15 Juni 2024

Kerumut pada Anak, Pahami Gejala dan Cara Mengatasinya

Penting untuk bisa segera diatasi!

Moms dan Dads, kerumut pada anak merupakan istilah penyakit yang kerap diungkap di masyarakat yang ditandai dengan gejala kerumutan pada kulit tubuh dan disertai dengan gejala lainnya.

Sedangkan, dalam dunia medis kerumut disebut dengan penyakit campak.

Campak atau kerumut kerap menyerang anak-anak namun tidak sedikit orang dewasa juga mengalaminya.

Kerumut pada anak ini menyebabkan ruam merah yang sangat menular lewat kontak langsung orang yang memiliki virus atau melalui tetesan di udara.

Vaksinasi menawarkan perlindungan efektif dari kerumut pada anak.

Beberapa orang tidak bisa mendapatkan vaksinasi karena kondisi kesehatan lain, seperti sistem kekebalan yang lemah.

Namun, menurut artikel yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO), jika 93-95% populasi menerima vaksin, mereka yang berisiko kemungkinan tidak akan tertular campak.

Seorang anak lebih berisiko terkena kerumut jika ia belum pernah mendapatkan vaksin campak, dan bersentuhan dengan siapa saja yang menderita campak.

Seseorang tertular sekitar 4 hari sebelum ruam muncul, sehingga seorang anak dapat terkena virus tanpa menyadarinya.

Penyebab kerumut pada anak diyakini berasal dari infeksi virus rubeola.

Baca Juga: Infeksi Virus Cacar Monyet (Monkeypox), Penyakit Cacar Langka dari Afrika

Penyebab dan Faktor Risiko Kerumut atau Campak

Anak Bersin
Foto: Anak Bersin (Orami Photo Stocks)

Kerumut pada anak atau campak adalah penyakit yang sangat mudah menular ke orang lain.

Penyakit ini terjadi akibat virus yang ditemukan di hidung dan tenggorokan anak-anak atau orang dewasa yang terinfeksi.

Virus tersebut adalah virus dari famili Paramyxovirus, seperti rubeola dan rubella.

Ketika penderita campak batuk, bersin, atau berbicara, droplet yang menular akan menyembur ke udara, sehingga orang lain dapat menghirupnya.

Nah, droplet yang menular tersebut dapat bertahan di udara selama sekitar satu jam.

Droplet yang menular juga dapat mendarat di suatu permukaan, di mana mereka dapat hidup dan menyebar selama beberapa jam.

Anak bisa tertular virus campak dengan memasukkan jari ke dalam mulut atau hidung atau menggosok mata setelah menyentuh permukaan yang terinfeksi.

Campak sangat menular sekitar empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul.

Sekitar 90 persen orang yang belum pernah menderita campak atau pernah menerima vaksinasi campak akan tertular bila terpapar oleh seseorang yang mengidap virus campak.

Ada beberapa faktor risiko kerumut pada anak,yaitu:

  • Tidak divaksinasi

Jika anak belum mendapatkan vaksin campak, kemungkinan besar anak terkena campak.

  • Bepergian keluar negeri

Jika Moms dan keluarga bepergian ke negara-negara di mana penyakit campak lebih umum terjadi, Moms dan keluarga berisiko lebih tinggi terkena penyakit campak.

  • Mengalami kekurangan vitamin A

Jika anak tidak mendapatkan cukup vitamin A dalam makanan, kemungkinan besar anak akan mengalami gejala dan komplikasi campak yang lebih parah.

Baca Juga: 17 Vitamin Anak Terbaik untuk Imunitas dan Tumbuh Kembangnya

Tanda dan Gejala Kerumut pada Anak

Kerumut pada Anak (Orami Photo Stock)
Foto: Kerumut pada Anak (Orami Photo Stock)

Kerumut pada anak adalah penyakit virus yang menyebabkan gejala tidak nyaman dan dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa atau mengubah hidup.

Centers for Disease Control and Prevention, menyatakan bahwa gejala kerumut pada anak muncul 7-14 hari setelah terpapar.

Namun menurut WHO prosesnya bisa memakan waktu hingga 23 hari.

Nah berikut ini tanda dan gejala kerumut pada anak yang bisa Moms dan Dads ketahui:

7 - 14 Hari Setelah Infeksi Kerumut: Gejala Muncul

Kerumut bukan hanya ruam kecil. Kerumut pada anak bisa berbahaya. Tanda dan gejala kerumut pada anak yaitu:

2-3 Hari Setelah Gejala Mulai: Bintik Koplik

Bintik putih kecil (bintik Koplik) dapat muncul di dalam mulut dua hingga tiga hari setelah gejala dimulai.

Bintik-bintik kecil di dalam mulut merupakan ciri khas dari fase awal kerumut.

Bintik-bintik itu terlihat seperti butiran pasir putih kecil masing-masing dikelilingi oleh cincin merah.

Mereka ditemukan terutama di bagian dalam pipi (mukosa bukal) di seberang molar 1 dan 2 atas.

Dinamai untuk dokter anak New York Henry Koplik (1858-1927) yang menggambarkan mereka.

3-5 Hari Setelah Hejala Mulai: Ruam Kerumut

Moms dan Dads, tiga sampai lima hari setelah gejala dimulai maka timbul ruam.

Biasanya dimulai sebagai bintik merah datar yang muncul di wajah, di garis rambut, dan menyebar ke bawah ke leher, batang, lengan, tungkai, dan kaki.

  • Benjolan kecil yang menonjol juga bisa muncul di atas bintik merah datar.
  • Bintik-bintik itu mungkin bergabung bersama saat menyebar dari kepala ke seluruh tubuh.
  • Saat ruam muncul, demam kerumut pada anak bisa mencapai 40 derajat celcius.

Sementara itu menurut NHS.UK, berikut ini rangkuman dari tanda dan gejala kerumut pada anak:

  • Hidung meler atau tersumbat
  • Bersin
  • Mata berair
  • Kelopak mata bengkak
  • Sakit, mata merah yang mungkin sensitif terhadap cahaya
  • Suhu tinggi (demam), yang bisa mencapai sekitar 40C (104F)
  • Bintik putih keabu-abuan kecil di mulut
  • Sakit dan nyeri
  • Batuk
  • Kehilangan selera makan
  • Kelelahan, mudah tersinggung, dan kekurangan energi secara umum.

Menurut The Royal Children Hospital Melbourne, kebanyakan kasus kerumut pada anak akan merasakan sakit kurang dari seminggu, seharusnya lebih baik sekitar dua hari setelah ruam muncul.

Sedangkan, batuk bisa bertahan selama dua minggu.

Baca Juga: 7 Cara Mencegah Cacar Air agar Tidak Bertambah Banyak!

Komplikasi Kerumut pada Anak

Kerumut pada Anak (Orami Photo Stock)
Foto: Kerumut pada Anak (Orami Photo Stock) (Orami Photo Stock)

Komplikasi kerumut pada anak lebih mungkin berkembang pada kelompok orang tertentu. Ini termasuk:

  • Bayi berusia di bawah 1 tahun
  • Anak-anak dengan pola makan yang buruk
  • Anak-anak dengan sistem kekebalan yang lemah (seperti mereka yang menderita leukemia)
  • Remaja dan dewasa
  • Anak-anak yang berusia lebih dari 1 tahun dan sehat memiliki risiko komplikasi yang paling rendah
Baca Juga: Mengenal Vaksin MR yang Penting untuk Anak, dari Manfaat hingga Efek Samping

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb