01 Agustus 2022

Infeksi Virus Cacar Monyet (Monkeypox), Penyakit Cacar Langka dari Afrika

Bekas cacar monyet ternyata tidak bisa hilang

Kasus virus cacar monyet termasuk kejadian tidak biasa. Namun pada 2019 yang lalu, ditemukan kasus cacar monyet (Monkeypox) yang menghebohkan publik.

Seorang warga negara Nigeria, dinyatakan positif terinfeksi virus Monkeypox ketika berkunjung ke Singapura pada 28 April 2019. Sebanyak 23 orang yang melakukan kontak erat dengan warga Nigeria tersebut telah dikarantina.

Baru-baru ini, virus cacar monyet juga kembali merebak. Melalui siaran pers, World Health Organization (WHO) meminta masyarakat untuk waspada terhadap virus cacar monyet.

Sejak 13 Mei 2022, kasus cacar monyet telah dilaporkan ke WHO dari 12 Negara anggota yang tidak endemik virus cacar monyet, di tiga wilayah WHO.

Saat ini, investigasi epidemiologis sedang berlangsung, namun, kasus yang dilaporkan sejauh ini tidak memiliki hubungan perjalanan ke daerah endemik.

World Health Organization (WHO) menyatakan cacar monyet sebagai darurat kesehatan global. Direktur Jenderal WHO Tedrose Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan hal tersebut dalam konferensi pers yang digelar pada Sabtu, 23 Juli 2022.

Termasuk kasus yang langka, ternyata virus cacar monyet ini juga menyasar anak-anak dan juga bayi, karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna.

Apa Itu Cacar Monyet?

cacar monyet-2.jpg
Foto: cacar monyet-2.jpg (health.howstuffworks.com)

Foto ilustrasi cacar monyet (Sumber: Orami Photo Stock)

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), cacar monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox. Virus cacar monyet termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.

Cacar monyet atau monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 ketika dua wabah penyakit seperti cacar terjadi di koloni monyet yang dipelihara untuk penelitian, maka nama 'monkeypox'. Kasus manusia pertama dari monkeypox tercatat pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo selama suatu periode.

Sejak itu, cacar monyet telah dilaporkan terjadi pada manusia di negara-negara Afrika tengah dan barat lainnya. Infeksi cacar monyet pada manusia hanya tercatat enam kali di luar Afrika; di Amerika Serikat pada tahun 2003 (47 kasus), di Inggris Raya (3 kasus) dan Israel (1 kasus) pada tahun 2018, di Singapura pada tahun 2019 (1 kasus) dan di Inggris (3 kasus) dan Amerika Serikat Serikat (1 kasus) pada tahun 2021.

Reservoir alami cacar monyet masih belum diketahui. Namun, spesies hewan pengerat Afrika diduga berperan dalam penularan.

Baca Juga: Waspadai Cacar Monyet, Dinkes DKI Sosialisasi Penanganan di Puskesmas

Gejala Infeksi Virus Cacar Monyet

Monkeypox-8-10-17.jpg
Foto: Monkeypox-8-10-17.jpg

Foto ilustrasi cacar monyet (Sumber: Guardian.ng)

Dr Hadianti menjelaskan ciri-ciri bila seseorang terkena cacar monyet. Ia mengatakan, gejala cacar monyet mulai timbul 14-21 hari sejak pertama kali terinfeksi virus.

Gejalanya diawali dengan demam tinggi pada fase masuknya virus ke peredaran darah hingga ke seluruh tubuh pada 3-4 hari pertama, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri pada otot, dan badan terasa letih.

"Kemudian timbul ruam dan lesi pada kulit, pada awalnya di wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya," kata dia.

Ruam tersebut merupakan vesikel (sebuah ruang pada sel yang dikelilingi oleh membran sel) berisi cairan bening, kemudian timbul pustula (benjolan menyerupai jerawat) berisi nanah, yang akan mengering meninggalkan keropeng, umumnya sembuh dalam waktu 21 hari.

Cacar monyet merupakan penyakit yang bersifat self-limiting disease atau dapat sembuh dengan sendirinya.

Baca Juga: Terjadi Kasus Cacar Monyet di Singapura, Ketahui 4 Fakta Penyakit Menular Ini

Pertolongan Pertama Jika Terinfeksi Virus Cacar Monyet

cacar monyet
Foto: cacar monyet

Foto ilustrasi cacar monyet (Sumber: Sciencesource.com)

Lalu, bagaimana pertolongan pertama yang harus dilakukan jika terinfeksi cacar monyet?

"Segera bawa penderita ke dokter dan rumah sakit terdekat, pasien akan dimasukkan ke dalam ruang isolasi tekanan negative. Pasien selanjutnya diberikan terapi yang bersifat simtomatis dan suportif oleh dokter hingga daya tularnya hilang," jelas dr. Hadianti Adlani, Sp. PD-KPTI, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik Infeksi, RS Pondok Indah-Bintaro Jaya.

  • Untuk menghindari tertular virus, hindari kontak dengan darah, cairan tubuh, dan lesi kulit atau mukosa hewan, atau manusia yang terinfeksi penyakit cacar monyet.
  • Segera bawa ke dokter atau rumah sakit bila ada orang yang terkena infeksi virus cacar monyet, atau ada kecurigaan ke arah penularan penyakit dengan gejala cacar monyet.
  • Penyakit ini umumnya berlangsung selama 14-21 hari, bersifat sembuh dengan sendirinya atau self-limiting disease dalam waktu 21 hari.
  • Hingga saat ini, belum ditemukan antivirus untuk penyakit cacar monyet, sama dengan penyakit cacar lainya yang setara dengan cacar monyet.

Baca Juga: 7 Obat Tradisional untuk Mengatasi Cacar Api alias Herpes Zooster, Wajib Tahu!

Cacar Monyet pada Bayi

cacar air pada bayi (3).jpg
Foto: cacar air pada bayi (3).jpg

Foto ilustrasi cacar monyet (Sumber: Orami Photo Stock)

World Health Organization (WHO) mencatat, kurangnya kekebalan tubuh tampaknya menjadi faktor risiko penyakit parah. Anak-anak dan juga bayi berisiko lebih tinggi terjangkit virus ini, karena sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna sehingga rentan tertular.

Selain itu, cacar monyet yang terjadi pada ibu hamil selama kehamilan dapat menyebabkan komplikasi, cacar monyet bawaan pada bayi, atau bahkan bayi lahir mati.

Penelitian Case Reports in Pediatrics menunjukkan, virus cacar monyet termasuk dalam genus virus yang sama dengan cacar, Orthopoxvirus, dan vaksinasi terhadap cacar memberikan perlindungan terhadap cacar monyet.

Oleh karena itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan beberapa hal ini:

  • Vaksinasi cacar harus diberikan dalam waktu dua minggu setelah terpapar cacar monyet.
  • Cidofovir (Vistide) yang merupakan obat antivirus, disarankan untuk pasien dengan gejala parah yang mengancam jiwa.
  • Vaksin imun globulin dapat digunakan, tetapi kemanjuran penggunaan belum mendapatkan penelitian lebih jauh.
  • Meski jarang terjadi, untuk gejala yang parah tindakan suportif seperti ventilasi mekanis bisa saja diperlukan.
  • Pasien dengan sistem kekebalan yang tertekan dan orang yang alergi terhadap lateks atau vaksin cacar, tidak boleh mendapatkan vaksin cacar.
  • Orang yang telah terkena cacar monyet dalam 14 hari terakhir harus mendapatkan vaksin cacar, termasuk anak-anak di bawah usia 1 tahun, ibu hamil, dan orang-orang yang memiliki masalah kulit.

Mitos dan Fakta Cacar Monyet

cacar monyet
Foto: cacar monyet

Foto ilustrasi cacar monyet (Sumber: Yahoo.com)

Agar tidak timbul kepanikan, Moms bisa mendapatkan fakta terkait cacar monyet ini dari dr. Hadianti.

dr Hadianti menjelaskan beberapa fakta dan juga mitos tentang infeksi virus cacar monyet yang harus didapatkan oleh para orang tua, sebagai tindak pencegahan.

1. Cacar Monyet Ditularkan oleh Monyet ke Manusia: FAKTA

"Cacar monyet dapat ditularkan oleh monyet. Namun, pembawa virus utama adalah tikus afrika, dan hewan pengerat seperti tupai atau hewan liar," jelas dr Hadianti.

Menurut data WHO, negara Afrika Tengah dan Barat menjadi daerah endemis cacar monyet. Penyakit ini ditularkan oleh hewan, terutama hewan pengerat yang mengandung virus cacar monyet.

Penularan cacar monyet dari manusia ke manusia mungkin bisa terjadi namun sangat terbatas, bisa melalui saluran pernapasan atau lesi pada kulit.

"(Penularan cacar monyet ke manusia terjadi) Kontak yang lama, lebih dari tiga puluh menit dengan darah, cairan tubuh, dan lesi kulit atau mukosa penderita cacar monyet," tambah dr Hadianti.

Infeksi cacar monyet di Afrika telah ditemukan pada banyak spesies hewan seperti tupai pohon, tikus Gambia, tikus bergaris, dormice, dan hewan primata.

2. Cacar Monyet Lebih Berbahaya dan Parah dari Cacar Biasa: MITOS

"Cacar monyet lebih ringan dari cacar yang disebabkan oleh smallpox virus tetapi dapat lebih berat dari cacar air karena varicella virus," jelas dokter Hadianti.

Mengutip Surat Edaran Kemenkes RI Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tentang Kewaspadaan Importasi Penyakit Monkeypox, disebutkan parahnya kasus cacar monyet berkaitan dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien, dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian akibat cacar monyet bervariasi, tetapi kurang dari 10 persen kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap cacar monyet.

3. Bekas Cacar Monyet Tidak Bisa Hilang: FAKTA

Dr Hadianti lebih lanjut menjelaskan bekas infeksi virus cacar monyet tidak bisa hilang bila terjadi lesi kulit yang berat dan kerusakannya cukup dalam.

"Bekas ini ada yang bisa disamarkan dengan tindakan seperti laser dan injeksi filler, dermabrasi oleh dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin," jelasnya.

Baca Juga: Ramsay Hunt Syndrome, Rusaknya Saraf Wajah karena Virus Penyebab Cacar

4. Cacar Monyet Sudah Masuk ke Indonesia: MITOS

Meskipun Kementerian Kesehatan Singapura menyebutkan adanya satu kasus konfirmasi Monkeypox (MPX) atau cacar monyet pertama di Singapura. Namun, di Indonesia belum ada laporan kasus cacar monyet yang terjadi.

"Sampai saat ini belum ada kasus yang dilaporkan atau ditemukan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sudah menerapkan kewaspadaan terhadap pintu masuk penyakit cacar monyet untuk mencegah penyakit ini masuk ke Indonesia," ujar dr Hadianti.

5. Cacar Monyet Bisa Dicegah dengan Vaksin Cacar Biasa: FAKTA

Menurut situs WHO, tidak ada perawatan khusus atau vaksin yang tersedia untuk infeksi cacar monyet, tetapi wabah dapat dikendalikan. Tetapi, vaksinasi terhadap cacar (smallpox) terbukti 85 persen efektif mencegah cacar monyet.

"Cacar monyet dapat dicegah dengan vaksinasi cacar smallpox," kata dr Hadianti.

Sayangnya, vaksin ini tidak lagi tersedia untuk masyarakat umum dan dihentikan setelah cacar sudah diberantas secara global.

Dr Hadianti juga mengatakan bahwa sampai saat ini, belum ada obat untuk menyembuhkan penderita cacar monyet.

"Obat berupa antivirus belum ada, tetapi yang diberikan berupa terapi simtomatik dan suportif," tambahnya.

Dr Hadianti juga mengatakan, bahwa seseorang yang pernah terkena cacar biasa tidak akan terkena cacar monyet. "Jika pernah terinfeksi cacar yang disebabkan oleh smallpox virus , tidak akan lagi terkena cacar monyet," kata dr Hadianti.

Baca Juga: Mengenal Cacar Air Pada Anak, Penyebab dan Penanganannya

Sebenarnya, infeksi virus cacar monyet dapat dicegah dengan menghindari memakan atau menyentuh hewan yang diketahui tertular virus di alam liar terutama tikus dan monyet Afrika.

Sebab, penularan tersebut telah terbukti secara klinis. Pasien yang menderita penyakit ini harus mengisolasi diri secara fisik sampai semua lesi cacar sembuh atau keraknya hilang.

Selain itu, orang yang merawat pasien ini harus menggunakan pelindung seperti sarung tangan dan masker wajah, untuk menghindari kontak langsung atau droplet serta telah vaksinasi cacar.

Itulah hal-hal yang harus Moms ketahui seputar cacar monyet. Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan ya.

  • https://www.medicinenet.com/monkeypox/article.htm
  • https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/monkeypox---the-united-states-of-america
  • https://www.hindawi.com/journals/cripe/2020/8572596/
  • https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/
  • https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20220524/0139947/kemenkes-tetap-waspada-walau-belum-ada-laporan-kasus-cacar-monyet-di-indonesia/
  • https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2022-DON385

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb