Gratis Ongkir minimum Rp 200.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Tanya Pakar | Mar 19, 2018

Bagaimana Cara Mengajari Anak untuk Berbagi?

Bagikan


Tanya:

Anak saya umurnya 15 bulan. Umur berapa anak sudah bisa diajak komunikasi dan reasoning, dan mengerti apa yang kita bicarakan?

Misalnya, saat dijelaskan bahwa berbagi itu penting atau tidak boleh bermain dengan kunci mobil karena berbahaya.

Jawab:

Pada usia 15 bulan, anak sudah mulai dapat menyerap bahasa serta mengikuti instruksi yang di dengar. Pada usia ini pula, mereka sudah mulai dapat berkomunikasi dengan sekitar melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, bahkan dengan kata walau masih terbata-bata.

Teruslah ajarkan pada anak untuk mengikuti berbagai instruksi dengan menyampaikannya lewat bahasa yang sederhana, singkat namun jelas. Lakukan hal ini secara berulang hingga pada usia 2-3 tahun, komunikasi mereka akan semakin meningkat terutama dengan menggunakan kegiatan atau interaksi sehari-hari sebagai kesempatan untuk anak belajar.

Namun perlu diingat, bahwa hal tersebut tetap bergantung pada daya serap anak dan bagaimana cara orangtua mengajarkan dan menerapkan sebuah makna kepada mereka. Jangan sampai memberikan instruksi atau menggunakan bahasa yang bermakna ganda, sehingga membuat mereka sulit menyerap apa yang disampaikan.

Reasoning termasuk higher-level skill. Tergantung dari topik yang dibahas, tingkat kesulitan dan makna dari konsep tersebut bisa bervariasi. Reasoning merupakan suatu hal yang lebih rumit untuk anak-anak belajar, apalagi anak yang masih berumur 15 bulan.

Mengajarkan Anak untuk Berbagi

Mengajar anak bahwa berbagi itu penting adalah langkah yang sangat baik. Tapi ajaran ini bukan hanya dari bentuk pembicaraan saja tapi juga melalui tindakan dan contoh perilaku orang tua.

Hal yang penting adalah untuk anak mengalami kalau dia berbagi sesuatu dengan orang lain, hal-hal yang baik atau menyenangkan akan terjadi. Meski akan memakan waktu, tetaplah berusaha untuk melakukannya secara berulang.

Jangan memarahi mereka saat melakukan kesalahan atau tidak mau berbagi, cukup beritahu mereka dengan lembut. Sering kali ketika seorang anak di minta orang tuanya untuk berbagi dengan orang lain, hal ini berakhir dengan anak itu kehilangan atau kekurangan sesuatu yang sebelumnya mereka miliki.

Misalnya, seorang anak punya dua mainan, setelah disuruh berbagi dengan anak lain, mainan yang anak itu punya tinggal satu. Hal ini bukanlah hal yang menyenangkan untuk anak itu. Jadi sebesar apa kemungkinan anak itu akan merasa gembira ketika disuruh atau diminta orang tua untuk berbagi di hari-hari mendatangnya? Lantas saja anak itu bisa tantrum jika disuruh untuk berbagi.

Untuk membuat proses berbagi lebih mudah dipahami oleh anak2, orang tua dapat menggunakan mainan maupun makanan yang mereka sukai. Dengan menggunakan hal yang menarik bagi mereka, akan lebih mudah untuk mereka memperhatikan apa yang orang tua sampaikan.

Mari ambil sebuah contoh: Moms memberikan es krim anda kepada anak untuk dia coba. Dan mintalah anak untuk membagi es krim mereka kepada Moms. Setelahnya, berilah mereka pujian akan apa yang mereka lakukan dan ini dapat dilakukan berulang kali supaya anak mengalami bahwa berbagi itu adalah hal yang menyenangkan.

Mainan pun dapat digunakan, misalnya Moms main dengan salah satu mainan dan saling berbagi dengan mainan yang anak sedang mainkan. Lalu main bersama dan interaksi dengan anak di mana ia bisa merasakan pengalaman bermain yang membuat dia gembira.

Hal ini amatlah membantu ketika nanti pada saatnya ia bermain dengan anak-anak lain, ia akan rela untuk berbagi mainan yang mereka memiliki dan membuatnya akan merasa senang ketika bermain bersama anak lain ketimbang bermain sendirian.
Namun perlu diantisipasi, bahwa bisa saja ketika bermain bersama anak lain dan anak tersebut menghilangkan atau merusakkan mainan mereka, mereka akan tak termotivasi untuk berbagi.

Melarang Anak Bermain dengan Kunci Mobil

Melarang anak bermain dengan kunci mobil merupakan hal yang wajar, karena berkaitan dengan bahaya. Namun kata bahaya tersebut juga harus dikaitkan dengan berbagai hal terlebih dahulu, seperti: sebuah hal yang mengakibatkan cedera atau rasa sakit.

Misalnya, ketika tak mendengarkan ibu, mereka bisa jatuh dan merasakan sakit. Hal ini memang tak begitu mudah dijelaskan pada anak, terlebih ketika hal ini tak sering terjadi. Hal ini pula akan berujung dengan mereka berpikir bahwa tak boleh memainkan kunci mobil sama dengan tak mendengarkan Moms, namun tak berujung dengan rasa sakit.

Untuk itu, mungkin akan lebih baik jika menempatkan kunci mobil jauh darinya. Sehingga tak ada keinginan untuk memainkannya, atau berikanlah kunci mainan pengganti. Tak hanya kunci mobil, hal ini berlaku pada setiap hal, Moms perlu memilah-milah mana mainan yang dapat dimainkan oleh mereka dan mana yang tidak.

Dijawab oleh Alex Witarsa, M.A., BCBA

Sumber: Ask The Expert - Forum Orami

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.