12 April 2024

5 Metode Belajar Membaca Al-Qur'an yang Populer Dilakukan

Untuk bantu anak belajar mengaji

Setiap umat Muslim harus belajar membaca Al-Qur'an. Di Indonesia, ada banyak metode yang dapat digunakan, lho.

Metode pembelajaran ini dirancang untuk memudahkan pemula, termasuk anak-anak, dalam belajar membaca Al-Qur'an.

Namun, bagi sebagian orang, terutama yang baru mengenal Islam atau belum pernah belajar membaca Al- Qur'an, langkah awal ini mungkin terasa sulit.

Kabar baiknya, belajar membaca Al-Qur'an dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang usia atau latar belakang.

Mau tahu apa saja metodenya? Yuk, simak, Moms!

Baca juga: 11 Hadis dan Ayat Alquran tentang Kematian untuk jadi Pengingat

Pilihan Metode Belajar Membaca Al-Qur'an

Santri Belajar Mengaji
Foto: Santri Belajar Mengaji (Medium.com)

Untuk bisa membaca ayat-ayat dalam Al-Qur'an dengan lancar, tentu harus belajar dari dasar-dasarnya.

Sebagai strategi untuk memudahkan pembelajaran, banyak ulama dan ustaz yang menciptakan metode belajar khusus.

Berikut ini beberapa pilihan metode belajar membaca Al-Qur'an yang cukup terkenal di Indonesia:

1. Metode Qiroati

Metode Qiroati disebut-sebut sebagai cara belajar yang paling awal muncul, yaitu pada 1963.

Buku panduannya disusun oleh K.H. Dachlan Salim Zarkasyi, dan berjumlah 10 jilid.

Metode ini dibuat karena keprihatinan beliau saat melihat pembelajaran Al-Qur'an yang jauh dari kaidah tajwid pada masa itu.

Pada awalnya, metode belajar membaca Al-Qur'an ini hanya digunakan di kalangan anak didik K.H. Dachlan saja.

Kemudian, seorang ulama asal Semarang, H. Ja’far, mengajak beliau sowan kepada K.H. Arwani di Kudus untuk menunjukkan buku Qiroatinya.

Setelah diteliti dan dikoreksi, metode ini akhirnya direstui oleh K.H. Arwani, dan mulai dikenalkan kepada masyarakat Semarang dan sekitarnya.

Seiring waktu, buku panduan metode Qiroati terdiri dari 6 jilid yang harus dipelajari oleh santri.

Ditambah dengan buku panduan mempelajari tajwid dan gharib (bacaan yang sulit dan langka).

Setelah menamatkan pembelajaran jilid demi jilid, santri sudah bisa membaca Al-Qur'an dengan mahir dan secara tartil.

Pada 2000, metode Qiroati pun mulai tersebar di beberapa negara, seperti Australia, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Singapura.

2. Metode Iqra’

Belajar Membaca Al-Qur'an
Foto: Belajar Membaca Al-Qur'an (Orami Photo Stocks)

Selain Qiroati, metode Iqra’ juga merupakan salah satu cara belajar membaca Al-Qur'an yang paling populer dan menyebar luas di masyarakat.

Pembuat dan penyusun metode pembelajaran ini adalah K.H. As’ad Humam.

Metode Iqra' disusun beliau sejak bertemu dan belajar pada K.H. Dachlan Salim Zarkasyi, yang lebih dulu mencetuskan metode Qiroati.

Metode Iqra' mulai diperkenalkan pada 1988, sebagai pengembangan dari metode Qiroati.

Pada awalnya, K.H. As’ad Humam menggunakan metode Qiroati dan melakukan berbagai eksperimen dalam pengajaran, dan dicatatnya.

Catatan itu kemudian diajukan kepada K.H. Dachlan sebagai usulan.

Sayangnya, beliau tak setuju, karena menurutnya metode Qiroati adalah inayah (pertolongan) dari Allah dan tak perlu diubah-ubah lagi.

Akhirnya, K.H. As’ad mengembangkan metode Iqra’ bersama sahabatnya di Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushalla (AMM) Yogyakarta.

Metode ini pun kemudian berkembang dengan luas dan cepat di masyarakat.

Berbeda dengan metode Qiroati, buku panduan Iqra’ lebih mudah didapat, karena dipasarkan dengan bebas.

Sementara itu, buku panduan Qiroati hanya bisa didapat dari lembaga tertentu dan melalui jalur khusus koordinator masing-masing daerah.

Baca juga: Membaca Surat Yusuf untuk Ibu Hamil, Bikin Bayi Tampan?

3. Metode an-Nahdliyah

Cara belajar membaca Al-Qur'an yang juga cukup dikenal adalah metode an-Nahdliyah.

Metode ini disusun oleh K.H. Munawir Kholid bersama rekan-rekannya.

Pada awalnya, K.H. Munawir ingin menyusun metode cepat belajar membaca Al-Qur'an yang lebih khas nuansa NU di dalamnya.

Beliau pun akhirnya membentuk tim untuk merumuskan panduannya.

Tim tersebut terdiri dari Kiai Munawir Kholid, Kiai Manaf, Kiai Mu’in Arif, Kiai Hamim, Kiai Masruhan, dan Kiai Syamsu Dhuha.

Pemilihan anggotan tim dilakukan K.H. Munawir dari petunjuk yang ia dapatkan setelah beristikharah.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb