07 Februari 2020

4 Cara Menghadapi Kenyataan yang Berbeda Jauh dari Harapan Saat Melahirkan

Ini beberapa hal agar bisa melewati keadaan yang tidak sesuai ekspektasi selama kehadiran Si Kecil

Keadaan saat si kecil lahir tidak dapat diprediksi. Sementara beberapa ibu baru menggambarkan persalinan sebagai hal yang indah dan meneguhkan hidup, yang lain dibiarkan bergumul dengan perasaan kecewa.

Beberapa wanita, harus meninggalkan rencana untuk bekerja di rumah, melahirkan tanpa pengobatan impian atau memiliki dokter favorit, tidak mendapatkan bayangan tentang pengalaman yang sebelumnya mereka idamkan.

Yang lain merasa diremukkan oleh sistem medis yang membingungkan dan tidak bersifat pribadi. Dan ketika seorang bayi atau ibu mengalami komplikasi medis yang menyakitkan, ketakutan dan kesedihan mungkin akan bertahan lama.

Cara Menghadapi Kenyataan yang Berbeda Jauh dari Harapan Saat Melahirkan

Alexandra Sacks MD, psikiater reproduksi yang berbasis di New York City, co-writer What No One Tells You: A Guide to Your Emotions from Pregnancy to Motherhood menyarankan beberapa hal agar bisa melewati keadaan yang tidak sesuai ekspektasi selama kehadiran si kecil.

1. Biarkan Diri Berduka

baby-bump-expecting-mother-1974519.jpg
Foto: baby-bump-expecting-mother-1974519.jpg

Foto: pixabay.com

Tidak apa-apa merasa kecewa jika tidak menjalani kelahiran yang diharapkan. Bahkan jika bayi sehat, mungkin saja Moms masih merasa kecewa.

Mengakui kekecewaan ini kepada diri sendiri, mungkin merupakan langkah penting untuk bergerak maju.

2. Jangan Membandingkan

baby-child-family-41304.jpg
Foto: baby-child-family-41304.jpg

Foto: pixabay.com

Semua ibu baru ingin sempurna, namun kesempurnaan akan tetap berada di luar jangkauan, jadi ini adalah kesempatan untuk berhenti membandingkan diri dengan ibu-ibu di media sosial.

Untuk berlatih menerima diri sendiri sebagai "ibu yang cukup baik." tidak butuh kelahiran atau pengasuhan yang sempurna. Tidak semua hal yang dijarkan dalam pola asuh yang benar harus dilakukan.

Jadi, belajar bagaimana berpikir lebih fleksibel sekarang akan membantu dalam jangka panjang.

Baca Juga: 5 Akun Instagram Keluarga Selebriti Indonesia yang Bisa Kita Follow

3. Punya Banyak Waktu untuk Berdekatan

belly-couple-expecting-208509 (1).jpg
Foto: belly-couple-expecting-208509 (1).jpg

Foto: pixabay.com

Setiap ibu baru selalu merasa harus berdekatan dengan si kecil sejak kelahirannya.

Padahal jika masalah medis berarti ibu tidak dapat melakukan kontak langsung dengan kulit, masih banyak waktu untuk berdekatan dengan si kecil hingga dirinya beranjak dewasa.

Baca Juga: Apa Saja Manfaat Kontak Mata dengan Bayi?

4. Cari Bantuan

Rumah Tangga Bermasalah, Perlukah Pergi ke Psikolog Pernikahan 02.jpg
Foto: Rumah Tangga Bermasalah, Perlukah Pergi ke Psikolog Pernikahan 02.jpg (happyrelationships.com)

Foto: shutterstock.com

Bicaralah dengan orang tua baru tentang apa yang diharapkan dan pahami bahwa orang memiliki reaksi berbeda terhadap pengalaman menjadi orang tua baru, kata Dr. Saxbe.

Mendengar bahwa beberapa kehamilan dan bayi berbeda dari kehamilan lain dan bayi sangat membantu. Plus, dukungan sosial penting dan terkait dengan penurunan risiko depresi pascapersalinan.

"Wanita tanpa dukungan sosial yang baik, terlepas dari status sosial ekonomi, berisiko mengalami stres," kata Dr. Douglas. Grup daring dapat sangat membantu untuk menormalkan perasaan dan pengalaman yang berkaitan dengan pengalaman menjadi ibu baru.

Ada banyak peluang dunia nyata untuk membangun ikatan. Latihan pralahir atau kelas mengasuh anak, kelas menyusui dan yoga hanyalah beberapa tempat di mana orang tua baru dapat terhubung secara langsung.

Baca Juga: Pemeriksaan Non Invasive Prenatal Test (NIPT), Perlu atau Tidak?

(TPW/DIN)

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.