Scroll untuk melanjutkan membaca

KESEHATAN UMUM
26 Juni 2022

Yuk! Kenali Gejala hingga Faktor Penyebab Perilaku Impulsif

Perilaku impulsif adalah perilaku ketika Moms bertindak cepat tanpa memikirkan konsekuensinya
Yuk! Kenali Gejala hingga Faktor Penyebab Perilaku Impulsif

Impulsif adalah perilaku ketika Moms bertindak cepat tanpa memikirkan konsekuensinya.

Tidak ada hal lain yang terlintas di pikiran Moms selain keinginan untuk melakukan tindakan tersebut.

Apakah Moms pernah merasakan kondisi tersebut? Jika ya, tenang, Moms tidak sendiri. Sebagian orang pasti pernah berperilaku impulsif.

Entah itu ketika membeli barang yang tidak diperlukan, kecanduan obat-obatan, atau melakukan hal-hal yang malah merugikan diri sendiri tanpa pertimbangan yang matang.

Dari hal-hal impulsif itulah kita belajar untuk mengendalikan cara berperilaku saat melakukan hal-hal yang diinginkan.

Perilaku ini belum tentu merupakan gangguan mental, lho. Tetapi, bisa jadi hanya kondisi sesaat saja.

Impulsif terjadi di bagian integral dari berbagai kondisi, termasuk kecanduan obat, obesitas, gangguan hiperaktif defisit perhatian, dan penyakit Parkinson.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai perilaku impulsif, yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Baca Juga: 6 Tips Menghadapi Suami Selingkuh, Hindari Bertindak Impulsif

Pengertian Impulsif

impulsif

Foto: impulsif

Foto: Pengertian Impulsif (Orami Photo Stocks)

Dilansir dari jurnal yang diterbitkan Nature Communication, perilaku impulsif diartikan sebagai menanggapi tanpa pemikiran yang tidak jelas akan konsekuensi dari tindakannya.

Menjadi impulsif tidak selalu merupakan hal yang buruk, tetapi hal itu sering kali dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Perlu diketahui, perilaku impulsif tak selalu berarti gangguan mental.

Meski begitu, terkadang perilaku ini merupakan bagian dari adanya gangguan kontrol pada keinginan atau gangguan kesehatan mental lainnya.

Perilaku ini bisa jadi gangguan mental apabila seseorang mengalami hal-hal sebagai berikut:

  • Ada pola perilaku impulsif
  • Tidak dapat mengendalikan keinginan
  • Ada tanda dan gejala penyakit mental lainnya

Walau begitu, pastikan Moms tidak mendiagnosis gangguan kesehatan mental tanpa mengonsultasikannya terlebih dahulu ke ahlinya, ya!

Baca Juga: Gangguan Mental pada Wanita, Ini Gejala dan Jenis-jenisnya

Gejala dan Contoh Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: impulsif

Foto: Gejala Impulsif (Orami Photo Stocks)

Perilaku impulsif ditandai dengan tindakan secara spontan dan tidak ada pertimbangan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi dirinya sendiri maupun orang lain.

Seseorang dengan perilaku ini cenderung hanya memikirkan kejadian saat ini.

Masih ada sejumlah gejala dan contoh perilaku impulsif lainnya yang harus Moms waspadai, yakni:

  • Bingeing, yaitu perilaku konsumtif dan memanjakan diri
  • Destruction of property, yaitu perilaku menghancurkan barang-barang saat sedang marah
  • Escalating problems, yaitu perilaku membesar-besarkan sebuah masalah kecil
  • Frequent outbursts, yaitu perilaku kehilangan kendali untuk menenangkan diri
  • Lots of starting over, yaitu sering memulai hal baru ketika membuat kesalahan
  • Oversharing, yaitu berbicara tanpa berpikir dan berbagi detail yang sebenarnya harus dirahasiakan
  • Kekerasan fisik, yaitu bereaksi berlebihan dengan melakukan tindakan fisik
  • Seks berisiko tinggi, yaitu melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan orang asing
  • Menyakiti diri sendiri, misalnya menyakiti diri akibat amarah, kesedihan, atau kekecewaan

Baca Juga: 3 Gangguan Kesehatan Mental yang Bisa Serang Ibu Hamil

Penyebab Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: impulsif

Foto: Penyebab Perilaku Impulsif (Orami Photo Stocks)

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang berperilaku impulsif, salah satunya karena kondisi dan situasi yang mendesak atau kurangnya pengendalian diri.

Studi berjudul Impulsivity: A Predisposition Toward Risky Behaviors menunjukkan bahwa perilaku ini ada hubungannya dengan lobus prefrontal.

Ini adalah bagian otak besar yang terletak di bagian depan.

Penelitian lain berjudul Frontiers in Behavioral Neuroscience menunjukkan bahwa impulsif berhubungan degan konektivitas di dalam otak.

Meski begitu, para peneliti masih harus melakukan studi lebih lanjut untuk memastikan hal-hal tersebut di atas.

Hal ini bertujuan untuk memahami sepenuhnya hubungan antara impulsif dan kepribadian, konektivitas otak, fungsi otak, dan kondisi fisik secara keseluruhan.

Misalnya saja, lesi otak dan stroke yang juga bisa menimbulkan gejala seperti perilaku impulsif.

Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Kenal

Hal yang Terjadi saat Seseorang Berperilaku Impulsif

impulsif

Foto: impulsif (revlogs.co.za)

Foto: Bahaya Perilaku Impulsif (Orami Photo Stocks)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perilaku impulsif cenderung bertindak cepat dan tidak memikirkan konsekuensi atas tindakan yang dilakukan.

Hal ini tentu menimbulkan perubahan pada hormon hingga perilaku yang beragam.

Lalu, apa yang terjadi jika Moms berperilaku seperti itu? Berikut penjelasannya.

1. Peptida Impulsif

Secara khusus, para ilmuwan menemukan peptida yang disebut hormon konsentrasi melanin (MCH).

Dalam jurnal PMC Labs, telah mengaitkan peptida ini dengan perilaku kecanduan obat dan makanan.

MCH adalah sebuah neurotransmitter yang diproduksi di hipotalamus dan juga berkaitan dengan perubahan suasana hati, keseimbangan energi, dan siklus tidur-bangun.

Para ilmuwan melakukan berbagai percobaan pada tikus untuk menguji peran MCH dalam perilaku impulsif.

Dalam percobaan pertama, mereka memberi tikus sebuah tuas. Ketika tikus menekannya, mereka menerima pelet makanan, tetapi hadiahnya hanya tersedia setiap 20 detik.

Jika tikus menekan tuas sebelum 20 detik, jam akan menyala kembali dan mereka harus menunggu MCH lebih ke dalam otaknya.

2. Mempengaruhi Bagian Hipotalamus dan Hipokampus

Dalam jurnal US National Library of Medicine National Institutes of Health disebutkan, para ilmuwan mendapat gambaran tentang jalur saraf yang terlibat dengan memindai otak hewan pengerat.

MCH atau hormon konsentrasi melanin yang berjalan dari hipotalamus lateral ke hipokampus ventral tampak menjadi kuncinya.

Hipotalamus lateral terlibat dalam berbagai fungsi, termasuk perilaku makan. Sementara itu, hipokampus ventral dikaitkan dengan stres, suasana hati, dan emosi.

Baca Juga: Ketika Pasangan Mengidap Gangguan Mental

Faktor Risiko Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: impulsif

Foto: Faktor Risiko Perilaku Impulsif (Orami Photo Stocks)

Siapa pun bisa saja berperilaku impulsif. Namun, alasan yang mendasarinya bisa berbeda-beda.

Sayangnya, hingga kini penyebab perilaku impulsif masih belum diketahui pasti.

Namun, terdapat sejumlah faktor risiko yang disebut-sebut dapat meningkatkan kemungkinan memiliki perilaku impulsif. Faktor risiko tersebut adalah:

  • Genetika
  • Lingkungan Hidup
  • Fungsi otak
  • Kerusakan otak
  • Perubahan fisik di otak
  • Trauma masa kecil
  • Gangguan kepribadian ambang
  • Gangguan kepribadian borderline
  • Gangguan bipolar

Baca Juga: Mengenal Pseudobulbar, Gangguan Mental yang Membuat Joker Tertawa Tak Terkendali

Dalam peningkatan mood secara intens (episode manik), risiko seseorang untuk berperilaku impulsif cenderung lebih tinggi.

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan perilaku ini adalah terlalu berenergi, perasaan gelisah, jengkel, dan marah, euphoria, kurang tidur, pengambilan keputusan yang buruk, serta attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Penyandang ADHD merasa sulit untuk memperhatikan dan mengontrol perilaku ini. Beberapa faktornya bisa meliputi kegelisahan, lupa, dan kesulitan fokus.

Pengaruh zat-zat tertentu, seperti dari alkohol dan obat-obatan terlarang juga digadang-gadang dapat meningkatkan risiko perilaku impulsif.

Lebih lanjut, faktor lain yang bisa terjadi adalah adanya gangguan kepribadian antisosial. Ini adalah gangguan kepribadian yang melibatkan perilaku impulsif dan manipulatif.

Tak hanya itu, cepat marah, kesombongan, bohong, agresivitas, dan kurangnya penyesalan juga harus diwaspadai sebagai hal yang berkaitan dengan perilaku impulsif.

Kleptomania juga merupakan hal lain yang konon berkaitan dengan tindakan impulsif. Kondisi ini ditandai dengan tidak dapat menahan keinginan untuk mencuri.

Orang dengan kleptomania cenderung memiliki gangguan kesehatan mental yang terkombinasi, termasuk kecemasan dan depresi.

Pyromania, yakni gangguan kesehatan mental ketika seseorang tidak dapat mengontrol impuls untuk menyalakan api, juga bisa menjadi faktor penyebab impulsif.

Selanjutnya, trikotilomania, yang melibatkan keinginan kuat untuk mencabut rambut sendiri.

Kondisi tersebut merupakan jenis gangguan obsesif-kompulsif, meski sebelumnya diklasifikasikan sebagai gangguan kontrol impuls.

Terakhir, cedera otak atau stroke. Keduanya dapat menyebabkan perubahan perilaku, termasuk impulsif, penilaian yang buruk, serta rentang perhatian yang pendek

Baca Juga: Perhatikan dengan Seksama, Ini 4 Tanda Gangguan Kesehatan Mental pada Anak

Cara Mengontrol Perilaku Impulsif

impulsif

Foto: impulsif

Foto: Mengontrol Perilaku Impulsif (Orami Photo Stocks)

Bagaimana pendekatan perilaku ini tergantung pada penyebabnya.

Dalam banyak kasus, orang dengan perilaku impulsif tidak bersalah. Mereka juga mungkin tidak memiliki kemampuan untuk berubah.

Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk, setidaknya, mengontrol perilaku impulsif.

Berikut ini cara-cara yang dimaksud:

  • Menyadari bahwa Moms memiliki perilaku ini dan perlu dikendalikan
  • Hindari atau persulit diri Moms untuk terjun ke hal-hal yang terasa menyenangkan dan memanjakan
  • Moms perlu datang ke ahli kesehatan mental untuk berkonsultasi guna mendapat penanganan terbaik

Baca Juga: Kenali Skizofrenia pada Anak, Jangan Diabaikan!

Waktu Tepat Berkonsultasi ke Profesional

impulsif

Foto: impulsif

Foto: Konsultasi dengan Profesional (Orami Photo Stocks)

Perilaku impulsif dapat menyebabkan hal tidak pantas dengan konsekuensi yang berpotensi serius.

Penelitian PMC Labs menunjukkan hubungan antara perilaku impulsif dan tingginya keinginan untuk bunuh diri.

Biasanya, hal ini terjadi pada orang yang memiliki gangguan kepribadian ambang, penyalahgunaan narkoba, episode manik, dan episode depresi.

Penelitian lain menunjukkan hubungan antara impulsif dan perilaku kekerasan.

Mengetahui adanya kemungkinan tersebut, Moms atau Si Kecil yang merasa sering berperilaku impulsif sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog.

Baca Juga: 3 Gangguan Kesehatan Mental Pascamelahirkan, Waspada!

Nah, itu dia serba-serbi perilaku impulsif hingga cara mengontrolnya.

Jika Moms mengalami gejala-gejala yang disebutkan di atas, jangan ragu untuk langsung berkonsultasi dengan ahlinya agar bisa mendapatkan penanganan dengan segera.

  • https://www.nature.com/articles/s41467-019-12895-y
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4080475/
  • https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnbeh.2014.00156/full
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC201018/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2822727/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4080475/