Parenting Islami

PARENTING ISLAMI
20 Januari 2021

Ini Hukum Istri Berbohong pada Suami dalam Islam, Wajib Tahu!

Bagaimana hukumnya saat istri berbohong pada suami?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apakah Moms pernah berbohong pada Dads? Kira-kira, apa hukum istri berbohong pada suami?

Sepertinya tidak ada yang tidak pernah berbohong di dunia ini. bahkan, sebuah studi yang dilakukan oleh sosiolog di University of Virginia Bella DePaulo menyatakan, beberapa kebohongan perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

“Berbohong cukup umum dilakukan dalam sebuah hubungan,” kata psikolog klinis berlisensi yang berbasis di Manhattan, Joseph Cilona, PsyD, dikutip Verywell Mind.

Namun, itu semua tergantung pada seberapa besar kebohongan tersebut dan alasan mengapa seseorang mengatakannya, dilansir Womens Health

Hal tu juga ditegaskan dalam islam. Berkata dusta atau bohong termasuk di antara perkara yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul SAW. Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS At-Taubah: 119).

Dapat dipahami dari ayat di atas larangan untuk menjadi atau bersama dengan orang-orang yang berkata dusta atau bohong. Pada hakikatnya, bebohong itu itu hukumnya haram. Semuanya mengarah pada kemaksiatan.

Namun, bagaimana hukum istri berbohong pada suami?

Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Anak Kecil Mulai Suka Berbohong

Dalil Hukum Istri Berbohong pada Suami

Hukum Istri Berbohong pada Suami dalam Islam -1

Foto: Orami Photo Stock

Hukum istri berbohong pada suami pada dasarnya termasuk sebuah dosa. Meski begitu, ternyata ada kebohongan yang diperbolehkan, salah satunya saat istri sholehah berbohong pada suaminya.

Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah RA, beliau berkata, “Tidaklah aku mendengar Rasulullah SAW memberikan keringanan sedikit pun berkaitan dengan perkataan dusta kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah SAW mengatakan,

“Tidaklah termasuk bohong: Jika seseorang (berbohong) untuk mendamaikan di antara manusia, dia mengatakan suatu perkataan yang tidaklah dia maksudkan kecuali hanya untuk mengadakan perdamaian (perbaikan); Seseorang yang berkata (bohong) ketika dalam peperangan; dan seorang suami yang berkata kepada istri dan istri yang berkata kepada suami.” (HR. Abu Dawud no. 4921).

Dalam masalah ini, terdapat hadis khusus yang diriwayatkan dari ‘Atha bin Yasar, beliau berkata: “Ada seseorang yang datang menemui Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku berdosa jika aku berdusta kepada istriku?”

Nabi SAW menjawab: Tidak boleh, karena Allah Ta’ala tidak menyukai dusta.”

Orang tersebut bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, (dusta yang aku ucapkan itu karena) aku ingin berdamai dengan istriku dan aku ingin senangkan hatinya.”

Nabi SAW menjawab: “Tidak ada dosa atasmu.” (HR. Al-Humaidi dalam Musnad-nya no. 329. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 498)

Baca Juga: 12 Kewajiban Suami Terhadap Istri dalam Islam, Wajib Tahu!

Dari hadis ini, terlihat ada hukum istri berbohong pada suami atau sebaliknya yang diperbolehkan. Dusta yang diperbolehkan adalah ketika seorang suami ingin menyenangkan istri yang sedang marah dan menghibur hatinya. Artinya, tidak semua dusta diperbolehkan.

Perkataan Nabi SAW di atas menunjukkan bahwa dusta kepada istri atau kepada suami hukum asalnya tetap haram, namun terdapat pengecualian sebagaimana dalam kasus yang disebutkan, yaitu dusta untuk mendamaikan hati istri dan menyenangkan atau menghibur hatinya.

Misalnya, suami berkata “Sayang, Engkau adalah perempuan tercantik di dunia, kalau sayang ngambek tidak jadi cantik.” Padahal faktanya, istrinya bukanlah perempuan tercantik di dunia. Jadi, boleh seorang suami memuji istri dengan pujian yang dusta karena menghilangkan rasa marah sang istri.

Hal ini sebagaimana penjelasan An-Nawawi Asy-Syafi’i ketika menjelaskan hadis ini. “Adapun dusta dan bohong kepada sang istri, yang dimaksud adalah (dusta) untuk menampakkan besarnya rasa cinta atau janji yang tidak mengikat, atau semacam itu.

Adapun berbohong (menipu) dalam rangka menahan (tidak menunaikan) apa yang menjadi kewajiban suami atau istri, atau mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak suami atau istri, maka ini haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.” (Syarh Shahih Muslim, 16: 135)

Baca Juga: Wah, Balita Tahu Jika Orang Tuanya Berbohong!

Bentuk Bohong yang Diperbolehkan Bagi Suami atau Istri

Hukum Istri Berbohong pada Suami dalam Islam -2

Foto: Orami Photo Stock

Melihat dalil-dalil di atas, meski hukum istri berbohong pada suami atau sebaliknya haram tapi ada yang diperbolehkan, ada beberapa bentuk contoh kebohongan yang baik tersebut seperti dilansir Islampos.

Misalnya, kebohongan untuk menumbuhkan cinta kasih. Misalnya suami hanya mendapatkan nafkah seadanya lalu istrinya mengatakan bahwa nafkah itu cukup supaya suami tidak putus asa, atau mengatakan ridha atas semua perbuatan suaminya agar dia tidak marah, dan lainnya.

Atau saat berbohong untuk menutupi aib di masa lalu. Misalnya suaminya meminta dia untuk menceritakan mantan pacar atau suaminya maka sang istri boleh menutupi aib dirinya dan berbohong bahwa suami lah laki-laki yang paling mencintai dan menyayanginya dan tidak pernah ada lelaki lain di hatinya. Sebab, pasangan suami istri dilarang mengungkap aib-aib masa lalu yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga.

Adapun kebohongan yang tidak diperbolehkan dalam rumah tangga adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawi, yakni “…bohong untuk saling menipu dan menghindar dari tanggung jawab atau untuk mengambil yang bukan haknya termasuk kebohongan yang diharamkan dalam ijma’ ulama.”

Misalnya, istri berbohong bahwa dirinya sakit agar suami tidak meminta haknya di malam hari, atau dia berbohong tidak melakukan perbuatan yang dibenci suaminya misalnya bertemu teman yang tidak disukainya, atau berbohong telah mengerjakan ini dan itu padahal ia tidak melakukannya, dan sebagainya.

Itulah hukum istri berbohong pada suami. Meski pada dasarnya istri yang berbohong pada suami hukumnya haram, namun jika untuk kebaikan bersama ternyata diperbolehkan. Asal tidak terlalu sering ya Moms.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait