05 Juli 2022

Mengenal Superiority Complex, Saat Seseorang Merasa Dirinya Paling Unggul

Faktanya, ini lebih sering terjadi untuk menyembunyikan rasa rendah diri

Superiority complex adalah suatu perilaku yang menunjukkan seseorang percaya bahwa mereka lebih unggul dari orang lain.

Orang dengan kondisi ini sering memiliki pendapat berlebihan tentang diri mereka sendiri. Mereka mungkin percaya bahwa kemampuan dan pencapaian mereka melebihi orang lain.

Namun, superiority complex mungkin sebenarnya dimaksudkan untuk menyembunyikan harga diri rendah atau rasa rendah diri.

Mengutip American Psychological Association, psikolog Alfred Adler pertama kali menggambarkan bahwa superiority complex dalam karyanya di awal abad ke-20.

Dia menguraikan bahwa kondisi ini bisa saja merupakan mekanisme pertahanan untuk rasa ketidakmampuan akan suatu hal yang sedang diperjuangkan.

Singkatnya, orang dengan superiority complex seringkali memiliki sikap sombong terhadap orang-orang di sekitar mereka.

Namun, ini hanyalah cara untuk menutupi perasaan gagal atau kekurangan yang mereka miliki.

Baca Juga: Cegah Masalah Perilaku Anak Sebelum Terjadi, Begini Caranya!

Ciri-ciri Superiority Complex

Ada banyak ciri-ciri superiority complex pada seseorang yang bisa Moms kenali. Beberapa ciri-ciri superiority complex antara lain:

1. Terus Mencari Validasi

superiority complex
Foto: superiority complex

Foto: superior complex (glints.com)

Ketika seseorang memiliki superiority complex, rasa harga diri mereka akan datang dari sumber eksternal.

Mereka hanya merasa cukup baik atau cukup layak jika orang lain melihat mereka seperti itu.

Mereka kerap melebih-lebihkan pencapaian dan pendapat mereka karena mereka tidak dapat meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka layak dan telah cukup berprestasi dalam hidup mereka.

Sayangnya, satu komentar yang memvalidasi tidak akan dapat mempertahankannya lama. Jadi mereka tidak pernah benar-benar bahagia dengan diri mereka sendiri terlalu lama.

2. Sulit untuk Mengakui Kesalahan Mereka

Orang-orang yang bertindak seolah-olah mereka lebih unggul dari orang lain mengalami kesulitan, atau menolak mentah-mentah, untuk bertanggung jawab atas perilaku buruk mereka.

Mereka cenderung percaya bahwa mereka selalu benar, dan tidak mau mempertimbangkan pendapat yang berlawanan dari orang lain.

Mereka bahkan mungkin marah ketika seseorang menentang mereka.

Ketika seseorang tidak berdamai dengan siapa diri sebenarnya, kecenderungannya adalah bersembunyi di balik versi "sempurna" dirinya yang menurut seseorang tersebut akan disukai orang lain.

Sebab dengan mengakui kesalahan, seseorang berarti mengakui bahwa dirinya tidak sempurna.

3. Sering Membandingkan Diri Mereka dengan Orang Lain

Sudah menjadi sifat manusia untuk membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain.

Namun, orang-orang dengan superiority complex melakukannya terus-menerus karena rasa harga diri mereka didasarkan pada bagaimana mereka memandang orang lain.

Orang-orang ini menunjukkan sifat merendahkan tetapi sering bertindak seperti ini untuk menyembunyikan perasaan insekuritas dan rendah diri mereka yang sebenarnya.

Ketika orang lain membuat mereka merasa seolah-olah mereka kurang dalam beberapa hal, mereka lebih cenderung menonjolkan diri dan bertindak seolah-olah mereka di atas orang lain.

Baca Juga: Yuk! Kenali Gejala hingga Faktor Penyebab Perilaku Impulsif

4. Rentan Terhadap Perubahan Suasana Hati

superiority complex
Foto: superiority complex

Foto: perubahan suasana hati (Orami Photo Stock)

Ketika seseorang memiliki superiority complex, ia tidak selalu dapat mengantisipasi bagaimana mereka akan bertindak.

Bagi satu orang, mereka mungkin baik-baik saja dan mudah bergaul, dan bagi orang lain, mereka mungkin menunjukkan perilaku yang buruk.

Dalam hidup mereka yang memiliki superiority complex, interaksi mereka hanya sebatas pada upaya untuk membuktikan kepada orang lain bahwa mereka lebih unggul.

Karena itu, mereka mungkin rentan terhadap perubahan suasana hati.

Jika mereka menemukan seseorang yang membuat mereka merasa terancam, mereka mungkin berubah dari merasa sepenuhnya rendah diri menjadi meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka lebih unggul.

Karena itu, Moms tidak selalu bisa mengantisipasi bagaimana mereka akan berperilaku.

5. Mereka Selalu Merasa Memiliki Hak

Orang dengan kondisi ini kerap percaya bahwa orang lain berada di bawah mereka.

Sering kali, jenis pemikiran ini berkembang dari kecil, karena pengaruh pola asuh atau lingkungan.

Mereka belajar sejak dini bahwa mereka dapat memperlakukan setiap individu seperti yang mereka inginkan, dan mendapatkan apa yang mereka inginkan.

6. Menginginkan Agar Semuanya Berada di Bawah Kendali Mereka

Jika Moms berada di sekitar seseorang yang memiliki superiority complex, dan Moms tidak bertindak seperti yang mereka harapkan, mereka mungkin akan menjadi jahat.

Itu karena mereka suka menjadi benar, dan mereka menyukai perasaan saat bisa memegang kendali.

Ketika seseorang tidak bertindak dengan cara yang mereka inginkan, mereka mungkin menjadi lebih buruk.

Mereka mungkin terlibat konflik dengan rekan kerja karena hal-hal kecil, dan ada kemungkinan besar mereka bukan anggota tim yang baik.

Orang-orang dengan kondisi ini cenderung mencari posisi kepemimpinan di tempat kerja karena membantu memvalidasi mereka.

7. Mereka Tersinggung Jika Tidak Mendapatkan Umpan Balik Positif

Seperti yang bisa Moms tebak, orang dengan superiority complex tidak terlalu suka dikritik.

Faktanya, mereka tidak ingin mendengar apa pun selain umpan balik positif.

Bahkan mungkin merasa dikritik jika Moms memberi mereka umpan balik yang netral.

Seringkali individu dengan superiority complex tidak mendapatkan validasi dari orang tua mereka sebagai pribadi yang berharga, melainkan mereka hanya diberi perhatian ketika lebih baik dari yang lain atau berhasil menjadi yang terbaik.

Mereka sekarang secara tidak sadar memerankan kembali dinamika dengan orang tua mereka ketika sudah berusia lebih dewasa.

Baca Juga: Mengenal Sikap Fanatisme yang Bisa Jadi Ciri Gangguan Kejiwaan

Penyebab Superiority Complex

superiority complex
Foto: superiority complex

Foto: penyebab superiority complex (Orami Photo Stock)

Sayangnya tidak jelas mengapa ada orang yang mengembangkan kondisi ini. Berbagai situasi atau insiden mungkin menjadi penyebab utama.

Misalnya, ini mungkin hasil dari beberapa kegagalan. Seseorang mencoba untuk menyelesaikan tujuan tertentu atau mencapai hasil yang diinginkan, tetapi mereka tidak berhasil.

Mereka belajar menangani kecemasan dan stres akibat kegagalan dengan berpura-pura berada di atasnya.

Jika mereka merasa terlindungi dari kegagalan mereka dengan cara ini, mereka mungkin mengulanginya di masa depan.

Singkatnya, mereka belajar melepaskan diri dari perasaan tidak mampu dengan membual dan berpura-pura lebih baik dari orang lain.

Namun, bagi orang-orang di sekitarnya, perilakunya ini mungkin terlihat sombong dan arogan.

Perilaku tersebut bisa dimulai sejak usia dini.

Ketika seorang anak belajar untuk mengatasi tantangan dan perubahan, mereka mungkin belajar untuk menekan perasaan tidak mampu atau takut.

Atau kondisi ini juga bisa berkembang seiring bertambahnya usia.

Sebagai remaja dan orang dewasa, seseorang memiliki banyak kesempatan untuk mencoba hal-hal baru.

Jika situasi ini tidak berhasil dikontrol, seseorang dapat mengembangkan superiority complex untuk mengatasi perasaan terisolasi atau kurang.

Baca Juga: Sering Tak Disadari, Berikut Sikap Pria yang Bisa Bikin Wanita "Ilfeel"

Cara Mengatasi Superiority Complex

superiority complex
Foto: superiority complex

Foto: konsultasi ke psikolog (Orami Photo Stock)

Sayangnya superiority complex tidak memiliki perawatan standar. Itu karena kondisi ini tidak dianggap sebagai diagnosis resmi.

Namun, profesional kesehatan atau penyedia perawatan kesehatan mental dapat membuat rencana perawatan.

Rencana ini dapat membantu pengidapnya memahami masalah yang mendasari perilaku sombong tersebut. Ini pada akhirnya akan membantu pengidapnya belajar menanganinya dengan cara yang lebih baik.

Banyak orang memiliki perasaan rendah diri dan menghadapi kemunduran. Begitulah cara seseorang belajar menghadapi hal-hal yang pada akhirnya membentuk kesehatan mental.

Seorang ahli, seperti psikolog, dapat membantu pengidapnya belajar menemukan solusi daripada menciptakan persona ketika ia merasa tertekan.

Terapi bicara adalah pengobatan umum untuk kondisi ini. Dalam sesi pribadi, seorang psikolog atau terapis dapat membantu menilai dilema dengan benar.

Pasien kemudian dapat membuat respons yang lebih sehat. Ketika ia merasa tertekan di masa depan, ia dapat menggunakan taktik tersebut untuk membantu mengatasi perasaan lemah.

Baca Juga: 8 Jenis Penyakit Psikologi atau Gangguan Mental yang Perlu Dipahami

Memiliki kompleks superioritas tidak selalu membuat seseorang menjadi orang jahat. Seperti yang dikatakan sebelumnya, kondisi ini biasanya akibat dari rasa sakit emosional.

Bagi sebagian orang, terapi dapat membantu mereka mengatasi perasaan rendah diri sehingga mereka tidak harus bertindak dengan cara yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Ingat, sangat mungkin untuk mengatasi perasaan ini dengan terapi. Mereka hanya perlu bersedia untuk introspeksi diri dan membuat perubahan internal yang positif.

  • https://dictionary.apa.org/superiority-complex
  • https://www.healthline.com/health/mental-health/superiority-complex#bottom-line
  • https://www.webmd.com/mental-health/what-is-a-superiority-complex
  • https://www.bustle.com/wellness/signs-someone-may-have-a-superiority-complex
  • https://guardian.ng/life/4-ways-to-overcome-superiority-complex/

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb