14 Januari 2022

Ketahui Efektivitas Rapid Test: Antibodi, Swab Antigen, dan PCR

Tes antibodi adalah tes yang paling tidak akurat

Hingga saat ini, rapid test seperti swab antigen dan PCR masih sering dilakukan banyak orang. Efektivitas rapid test juga sebetulnya cukup baik, terutama PCR.

Tes antibodi sudah jarang digunakan karena kurang efektif.

Sementara itu, swab antigen biasanya hanya digunakan sebagai syarat untuk melakukan perjalanan.

Melakukan tes saat Moms merasakan gejala COVID-19 juga sangat dianjurkan.

Pasalnya, beberapa waktu belakangan ini kasus harian mulai kembali naik akibat munculnya varian baru, yaitu Omicron.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong agar dilaksanakan rapid test di berbagai daerah dengan cara menurunkan tarifnya.

Rapid test ini juga diharapkan untuk lebih banyak dilakukan di daerah dengan kasus yang tinggi seperti Jakarta.

Selain itu, karena harganya yang juga sudah turun, banyak masyarakat yang secara mandiri melakukan rapid test karena khawatir terpapar COVID-19.

Untungnya kini informasi mengenai efektivitas rapid test sudah banyak diketahui, sehingga tahu jenis tes yang sebaiknya dilakukan.

Baca Juga: Vaksin COVID-19 Dosis Ketiga untuk Umum Berbayar Mulai Januari 2022, Berapa Biayanya?

Jenis dan Efektivitas Rapid Test yang Ada Sekarang

Menurut akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dahulu juga merupakan Ketua Satgas Covid-19, Dr. dr. Rustamadji., M.Kes., menjelaskan bahwa rapid test dahulu terbagi menjadi dua jenis.

Jenis tersebut, yaitu rapid test antibodi dan rapid test antigen.

Keduanya digunakan sebagai langkah skrining awal dalam deteksi COVID-19.

Namun, tes ini bukan untuk mendiagnosis infeksi COVID-19 pada seseorang.

Menurutnya, rapid test tidak bisa digunakan untuk penegakan diagnosis COVID-19, akan tetapi mereka dilakukan hanya untuk pemeriksaan awal saja.

1. Rapid Test Antibodi

efektifitas rapid test
Foto: efektifitas rapid test

Foto: Orami Photo Stock

Kenyataannya kini test antibodi sudah jarang dilakukan karena efektivitas rapid test antibodi ini sangat kurang.

Rapid test antibodi umumnya lebih tepat digunakan untuk tujuan surveilans kesehatan masyarakat.

Misalnya, melihat kekebalan pada suatu kelompok atau komunitas.

Rapid test antibodi ini dilakukan berdasar pada terbentuknya antibodi yakni IgM dan IgG dalam tubuh seseorang.

Ini sebagai mekanisme proteksi terhadap serangan bakteri maupun virus.

Jadi, ia tidak bisa dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus.

Tes ini hanya mendeteksi antibodi dalam tubuh seseorang apakah pernah terinfeksi atau terpapar virus corona.

Jika ingin memastikan keberadaan virus di tubuh atau seseorang terinfeksi virus corona, maka perlu dilakukan uji swab.

Baca Juga: Mengenal Anosmia, Kondisi yang Termasuk dalam Gejala COVID-19

2. Rapid Test Antigen

Sementara itu untuk rapid test antigen, tes ini sebenarnya sedikit lebih efektif karena bisa mendeteksi antigen atau virus SAR-CoV-2.

Meski begitu, baik rapid test antibodi atau antigen hanya digunakan sebagai langkah skrining awal dan bukan pemeriksaan untuk mendiagnosis infeksi virus corona.

Tes antigen ini biasanya dianggap cepat, karena mereka hanya membutuhkan waktu 15 sampai 30 menit saja.

Namun, swab antigen masih kurang akurat jika dibandingkan dengan tes PCR.

Sebab, tes ini tidak seakurat tes PCR.

Jika hasil tes antigen negatif, penyedia layanan kesehatan akan merekomendasikan seseorang untuk melakukan tes PCR guna mengonfirmasi hasil tes negatif.

Swab antigen sebenarnya akan akurat jika digunakan dalam beberapa hari sejak gejala mulai muncul, yakni saat jumlah virus ada cukup banyak di tubuh.

Selain itu, tes ini juga bekerja dengan cara yang sama seperti tes PCR.

Petugas kesehatan akan mengusap bagian belakang hidung atau tenggorokan untuk mengumpulkan sampel pengujian (swab).

Nah, salah satu hal yang membedakan swab antigen dengan PCR adalah, Moms bisa mendapatkan hasil tes dalam waktu 1 jam saja atau bahkan lebih cepat lagi.

Baca Juga: Jangan Bingung, Ini Perbedaan Rapid Test Antibodi, Rapid Test Antigen, dan Swab PCR

Beberapa tes antigen juga bisa dilakukan langsung di penyedia layanan kesehatan, sehingga Moms tidak perlu pergi ke lab untuk melakukan pengujian.

Hasil positif palsu tidak mungkin terjadi dengan tes ini jika dilakukan dengan benar.

Namun, jika Moms memiliki gejala dan menerima hasil tes antigen negatif, Moms mungkin masih terkena COVID-19.

Nah, mungkin masih memerlukan tes PCR untuk mengonfirmasinya.

Secara keseluruhan, tes antigen menjadi tes skrining yang sangat baik untuk pasien dengan gejala awal penyakit.

Terutama di daerah yang sulit melakukan tes PCR dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendapatkan hasil.

Apalagi efektivitas rapid test satu ini juga dinilai cukup baik sehingga sangat disarankan untuk dilakukan.

Baca Juga: 11 Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak di Tengah Pandemi COVID-19

3. Swab PCR

efektifitas rapid test
Foto: efektifitas rapid test (Freepik.com)

Foto: Orami Photo Stock

Tes polymerase chain reaction (PCR) adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi materi genetik dari organisme tertentu, semisal virus.

Tes ini juga dianggap paling sensitif untuk mendeteksi adanya infeksi aktif dan hasilnya sangat akurat.

Jadi, efektivitas rapid test satu ini cukup baik.

Moms bisa melakukan tes PCR jika Moms dicurigai terinfeksi COVID-19 atau sebagai syarat perjalanan ke luar negeri.

Dibandingkan rapid test dan swab antigen, hasil swab PCR membutuhkan waktu yang lebih lama untuk hasilnya bisa diketahui, biasanya bervariasi dari beberapa jam hingga hari.

Baca Juga: 5 Syarat Penerbangan Terbaru, Tidak Perlu Lagi Tes PCR!

Arti dari Pemeriksaan Tes PCR

Nah, berikut ini adalah arti dari hasil pemeriksaan swab PCR:

Hasil Tes Positif

Maka kemungkinan besar Moms sudah terinfeksi COVID-19.

Jika Moms tidak memiliki gejala atau memiliki gejala yang ringan, maka sebaiknya Moms melakukan isolasi mandiri.

Moms bisa melakukannya di rumah atau di tempat yang telah ditunjuk oleh pemerintah setempat.

Hasil Tes Negatif

Kemungkinan Moms tidak terjangkit COVID-19 saat sedang menjalankan tes.

Namun, ada pula kemungkinan Moms sudah terinfeksi SARS-CoV-2, tetapi tidak memiliki cukup virus di tubuh untuk dideteksi oleh tes.

Hal ini bisa terjadi jika Moms baru saja terinfeksi tetapi belum menunjukkan gejala.

Bisa juga terjadi jika Moms megidap COVID-19 selama lebih dari seminggu sebelum akhirnya diuji.

Baca Juga: Deretan Artis Korea yang Positif COVID-19, Ada Ji Chang-wook Hingga Minhyuk "BTOB"

Untuk bisa menekan penyebaran virus corona, masyarakat harus selalu mematuhi protokol kesehatan.

Caranya dengan konsisten untuk selalu memakai masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, mencuci tangan dengan sabun, serta menerapkan etika saat bersin.

Selain itu, menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Dengan begitu, diharapkan dapat memutus mata rantai penularan COVID-19 di Indonesia.

  • https://linksehat.com/artikel/ini-perbedaan-dan-efektivitas-rapid-test-swab-antigen-dan-pcr
  • https://www.ugm.ac.id/id/berita/19667-pakar-ugm-jelaskan-efektivitas-rapid-test
  • https://edukasi.kompas.com/read/2020/07/05/135811471/akademisi-ugm-seperti-ini-efektivitas-rapid-test?page=all

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.