07 Desember 2022

8 Ciri-Ciri Janin Tidak Berkembang, Waspada Jika Geraknya Tidak Aktif dan Denyut Jantung Berhenti

Perhatikan juga ukuran besar janin dari waktu ke waktu

Tiap ibu yang tengah mengandung pasti ingin janinnya tumbuh optimal hingga saat kelahirannya. Untuk itu, Moms, perlu tahu seperti apa ciri-ciri janin tidak berkembang berikut ini, yuk!

Kehamilan adalah hal membahagiakan yang dinanti-nantikan oleh pasangan yang sudah menikah.

Pasti setiap calon ibu akan menjaga kehamilannya dengan baik agar janin bertumbuh dengan baik.

Namun, terkadang ada beberapa kondisi yang tidak bisa dihindari. Salah satunya ketika janin tidak berkembang dengan optimal.

Kondisi janin yang tidak berkembang sempurna bisa disebut intrauterine growth restriction (IUGR).

WebMD menyebutkan, IUGR adalah kondisi ketika bayi yang belum lahir lebih kecil dari seharusnya karena tidak tumbuh pada tingkat normal di dalam rahim. Moms perlu mengetahui seperti apa ciri-ciri janin tidak berkembang.

Pertumbuhan janin yang terhambat ini menempatkan bayi pada masalah kesehatan tertentu selama kehamilan, persalinan, dan setelah lahir.

Perlu dipahami, IUGR berbeda dengan kehamilan kosong (blighted ovum).

Mayo Clinic menyebutkan, kehamilan kosong adalah janin yang benar-benar tidak berkembang, karena embrio tidak berkembang.

Umumnya, kehamilan kosong akan berakhir dengan keguguran. Sementara janin yang alami IUGR tetap bisa lahir walaupun bisa saja muncul masalah.

Baca Juga: Musik Klasik untuk Perkembangan Janin, Ini Manfaat dan Tipsnya!

Ciri-Ciri Janin Tidak Berkembang

Kehamilan Awal
Foto: Kehamilan Awal (Freepik.com/drobotdean)

Perkembangan janin akan berjalan ketika trimester pertama, yaitu ketika perkembangan otak dan pembuluh darah dimulai.

Lalu, trimester kedua akan berkembang alat kelamin dan bagian tulang.

Di trimester ketiga, ketika janin sudah semakin besar, ukuran perut Moms membesar, perkembangan semakin pesat.

Namun, perhatikan beberapa ciri-ciri janin tidak berkembang berikut ini.

1. Kram Perut Tidak Tertahankan

Kram perut bisa saja dialami Moms pada awal kehamilan. Hal ini masih menjadi toleransi karena gejalanya memang mirip dengan kram saat menstruasi.

Namun, ketika Moms mengalami kram perut yang tidak tertahankan saat hamil, segera periksakan kesehatan ke dokter kandungan. Ini bisa menjadi ciri-ciri janin tidak berkembang.

Jika gejalanya dibarengi dengan mual yang hebat, tubuh menggigil, dan demam tinggi, ada kemungkinan Moms mengalami kehamilan ektopik.

Ya, janin tidak akan berkembang ketika Moms mengalami kehamilan ektopik.

Menurut National Health Service, kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang dibuahi menanamkan dirinya di luar rahim, biasanya di salah satu saluran tuba.

Nah, saluran tuba adalah tabung yang menghubungkan ovarium ke rahim.

Jika ada sel telur yang tersangkut di dalamnya, sel telur tidak akan berkembang dan bisa berisiko pada kehamilan selanjutnya.

2. Ukuran Janin Lebih Kecil

Bayi di dalam kandungan bisa didiagnosis bermasalah ketika ukurannya lebih kecil dari seharusnya.

Dilansir dari University of Rochester Medical Center, caranya bisa dengan mengukur tingkat fundus.

Caranya dengan melihat ketinggian bagian atas rahim Moms yang diukur dari tulang kemaluan.

Nah, pengukuran dalam sentimeter ini biasanya dikaitkan dengan usia kehamilan setelah 20 minggu.

Jika hasilnya ukurannya lebih rendah dari usia kehamilan, bisa dikatakan ukuran janin lebih kecil dari normalnya.

Cara mendeteksi lainnya yang bisa digunakan yaitu pemeriksaan USG untuk memperkirakan ukuran bayi atau USG Doppler untuk membantu memeriksa aliran darah ke bayi selama kehamilan.

Bisa juga dengan melihat berdasarkan kenaikan berat badan Moms selama kehamilan.

Stanford Children’s Health mengungkapkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan ukuran janin lebih kecil dari yang seharusnya.

Di antaranya yaitu tekanan darah tinggi atau penyakit jantung dan pembuluh darah lainnya, diabetes, alami anemia, hingga mengidap penyakit autoimun.

Ibu hamil yang mengonsumsi alkohol dan merokok juga bisa mengalami hal ini. Ukuran janin lebih kecil dapat menjadi ciri-ciri janin tidak berkembang.

Baca Juga: 5 Camilan Sehat yang Bisa Menaikkan Berat Badan Janin

3. Pergerakan Bayi Kurang Aktif, Tidak Normal, Melambat, atau Berhenti

Periksa Kehamilan
Foto: Periksa Kehamilan (Freepik.com/serhiibobyk)

Moms, hal yang menunjukkan seberapa aktif janin adalah merasakan tendangan kecil di perut, ya.

Hal ini memang penting untuk memantau pergerakan bayi selama kehamilan.

Dilansir dari laman Tommys, sebagian besar ibu hamil mulai merasakan pergerakan bayi antara 16 dan 24 minggu kehamilan.

Gerakan bayi bisa digambarkan mulai dari tendangan, kepakan, atau berguling. Nyatanya, tidak ada gerakan normal yang bisa ditentukan.

Setelah usia kehamilan 26 minggu, gerakan janin harus dirasakan setiap hari.

"Cara yang umum untuk memastikan bayi bergerak setiap 12 jam, atau duduk selama 1 jam setiap hari, dan hitung berapa kali janin bergerak.

Di dalam 1 jam, biasanya janin akan bergerak lebih dari 7 atau 8 kali,” ungkap Dr. Michele Hakakha, dokter kandungan di Beverly Hills, California.

Menurut Dr. Hakakha, ada beberapa kondisi tertentu seperti plasenta yang anterior atau ibu hamil mengalami obesitas, sehingga mempersulit gerakan janin.

Namun, apabila Moms merasa gerakan bayi di dalam kandungan mulai melambat atau bahkan berhenti, sebaiknya perlu waspada. Ini bisa menjadi ciri-ciri janin tidak berkembang.

Jika tidak ada pergerakan bayi selama 12 jam, harus segera pergi ke dokter.

Sebaiknya segera periksakan diri ke unit bersalin untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih tepat, ya, Moms.

4. Denyut Jantung Janin Terlalu Lambat atau Terlalu Cepat

Ciri-ciri janin tidak berkembang optimal lainnya adalah memperhatikan denyut jantung.

Normalnya, denyut jantung janin antara 120 dan 160, namun banyak juga janin normal yang denyut jantung serendah 90 dan tanpa gangguan.

American Heart Association mengungkapkan, masalah jantung janin yang perlu diperhatikan yaitu takikardia (denyut jantung terlalu cepat) dan bradikardia (denyut jantung terlalu lambat).

Dokter biasanya dapat mendeteksi denyut jantung bayi menggunakan USG Doppler sejak usia 10 minggu kehamilan.

Namun, denyut jantung janin akan terdengar lebih jelas saat sudah berusia 12 minggu.

Nah, beberapa janin yang mengalami takikardia biasanya memerlukan pengobatan, yang diberikan melalui ibunya.

Pada beberapa kasus yang lebih parah, Moms mungkin memerlukan perawatan sehingga jantung ibu dan janinnya tetap dipantau dengan baik.

Biasanya, nanti dokter spesialis jantung dan dokter kandungan akan menimbang berbagai risiko yang ada. Nah, bisa saja para dokter mempertimbangkan risiko kelahiran prematur.

Hal ini membuktikan pentingnya memeriksakan kesehatan ke dokter kandungan secara rutin, ya, Moms.

Selama 6 bulan pertama kehamilan, penting untuk meluangkan waktu sebulan sekali ke dokter kandungan.

Namun, ketika usia kehamilan sudah memasuki trimester ketiga, ada baiknya pemeriksaan dilakukan tiap dua minggu sekali.

Baca Juga: Demam Berdarah Saat Hamil, Bahayakah Bagi Janin?

5. Perkembangan Otak Tidak Sempurna

Hasil USG Kehamilan
Foto: Hasil USG Kehamilan (Orami Photo Stocks)

Jika Moms sering mendengar betapa pentingnya asam folat selama masa kehamilan, hal tersebut benar-benar harus dipatuhi.

Faktanya, asam folat mampu meningkatkan pertumbuhan janin secara optimal. Cukupkan kebutuhan asam folat selama hamil sebanyak 400 mikrogram (mcg) setiap hari.

Salah satu ciri-ciri janin tidak berkembang sempurna lainnya ketika terjadi permasalahan pada perkembangan otaknya.

Pada trimester pertama, koneksi saraf yang dibangun memungkinkan bayi bergerak di dalam rahim.

Pada trimester kedua, lebih banyak koneksi saraf dan jaringan otak yang terbentuk.

Pada trimester ketiga, korteks serebral mulai mengambil alih dari batang otak. Tujuannya, mempersiapkan kondisi otak bayi yang sehat.

Namun, perkembangan otak janin bisa terhambat, yang akhirnya nantinya bisa menyebabkan cacat lahir.

Dilansir dari Boston Children’s Hospital, hal ini bisa didiagnosis melalui pemeriksaan fisik saat Moms hamil.

Perkembangan otak yang tidak normal terlihat dari kepala bayi tampak pipih dan tulang tengkorak yang hilang. Kondisi ini juga disebut anencephaly.

6. Kekurangan Oksigen

American Pregnancy Association mengungkapkan, ketika janin tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup, maka hal ini disebut juga gawat janin.

Tandanya bisa dilihat dari berkurangnya gerakan janin di dalam kandungan, cairan ketuban yang abnormal, dan denyut jantung yang abnormal.

Jika Moms mengalami gawat janin, penanganan dilakukan berdasarkan usia kehamilan.

Apabila sudah cukup usia melahirkan, operasi caesar bisa dijadikan sebuah pilihan.

Namun, kurangnya oksigen pada janin bukan hanya menyebabkan gawat janin.

Komplikasi kehamilan lainnya yang bisa terjadi yaitu insufisiensi plasenta. Komplikasi ini memang jarang terjadi, Moms, namun dapat berakibat fatal.

Plasenta adalah organ yang tumbuh di rahim selama kehamilan. Ketika plasenta tidak berkembang dengan baik atau rusak, hal ini menyebabkan gangguan aliran darah ibu hamil.

Akhirnya, oksigen dan nutrisi tidak dapat diberikan maksimal pada janin dari aliran darah ibunya.

Hal ini membuat janin tidak mampu bertumbuh dan berkembang secara optimal. Ini bisa menjadi ciri-ciri janin tidak berkembang optimal.

Beberapa risiko yang bisa terjadi yaitu berat badan lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, dan cacat lahir.

Untuk itu, penting sekali mendiagnosis masalah ini sejak dini demi kesehatan Moms dan bayi di dalam kandungan.

Baca Juga: Ini 5 Penyebab Bayi Lahir dengan Berat Badan Rendah

7. Posisi Janin yang Tidak Normal

Moms, penting untuk memerhatikan posisi janin di dalam kandungan.

Idealnya, bayi diposisikan dengan kepala menghadap ke bawah, menghadap ke belakang, dengan dagu yang terselip di dada dan bagian belakang kepala siap memasuki panggul.

Posisi bayi seperti ini biasanya akan menetap dia di usia kehamilan 32 dan 36 minggu.

Sementara itu, posisi janin yang sungsang yaitu ketika lutut dan kakinya di dalam kandungan menekuk seperti sedang berjongkok.

Cleveland Clinic menyebutkan, posisi bayi sangat menentukan keamanan dari proses melahirkan.

Posisi janin yang tidak normal akan memiliki kesulitan saat melahirkan dan nantinya berisiko sehingga biasanya akan dilahirkan melalui operasi caesar.

8. Ketuban Pecah Dini

Ibu Hamil Sakit
Foto: Ibu Hamil Sakit (Orami Photo Stock)

Cairan ketuban adalah air yang mengelilingi dan melindungi bayi di dalam rahim. Biasanya, air ketuban dapat pecah saat menjalani proses persalinan.

Namun, pada beberapa kondisi, air ketuban pecah sebelum Moms melahirkan. Hal ini disebut ketuban pecah dini atau premature rupture of membranes (PROM).

Ketuban pecah dini merupakan ciri-ciri janin tidak berkembang dan tanda bahwa pertumbuhan janin sudah berhenti.

Untuk itu, sebaiknya segera melahirkan dalam waktu 24 jam.

Medline Plus mengungkapkan, pada kebanyakan kasus, penyebab ketuban pecah dini tidak diketahui dengan pasti.

Namun, beberapa penyebab bisa berperan, seperti infeksi pada rahim, leher rahim, atau vagina.

Jika Moms pernah menjalani operasi atau biopsi serviks, maka berisiko juga untuk alami ketuban pecah dini.

Bila pada kehamilan sebelumnya Moms mengalami ketuban pecah dini, besar kemungkinan Moms juga mengalaminya pada kehamilan berikutnya.

Kebiasaan merokok saat hamil juga meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.

Baca Juga: Kehamilan Serotinus, Kondisi Kehamilan Lebih dari 42 Minggu

Ciri-Ciri Janin Sehat

Perut Ibu Hamil
Foto: Perut Ibu Hamil (Orami Photo Stock)

Setelah Moms mengetahui ciri-ciri janin tidak berkembang, berikut ini beberapa ciri-ciri janin yang sehat berkembang dengan baik. Yuk, simak Moms!

1. Terasa Pergerakan Bayi

Ciri-ciri janin sehat yaitu dapat merasakan buah hati bergerak, sekitar bulan ke 5 kehamilan.

Secara medis, gerakan janin yang pertama disebut sebagai quickening dan ini adalah hal yang normal.

Idealnya, ciri-ciri janin sehat ini biasanya dirasakan wanita hamil antara minggu ke-6 dan 10 kehamilan.

2. Ukuran Janin Normal

Ciri-ciri ini bisa diketahui dengan mengukur tumbuh kembang janin. Dokter akan melakukan USG untuk memantau kesehatan dan mengetahui ciri-ciri janin sehat.

Umumnya, janin tumbuh 5 cm setiap bulan. Jadi, pada bulan ketujuh, panjang janin normalnya sekitar 35 cm.

Sementara, di trimester ketiga, janin yang sehat tumbuh dengan berat 700 gram setiap minggunya.

Namun, angka ini berbeda setiap bayi dan ibu hamil, dan tergantung pada pemeriksaan kondisi fisik. Karena itu, tetap konsultasikan ke dokter ya, Moms.

3. Denyut Jantung Berdetak

Mengutip studi Radiopaedia, jantung bayi mulai berdetak sekitar minggu kelima kehamilan.

Namun, pendeteksiannya jauh lebih mudah menjelang akhir trimester pertama melalui ultrasound.

Detak jantung bayi yang sehat berkisar antara 110 hingga 160 denyut per menit.

4. Saraf dan Jaringan Mulai Terbentuk

Memasuki minggu keempat dan kelima, ciri-ciri janin sehat pada trimester pertama yaitu organ tubuh janin yang mulai terbentuk.

Meski masih dalam bentuk embrio, tetapi telah berkembang struktur organ lain yaitu amnion dan yolk sac.

Mengutip Johns Hopkins Hospital, amnion dapat diisi dengan cairan ketuban, mengelilingi dan melindungi embrio yang tumbuh.

Sementara kantung kuning telur menghasilkan darah dan membantu menjaga embrio agar tetap sehat. Plasenta juga akan berkembang pada minggu-minggu ini.

Memasuki minggu ke enam, otak dan sistem saraf bayi akan berkembang pesat. Sistem pencernaan dan pernapasan bayi juga mulai terbentuk.

Itulah beberapa ciri-ciri janin tidak berkembang optimal, dan seperti apa ciri-ciri janin yang tumbuh dan berkembang dengan sehat.

Hal penting yang perlu Moms ketahui, apabila tidak ada gerakan janin di trimester ketiga, hal ini bisa menjadi ciri-ciri janin tidak berkembang.

Ada beberapa hal untuk mencegah terjadinya masalah janin di atas. Sebaiknya Moms secara rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Jika terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, segera lakukan penanganan agar kesehatan Moms tetap terjaga dengan baik.

  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/the-first-trimester
  • https://radiopaedia.org/articles/fetal-heart-rate-in-the-first-and-second-trimester?lang=us
  • https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000512.htm
  • https://my.clevelandclinic.org/health/articles/9677-fetal-positions-for-birth
  • https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/labor-and-birth/fetal-distress/
  • https://www.heart.org/en/health-topics/congenital-heart-defects/symptoms--diagnosis-of-congenital-heart-defects/detection-of-a-heart-defect-in-the-fetus#:~:text=Heart%20rhythm%20problems&text=More%20important%20fetal%20heart%20problems,well%20being%20of%20the%20fetus.
  • https://www.tommys.org/pregnancy-information/pregnancy-complications/fetal-growth-restriction-intrauterine-growth-restriction
  • https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=intrauterine-growth-restriction-iugr-90-P02462
  • https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P02411
  • https://www.nhs.uk/conditions/ectopic-pregnancy/
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pregnancy-loss-miscarriage/expert-answers/blighted-ovum/faq-20057783
  • https://www.webmd.com/baby/fgr-fetal-growth-restriction#1

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.