Kesehatan

29 September 2021

Alergi Jamur, Intip Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya di Sini!

Alergi jamur bukan hanya terasa saat dimakan, tapi juga saat tercium Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Merasa gatal di beberapa bagian tubuh setelah mengkonsumsi jamur? Hati-hati, itu bisa saja menjadi tanda alergi jamur, Moms. Sebab, meski jamur tidak dianggap sebagai makanan pencetus alergi yang umum, tapi itu dapat memicu gejala alergi yang sama.

Jika jamur memicu reaksi alergi, lapisan usus bisa meradang dan membengkak karena peningkatan kadar histamin. Alergi jamur sendiri adalah kondisi medis serius yang perlu dievaluasi oleh dokter agar segera dicegah dan diobati.

Baca Juga: Kandidiasis, Jamur Vagina yang Pengaruhi Kesuburan?

Apa itu Alergi Jamur?

Alergi Jamur

Foto Orami Photo Stock:

Memiliki rasa yang enak, jamur menjadi salah satu makana yang populer karena manfaat dan juga nutrisinya. Namun, ini juga dikaitkan dengan respons alergi yang disebur disebut alergi jamur yang berbeda pada setiap orang.

Alergi jamur terjadi ketika sistem kekebalan tubuh tidak mengenali protein yang ditemukan dalam makanan. Karena sistem kekebalan tidak mengidentifikasi protein sebagai sesuatu yang aman, ia menyerang dengan antibodi imunoglobulin E, yang memicu sel mast untuk membuat histamin.

Histamin adalah hormon dalam tubuh yang membantu melindungi dari infeksi dan penyakit. Ketika histamin dibuat secara berlebihan, hal itu menyebabkan pembuluh darah melebar, meningkatkan aliran darah, meningkatkan produksi lendir dan dapat menyebabkan paru-paru menyempit.

Ketika histamin dilepaskan di lapisan usus, terjadi peradanganyang menyebabkan gejala kerusakan pencernaan umum dari alergi jamur. Gejala pencernaan yang umum termasuk mual, muntah, diare, kram, sakit perut dan kembung.

Menurut European Journal of Allergy and Clinical Immunology, alergi jamur dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yakni intoleransi, reaksi alergi, dan keracunan.

Setidaknya, ada 140.000 spesies jamur di dunia menurut Pediatric Allergy Immunology, and Pulmonology. Dan sebagian besar belum menjadi subjek penelitian terhadap alergi ini. Akibatnya, gejala alergi jamur belum diketahui sepenuhnya. Namun, alergi jamur dianggap langka dan unik.

Sebab, jamur dapat menimbulkan gejala tidak hanya dari konsumsi, tetapi sebagai akibat dari kontak kulit atau dari menghirup spora udara yang seperti biji mikroskopis. Alergi jamur tidak sama dengan keracunan jamur, yang bisa menjadi respons fatal terhadap racun dalam jamur beracun.

Baca Juga: Waspada Tinea Captitis, Infeksi Jamur di Kulit Kepala Anak

Penyebab dan Gejala Alergi Jamur

3+ Cara Menyimpan Jamur Agar Nutrisinya Tidak Hilang, Yuk Coba!

Foto: Orami Photo Stock

Makan jamur dan atau menghirup sporanya saja dapat memicu alergi ini menurut penelitian National Institute of Health Allergy. Ini merupakan penyebab alergi jamur yang paling besar.

Alergi jamur terjadi ketika tubuh manusia salah mengartikan protein dalam jamur sebagai partikel asing. Sebagai tanggapan, tubuh manusia melepaskan antibodi IgE untuk melawan protein menurut Medical Mycology Case Report. Ini akan melepaskan histamin yang menyebabkan alergi.

Alergi tidak sama dengan intoleransi. Alergi adalah hasil dari sistem kekebalan tubuh yang bereaksi terhadap apa yang dikonsumsi, apakah itu makanan atau senyawa lingkungan, dan kemudian mencoba untuk menekannya.

Alergi jamur dapat terjadi pada usia berapa pun bahkan jika Moms selalu mengonsumsi jamur selama beberapa tahun. Jika Moms menderita alergi jamur, sangat disarankan untuk menghindari jamur putih atau jamur kancing, Chanterelle, Portobello, shiitake, truffle hitam, dan morels.

Gejala yang berhubungan dengan alergi jamur seperti:

  • Mengi
  • Hidung meler atau mata berair karena saluran pernapasan bagian atas yang meradang
  • Ruam kulit atau gatal-gatal
  • Pembengkakan pada bibir, mulut, dan/atau tenggorokan
  • Diare
  • Muntah
  • Mual
  • Kembung atau kram perut

Gejala yang lebih parahnya yakni:

Jarang terjadi reaksi alergi parah terjadi setelah makan jamur. Alergi ini akan terlihat pada orang yang sebelumnya diketahui memiliki alergi pernapasan terhadap jamur atau OAS dari jamur, tetapi reaksi parah juga dapat terjadi pada orang yang belum pernah memiliki respons alergi terhadap jamur.

Selain gejala pernapasan dan kulit, alergi makanan juga dapat menyebabkan mual, sakit perut, muntah, dan diare. Namun, karena alergi jamur jarang terjadi, berbagai gejala gastrointestinal akibat konsumsi ini tidak diketahui.

Konsekuensi paling parah dari alergi makanan seperti setelah makan jamur atau anafilaksis dapat terjadi setelah makan jamur. Reaksi yang dapat kapan saja mengancam jiwa ini memerlukan perhatian medis dengan segera.

Sebab, ini dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, denyut nadi lemah, kesulitan menelan atau bernapas, kepala terasa melayang, kulit membiru atau pingsan, dan dapat dengan cepat berkembang menjadi kegagalan pernapasan dan kardiovaskular hingga dapat menyebabkan kematian.

Baca Juga: Penyebab Infeksi Jamur Candida Pada Bayi dan Cara Mencegahnya

Cara Mengatasi dan Mencegah Alergi Jamur

cara menyimpan jamur

Foto: Orami Photo Stock

Cara mengobati alergi jamur bisa dengan menggunakan antihistamin. Ini umumnya digunakan dalam pengelolaan kondisi alergi, dikutip Australian Prescriber. Obat-obatan ini dapat diberikan secara oral atau melalui semprotan hidung.

Namun, perhatian medis segera diperlukan saat gejalanya serius. Misalnya, jika terjadi reaksi anafilaksis, suntikan epinefrin harus segera diberikan sebab ini dapat mengendurkan saluran pernapasan menurut World Journal of Emergency Medicine.

Tindakan pencegahan yang diperlukan harus diambil untuk menghindari terulangnya gejala alergi setelah dapat dikelola dan dikendalikan. Berikut adalah beberapa tips untuk mencegah alergi jamur:

  • Hindari jamur dan produk jamur lainnya seperti ragi
  • Jauhkan obat anti-alergi seperti steroid hidung bisa berguna
  • Konsumsi makanan kemasan seperti krim asam, buah kering, bir, keju, dan sebagainya dengan hati-hati karena dapat memicu reaksi alergi pada beberapa individu.

Setelah didiagnosis alergi jamur, dokter mungkin akan meresepkan antihistamin untuk meredakan gejalanya. Namun, jika alergi lebih parah, dokter mungkin akan meresepkan steroid. Dalam kasus serangan anafilaksis, Moms akan memerlukan perawatan darurat.

Ini membutuhkan suntikan epinefrin segera, yang membantu mengendurkan saluran pernapasan dan memungkinkan udara masuk lagi.

Alergi jamur sebenarnya tidak dapat disembuhkan dan gejalanya hanya dapat diobati. Moms hanya dapat mencegahnya agar tidak kembali kambuh. Pastikan Moms mendapatkan bantuan medis segera jika mengalami salah satu gejala yang lebih berat.

  • https://ultimatemedicinalmushrooms.com/mushroom-allergy/
  • https://www.livestrong.com/article/527679-a-mushroom-allergy-and-the-intestines/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3278649/
  • https://www.stylecraze.com/articles/allergy-to-mushroom-symptoms-home-remedies-and-treatments/
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/3278649/
  • https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1111/j.1398-9995.1997.tb01232.x
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4348448/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5895478/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4129903/
  • https://www.ndtv.com/health/our-expert-nutritionist-talks-about-these-everyday-foods-that-can-cause-food-allergy-1998933
  • https://healthfully.com/symptoms-of-a-mushroom-allergy-4221021.html
  • https://www.liebertpub.com/doi/abs/10.1089/ped.2017.0746?journalCode=ped
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait