Scroll untuk melanjutkan membaca

PERNIKAHAN & SEKS
22 November 2022

Serba-serbi Keputihan Setelah Berhubungan Seks, Pahami Moms!

Jaga organ intim agar tetap sehat ya, Moms
Serba-serbi Keputihan Setelah Berhubungan Seks, Pahami Moms!

Normalkah mengalami keputihan setelah berhubungan seks dengan pasangan?

Keputihan adalah kondisi umum yang biasanya terjadi pada wanita.

Tak jarang, keputihan dianggap sebagai sesuatu yang sangat menakutkan oleh banyak wanita.

Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, kondisi ini pun membuat tak percaya diri, terutama bagi wanita yang telah menikah.

Lantas, apakah keputihan setelah berhubungan adalah kondisi normal atau justru mengkhawatirkan?

Simak penjelasannya di bawah ini, ya, Moms!

Baca Juga: 9 Cara Menghilangkan Kerutan di Wajah Secara Alami, Yuk Coba Biar Nggak Banyak Keriput!

Apa Itu Keputihan?

Ilustrasi Keputihan

Foto: Ilustrasi Keputihan (Orami Photo Stocks)

Keputihan adalah sekresi vaginal yang terjadi pada wanita.

Umumnya, keputihan ditandai keluarnya cairan berwarna putih kekuningan dari saluran vagina.

Melansir Cleveland Clinic, keputihan dapat terjadi secara normal dan abnormal.

Pada keputihan normal, kondisi ini biasanya terjadi secara alami dan tidak disertai rasa gatal, terbakar, atau berbau.

Pada keputihan abnormal, kondisi ini biasanya terjadi akibat infeksi bakteri atau jamur.

Keputihan abnormal biasanya disertai dengan lendir bertekstur kental seperti keju, gatal-gatal, sensasi terbakar, hingga bau tidak sedap.

Lalu, bagaimana dengan keluar keputihan setelah berhubungan?

Keluar lendir seperti putih telur setelah berhubungan adalah salah satu kondisi yang kerap terjadi.

Cairan putih yang keluar dari Miss V setelah berhubungan bisa memiliki teksur dan warna yang berbeda.

Keluanya lendir ini bertujuan untuk membantu membersihkan dan melumasi vagina.

Tak hanya itu, keputihan tersebut juga membantu melawan bakteri jahat dan infeksi peradangan di sekitar Miss V.

Baca Juga: Kandidiasis, Jamur Vagina yang Pengaruhi Kesuburan?

Keputihan Setelah Berhubungan Seks, Normalkah?

Badan Meriang

Foto: Badan Meriang (Orami Photo Stocks)

Keputihan setelah berhubungan seksual adalah hal yang normal, serta disadari oleh sebagian wanita setelah 1 atau 2 hari berikutnya.

Menurut studi Vaginal Discharge, keputihan dapat terjadi akibat perubahan pada kadar estrogen.

Ketika kadarnya tinggi, estrogen merangsang serviks untuk menghasilkan sekresi (lendir), dan sejumlah kecil lendir dapat dikeluarkan dari vagina.

Sekresi cairan dari vagina bertujuan untuk menyeimbangkan kadar pH di bagian tersebut.

Biasanya, hal itu disebabkan oleh gairah seksual dan tidak disertai rasa sakit, gatal, atau aroma tak sedap.

Agar lebih jelas, berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan keluar lendir seperti putih telur setelah berhubungan seksual:

1. Proses Detoks Organ Intim

Keputihan setelah berhubungan masih tergolong normal apabila menunjukkan ciri-ciri seperti di bawah ini:

  • Tekstur cair atau encer
  • Warna bening atau sedikit putih
  • Jumlahnya sedikit
  • Hampir tidak berbau
  • Tidak menimbulkan rasa gatal atau nyeri

Keputihan setelah berhubungan seksual yang bermasalah bisa dilihat dari warna dan kekentalan lendir.

Termasuk jumlah lendir yang berlebihan, dan disertai bau lendir yang tajam dan rasa gatal.

Penyebabnya biasanya karena kebersihan yang buruk, stres, infeksi, serta pemakaian obat-obatan dalam waktu lama.

2. Bercampur Air Mani Pria

"Keputihan itu bisa normal atau tidak normal, ” kata dr. Oluwatosin Goje, MD, seorang dokter kandungan di Amerika Serikat.

Tentu, penyebab dari kondisi ini sangat beragam.

Jika pria ejakulasi ke dalam vagina, sebagian besar air mani akan keluar dari Miss V sebagai 'keputihan'.

Keputihan setelah berhubungan yang sehat biasanya berbentuk cairan bening, putih kekuningan, dan tidak menyebabkan reaksi mengganggu.

Baca Juga: Benjolan di Bibir Vagina, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

3. Infeksi Jamur

Ciri-Ciri Keputihan Abnormal

Foto: Ciri-Ciri Keputihan Abnormal

Keputihan setelah berhubungan juga bisa menunjukkan infeksi dan masalah serius.

Penyebab umumnya termasuk vaginosis bakteri, infeksi jamur, dan infeksi menular seksual.

Jadi, jika keputihan yang keluar disertai rasa gatal, berbau tak sedap, dan memiliki tekstur yang sangat kental, bisa jadi itu terjadi akibat infeksi jamur.

Agar tak mengalaminya, The Journal of Infectious Disease menyarankan menggunakan kondom.

Jenis kontrasepsi ini dapat mengurangi risiko penularan penyakit seksual akibat jamur atau bakteri.

Penggunaan kondom telah dikembangkan sebagai metode yang efektif untuk mencegah penularan HIV.

4. Perubahan Hormon

Tak semua cairan ini dianggap sebagai keputihan setelah berhubungan seksual, lho.

Vagina juga memiliki cairan bening dan tekstur cair yang bisa keluar saat berhubungan seksual.

Setelah berhubungan keluar cairan bening encer merupakan tanda adanya perubahan hormon dalam tubuh.

Hal ini membuat wanita mengalami keputihan, terutama pada ibu hamil.

Beberapa kontrasepsi dengan hormon di dalamnya juga dapat menyebabkan keputihan lebih sering terjadi.

5. Tidak Menjaga Kebersihan Organ Intim

Penyebab keputihan setelah berhubungan seks bisa berasal dari kebiasaan sehari-hari.

Misalnya, memakai tisu untuk mengeringkan vagina sesudah buang air kecil maupun buang air besar.

Selain itu, memakai pakaian dalam ketat dan terbuat dari bahan sintetis yang tidak menyerap keringat juga membuat vagina lembap.

Celana ketat pun juga bisa menjadi penyebab keputihan atau cairan putih yang keluar dari miss V setelah berhubungan.

Pada kondisi ini, hal yang terjadi adalah keputihan abnormal.

Baca Juga: Keputihan saat Hamil: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasi

Penyebab Keputihan Tidak Normal

Cara Mengatasi Keputihan

Foto: Cara Mengatasi Keputihan

Keputihan setelah berhubungan dan ditandai rasa gatal dan panas biasanya disebabkan oleh jamur Candida albicans.

Kondisi ini adalah infeksi jamur yang sering menghasilkan cairan putih kental.

Infeksi ini adalah penyebab paling umum dari keputihan. Hampir 30% wanita usia subur sering mengalami keputihan tersebut.

Faktor penyebab dari keputihan tidak normal di antaranya sebagai berikut:

  • Infeksi jamur (Kandidosis vulvovaginalis)

Keputihan berwarna putih kekuningan berupa gumpalan-gumpalan seperti susu.

Terasa sangat gatal, panas dan menyebabkan nyeri setelah berkemih dan nyeri saat berhubungan seksual.

  • Infeksi bakteri (Bakterial vaginosis)

Keputihan berwarna keabu-abuan, bentuknya agak encer, berbau amis dan jarang berbusa, gatal dan rasa terbakar pada kemaluan.

  • Infeksi parasit (Trikomoniasis)

Keputihan berwarna kuning kehijauan, bentuknya kental, berbau tidak enak dan berbusa.

Nyeri saat berhubungan, perdarahan saat berhubungan, serta perdarahan di luar siklus menstruasi juga ciri-cirinya.

  • Alergi/Iritasi Bahan Kimia (krim, cairan, bahan semprot, wewangian)

Keputihan akan menjadi lebih banyak, berwarna kuning keputihan, dapat encer atau kental.

Keluhan yang dapat menyertai adalah rasa gatal, terbakar, nyeri dan kemerahan pada daerah kemaluan.

  • Petanda kanker

Keputihan berwarna kecokelatan, terdapat bercak darah dan berbau busuk.

Keputihan dapat berlangsung dalam waktu lama, tidak respon terhadap pengobatan apapun dan dapat disertai rasa nyeri saat berhubungan seksual.

Keputihan setelah berhubungan seks dan keluarnya cairan dan bau menyengat, mungkin Moms perlu berkonsultasi ke dokter.

Baca Juga: Jangan Garuk Saat Keputihan Gatal! Simak Penjelasannya

Cara Mengatasi Keputihan Setelah Berhubungan Seks

Setelah berhubungan keluar cairan bening encer jangan dibiarkan saja ya, Moms.

Berikut cara mengatasi keputihan setelah berhubungan seksual yang kerap terjadi pada wanita.

1. Jaga Kebersihan Organ Intim

Ilustrasi Vagina Wanita

Foto: Ilustrasi Vagina Wanita (Orami Photo Stock)

Iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi juga bisa menjadi penyebab keputihan.

Oleh karena itu, cara mengatasi keputihan setelah berhubungan seks adalah selalu jaga organ intim dan menjalani kehidupan seksual yang sehat.

Tak hanya untuk suntuk mencegah keputihan, melainkan juga penyakit menular seksual lainnya.

Penyebab keputihan yang lainnya adalah malas mengganti pembalut.

Oleh karena itu, saat menstruasi, Moms harus mengganti pembalut setiap 4-8 jam sekali. Demikian juga dengan pantyliner.

Area genital harus dijaga sebersih mungkin. Mencuci setiap hari tanpa sabun atau dengan sabun lembut non-allergenic (seperti sabun gliserin).

Pembilasan dan pengeringan secara menyeluruh juga dianjurkan. Mengganti pakaian dalam setiap mandi dapat membantu meredakan keputihan.

2. Pengobatan Antibiotik

Penyebab keputihan setelah berhubungan seks yang serius biasanya memerlukan pengobatan tertentu.

Misalnya, infeksi bakteri diobati dengan antibiotik.

Beberapa tindakan umum dapat membantu meredakan gejala, meskipun tidak menghilangkan infeksi.

Antibiotik bisa berupa gel atau krim yang dimasukkan ke dalam vagina atau tablet yang diminum.

Obat antihistamin yang diminum juga dapat meredakan gatal. Beberapa antihistamin juga bisa menyebabkan efek samping kantuk.

Baca Juga: Perbedaan Keputihan Tanda Hamil dan Tanda Haid

3. Mengompres Air Es

Kesehatan Vagina dan Organ Intim

Foto: Kesehatan Vagina dan Organ Intim (Orami Photo Stocks)

Menempatkan kompres es di area genital, atau duduk di bak mandi air hangat dapat mengurangi rasa sakit dan gatal akibat keputihan setelah berhubungan seks.

Mandi dilakukan dalam posisi duduk dengan air hanya menutupi area genital dan rektal.

Pemandian bisa dilakukan di bak mandi yang diisi dengan sedikit air atau di baskom besar.

Membilas area genital dengan air hangat yang diperas juga dapat meredakan nyeri.

4. Hindari Menggunakan Produk Wewangian

Menjaga kebersihan area genital perlu dipupuk sejak masa remaja.

Mereka perlu diajari kebersihan yang baik, seperti menyeka dari depan ke belakang, mencuci tangan setelah buang air besar dan buang air kecil, dan menghindari meraba area genital.

Begitu juga dengan menghindari produk wewangian untuk membersihkan area genital.

Jika suatu produk seperti krim, bedak, sabun, atau kondom terus-menerus menyebabkan iritasi, sebaiknya tidak digunakan.

Wanita disarankan untuk tidak menggunakan semprotan kebersihan wanita dan tidak menyemprotkan air.

Produk ini tidak menghilangkan kotoran dan dapat memperburuknya. Diketahui, douching dapat meningkatkan risiko penyakit radang panggul.

Baca Juga: Migrain: Gejala, Penyebab, Komplikasi, Diagnosis, dan Cara Mengatasinya

5. Bersihkan Area Organ Intim dengan Benar

Area Kewanitaan

Foto: Area Kewanitaan (Orami Photo Stocks)

Cara membersihkan vagina tidak sesuai usai buang air kecil pun bisa menjadi penyebab keputihan.

Moms harus membilas vagina dari vagina mengarah ke anus. Lalu, pastikan air yang dipakai bersih supaya tidak menyebabkan keputihan.

Bicara soal membasuh vagina, hindari pemakaian cairan pembersih vagina.

Hal ini sebab kandungan desinfektannya bisa mematikan bakteri normal yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan vagina.

6. Periksakan ke Dokter

Bila keputihan setelah berhubungan seks tidak kunjung mereda, sebaiknya juga segera periksakan diri ke dokter.

Terutama cairan putih yang keluar dari miss V setelah berhubungan disertai dengan luka, gatal, kemerahan, pembengkakan, atau rasa perih saat buang air kecil.

Jangan sepelekan hal ini, meskipun Moms sering merasakan keputihan.

Keputihan bisa dikatakan tidak normal apabila karena infeksi bakteri atau jamur yang membahayakan area genital.

Dokter nantinya akan memberikan penanganan berdasarkan penyebab keputihan tersebut.

Baca Juga: Kenali 5 Manfaat Daun Sirih bagi Wanita, bukan Hanya untuk Kebersihan Vagina

Itu dia penjelasan mengenai keputihan setelah berhubungan seksual dan cara mengatasinya.

Jika Moms mengalami ciri-ciri keputihan tidak normal, jangan ragu untuk segera berobat ke dokter, ya!

  • https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/4719-vaginal-discharge
  • https://www.merckmanuals.com/home/women-s-health-issues/symptoms-of-gynecologic-disorders/vaginal-discharge
  • https://academic.oup.com/jid/article/183/6/913/2191272
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/322232