Scroll untuk melanjutkan membaca

PERNIKAHAN & SEKS
13 Oktober 2022

Cara Mengajukan Gugatan Cerai secara Offline dan Online

Persiapkan kelengkapan dokumen
Cara Mengajukan Gugatan Cerai secara Offline dan Online

Cara mengajukan gugatan cerai dapat dilakukan di mana saja, baik offline maupun online.

Hal ini mungkin belum banyak diketahui oleh Moms dan Dads.

Terpenting adalah pasangan harus menyiapkan syarat yang diperlukan untuk menggugat cerai.

Simak artikel cara mengajukan gugatan cerai offline maupun online berikut ini dan ketahui langkah-lagkah yang harus dilakukan.

Baca Juga: Mengenal Radang Usus, Cari Tahu Penyebab, Gejala, hingga Cara Mengatasinya

Alasan Mengajukan Gugatan Cerai

Ilustrasi Suami Istri Urus Cerai

Foto: Ilustrasi Suami Istri Urus Cerai (Orami Photo Stock)

Gugatan cerai dapat dilakukan oleh istri atau suami, baik secara online atau offline.

Namun, saat mengajukan gugatan cerai, pastikan harus memiliki alasan yang jelas sesuai dengan UU Pernikahan di Indonesia, seperti:

  • Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang susah disembuhkan.
  • Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya.
  • Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.
  • Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain.
  • Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri.
  • Antara suami dan istri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
  • Salah satu pihak, suami atau istri beralih keyakinan atau pindah agama.
  • Pihak suami melakukan pelanggaran Taklik Talak yang diucapkannya sesaat setelah ijab kabul.

Jika salah satu dari alasan di atas memang dialami oleh Moms, gugatan perceraian dapat lansung diajukan ke pihak pengadilan.

Pastikan semua alasan tersebut memiliki bukti yang kuat, sehingga tidak sulit dalam megajukan gugatan cerai.

Baca Juga: Kenali Fungsi Pankreas yang Penting dalam Sistem Pencernaan dan Metabolisme Tubuh

Cara Mengajukan Gugatan Cerai ke Pengadilan

Surat Gugatan Cerai

Foto: Surat Gugatan Cerai (Orami Photo Stock)

Perceraian terjadi karena antara suami atau istri tidak dapat lagi mempertahankan mahligai pernikahan mereka.

Cerai adalah jalan terakhir untuk mengakhiri kemelut rumah tangga yang terjadi.

Jika itu sudah keputusan bersama, berikut cara mengajukan gugatan cerai ke pengadilan:

1. Menyiapkan Dokumen yang Dibutuhkan

Cara mengajukan gugatan cerai yang pertama adalah menyiapkan semua dokumen.

Dokumen-dokumen yang perlu disiapkan dalam pengajuan gugatan cerai cukup banyak, meliputi:

  • Surat nikah asli
  • Fotokopi surat nikah
  • Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari penggugat
  • Surat keterangan dari kelurahan
  • Fotokopi Kartu Keluarga (KK)
  • Fotokopi akte kelahiran anak (jika memiliki anak)
  • Meterai.

Nah, jika ingin menggugat harta gono gini atau harta milik bersama, siapkan pula berkas-berkas, seperti surat sertifikat tanah, surat-surat kepemilikan kendaraan bermotor (BPKB dan STNK), dan dokumen harta lainnya.

2. Mendaftarkan Gugatan Cerai ke Pengadilan

Setelah menyiapkan kelengkapan dokumen, cara mengajukan gugatan cerai selanjutnya adalah Moms dapat pergi mendaftarkan gugatan cerai ke Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri.

Mendaftarkan gugatan cerai harus ke pengadilan di wilayah kediaman pihak tergugat.

Jika istri akan menggugat cerai suami, maka istri harus mengajukan gugatan tersebut di pengadilan tempat suami.

3. Membuat Surat Gugatan

Begitu tiba di pengadilan, Moms bisa langsung menuju pusat bantuan hukum di pengadilan guna membuat surat gugatan.

Surat gugatan cerai ini harus mencantumkan alasan menggugat cerai.

Alasan gugatan cerai harus dapat diterima pengadilan, seperti ada unsur penganiayaan, penelantaran, kekerasan, pertengkaran terus menerus, dan alasan lainnya.  

Baca Juga: Serunya Berwisata di Pantai Depok Jogja, Bisa Main Air hingga Belanja di Pasar Ikan

4. Menyiapkan Biaya Perceraian

Cara mengajukan gugatan cerai selanjutnya adalah menyiapkan biaya.

Biaya selama masa sidang cerai wajib dibayar pihak yang mengajukan gugatan cerai.

Biaya-biaya tersebut, antara lain biaya pendaftaran, biaya meterai, biaya proses (ATK), biaya redaksi, dan biaya panggilan sidang.

Biaya yang dikeluarkan selama proses sidang perceraian tergantung dari kedua belah pihak yang bercerai.

Kalau salah satu pihak tidak pernah menanggapi surat panggilan persidangan, maka pihak pengadilan berhak membebankan biaya yang lebih besar.

Tapi, hal ini kembali lagi tergantung pada jumlah ketidakhadiran pihak yang bercerai.

5. Mengetahui Tata Cara dan Proses Persidangan

Saat proses persidangan berjalan, kedua belah pihak harus menghadiri persidangan untuk mengikuti mediasi.

Dengan adanya mediasi, diharapkan kedua belah pihak bisa berdamai dan menarik gugatannya.

Akan tetapi, kalau keputusan untuk bercerai sudah bulat, maka akan dilanjutkan dengan pembacaan surat gugat perceraian.

Jika pihak tergugat tidak pernah memenuhi panggilan dari pihak pengadilan untuk mengikuti sidang, pihak pengadilan dapat membuat amar putusan yang berisi pemutusan sah antara suami dan istri.

Amar putusan ini kemudian akan dikirimkan kepada pihak tergugat sebagai bukti kalau pernikahan sudah berakhir.

Apabila pihak yang tergugat sama sekali tidak memberi tanggapan mengenai amar putusan, maka pihak pengadilan berhak membuat surat akta cerai.

6. Menyiapkan Saksi 

Cara mengajukan gugatan cerai dapat berjalan lancar jika pihak penggugat memberikan alasan yang jelas terkait pengajuan gugatan cerai.

Alasan ini juga akan disampaikan di pengadilan, termasuk menghadirkan saksi-saksi yang dapat memperkuat alasan perceraian.

Saksi-saksi tersebut bakal dihadirkan saat sidang perceraian.

Jika masih bingung, tidak mau ribet mengurus sendiri gugatan cerai, Moms bisa menyewa jasa pengacara yang akan melancarkan semua masalah perceraian.

Dengan adanya pengacara, Moms setidaknya sudah memiliki shield untuk melindungi diri dari adanya ancaman yang datang dari pasangan secara tiba-tiba.

Baca Juga: 7+ Persiapan dan Cara Konsultasi ke Psikolog, Jangan Sampai Ragu!

Aplikasi e-Court

Ilustrasi Proses Perceraian

Foto: Ilustrasi Proses Perceraian (Orami Photo Stock)

Berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 Tentang Adminitrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik maka Mahkamah Agung meluncurkan Aplikasi e-court.

Hadirnya aplikasi ini, disebut mempemurdah Moms saat ingin mengajukan berkas-berkas perceraian secara online.

Selain itu, lewat aplikasi ini, Moms akan menghemat waktu dan estimasi biaya yang lebih transparan, tanpa bantuan pengacara atau kiasa hukum.

Dasar hukum pelaksanaan e-Court juga telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung RI Nomor 1 Tahun 2019.

Beberapa fitur yang ada di dalam aplikasi ini, antara lain:

  • e-Filing (Pendaftaran Perkara Online di Pengadilan)
  • e-Payment (Pembayaran Panjar Biaya Perkara Online)
  • e-Summons (Pemanggilan Pihak secara online)
  • e-Litigation (Persidangan Online)

Meskipun terlihat mudah dan praktis, tetapi bagi yang ingin mendapftarkan perkara melalui e-Court harus lebih dahulu datang ke Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama untuk mendaftarkan diri.

Selanjutnya, petugas pengadilan akan mencatat data-data dan memverifikasinya sebelum akhirnya memiliki akses masuk (login) akun e-Court.

Baca Juga: 6 Macam Syafaat Rasulullah SAW yang Bisa Menjauhkan Diri dari Api Neraka

Cara Mengajukan Gugatan Cerai Online

Ilustrasi Proses Perceraian

Foto: Ilustrasi Proses Perceraian (Independent.co.uk)

Berikut ini langkah-langkah cara mengajukan gugatan cerai online yang perlu dilakukan, yaitu:

1. Daftar di Situs e-Court

Saat akan mengajukan gugatan cerai online, hal pertama yang dilakukan adalah mengakses situs e-Court.

Setelahnya, Moms mengisi username dan password sesuai dengan keinginan.

Pastikan username dan passwordnya yang dibuat mudah diingat ya.

2. Pilih Pendaftaran Perkara

Cara mengajukan gugatan cerai online, berikutnya adalah memilih menu Pendaftaran Perkara di kolom sebelah kiri.

Pilih opsi Gugatan Online.

Kemudian, pilih opsi Tambah Gugatan yang berada di bagian atas.

3. Pilih Pengadilan

Cara mengajukan gugatan cerai, pilih Pengadilan Agama atau Negeri yang dituju, lalu ketuk Lanjutkan.

Perlu diketahui, untuk proses perceraian yang beragama Islam akan dilakukan di Pengadilan Agama.

Sementara, Moms yang beragama non-islam dapat mengajukan perkara perceraian di Pengadilan Negeri.

Selanjutnya, ketuk Lanjutkan.

Baca Juga: Serunya Berwisata di Pantai Depok Jogja, Bisa Main Air hingga Belanja di Pasar Ikan

4. Isi Data

Setelah memiliki pengadilan, pilih opsi Tambah Pihak dan isi data pada kolom yang tersedia dan simpan data.

Kemudian, klik Lanjut Upload Berkas di bagian bawah website.

Moms nantinya akan masuk ke dalam Berkas Perkara Gugatan, masukkan data dari berkas yang sudah disiapkan sebelumnya.

5. Perhitungan SKUM

Jika sudah selesai mengisi data, kemudian ketuk Lanjut Perhitungan SKUM dan beri tanda centang pada kotak lalu ketuk Lanjut.

Nantinya, akan muncul harga pembayaran panjar dan ketuk Lanjut Pembayaran.

Besar nilai panjar, akan dihitung sesuai dengan rumusan penentuan taksiran biaya panjar untuk perkara gugatan.

6. Pembayaran

Cara mengajukan gugatan cerai online yang terakhir adalah melakukan pembayaran di Bank milik pemerintah.

Dalam Hal ini Bank yang telah ditunjuk menyediakan Virtual Account (Nomor Pembayaran) sebagai sarana pembayaran kepada Pengadilan tempat mendaftar perkara.

Pembayaran ini, dapat dilakukan melalui berbagai channel termasuk mobile banking, internet banking, atau via mesin ATM.

Jika tahapan ini sudah dilakukan, pendaftaran dinyatakan selesai dan menunggu verifikasi dari pihak pengadilan.

7. Verifikasi

Perkara yang sudah diajukan melalui online, nantinya akan diverifikasi oleh pihak pengadilan.

Jika semuanya sudah dianggap sesuai, selanjutnya akan dikirimkan laporan verifikasi melalui email.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Korset Melahirkan yang Bisa Melangsingkan Perut Moms

8. Pembayaran Tambahan

Dalam proses gugatan, Moms mungkin terdapat biaya tambahan, e-Court akan menginformasikan bersaran nominal Tambah Biaya Panjar.

Namun, jika pembayaran lebih makan akan dikembalikan kepada pihak pendaftar perkara.

9. Pantau Jadwal Sidang

Moms yang sudah mengajukan gugatan secara online, juga bisa memantau jadwal sidang melalui situs e-Court/

Untuk melihatnya, Moms hanya pelru memantau kolom Detail Verifikasi di e-Court.

Baca Juga: Mengenal Sistem Organ Pernapasan Manusia dan Fungsinya

Hak Istri Setelah Mengajukan Gugatan Cerai

Ilustrasi Proses Perceraian

Foto: Ilustrasi Proses Perceraian (Orami Photo Stock)

Dalam mengajukan sebuah gugatan cerai, seorang istri juga bisa melakukan tuntutan mengenai hak istri setelah menggugat cerai suami.

Beberapa hal yang bisa dijadikan tuntutan dalam melakukan gugatan cerai pada suami adalah:

1. Hak Asuh Anak

Ketika terjadi perceraian, Moms bisa mengajukan tuntutan untuk mendapatkan hak asuh anak dalam surat gugatan cerai.

Walaupun begitu, perlu diketahui juga bahwa baik ayah atau ibu tetap memiliki kewajiban untuk memelihara dan mendidik anak.

Selain itu, perlu diperhatikan juga bahwa jika kedua belah pihak atau orang tua tidak berselisih atas hak asuh tersebut, maka pilihan siapa yang berhak atas hak asuh dicantumkan dalam surat gugatan, yang nantinya akan ditegaskan dalam putusan perceraian.

Apabila terjadi perebutan mengenai hak asuh anak setelah bercerai, dapat mengajukan permohonan penetapan pengadilan mengenai hak asuh anak.

Untuk anak yang masih berusia dibawah 5 tahun, masih termasuk anak dibawah umur.

Apabila beragama Islam, ditegaskan dalam Pasal 105 bahwa anak yang masih dibawah 12 tahun, hak asuhnya akan secara otomatis jatuh ke tangan ibu kecuali ada beberapa hal yang membuat pengadilan memutuskan sebaliknya.

2. Nafkah Anak

Hak istri setelah menggugat cerai suami yang selanjutnya adalah nafkah anak.

Bila ibu menerima hak asuh, maka ayah tetap berkewajiban biaya hadhanah dan nafkah anak, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dan dapat mengurus diri sendiri.

Biasanya besarnya nafkah anak yang diberikan adalah sebanyak ⅓ dari penghasilan suami ketika proses perceraian.

Namun besaran tersebut juga bisa lebih atau kurang dari jumlah tersebut bergantung pada dokumen atau bukti yang diberikan pada saat mengajukan tuntutan nafkah anak oleh istri.

Baca Juga: Mengenal Hirsutisme, Kondisi Tumbuhnya Rambut Berlebihan pada Wanita

3. Nafkah Istri

Ketika melakukan gugatan cerai pada suami, hak istri setelah menggugat cerai suami adalah untuk mendapatkan nafkah.

Jenis nafkah yang dimaksudkan adalah nafkah madliyah.

Apabila istri beragama islam dan suami tidak memberikan nafkah selama pernikahan atau sejak terjadi perselisihan, karena kewajiban suami menafkahi istrinya, Moms dapat menuntut nafkah madliyah.

4. Harta Gono Gini

Hak istri setelah menggugat cerai suami yang terakhir adalah harta gono gini.

Harta gono gini sendiri merupakan harta bersama yang didapatkan selama jangka waktu pernikahan.

Harta tersebut merupakan harta yang baik didapatkan oleh suami, istri atau keduanya selama pernikahan.

Ketika terjadi gugatan cerai oleh istri, Moms berhak untuk melakukan tuntutan mengenai pembagian harta gono gini.

Kecuali jika sebelumnya sudah ada perjanjian perkawinan yang mengatur mengenai pembagian harta tersebut dengan adil dan jelas.

Berdasarkan Pasal 37 UU Perkawinan, konsekuensi dari perceraian adalah pembagian harta bersama yang perlu diatur berdasarkan hukumnya masing-masing.

Hukum yang dimaksud tersebut seperti hukum agama, hukum adat dan hukum yang berlaku di Indonesia.

Baca Juga: 45 Nama Bayi Laki-Laki Italia yang Keren serta Artinya dari Huruf A–Z, Ada Alberto, Carlo, dan Enzo

Itu dia Moms penjelasan cara mengajukan gugatan cerai. Semoga bermanfaat ya!

  • https://ecourt.mahkamahagung.go.id/
  • https://www.pa-jakartaselatan.go.id/gugatan_mandiri/
  • https://pa-depok.go.id/cara-mengajukan-gugatan-cerai-isteri-kepada-suami-di-pengadilan-agama/