Rupa-rupa

3 Agustus 2021

5 Ragam Pakaian Adat Sulawesi Utara, Busana Pengantinnya Unik dan Mewah!

Setiap etnis memiliki busana adat yang khas
placeholder

Foto: adatindonesia.org

placeholder
Artikel ditulis oleh Meiskhe
Disunting oleh Karla Farhana

Ketika mendengar tentang Sulawesi Utara, yang terlintas di benak Moms mungkinan kulinernya yang tidak biasa, ataupun lautnya yang indah. Provinsi yang beribukota Manado ini juga memiliki ragam budaya yang menarik lho, Moms! Salah satunya pakaian adat Sulawesi Utara yang memiliki wujud dan cerita menarik di baliknya.

Sulawesi Utara didiami bermacam-macam suku, seperti suku Minahasa, suku Bolaang Mongondow, suku Sangihe, Suku Talaud. Dengan keragaman suku ini semakin memperkaya khazanah budaya, termasuk pakaian adat Sulawesi Utara.

Ragam dan Keunikan Pakaian Adat Sulawesi Utara

Untuk lebih mengenal keragaman pakaian adat Sulawesi Utara, mari simak ulasannya berikut!

Baca Juga: 4 Sisi Unik Pakaian Adat Kalimantan Barat Khas Suku Dayak dan Sejarahnya

1. Baju Karai dan Wuyang

pakaian adat sulawesi utara

Foto: Kumparan.com

Pakaian adat Sulawesi Utara khas Minahasa di masa lalu terdiri dari pakaian karai untuk laki-laki, dan wuyang untuk perempuan. Bentuk baju karai tanpa lengan, lurus, berwarna hitam dan terbuat dari ijuk.

Selain baju karai, ada juga bentuk baju yang berlengan panjang, memakai kerah dan saku disebut baju baniang. Celana yang dipakai masih sederhana, terdiri dari celana pendek sampai celana panjang seperti celana piyama.

Sementara baju wuyang untuk perempuan terbuat dari kulit kayu menyerupai kebaya. Selain itu, mereka memakai blus atau gaun yang disebut pasalongan rinegetan.

Seiring waktu, busana Minahasa makin berkembang dan banyak mendapat pengaruh dari luar, seperi Tiongkok dan Eropa, dalam hal ini negara Spanyol.

Pakaian wanita dengan sentuhan Spanyol berupa kebaya lengan panjang dipadukan rok bervariasi. Sementara sentuhan Tiongkok berupa kebaya warna putih dipadu dengan kain khas Tiongkok bermotif burung dan bunga-bungaan.

Pakaian pria dengan pengaruh Spanyol berupa baju lengan panjang atau baniang, yang modelnya berubah menyerupai jas tutup dengan celana panjang. Bahan baju ini terbuat dari kain blacu warna putih.

2. Busana Pengantin Khas Minahasa

pakaian adat sulawesi utara

Foto: Instagram.com/felicyangelista_

Baca Juga: Prosesi Pernikahan Adat Betawi, Yuk Kenali!

Pakaian adat Sulawesi Utara khas Minahasa yang dikenakan pengantin perempuan, dikenal dengan sebutan baju ikan duyung.

Busana ini terdiri dari kebaya berwarna putih dan kain sarong warna serupa, yang disulam dengan motif sisik ikan. Karena tampak seperti model ikan duyung sehingga busana ini dinamakan baju ikan duyung.

Selain sarong motif sisik ikan, juga ada sarong motif sarang burung yang disebut model salim burung, sarong motif kaki seribu disebut model kaki seribu, dan sarong motif bunga disebut laborci-laborci.

Sementara pengantin pria memakai busana yang terdiri dari baju jas tertutup atau terbuka, celana panjang, selendang pinggang dan topi yang disebut porong.

Busana pengantin pria jas tertutup disebut baju tatutu. Model baju tatutu berlengan panjang, tidak memiliki kerah dan saku.

Topi, leher baju, selendang pinggang dan lengan baju dihias dengan motif bunga padi.

3. Busana Tonaas dan Walian Wangko

pakaian adat sulawesi utara

Foto: Goodminds.id

Busana tonaas wangko berupa baju kemeja lengan panjang berkerah tinggi. Model potongan bajunya lurus dengan kancing dan tanpa saku.

Warna bajunya hitam dengan hiasan motif bunga padi berwarna kuning keemasan pada leher baju, ujung lengan dan sepanjang ujung baju bagian depan yang terbelah.

Ketika dikenakan, pakaian ini dipadukan dengan topi warna merah dengan motif bunga padi warna kuning keemasan.

Selain itu, pria Minahasa juga mengenakan walian wangko, yang merupakan modifikasi bentuk dari baju tonaas wangko. Model baju ini panjang seperti jubah dan berwarna putih dengan hiasan corak bunga padi.

Baca Juga: 8 Ragam Pakaian Adat Sumatera Utara dan Ciri Khasnya

Para pria Minahasa mengenakan pakaian ini bersama topi porong nimiles, yang terbuat dari lilitan dua buah kain berwarna merah-hitam dan kuning-emas. Di balik paduan warna ini terdapat makna khusus, yaitu dua unsur alam yang terdiri dari langit dan bumi, dunia dan alam baka.

Sedangkan busana walian wangko untuk wanita berupa baju kebaya panjang warna putih atau ungu. Potongan baju tanpa kerah dan kancing. Ketika dipakai, dipadukan dengan kain sarong batik warna gelap dan topi mahkota yang disebut kronci.

Selain itu, dilengkapi juga dengan selempang warna kuning atau merah, selop, kalung leher dan sanggul. Umumnya hiasan yang dipakai adalah motif bunga terompet.

Busana tonaas dan walian wangko umumnya dipakai untuk acara-acara resmi oleh hampir semua kalangan.

4. Laku Tepu

pakaian adat sulawesi utara

Foto: Teropongsulut.com

Laku tepu adalah pakaian adat Sulawesi Utara khas suku Sangihe. Pakaian ini dikenakan oleh laki-laki dan perempuan.

Ciri khas busana ini adalah bentuknya terusan panjang. Baju pria mencapai lutut dan telapak kaki, dan dilengkapi dengan ikat kepala disebut paporong.

Sedangkan baju wanita panjangnya mencapai betis. Bagian bawahnya menggunakan kain sarung yang disebut balri.

Umumnya, baju laku tepu berwarna terang dan mencolok seperti merah, ungu, kuning tua, dan hijau tua.

Warna-warna berbeda pada baju laku tepu menunjukkan identitas pemakainya. Warna laku tepu yang dikenakan seorang pemimpin dalam lingkup pemerintahan berbeda dengan pegawai biasa.

Pemimpin atau bangsawan mengenakan laku tepu biru, merah dan kuning. Warna kuning atau putih pegawai tinggi oleh mereka dengan posisi tinggi.

Warna biru sebagai simbol pegawai menengah. Sementara biru atau ungu sebagai simbol pegawai rendah.

Baca Juga: Sederet Fakta Menarik dan Sisi Unik Pakaian Adat Sunda, Cari Tahu Moms!

5. Baju Pengantin Bolaang Mongondow

pakaian adat sulawesi utara

Foto: Instagram.com/cubimatafoto

Bolaang Mongondow adalah salah satu etnis di Sulawesi Utara yang memiliki pakaian adat pengantin yang unik dan berkelas. Baju atasan untuk pengantin pria berupa baju kurung dari kain satin antalas yang mengkilap wama kekuning-kuningan.

Bagian muka baju terbelah sampai ke bawah memakai kancing berwarna emas. Celananya dari kain antalas yang dilingkarkan kain sutera warna putih pada pinggang dan disisipkan keris yang bersarung emas.

Di bagian pinggang hingga lutut dililit kain sarung pomerus, yang warnanya kontras dengan celana.

Hiasan kepala berupa mogilenso atau sakapeti, topi yang bentuknya agak tinggi sekitar 28 hingga 30 cm.

Sementara untuk pengantin wanita memakai baju salu, dengan leher model huruf V yang agak membulat. Bentuk lengan panjang dan warna baju mencolok, atau dibuat senada dengan warna pakaian pengantin pria.

Sekitar leher dan dada dililitkan perhiasan hamsei dengan bintik-bintik keemasan, terbuat dari kain beludru dan diberi hiasan mengkilap keemasan.

Selain itu dipermanis dengan perhiasan kalung dari untaian emas, cincin, giwang dan lokis untaian rambut berbentuk bunga pada dahi.

Umumnya keturunan bangsawan yang mengenakan pakaian pengantin ini.

Sementara pakaian pengantin untuk golongan kedua sesudah bangsawan disebut kohongian, dan baju simpal untuk golongan pendamping pemerintah dalam kerajaan. Model baju dan aksesoris untuk baju kohongian dan simpal lebih sederhana.

Baca Juga: Dari Pedas Sampai Manis, Ini 12 Makanan Khas Manado yang Begitu Menggoda

Demikian ragam pakaian adat Sulawesi Utara dan keunikannya. Pakaian-pakaian adat tersebut masih terus dikenakan dan dilestarikan hingga sekarang lho, Moms!

  • https://sipadu.isi-ska.ac.id/mhsw/laporan/laporan_4259151113114451.pdf
  • https://www.academia.edu/8377353/Makalah_Mengenal_Kebudayaan_Minahasa_Sulawesi_Utara_
  • http://repositori.kemdikbud.go.id/5907/1/BUDAYA%20MASYARAKAT%20SUKU%20BANGSA%20BOLAANG%20MONGONDOW%20DI%20PROPINSI%20SULAWESI%20UTARA.pdf
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait