Kesehatan

5 Agustus 2021

Mengenal Rematik, Penyebab Nyeri Sendi yang Menganggu Aktivitas

Ketahui gejala, penyebab, dan cara mengatasinya yuk Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Floria Zulvi
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Rheumatoid arthritis atau yang biasa disebut rematik oleh masyarakat Indonesia adalah sebuah penyakit autoimun yang menyebabkan inflamasi.

Ini berarti bahwa sistem kekebalan tubuh secara tidak sengaja menyerang sel-sel sehat di tubuh dan kemudian menyebabkan peradangan (pembengkakan yang menyakitkan) di bagian tubuh yang terkena.

Rematik umumnya menyerang persendian dan biasanya banyak persendian sekaligus. Rematik biasanya memengaruhi persendian di tangan, pergelangan tangan, dan lutut.

Sendi yang mengalami rematik akan memiliki lapisan sendi yang meradang dan menyebabkan kerusakan jaringan sendi.

Kerusakan jaringan ini dapat menyebabkan nyeri yang berlangsung lama atau kronis, goyah (kurang keseimbangan), dan kelainan bentuk (cacat bentuk).

Baca Juga: Benarkah Mandi Malam Bisa Bikin Rematik?

Rematik juga dapat memengaruhi jaringan lain di seluruh tubuh dan menyebabkan masalah pada organ seperti paru-paru, jantung, dan mata.

Oleh karena itu, perawatan yang benar diperlukan untuk mengurangi gejala sehingga pengidapnya bisa menjalani aktivitas tanpa gangguan.

Ciri-ciri dan Gejala Rematik

Ciri-Ciri dan Gejala Rematik

Foto: meduniwien.ac.at

Ciri-ciri dan gejala rematik mungkin termasuk:

  • Sendi menjadi lebih lembut, hangat, dan bengkak.
  • Kekakuan sendi yang biasanya memburuk di pagi hari dan setelah tidak bergerak.
  • Kelelahan, demam, dan kehilangan nafsu makan

Mengutip Mayo Clinic, rematik dini cenderung mempengaruhi sendi kecil terlebih dahulu, terutama sendi yang menempelkan jari ke tangan dan jari kaki ke kaki.

Seiring perkembangan penyakit, gejala sering menyebar ke pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, siku, pinggul dan bahu. Dalam kebanyakan kasus, gejala muncul pada persendian yang sama di kedua sisi tubuh.

Sekitar 40 persen penderita rematik juga akan mengalami tanda dan gejala yang tidak melibatkan persendian. Rematik dapat mempengaruhi banyak struktur yang bukan sendi, termasuk;

  • Kulit
  • Mata
  • Paru-paru
  • Jantung
  • Ginjal
  • Kelenjar ludah
  • Jaringan saraf
  • Sumsum tulang
  • Pembuluh darah

Tanda dan gejala rematik dapat bervariasi dalam tingkat keparahan dan bahkan dapat datang dan pergi.

Periode peningkatan aktivitas penyakit, yang disebut flare, bergantian dengan periode remisi relatif, yakni saat pembengkakan dan nyeri memudar atau menghilang.

Seiring waktu, rematik dapat menyebabkan persendian berubah bentuk dan bergeser keluar dari tempatnya.

Baca Juga: Mengenal Ankylosing Spondylitis, Peradangan Sendi Tulang Belakang Kronis

Sebaiknya Moms segera buat janji dengan dokter jika Moms atau orang terdekat mengalami ketidaknyamanan dan pembengkakan yang terus-menerus pada persendian.

Dokter mungkin akan melakukan diagnosis dahulu dan kemudian menyarankan pengobatan yang bisa dilakukan.

Penyebab Rematik dan Faktor Risikonya

Penyebab Rematik dan Faktor Risikonya

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip American Arthritis Foundation, rematik terjadi ketika sistem kekebalan menyerang sinovium, yakni lapisan selaput yang mengelilingi persendian.

Peradangan yang dihasilkan akan mengentalkan sinovium, yang pada akhirnya dapat menghancurkan tulang rawan dan tulang di dalam sendi.

Tendon dan ligamen yang menahan sendi kemudian melemah dan meregang. Secara bertahap, sendi pun kehilangan bentuk dan kesejajarannya.

Para ahli sejauh ini tidak tahu apa yang memulai proses ini, meskipun komponen genetik kemungkinan besar terlibat.

Meskipun sebenarnya tidak menyebabkan rematik, gen dapat membuat Moms lebih rentan terhadap faktor lingkungan, seperti infeksi virus dan bakteri tertentu, yang kemudian dapat memicu penyakit.

Sementara itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko rematik, seperti:

  • Jenis Kelamin. Wanita nyatanya lebih mungkin dibandingkan pria untuk mengembangkan rematik.
  • Usia. Rematik dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering dimulai pada usia paruh baya.
  • Riwayat Keluarga. Jika anggota keluarga mengidap rematik, Moms sangat mungkin memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tersebut.
  • Merokok. Merokok meningkatkan risiko terkena rematik, terutama jika Moms memiliki kecenderungan genetik untuk mengembangkan penyakit tersebut. Merokok juga tampaknya dikaitkan dengan keparahan penyakit yang lebih buruk.
  • Paparan Lingkungan. Meskipun kurang dipahami, beberapa paparan seperti asbes atau silika dapat meningkatkan risiko pengembangan rematik.
  • Kegemukan. Seseorang, terutama wanita berusia 55 tahun ke bawah yang kelebihan berat badan atau obesitas tampaknya memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan rematik.

Baca Juga: Ini Penyebab Kelainan Tulang pada Anak dan Dampaknya, Catat!

Waspadai Komplikasi Rematik

Waspadai Komplikasi Rematik

Foto: Orami Photo Stock

Rematik akan meningkatkan risiko Moms mengalami beberapa penyakit lain, seperti:

  • Osteoporosis. Rematik itu sendiri, bersama dengan beberapa obat yang digunakan untuk mengobati rematik, dapat meningkatkan risiko osteoporosis, yakni suatu kondisi yang melemahkan tulang dan membuatnya lebih rentan terhadap patah tulang.
  • Nodul Reumatoid. Tonjolan jaringan yang kuat ini paling sering terbentuk di sekitar titik-titik tekanan, seperti siku. Namun, nodul ini bisa terbentuk di mana saja di tubuh, termasuk paru-paru.
  • Mata dan Mulut Kering. Jika Moms menderita rematik, Moms lebih mungkin mengalami sindrom Sjogren, kelainan yang menurunkan jumlah kelembapan di mata dan mulut.
  • Infeksi. Penyakit itu sendiri dan banyak obat yang digunakan untuk memerangi rematik dapat merusak sistem kekebalan, yang menyebabkan peningkatan infeksi.
  • Komposisi Tubuh Tidak Normal. Proporsi lemak terhadap massa tanpa lemak seringkali lebih tinggi pada orang yang menderita rematik, bahkan pada orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal.
  • Sindrom Carpal Tunnel. Jika rematik memengaruhi pergelangan tangan, maka peradangan dapat menekan saraf yang melayani sebagian besar tangan dan jari.
  • Masalah Jantung. Rematik dapat meningkatkan risiko arteri yang mengeras dan tersumbat, serta peradangan pada kantung yang membungkus jantung.
  • Penyakit Paru-paru. Orang dengan rematik memiliki peningkatan risiko peradangan dan jaringan parut pada jaringan paru-paru, yang dapat menyebabkan sesak napas yang progresif.
  • Limfoma. Rematik meningkatkan risiko limfoma, yakni sekelompok kanker darah yang berkembang di sistem getah bening.

