Scroll untuk melanjutkan membaca

TRIMESTER 1
27 September 2022

Penyebab dan Cara Mengatasi Hipertensi pada Ibu Hamil, Wajib Tahu!

Hipertensi pada ibu hamil tidak boleh dianggap sepele
Penyebab dan Cara Mengatasi Hipertensi pada Ibu Hamil, Wajib Tahu!

Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil adalah kondisi yang mesti diwaspadai.

Kondisi ini memang cukup umum terjadi.

Centers for Disease Control and Prevention mengatakan, di Amerika Serikat, kondisi ini ditemukan dalam 1 dari 12 kehamilan pada wanita usia 21-44 tahun.

Hipertensi saat hamil adalah kondisi yang mesti segera diatasi.

Apabila terlambat, bukan tak mungkin Moms yang sedang hamil malah akan mengalami komplikasi mematikan.

Cari tahu selengkapnya tentang hipertensi pada ibu hamil lewat ulasan di bawah ini, yuk, Moms!

Baca Juga: Cara Cek Tekanan Darah di HP, Cari Tahu Moms!

Penyebab Hipertensi pada Ibu Hamil

Ibu Hamil Cek Tekanan Darah

Foto: Ibu Hamil Cek Tekanan Darah (Orami Photo Stocks)

Hipertensi pada ibu hamil ditandai dengan angka tekanan darah mulai dari 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

Saat hamil, jumlah darah di dalam tubuh Moms akan meningkat sebanyak 45% dari biasanya.

Hal ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Keadaan tersebut bisa saja memicu tekanan darah tinggi saat hamil atau dikenal dengan sebutan hipertensi gestasional.

Dilansir dari American College of Obstetricians and Gynecologists, hipertensi gestasional umumnya baru terlihat ketika Moms memasuki usia kehamilan 20 minggu.

Beberapa hal yang bisa menjadi penyebab hipertensi pada ibu hamil, di antaranya:

  • Kehamilan pertama lebih cenderung berisiko mengalami tekanan darah tinggi
  • Kehamilan kembar
  • Usia saat hamil di atas 35 tahun
  • Obesitas
  • Riwayat hipertensi sebelum kehamilan
  • Kolesterol tinggi

Baca Juga: Apa Dampak Darah Tinggi Pada Ibu Hamil dan Janin?

Risiko Hipertensi Kronis pada Ibu Hamil

Ibu Hamil

Foto: Ibu Hamil (Orami Photo Stocks)

Moms harus waspada jika mengalami hipertensi saat usia kehamilan belum genap 20 minggu.

Kondisi ini biasanya dikenal dengan istilah hipertensi kronis.

Moms yang mengalami hipertensi kronis biasanya telah memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi sebelum kehamilan.

Sayangnya, sebagian besar Moms tidak menyadari hal ini sebelumnya, dan baru tahu ketika melakukan pemeriksaan saat hamil.

"Hipertensi pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko penurunan aliran darah ke plasenta," kata dr. Yuslam Edi Fidianto, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan. RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Baca Juga: Ibu Hamil dengan Darah Tinggi, Mungkinkah Melahirkan Normal?

Hipertensi kronis berisiko menimbulkan beragam dampak negatif yang fatal pada bayi dan Moms sendiri.

Berikut ini dampak fatal dari hipertensi kronis pada ibu hamil:

1. Persalinan Caesar

Moms yang mengalami hipertensi kronis umumnya akan dianjurkan untuk melahirkan dengan cara operasi caesar.

Pasalnya, persalinan normal dapat memperparah hipertensi yang dialami.

2. Preeklampsia

Kondisi ini umumnya terjadi jika hipertensi kronis tidak ditangani dengan baik, sehingga merusak organ-organ tubuh Moms.

Gejala yang muncul akibat kondisi ini, termasuk kejang-kejang.

Selain itu, ada pula tanda dan gejala preeklampsia lainnya, yaitu:

  • Sakit kepala yang tak kunjung hilang
  • Perubahan penglihatan, termasuk penglihatan kabur atau melihat bintik-bintik pada penglihatan
  • Nyeri di daerah perut bagian atas
  • Mual atau muntah
  • Pembengkakan pada wajah atau tangan
  • Kenaikan berat badan secara tiba-tiba
  • Kesulitan bernapas

Segera berobat ke dokter atau rumah sakit apabila mendapati gejala-gejala di atas.

Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengancam keselamatan Moms dan Si Kecil yang masih di dalam kandungan.

3. Janin Gagal Tumbuh

Tekanan darah tinggi saat hamil bisa menghambat pasokan makanan dan oksigen untuk janin.

Hal ini membuat janin mengalami gangguan tumbuh kembang di dalam rahim.

Terkait hal ini, dokter biasanya akan menyarankan untuk segera melakukan persalinan prematur.

Sebab, jika dibiarkan, keselamatan Si Kecil yang akan menjadi taruhannya.

4. Kerusakan Organ Tubuh Ibu

Hipertensi pada ibu hamil dapat membuat organ tubuh Moms mengalami kerusakan.

Risiko ini akan semakin meningkat apabila penyakit tidak dikendalikan dengan saksama.

5. Risiko Penyakit Jantung di Kemudian Hari

Hipertensi pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko penyakit jantung di kemudian hari.

Apabila kondisinya terjadi tanpa terkendali, bukan tak mungkin Moms juga akan berisiko mengalami serangan jantung.

6. Terjadi Abruptio Plasenta

Siapa sangka, hipertensi kronis yang terjadi selama kehamilan juga bisa menyebabkan abruptio plasenta.

Kondisi ini lebih dikenal dengan terputusnya plasenta dari rahim.

Alhasil, janin bisa kekurangan oksigen dan asupan makanan yang penting untuk pertumbuhannya.

7. Sindrom HELLP

HELLP adalah singkatan dari hemolisis, peningkatan enzim hati, dan jumlah trombosit yang rendah.

Kondisi ini tergolong parah dan bisa mengancam keselamatan.

Melansir Pregnancy Birth Baby, Moms yang mengalami hipertensi saat hamil akan dipantau secara ketat oleh dokter, khususnya menjelang persalinan.

Selama persalinan pun, jantung bayi akan terus dipantau dan Moms mungkin mendapatkan infus untuk memberi cairan dan obat.

Jika kondisi tampak memburuk selama persalinan, Moms mungkin memerlukan operasi caesar darurat.

Begitu juga bagi Moms yang mengalami preeklampsia.

Pada kondisi tersebut, Moms disarankan untuk melahirkan di rumah sakit bersalin besar yang dapat memberikan perawatan menyeluruh, termasuk untuk bayi.

"Selain itu, hipertensi pada ibu hamil juga bisa meningkatkan risiko bayi lahir prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), sindrom pernapasan, bahkan kematian," tambah dr. Yuslam.

Guna menghindari dampak buruk hipertensi pada ibu hamil, Moms mesti melakukan pemeriksaan antenatal secara berkala.

Dengan demikian, segala penyakit, baik pada diri Moms maupun janin, bisa dideteksi sejak dini.

Pengobatan pun bisa segera dilakukan, sehingga risiko komplikasi berbahaya dapat dihindari.

Baca Juga: Moms sedang Program Hamil? Yuk Cek Masa Subur Pria Berapa Hari!

Faktor Risiko Hipertensi pada Ibu Hamil

perencanaankehamilanhipertensihero

Foto: perencanaankehamilanhipertensihero

Hipertensi pada ibu hamil umumnya terjadi akibat perubahan hormon ketika memasuki kehamilan.

Ada pula hal lain yang turut meningkatkan risiko tekanan darah tinggi pada ibu hamil, yaitu:

  • Obesitas
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, minum alkohol, dan jarang berolahraga
  • Kehamilan yang pertama kalinya
  • Punya riwayat hipertensi di dalam keluarga
  • Hamil ketika berusia di atas 35 tahun
  • Kehamilan terjadi dengan bantuan medis, misalnya IVF (In-Vitro Fertilisation)

Guna menurunkan risiko hipertensi saat hamil, Moms harus mulai menerapkan gaya hidup dan pola makan sehat dari jauh-jauh hari.

Jadi, gaya hidup dan pola makan sehat tidak hanya dilakukan pada saat hamil saja, ya, Moms!

Namun, lakukanlah hal-hal tersebut sedini mungkin guna mencegah risiko penyakit di kemudian hari.

Baca Juga: Ketahui 5 Risiko Melahirkan Normal dengan Hb Rendah

Cara Menurunkan Tekanan Darah Tinggi saat Hamil

Bila memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, Moms harus ekstra waspada.

Pasalnya, risiko Moms untuk mengalami kondisi serupa bisa lebih tinggi.

Meski begitu, Moms tak perlu cemas berlebihan.

Ada beberapa hal yang bisa Moms lakukan untuk menurunkan risiko hipertensi saat kehamilan.

Berikut ini hal-hal yang dimaksud:

1. Kurangi Asupan Garam

Mengurangi Garam

Foto: Mengurangi Garam (Orami Photo Stocks)

Moms, meskipun tubuh membutuhkan asupan garam, tetapi mengonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan hipertensi.

Jadi, cobalah untuk menggantikan garam dengan bumbu lain, seperti jinten atau merica lemon.

Jika membeli makanan olahan, pilihlah kandungan yang rendah sodium.

2. Kelola Stres dengan Baik

Cara menurunkan darah tinggi saat hamil selanjutnya adalah kurangi stres.

Jangan memikirkan hal-hal yang memicu kecemasan dan lakukan apa yang bisa membuat Moms senang.

Jika ada waktu luang, Moms bisa melakukan meditasi, yoga, atau teknik pernapasan.

Aktivitas tersebut juga dapat membantu Moms saat persalinan nanti.

3. Konsumsi Makanan Tinggi Kalium

Roti Gandum Utuh

Foto: Roti Gandum Utuh (Orami Photo Stocks)

Makanan tinggi kalium diyakini dapat menurunkan tekanan darah yang tinggi.

Moms bisa mengonsumsi seperti roti gandum, pisang, kentang, tomat, dan kacang merah.

Sebuah penelitian menunjukkan, biji-bijian utuh yang kaya kandungan serat efektif mengendalikan risiko hipertensi.

Bila perlu, kombinasikan beberapa bahan makanan kaya kalium menjadi satu menu khusus.

Baca Juga: 5 Tanda Anak Depresi dan Cara Mengatasinya yang Sering Diabaikan, Moms Wajib Tahu!

4. Lebih Banyak Bergerak

Ibu hamil sangat dilanjutkan untuk bergerak untuk mengatasi badan pegal, menghilangkan stres, meningkatkan sirkulasi darah, hingga menurunkan tekanan darah.

Jadi, cobalah berolahraga ringan 30 menit setiap hari, seperti jalan kaki, berenang, yoga, pilates, dan lain sebagainya.

5. Perhatikan Berat Badan

Menimbang Berat Badan saat Hamil

Foto: Menimbang Berat Badan saat Hamil (Orami Photo Stocks)

Saat hamil, Moms akan mengalami peningkatan berat badan yang cukup banyak.

Namun, jangan sampai berat badan naik secara berlebihan, karena dapat terkena hipertensi.

Untuk mengontrol berat badan, Moms disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat.

Makanan sehat yang direkomendasikan beragam, mulai dari karbohidrat (nasi, sereal, atau pasta), protein (ikan, kacang, atau telur), hingga lemak baik (jagung dan minyak zaitun).

6. Jangan Merokok

Merokok merupakan kebiasaan yang harus dihentikan, apalah jika Moms sedang hamil.

Kebiasaan ini bisa menyebabkan darah tinggi saat hamil dan masalah kesehatan lainnya.

Jadi jika Moms masih merokok selama kehamilan, bicarakan dengan dokter untuk menghentikan kebiasaan ini.

7. Jauhi Alkohol

Minuman beralkohol diketahui dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, apalagi jika dikonsumsi dalam jumlah berlebih.

Oleh karena itu, akan lebih baik jika Moms benar-benar menghindari jenis minuman yang satu ini.

8. Konsultasi dengan Dokter

Konsultasi dengan Dokter

Foto: Konsultasi dengan Dokter (Orami Photo Stocks)

Moms, jika cara di atas sudah diterapkan tetapi tidak ada perubahan, jangan ragu segera konsultasi dengan dokter kandungan.

Obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah ini yang biasa tidak dianjurkan selama kehamilan:

  • ACE inhibitor
  • penghambat renin
  • penghambat reseptor angiotensin

Obat-obatan ini akan melewati aliran darah ke bayi dan berdampak negatif pada kesehatan bayi yang sedang berkembang.

Methyldopa dan labetalol adalah dua obat yang dianggap aman digunakan untuk mengelola tekanan darah selama kehamilan.

Jika Moms disarankan untuk minum obat apa pun, penting untuk mematuhi jadwal dan anjuran dari dokter.

Namun, beberapa obat hipertensi memiliki efek samping.

Jadi, pastikan berbicara dengan dokter untuk mengetahui obat yang aman untuk dikonsumsi selama kehamilan, ya!

Baca Juga: Mengenal 13 Jenis Kacang-Kacangan, Makanan Sehat untuk Kehamilan

Tekanan Darah Tinggi Setelah Persalinan

Persalinan

Foto: Persalinan (Orami Photo Stocks)

Tekanan darah tinggi atau hipertensi pada ibu hamil dapat mengancam keselamatan Moms dan janin.

Meski begitu, kondisi ini tidak selalu menyebabkan komplikasi yang serius dan bisa hilang dengan sendirinya setelah melahirkan.

Namun, Moms tetap perlu melakukan pemeriksaan secara berkala ke dokter guna memantau kondisi kesehatan, sekalipun telah melahirkan.

Melansir Mayo Clinic, menyusui tetap dianjurkan bagi kebanyakan wanita yang sebelumnya mengalami hipertensi saat hamil.

Hanya saja, setelah melahirkan, Moms harus terus memantau tekanan darah selama 1 hingga 2 minggu.

Tekanan darah mungkin tampak tinggi pada minggu-minggu awal setelah melahirkan.

Moms mungkin perlu melanjutkan mengonsumsi obat yang diberikan oleh dokter.

Jangan menambahkan atau menghentikan obat apa pun tanpa berkonsultasi dengan dokter kandungan.

Baca Juga: 9 Jenis Imunisasi yang Disarankan untuk Bayi 0-9 Bulan dan Jadwal Pemberiannya

Demikian fakta mengenai hipertensi pada ibu hamil.

Kondisi ini tidak melulu menyebabkan dampak fatal, khususnya jika bisa dideteksi dan diobati sejak dini.

Maka dari itu, jangan pernah melewatkan pemeriksaan antenatal selama kehamilan, ya, Moms!

  • https://www.cdc.gov/bloodpressure/pregnancy.htm
  • https://www.acog.org/Patients/FAQs/Preeclampsia-and-High-Blood-Pressure-During-Pregnancy
  • http://pregnancybirthbaby.org.au/high-blood-pressure-in-pregnancy
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/pregnancy/art-20046098
  • https://www.mother.ly/7-ways-to-lower-blood-pressure-during-pregnancy