketika plasenta tak terpisah secara langsung dari rahim dalam waktu 30 menit usai bayi dlahirkan. Hal ini merupakan jenis retensi plasenta yang paling umum.

2. Plasenta Terperangkap

Kondisi ini terjadi saat plasenta terlepas dari rahim. Namun plasenta tersebut tidak langsung meninggalkan rahim.

3. Plasenta Akreta

Kondisi ini terjadi ketika plasenta tumbuh ke dalam lapisan rahim yang lebih dalam dan tidak bisa lepas secara segera dari dalam rahim. Kondisi plasenta akreta ini adalah yang paling berbahaya karena bisa menyebabkan histerektomi dan transfusi darah.

Diagnosis awal sendiri bisa dilakukan dengan cara memeriksakan kelengkapan plasenta yang sudah keluar. Kotiledon plasenta saat lahir harus dihitung dengan seksama untuk menghindari adanya bagian plasenta yang tertinggal.

Hal ini masih sering luput karena kecilnya dan sulitnya melihat bagian plasenta yang kecil. Nah, ketika hal ini terjadi maka Moms yang baru melahirkan akan merasakan gejala yang sudah disebutkan di atas.

Jika hal ini terjadi, dibutuhkan pemeriksaan penunjang berupa ultrasound untuk melihat kondisi rahim serta bertujuan untuk memastikan adanya bagian plasenta yang tertinggal.

Pengobatan Retensio Plasenta

Retensio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Ketika menangani retensio plasenta, terdapat beberapa cara. Penanganan kondisi ini pun memiliki tujuan untuk mengeluarkan plasenta yang masih berada di dalam rahim.

Cara pengeluarannya yang paling umum ada dua, yakni:

1. Mengeluarkan Plasenta dari Rahim Menggunakan Tangan

Ketika melakukan prosedur ini, dokter pun harus melakukannya dengan hati-hati. Tindakan bisa meningkatkan risiko infeksi bagi ibu yang baru melahirkan.

2. Menggunakan Obat-obatan

Selain mengeluarkannya secara langsung, terdapat beberapa obat yang bisa membantu mengatasi retensio plasenta seperti methylegometrine atau oksitosin. Obat-obatan ini biasanya dignakan untuk membuat rahim berkontraksi sehingga plasenta pun akhirnya bisa dikeluarkan.

Dua metode di atas adalah yang paling umum dilakukan dokter. Selain kedua cara di atas, dokter biasanya akan menyarankan Moms untuk lebih sering buang air kecil.

Hal tersebut dikarenakan kandung kemih yang penuh bisa membantu mengeluarkan plasenta.

Selain itu, menyusui pun bisa membantu Moms keluar dari kondisi ini. Menyusui dengan segera pun bisa menjadi saran dokter untuk pengobatan retensio plasenta.

Dengan menyusui, Moms bisa memicu pelepasan hormon dan bisa meningkatkan kontraksi rahim sehingga membantu keluarnya plasenta dari rahim.

Jika pilihan di atas tidak berhasil biasanya dokter akan mengeluarkan plasenta dari rahim dengan prosedur bedah.

Cara Mencegah Retensio Plasenta

Retensio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Kondisi ini tentu saja memiliki beberapa metode pencegahan. Dokter biasanya akan merekomendasikan tahap pencegahan selama proses persalinan.

Tahap pencegahan tersebut adalah:

  • Memberi obat seperti oksitosin untuk merangan kontraksi rahim demi keluarnya plasenta
  • Menjalani prosedur controlled cord traction atau CCT usai plasenta lepas dari rahim. Umumnya dokter akan menjepit kemudian menarik tali pusar bayi sembari menekan perut ibu
  • Melakukan pijatan ringat di area rahim setelah bayi lahir untuk mengembalikan ukuran rahim, merangsang kontraksi serta menghentikan perdarahan yang terjadi

Nah itu dia, Moms pembahasan mengenai retensio plasenta. Semoga Moms dan bayi sehat selalu hingga melahirkan, ya!

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait