16 Juni 2023

Impulsif: Contoh, Penyebab, Dampak, dan Cara Mengontrolnya

Impulsif adalah perilaku bertindak cepat tanpa memikirkan konsekuensinya

Impulsif adalah perilaku ketika Moms bertindak cepat tanpa memikirkan konsekuensinya.

Tidak ada hal lain yang terlintas di pikiran Moms selain keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.

Apakah Moms pernah merasakan kondisi tersebut?

Jika ya, tenang, Moms tidak sendiri. Sebagian orang pasti pernah melakukannya juga.

Baca Juga: 8 Cara Meredakan Emosi yang Meningkat dan Berlebihan

Impulsif Tidak Selalu Berarti Gangguan Mental

Perilaku Emosional
Foto: Perilaku Emosional (Pexels.com/Engin Akyurt)

Perilaku impulsif tak selalu berarti gangguan mental.

Meski begitu, terkadang perilaku ini merupakan bagian dari adanya gangguan kontrol pada keinginan atau gangguan kesehatan mental lainnya.

Perilaku ini bisa jadi gangguan mental apabila seseorang mengalami hal-hal sebagai berikut:

Walau begitu, pastikan Moms tidak mendiagnosis gangguan kesehatan mental tanpa mengonsultasikannya terlebih dahulu ke ahlinya, ya!

Baca Juga: Binge Eating Disorder: Gejala dan Penyebab Masalah Ini

Contoh Perilaku Impulsif

Curhat dengan Teman
Foto: Curhat dengan Teman (Pexels.com/Rodnae Productions)

Perilaku impulsif ditandai dengan tindakan secara spontan dan tidak ada pertimbangan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi dirinya sendiri maupun orang lain.

Seseorang dengan perilaku ini cenderung hanya memikirkan kejadian saat ini.

Berikut ini contoh perilaku impulsif yang harus Moms waspadai, yakni:

1. Pembelian yang Tidak Direncanakan

Seseorang yang impulsif mungkin menghabiskan uang dengan cepat dan tidak terkontrol.

Misalnya dengan membeli barang mewah atau melakukan perjalanan impulsif tanpa mempertimbangkan keuangan mereka.

Biasanya tindakan ini hanya karena terpengaruh iklan atau tawaran diskon.

2. Makan Berlebihan

Orang yang cenderung bersikap impulsif bisa saja makan berlebihan tanpa memperhatikan keseimbangan nutrisi atau rasa kenyang.

Mereka mungkin makan dengan cepat dan memilih makanan yang tidak sehat hanya karena mengikuti keinginan instan.

3. Menunjukkan Ledakan Emosional

Ketika seseorang memiliki kecenderungan impulsif, mereka dapat meledak secara emosional dalam situasi yang memicu frustrasi atau kemarahan.

Mereka mungkin tidak mempertimbangkan akibat jangka panjang dari tindakan mereka dan bereaksi tanpa berpikir terlebih dahulu.

4. Perilaku Menghancurkan Barang

Ini berkaitan dengan poin sebelumnya. Bisa jadi orang yang impulsif saat emosinya meledak, akan menghancurkan barang-barang saat sedang marah

5. Terlibat dalam Hubungan Asmara tanpa Pikir Panjang

Seseorang yang impulsif mungkin cenderung terlibat dalam hubungan asmara yang tidak sehat atau tidak stabil.

Mereka cenderung mengambil keputusan cepat tanpa mempertimbangkan keselamatan emosional dan kesejahteraan mereka sendiri.

6. Sembarangan Melakukan Hubungan Seksual

Beberapa orang dengan kecenderungan impulsif mungkin terlibat dalam perilaku seksual yang berisiko.

Seperti berhubungan seks tanpa perlindungan atau terlibat dalam perilaku seksual yang tidak aman secara emosional.

7. Sering Mendadak Berganti atau Berpindah Pekerjaan

Seseorang dengan kecenderungan impulsif dapat memutuskan untuk mengubah pekerjaan atau karier tanpa mempertimbangkan secara menyeluruh konsekuensi atau dampak jangka panjang dari keputusan tersebut.

8. Oversharing

Seseorang yang cenderung impulsif dapat berbagi detail pribadi atau intim dengan orang lain, sering kali tanpa sengaja.

9. Menyela Orang Lain saat Berbicara

Seseorang yang impulsif mungkin sering kali tidak sabar saat berbicara dengan orang lain dan cenderung memotong pembicaraan orang lain, tidak memberikan kesempatan untuk orang lain menyelesaikan kalimat atau menyampaikan pendapat mereka.

10. Menghindari serta Menunda Tugas dan Tanggung Jawab

Orang yang impulsif mungkin cenderung mengabaikan tugas penting atau tanggung jawab yang harus mereka lakukan.

Seperti pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, atau tugas sekolah, karena lebih tertarik pada kesenangan instan atau kegiatan lain yang lebih menghibur.

Selain menghindar, mereka juga menundanya. Termasuk menunda menyelesaikan masalah, seperti konflik interpersonal yang sulit.

11. Mendadak Mengubah Rencana

Orang yang impulsif dapat merasa sulit untuk tetap berpegang pada rencana.

Mereka sering mengubah atau membatalkan rencana di saat-saat terakhir.

12. Mengemudi Secara Agresif

Contoh perilaku mengemudi yang impulsif, seperti melampaui batas kecepatan, mengubah jalur dengan tiba-tiba, atau memotong kendaraan lain tanpa memperhatikan keselamatan.

13. Menyakiti Diri Sendiri

Pada tahap ekstrem, seseorang yang impulsif dapat melukai diri sendiri saat merasa kesal atau kewalahan.

Baca Juga: Gangguan Kesehatan Mental Remaja, Kenali Gejalanya dari Perubahan Emosi dan Perilaku Anak

Penyebab Perilaku Impulsif

Hobi Belanja
Foto: Hobi Belanja (Pexels.com/Tim Douglas)

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang berperilaku impulsif. Berikut ini penyebab yang bisa dipahami.

1. Faktor Genetik dan Biologis

Ada komponen genetik dalam kecenderungan perilaku impulsif.

Beberapa orang mungkin memiliki predisposisi genetik yang membuat mereka rentan terhadap perilaku impulsif.

2. Gangguan Kesehatan Mental

Beberapa gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kepribadian borderline, ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder), gangguan bipolar, atau gangguan kontrol impulsif, dapat berkontribusi pada perilaku impulsif.

3. Gangguan pada Otak

Ketidakseimbangan neurotransmitter dalam otak dan gangguan fungsi eksekutif dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengendalikan impuls.

Studi di International Journal of High Risk Behaviors and Addiction menunjukkan bahwa perilaku ini ada hubungannya dengan lobus prefrontal.

Ini adalah bagian otak besar yang terletak di bagian depan.

Penelitian lain di jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience menunjukkan bahwa impulsif berhubungan degan konektivitas di dalam otak.

Meski begitu, para peneliti masih harus melakukan studi lebih lanjut untuk memastikan hal-hal tersebut di atas.

Hal ini bertujuan untuk memahami sepenuhnya hubungan antara impulsif dan kepribadian, konektivitas otak, fungsi otak, dan kondisi fisik secara keseluruhan.

Misalnya saja, lesi otak dan stroke yang juga bisa menimbulkan gejala seperti perilaku impulsif.

4. Lingkungan dan Pengalaman Masa Lalu

Lingkungan sosial dan pengalaman masa lalu juga dapat memainkan peran dalam perilaku impulsif.

Misalnya, ketidakstabilan keluarga, pengalaman traumatis, atau paparan pada lingkungan yang merangsang dan mendorong tindakan impulsif dapat memengaruhi kecenderungan seseorang untuk menjadi impulsif.

5. Lemahnya Pengendalian Diri

Beberapa orang mungkin mengalami kesulitan dalam mengembangkan keterampilan pengaturan diri yang memadai.

Keterbatasan ini dapat meliputi kesulitan mengelola emosi, mengatur dorongan-dorongan instan, atau merencanakan keputusan dengan matang sebelum bertindak.

6. Stres dan Tekanan

Tingkat stres yang tinggi dan tekanan hidup yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengendalikan impuls.

Saat seseorang merasa tertekan atau menghadapi situasi yang menantang, mereka mungkin cenderung bereaksi secara impulsif sebagai mekanisme penyaluran emosi atau sebagai upaya untuk mengurangi tekanan.

7. Konsumsi Zat Adiktif

Penggunaan zat adiktif, seperti alkohol, obat-obatan terlarang, atau obat-obatan resep yang disalahgunakan, dapat mempengaruhi kontrol impuls.

Zat-zat tersebut dapat mengubah persepsi dan menurunkan pengendalian diri, menyebabkan perilaku impulsif yang tidak biasa atau berbahaya.

8. Keterbatasan Kognitif

Beberapa individu dengan keterbatasan kognitif atau gangguan perkembangan mungkin mengalami kesulitan dalam mengendalikan impuls.

Keterbatasan dalam pemahaman, perencanaan, dan pemrosesan informasi dapat menyulitkan mereka untuk melibatkan diri dalam tindakan yang terencana dan terkendali.

Baca Juga: 6+ Cara Berdamai dengan Diri Sendiri, Bikin Jiwa dan Pikiran Tenang!

Hal yang Terjadi dalam Tubuh Seseorang yang Berperilaku Impulsif

Perilaku Konsumtif
Foto: Perilaku Konsumtif (Pexels.com/Ron Lach)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perilaku impulsif cenderung bertindak cepat dan tidak memikirkan konsekuensi atas tindakan yang dilakukan.

Hal ini tentu menimbulkan perubahan pada hormon hingga perilaku yang beragam.

Lalu, apa yang terjadi jika Moms berperilaku seperti itu? Berikut penjelasannya.

1. Peptida Impulsif

Secara khusus, para ilmuwan menemukan peptida yang disebut hormon konsentrasi melanin (MCH).

Dalam studi di jurnal BMC Neurosciences, telah mengaitkan peptida ini dengan perilaku kecanduan obat dan makanan.

MCH adalah sebuah neurotransmitter yang diproduksi di hipotalamus dan juga berkaitan dengan perubahan suasana hati, keseimbangan energi, dan siklus tidur-bangun.

Para ilmuwan melakukan berbagai percobaan pada tikus untuk menguji peran MCH dalam perilaku impulsif.

Dalam percobaan pertama, mereka memberi tikus sebuah tuas.

Ketika tikus menekannya, mereka menerima pelet makanan, tetapi hadiahnya hanya tersedia setiap 20 detik.

Jika tikus menekan tuas sebelum 20 detik, jam akan menyala kembali dan mereka harus menunggu MCH lebih ke dalam otaknya.

2. Mempengaruhi Bagian Hipotalamus dan Hipokampus

Dalam jurnal Neuron disebutkan, para ilmuwan mendapat gambaran tentang jalur saraf yang terlibat dengan memindai otak hewan pengerat.

MCH atau hormon konsentrasi melanin yang berjalan dari hipotalamus lateral ke hipokampus ventral tampak menjadi kuncinya.

Hipotalamus lateral terlibat dalam berbagai fungsi, termasuk perilaku makan.

Sementara itu, hipokampus ventral dikaitkan dengan stres, suasana hati, dan emosi.

Baca Juga: Kapan Harus ke Psikiater? Ini 9 Tanda Harus Konsultasi Secepatnya

Dampak Perilaku Impulsif

Stres
Foto: Stres (Orami Photo Stocks)

Perilaku impulsif dapat memiliki dampak yang signifikan, baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi lingkungan sekitarnya.

Beberapa dampak dari perilaku tersebut antara lain:

1. Masalah Keuangan

Kebiasaan pengeluaran uang secara impulsif dapat mengakibatkan masalah keuangan serius.

Orang yang impulsif cenderung menghabiskan uang dengan cepat tanpa mempertimbangkan anggaran atau kebutuhan yang sebenarnya.

Sehingga mereka dapat mengalami utang yang menumpuk dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar.

2. Konflik Hubungan Interpersonal

Perilaku impulsif dapat menyebabkan konflik dan ketegangan dalam hubungan dengan orang lain.

Misalnya, penyelaan saat berbicara, reaksi marah yang berlebihan, atau keputusan yang tergesa-gesa dapat merusak hubungan dan memunculkan ketidakpercayaan.

3. Menimbulkan Masalah Kesehatan Mental

Perilaku impulsif sering kali dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, seperti gangguan kepribadian borderline, ADHD, atau gangguan bipolar.

Perilaku impulsif yang tidak terkendali dapat menyebabkan stres, kecemasan, depresi, dan kesulitan mengatur emosi.

4. Rendahnya Pencapaian Tujuan

Kebiasaan impulsif dapat menghambat seseorang dalam mencapai tujuan jangka panjang.

Ketika keputusan diambil secara tiba-tiba tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang, orang tersebut mungkin melewatkan kesempatan atau mengalami kegagalan dalam mencapai hal-hal yang diinginkan.

5. Keselamatan dan Kesehatan Fisik yang Terancam

Perilaku impulsif dapat mengancam keselamatan dan kesehatan seseorang.

Contohnya, mengemudi dengan cara agresif atau mengambil risiko yang tidak perlu dalam situasi berbahaya dapat menyebabkan kecelakaan serius atau cedera fisik.

6. Ketidakstabilan Emosional

Perilaku impulsif sering kali dikaitkan dengan ketidakstabilan emosional yang tinggi.

Orang yang terbiasa berperilaku impulsif mungkin mengalami fluktuasi emosi yang intens, seperti kemarahan yang meledak-ledak, kesedihan yang mendalam, atau perasaan kekosongan yang persisten.

7. Penyalahgunaan Zat

Individu dengan perilaku impulsif cenderung lebih rentan terhadap penyalahgunaan zat.

Penggunaan alkohol, obat-obatan, atau narkoba dapat menjadi bentuk pelarian atau cara mengatasi emosi yang tidak terkendali, namun hal ini dapat memperburuk masalah kesehatan mental dan menyebabkan kerusakan fisik.

8. Kesulitan dalam Membangun dan Mempertahankan Komitmen

Perilaku impulsif sering kali membuat seseorang sulit untuk membangun dan mempertahankan komitmen jangka panjang.

Keputusan yang sering berubah-ubah dapat mengganggu stabilitas hubungan, karier, atau proyek yang sedang dikerjakan.

Cara Mengontrol Perilaku Impulsif

Menyayangi Diri Sendiri
Foto: Menyayangi Diri Sendiri (Orami Photo Stocks)

Bagaimana pendekatan perilaku ini tergantung pada penyebabnya.

Dalam banyak kasus, orang dengan perilaku impulsif tidak bersalah.

Mereka juga mungkin tidak memiliki kemampuan untuk berubah.

Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengontrol perilaku ini.

1. Meningkatkan Kesadaran diri dan Hindari Pemicu

Penting untuk mengembangkan kesadaran diri tentang pola perilaku ini dan mengenali tanda-tanda ketika impuls muncul.

Ketahui pemicu-pemicu yang memicu perilaku impulsif dan berusaha mengenali perubahan emosi atau pikiran yang mendorong reaksi mendadak.

Jika Moms tahu bahwa suatu lingkungan atau situasi dapat memicu perilaku ini, usahakan untuk mengubahnya atau menghindarinya untuk mengurangi risiko tergelincir ke dalam keputusan tiba-tiba.

2. Belajar Mengendalikan Diri

Coba lakukan teknik pengaturan diri, seperti teknik pernapasan dalam, meditasi, atau visualisasi.

Praktik latihan relaksasi dan pemusatan pikiran dapat membantu menenangkan diri dan mengurangi impuls yang kuat.

3. Berpikir Rasional dan Pertimbangan Konsekuensi

Ketika impuls muncul, berhentilah sejenak dan pikirkan dengan rasional tentang konsekuensi jangka panjang dari tindakan tersebut.

Pertimbangkan apa yang akan terjadi jika memutuskan untuk bertindak secara impulsif dan apakah itu sesuai dengan tujuan jangka panjang Anda.

4. Membuat Rencana dan Menjaga Rutinitas

Membuat rencana yang terstruktur dan menjaga rutinitas dapat membantu mengurangi impulsivitas.

Menentukan tujuan jangka panjang dan membuat langkah-langkah konkret untuk mencapainya dapat membantu mengarahkan energi dan tindakan pada hal-hal yang lebih bermanfaat dan lebih terencana.

5. Mencari Dukungan Sekitar

Dukungan dari orang-orang terdekat dapat menjadi sumber kekuatan dalam mengatasi perilaku impulsif.

Bicarakan dengan keluarga, teman, atau profesional kesehatan mental yang dapat memberikan perspektif, nasihat, atau bantuan praktis dalam mengendalikan impuls.

6. Menggunakan Strategi Pengambilan Keputusan yang Terencana

Ketika dihadapkan pada keputusan penting, gunakan strategi pengambilan keputusan yang terencana.

Buat daftar pro dan kontra, pertimbangkan semua opsi yang tersedia, dan berikan diri Moms waktu untuk memikirkan keputusan dengan lebih matang.

7. Latihan Toleransi Frustasi

Keterampilan mengatasi frustrasi dapat membantu mengendalikan perilaku impulsif.

Latihlah diri Moms untuk menunda kepuasan sejenak dan menghadapi ketidaknyamanan atau kegagalan.

Pelajari cara menghadapi situasi yang menimbulkan ketegangan emosional tanpa bereaksi secara mendadak.

Baca Juga: 10 Cara Hadapi Pasangan Boros, Perlukah Konseling?

Waktu Tepat Berkonsultasi ke Profesional

Ilustrasi Konsultasi Psikolog
Foto: Ilustrasi Konsultasi Psikolog (Orami Photo Stocks)

Perilaku impulsif dapat menyebabkan hal tidak pantas dengan konsekuensi yang berpotensi serius.

Penelitian di International Journal of High Risk Behaviors and Addiction menunjukkan hubungan antara perilaku impulsif dan tingginya keinginan untuk bunuh diri.

Biasanya, hal ini terjadi pada orang yang memiliki gangguan kepribadian ambang, penyalahgunaan narkoba, episode manik, dan episode depresi.

Selain itu, juga ada hubungan antara impulsif dan perilaku kekerasan.

Jika mengetahui adanya kemungkinan tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog.

Beberapa pilihan perawatan pasien dengan perilaku impulsif, yaitu terapi perilaku kognitif (CBT), terapi perilaku dialektis (DBT), biofeedback, dan terapi kognitif berbasis mindfulness (MBCT).

Baca Juga: 10 Urutan Zodiak Paling Boros yang Sulit Mengelola Uang

Jika Moms mengalami beragam contoh perilaku yang disebutkan di atas dan merasa hal tersebut sudah mengkhawatirkan, jangan ragu untuk langsung berkonsultasi dengan ahlinya agar bisa mendapatkan penanganan dengan segera.

  • https://www.nature.com/articles/s41467-019-12895-y
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4080475/
  • https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnbeh.2014.00156/full
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC201018/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2822727/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4080475/
  • https://www.forbes.com/health/mind/what-is-impulsive-behavior/
  • https://www.talkspace.com/blog/impulsive-behavior/
  • https://www.verywellmind.com/impulsive-behavior-and-bpd-425483
  • https://www.healthline.com/health/mental-health/impulsive-behavior
  • https://www.webmd.com/mental-health/what-is-impulsivity

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.