Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

Perilaku Balita | Jan 18, 2019

Balita Mengamuk? Ketahui Perbedaan Tantrum dan Sensory Meltdown

Bagikan


Setiap kali balita mengamuk, kebanyakan orang tua pasti langsung menganggapnya sebagai tantrum.

Padahal tidak selalu begitu Moms, karena balita juga bisa jadi menangis dan mengamuk saat dia mengalami sensory meltdown.

Walau sekilas terlihat sama, sebenarnya ada perbedaan besar dalam penyebab serta penanganan balita tantrum dan balita yang mengalami sensory meltdown. Kira-kira apa saja ya, Moms?

Antara Perilaku Buruk dan Faktor Neurologis

Moms pasti tahu betul, kalau balita tantrum terjadi karena Si Kecil mencari perhatian secara negatif atau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

Semakin ditanggapi, biasanya semakin parah juga tangisan dan teriakan balita.

Tapi tidak demikian halnya dengan sensory meltdown pada balita.

Bagi anak dengan autisme atau anak yang memiliki kondisi sensory processing disorder, terlalu banyak stimulasi sensori dapat membuat panca indera mereka kewalahan.

Otak mereka memproses informasi sensori secara berbeda, sehingga terlalu banyak stimulasi dapat membuat tubuhnya merasakan sakit yang tidak tertahankan.

Sebagai reaksi spontan tubuh balita untuk melawan rasa sakit tadi, timbullah kondisi sensory meltdown yang gejalanya mirip seperti tantrum, yaitu berteriak, menangis, dan mengamuk.

Balita yang tantrum sebenarnya tahu kalau perilakunya itu tidak baik lho, Moms.

Walau sudah bisa mengendalikan diri, dia dengan sadar dan sengaja melakukannya sebagai jurus pamungkas untuk mendapatkan keinginannya.

Sebaliknya, kondisi sensory meltdown pada balita tidak bisa dikendalikan.

Dalam kasus yang parah, bahkan balita bisa tidak menyadari kalau dia melakukan hal yang melukai dirinya, seperti melemparkan tubuh ke lantai atau memukul kepala.

Nah, itulah kenapa menghadapi kondisi sensory meltdown pada balita tidak bisa disamakan dengan menghadapi tantrum biasa, Moms.

Baca Juga: Seru dan Menyenangkan! Ini 4 Manfaat Permainan Simbolik untuk Balita

Menghadapi Balita Tantrum

Saat balita mengamuk karena tantrum, menyerah dan mengabulkan keinginannya memang menjadi cara paling cepat untuk membuatnya kembali tenang.

Tapi di masa depan dia pasti akan melakukannya lagi untuk mendapatkan sesuatu dari Moms.

Para pakar parenting menganjurkan orang tua untuk mengabaikan perilaku tantrum balita, tapi memberikan pengakuan pada hal yang diinginkannya.

Misalnya dengan berkata “Mama tahu kamu ingin membeli es krim. Kalau sudah selesai menangis dan berteriak, kamu bisa memintanya dengan baik pada Mama.”

Baca Juga: Moms, Bantu Balita Menghadapi Rasa Kecewa dengan 5 Cara Berikut

Menghadapi Sensory Meltdown Pada Balita

Sensory meltdown pada balita berkaitan dengan stimulasi yang diterima panca indera dan tidak bisa diredakan hanya dengan memberikan sesuatu yang disukai Si Kecil.

Untuk meredakan sensory meltdown pada balita, hal pertama yang harus Moms lakukan adalah mengajak Si Kecil ke tempat yang lebih tenang dan nyaman.

Usahakan untuk bersikap kalem tapi tidak bicara terlalu banyak, karena intinya adalah meminimalisir stimulasi sensori yang diterima oleh indera balita.

Selain suara berisik, stimulasi sensori juga bisa berasal dari tekstur benda, aroma kuat, terlalu banyak warna cerah, atau kombinasinya.

Ternyata berbeda sekali penyebab serta cara menghadapi balita mengamuk karena tantrum dan sensory meltdown ya, Moms.

Apa Moms tahu cara lain yang efektif untuk mencegah balita mengamuk?

(WA)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.