27 April 2022

Abortus Habitualis atau Keguguran Berulang, Berikut Penyebabnya

Masalah hormon bisa menjadi salah satu penyebab keguguran

Ada beberapa wanita yang mengalami keguguran berkali-kali. Bahkan hingga lebih dari 3 kali secara berturut-turut. Dalam bahasa medis, kondisi keguguran yang berulang seperti itu disebut abortus habitualis.

Konon, sekitar 1 dari 100 wanita hamil, mengalami keguguran berulang.

Dalam studi yang diterbitkan oleh ScienceDirect, wanita dinyatakan mengalami abortus habitualis jika mengalami 3 atau lebih keguguran berturut-turut sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu.

Wanita yang mengalami masalah ini mungkin ada yang merasa putus harapan karena setiap kali hamil, berujung pada keguguran.

Terkait hal ini, riset menunjukkan bahwa mayoritas perempuan yang mengalami abortus habitualis, akhirnya bisa hamil dan memiliki bayi.

Apalagi bila hasil tes menunjukkan tidak ada alasan dari penyebab keguguran tersebut. Kabarnya, 6 dari 10 wanita yang mengalami keguguran berulang sebanyak 3 kali, pada akhirnya berhasil mendapatkan momongan.

Kenapa bisa terjadi abortus habitualis? Nah, pada sebagian wanita, ternyata tak diketahui pasti apa yang menjadi penyebab keguguran.

Diperkirakan, separuh dari kejadian keguguran berulang tak diketahui alasannya. Meski begitu, sebagian penyebab abortus habitualis dapat diidentifikasi.

Baca Juga: Kuret, Prosedur yang Umumnya Diperlukan Setelah Keguguran

Penyebab Abortus Habitualis (Keguguran Berulang)

20180224ilyen volt az ellatasom tb1
Foto: 20180224ilyen volt az ellatasom tb1

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa kondisi kesehatan yang diduga menjadi penyebab keguguran berulang. Biasanya, kondisi tersebut adalah hal yang tidak umum. Berikut di antaranya:

1. Masalah pada Rahim, Panggul Lemah, atau Infeksi Vagina

Keguguran berulang (abortus habitualis) juga bisa terjadi bila Moms mengalami masalah pada rahim. Misalnya, kelainan bentuk rahim atau masalah panggul lemah.

Selain itu, infeksi pada vagina (bacterial vaginosis) juga bisa memicu risiko keguguran atau kelahiran prematur.

2. Masalah Hormon

Masalah atau gangguan hormonal juga bisa memicu terjadinya keguguran berulang. Misalnya, kasus polycystic ovaries.

Akan tetapi, belum bisa dipastikan kenapa masalah hormon bisa terkait dengan keguguran.

3. Sindrom Antiphospholipid (APS)

Sindrom APS alias sindrom sticky blood atau sindrom Hughes ini menimbulkan pembekuan darah yang tidak seharusnya. Konon APS ditemukan pada sekitar 15%-20% kasus abortus habitualis.

Baca Juga: Konsumsi Daun Pepaya untuk Ibu Hamil, Benarkah Bisa Menyebabkan Keguguran?

4. Masalah Genetik

Moms atau pasangan mungkin sebenarnya memiliki riwayat kelainan pada kromosom. Namun, hal tersebut baru diturunkan pada janin yang dikandung. 

Kelainan kromosom pada bayi lebih mudah terjadi sehingga memicu peningkatan risiko keguguran.

Adanya kelainan kromosom ini diduga menjadi penyebab kasus keguguran berulang pada sekitar 2% hingga 5% pasangan suami istri. 

5. Kelainan Pembekuan Darah yang Menurun (Thrombophilia)

Boleh dibilang, thrombophilia ini serupa dengan APS. Akan tetapi, thrombophilia dimiliki sejak lahir. Pada kasus ini, darah lebih mudah membeku dan bisa menimbulkan keguguran berulang.

6. Faktor Usia

Faktor usia juga bisa memengaruhi keguguran. Semakin tua usia Moms, makin tinggi juga kemungkinan mengalami keguguran. Termasuk, usia suami juga meningkatkan risiko keguguran.

Kenapa begitu? Ketika seseorang berusia di atas 35 tahun, kuantitas dan kualitas sel telur menurun. Alhasil, materi genetik pada sel telur ini tak sesuai lagi pada saat fertilisasi.

Nah, dari beberapa kemungkinan penyebab tersebut, ada kasus keguguran yang tak diketahui alasannya. Inilah yang disebut abortus habitualis yang tak dapat dijelaskan atau unexplained recurrent miscarriage.

Hal yang perlu diwaspadai, setiap kejadian keguguran bisa memicu atau meningkatkan risiko keguguran berikutnya.

Baca Juga: Sama-sama Diawali dengan Flek, Ini Beda Darah Keguguran dan Mestruasi, Catat!

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Keguguran Berulang?

98646602 h
Foto: 98646602 h

Foto: Orami Photo Stock

1. Lakukan Tes Darah

Salah satu upaya yang dilakukan adalah tes darah untuk memeriksa APS atau sindrom sticky blood. Tes ini bertujuan untuk mengetahui antibodi, yaitu zat kimia yang dihasilkan tubuh untuk menangani infeksi.

Tes ini dilakukan sebanyak 2 kali dengan jeda waktu 6 minggu sehingga bisa diketahui apakah Moms mengalami APS atau tidak.

Meskipun terdeteksi mengalami APS, Moms tetap bisa berpeluang hamil dan berhasil melahirkan. Bila diketahui hamil lagi, dokter akan memberikan obat pengencer darah, seperti aspirin atau heparin untuk pengobatan APS.

Selain itu, Moms dan suami juga dapat melakukan tes darah pemeriksaan kelainan kromosom (karyotyping).

Tes lainnya yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan jaringan kehamilan yang gagal atau post mortern. Tes ini dilakukan untuk melihat apakah ada masalah pada kromosom.

Jaringan plasenta juga akan diperiksa untuk mendeteksi masalah yang terjadi.

2. USG

Pemeriksaan lain yang bisa dilakukan adalah USG untuk memeriksa rahim apakah ada kelainan yang mengakibatkan atau menghambat kehamilan.

Ada beberapa kelainan dapat ditangani dengan tindakan operasi. Misalnya, kelainan rahim atau lemahnya panggul. Namun, kondisi ini jarang terjadi.

Pada kehamilan selanjutnya, dokter dapat melakukan tindakan operasi minor untuk menjahit panggul. Upaya ini untuk membantu mencegah risiko keguguran selanjutnya.

Bila setelah dilakukan pemeriksaan, tidak diketahui penyebab yang pasti, Moms kemungkinan besar bisa hamil.

Ketika hamil, Moms akan dirawat dengan seksama dan mendapat perawatan ekstra di awal kehamilan.

Baca Juga: Mengenal Abortus Komplit, Kondisi Keguguran dengan Jaringan Konsepsi Keluar secara Lengkap

Cara Mencegah Abortus Habitualis (Keguguran Berulang)

cara mencegah keguguran
Foto: cara mencegah keguguran

Foto: healthline.com

Abortus habitualis atau keguguran berulang ini memang disebabkan oleh kondisi tertentu dan kelainan pada kromosom embrio.

Tetapi tetap bisa dicegah sehingga kehamilan sehat hingga masa persalinan. Berikut cara mencegah keguguran berulang.

1. Berhenti Merokok

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, merokok telah dikaitkan dengan penurunan kesuburan pada wanita dan risiko keguguran yang lebih tinggi, di mana kehamilan berakhir sebelum minggu ke-20.

Bahkan, bisa menyebabkan kelahiran mati pada bayi.

Oleh karena itu, penting bagi Moms untuk berhenti merokok sebelum merencanakan kehamilan.

2. Batasi Konsumsi Kafein

Pada tahun 2008, dua penelitian tentang efek kafein yang berhubungan dengan keguguran menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan.

Dalam sebuah penelitian yang dirilis oleh American Journal of Obstetrics and Gynecology, ditemukan bahwa wanita yang mengonsumsi 200 mg atau lebih kafein setiap hari dua kali lebih mungkin mengalami keguguran dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi kafein.

Dalam studi lain yang dirilis oleh Epidemiology, tidak ada peningkatan risiko pada wanita yang minum kopi dalam jumlah minimal setiap hari (antara 200-350 mg per hari.)

Meskipun terdapat kesimpulan yang bertentangan dari banyak penelitian, March of Dimes menyatakan bahwa sampai penelitian lebih konklusif dilakukan, wanita hamil harus membatasi asupan kafein hingga kurang dari 200 mg per hari.

Ini sama dengan sekitar satu cangkir kopi berukuran 12 ons.

Kafein juga telah terbukti melewati plasenta, sehingga menurunkan aliran darah dan nutrisi ke plasenta. Jadi, Moms sebaiknya membatasi asupan kafein per hari untuk menjaga kondisi tubuh seama kehamilan.

3. Lakukan Pemeriksaan Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual (PMS) tertentu meningkatkan risiko keguguran.

Jika Moms memiliki gejala seperti gatal pada vagina, keputihan, atau nyeri saat buang air kecil, atau apabila Moms berpikir mungkin telah terkena PMS, penting untuk melakukan tes sebelum mencoba untuk hamil.

Hal ini karena penyakit radang panggul, klamidia, sifilis, gonore, dan herpes, yang semuanya merupakan penyakit menular seksual bisa meningkatkan risiko keguguran.

Baca Juga: 11+ Arti Mimpi Keguguran Anak, Jangan Langsung Panik

4. Penuhi Kebutuhan Asam Folat

Semua wanita yang mencoba hamil direkomendasikan untuk mengonsumsi asam folat setiap hari.

Suplemen vitamin B ini dapat membantu mengurangi kemungkinan keguguran dan cacat lahir. Dokter kandungan biasanya akan menentukan jumlah yang tepat sesuai dengan kebutuhan Moms.

5. Lakukan Tes untuk Diabetes

Jika Moms memiliki resistensi insulin, suatu kondisi di mana tubuh memproduksi insulin tetapi tidak menggunakannya secara efektif, itu artinya Moms mengalami gejala pradiabetes atau diabetes tipe 2.

Kedua kondisi ini dapat meningkatkan risiko abortus habitualis lho, jadi waspadalah.

Apabila tes darah telah menunjukkan bahwa gula darah tinggi atau Moms terbukti menderita diabetes, segeralah mengambil tindakan dengan cara melakukan pola hidup sehat untuk menurunkan berat badan, berolahraga secara teratur, dan mengonsumsi makanan bergizi.

Jadi, Moms bisa mengatasi penyakit diabetes yang pada akhirnya meningkatkan peluang untuk kehamilan yang sukses.

Jika diperlukan, dokter mungkin juga akan meresepkan obat untuk membantu mengendalikan diabetes sebelum Moms berencana untuk memiliki bayi.

Penanganan perawatan dan dukungan secara intensif dapat meningkatkan kesempatan hamil.

Diketahui, sekitar 3/4 perempuan yang mengalami keguguran berulang tanpa jelas penyebabnya, akhirnya akan melahirkan bayi sehat berkat dukungan dan perawatan yang tepat.

Kondisi penyebab abortus habitualis bisa ditangani meski tidak semuanya. Bagaimanapun, tidak ada yang dapat menjamin peluang keberhasilan kehamilan.

Meski begitu, dokter bisa memperkirakan peluang Moms hingga berhasil hamil. Semangat ya, Moms!

  • https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1471769703000224
  • https://www.healthline.com/health/smoking-and-pregnancy#miscarriage-and-stillbirth
  • https://www.cdc.gov/reproductivehealth/maternalinfanthealth/substance-abuse/substance-abuse-during-pregnancy.htm?CDC_AA_refVal=https%3A%2F%2Fwww.cdc.gov%2Freproductivehealth%2Fmaternalinfanthealth%2Ftobaccousepregnancy%2Findex.htm
  • https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/pregnancy-health-wellness/caffeine-intake-during-pregnancy/
  • https://www.jstor.org/stable/20486494
  • https://www.acog.org/clinical/clinical-guidance/committee-opinion/articles/2010/08/moderate-caffeine-consumption-during-pregnancy

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.