Baca Juga: Mengenal Brittle Bone Disease, Penyakit Tulang Langka Pada Balita

Pengobatan Rematik

Pengobatan Rematik

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention, sayangnya tidak ada obat untuk rematik. Namun, studi klinis menunjukkan bahwa perawatan yang berfokus untuk mengurangi gejala lebih mungkin dilakukan.

Ada beberapa jenis pengobatan yang bisa dilakukan untuk atasi rematik, misalnya:

1. Pemberian Obat

Jenis obat yang direkomendasikan oleh dokter akan bergantung pada tingkat keparahan gejala dan berapa lama telah mengidap rematik. Beberapa obat yang biasa diresepkan antara lain:

  • Biologic Agents

Obat rematik ini pun dikenal sebagai obat yang bisa mengubah respons biologis. Pbat ini pun biasanya diberikan bersama dengan methotrexate atau obat DMARD atau obat biologis lainnya.

Pada umumnya, biologic agents sendiri baru akan diberikan oleh dokter ketika DMARD belum efektif dalam mengobati kondisi Moms dan Dads.

DMARD biologis sendiri meliputi obat seperti abatacept, adalimumab, anakinra, certolizumab, etanercept, golimumab, infliximab, rituximab, tocilizumab, dan tofacitinib.

DMARD biologis sendiri bekerja dengan menargetkan bagian dari sistem imun yang bisa memicu peradangan pada sendi dan jaringan lainnya.

Perlu diketahui, biologic agents sendiri bisa memberikan efek samping berupa infeksi, sakit kepala serta demam. Pemberian obat ini dalam dosis tinggi bisa meningkatkan risiko penggumpalan darah di paru-paru.

  • Disease-modifying Antirheumatic Drugs

Obat DMARD bisa membuat perkembangan penyakit rematik melambat dan bisa membantu agar sendi dan jaringan lainnya tidak rusak secara permanen.

Jenis obat ini akan membliikir efek dari zat kinia yang dilepaskan saat sistem kekebalan menyerang sendi.

Beberapa contoh obat DMARD adalah;

  1. Leflunomide
  2. Hydroxychloroquine
  3. Sulfasalazine

Nah, ketika mengonsumsi obat ini, ada beberapa efek samping yang mungkin Moms rasakan seperti gangguan pada sumsum tulang, kerusakan hati dan infeksi paru-paru.

  • Kortikosteroid

Obat rematik yang satu ini memiliki fungsi untuk mengurangi peradangan, meredakan nyeri dan rasa kaku, dan memperlambat kerusakan sendi.

Pada umumnya, dokter akan memberikan resep ini agar gejala rematik akut pada jangka pendek atau saat kambuh (flare) bisa mereda.

Sama seperti obat yang lainnya, obat yang satu ini dalam jangka panjang bisa menimbulkan efek samping yang serius. Efek samping yang mungkin dirasakan adalah penipisan tulang (osteoporosis), mengalami berat badan yang berambah, mudah mengalami memar, diabetes, otot yang melemah serta kemungkinan adanya penipisan kulit.

  • Obat Antiinflamasi Nonsteroid (NSAID)

Obat yang satu ini memiliki khasiat untuk mengurangi peradangan serta meredakan nyeri pada persendian akibat penyakit rematik. Jika Moms bingung, obat ini bisa dibeli di apotek dengan mudah, lho!

Ibuprofen dan naproxen adalah salah satu contoh obat NSAID rematik generik.

Namun perlu untuk diketahui, obat rematik NSAID yang lebih kuat pad aumumnya memerlukan resep dari dokter nih, Moms! Obat rematik yang membutuhkan resep dari dokter adalah obat seperti COX-2 inhibitor (celecoxib atau etoricoxib).

Kendati demikian, obat NSAID pun juga memiliki efek samping seperti obat lainnya, Moms! Efek samping yang bisa dan mungkin dirasakan adalah iritasi pada perut, masalah jantung serta terjadinya kerusakan ginjal dan hati.

2. Terapi

Dokter juga mungkin meminta Moms mendatangi ahli terapi fisik atau okupasi yang dapat mengajari latihan untuk membantu menjaga sendi tetap fleksibel.

Terapis mungkin juga menyarankan cara baru untuk melakukan tugas sehari-hari, yang akan lebih memudahkan persendian.

Alat bantu juga dapat memudahkan Moms menghindari stres pada persendian yang nyeri.

Misalnya, pisau dapur yang dilengkapi pegangan tangan membantu melindungi sendi jari dan pergelangan tangan.

Alat tertentu, seperti kancing, dapat memudahkan Moms untuk berpakaian.

3. Operasi

Jika obat gagal mencegah atau memperlambat kerusakan sendi, Moms dan dokter mungkin perlu mempertimbangkan operasi untuk memperbaiki sendi yang rusak.

Pembedahan dapat membantu memulihkan kemampuan Moms untuk menggunakan sendi. Itu juga dapat mengurangi rasa sakit dan meningkatkan fungsinya.

Operasi rematik mungkin melibatkan satu atau lebih dari prosedur berikut ini:

  • Sinovektomi. Pembedahan untuk mengangkat lapisan sendi yang meradang (sinovium) dapat dilakukan pada lutut, siku, pergelangan tangan, jari tangan dan pinggul.
  • Perbaikan Tendon. Peradangan dan kerusakan sendi dapat menyebabkan tendon di sekitar sendi kendor atau pecah. Dokter bedah mungkin dapat memperbaiki tendon di sekitar sendi.
  • Fusi Sendi. Menggabungkan sendi secara bedah mungkin disarankan untuk menstabilkan atau menyetel kembali sendi dan untuk menghilangkan rasa sakit ketika penggantian sendi bukanlah pilihan.
  • Penggantian Sendi Total. Selama operasi penggantian sendi, ahli bedah akan mengangkat bagian sendi yang rusak dan memasukkan prostesis yang terbuat dari logam dan plastik.

Baca Juga: 5 Makanan yang Harus Dihindari Bagi Penderita Arthritis

Penanganan Rematik Khusus Ibu Hamil

kehamilan

Foto: Orami Photo Stock

Penanganan rematik pada ibu hamil berbeda dengan pasien rematik pada umumnya. Dilansir dari National Rheumatoid Arthritis Society, penyakit rematik serta obat tertentu yang biasa digunakan bisa memengaruhi perkembangan janin dan sistem kekebalan bayi ketika sudah lahir.

Jadi penyakit rematik yang dialami oleh ibu hamil harus dilakukan dengan cara yang khusus ya, Moms.

Perlu diketahui, kehamilan itu sendiri ternyata bisa memengaruhi penyakit rematik. Bahkan sebagian ibu hamil pun merasakan gejala rematik jadi membaik selama masa kehamilan. Meski tak jarang ada ibu hamil yang justru merasa keadaannya memburuk selama hamil.

Dalam kondisi, biasanya dokter akan memberikan obat rematik yang aman untuk ibu hamil. Ada beberapa obat yang bisa diberikan dan bisa mengurangi efek sampingnya.

  • Obat DMARD seperti hydroxtchloroquine dan Sulfasalazine.
  • Kortikosteroid dengan dosis hingga rendah
  • NSAID dosis rendah untuk ibu hamil trimester pertama dan kedua

Ada beberapa obat lain yang aman untuk dipakai oleh ibu hamil yang dalam mengobati rematik. Meski demikian, Moms perlu dan wajib melakukan konsultasi dengan dokter kandungan terlebih dahulu, ya!

Namun, pembedahan membawa risiko perdarahan, infeksi, dan nyeri. Diskusikan manfaat dan risikonya dengan dokter sebelum memilih metode ini.

Nah itu dia Moms pembahasan mendalam mengenai rematik. Perlu diingat, Moms perlu melakukan konsultasi mendalam mengenai pengobatan ini ketika sedang mengandung, ya! Semoga cepat sembuh!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rheumatoid-arthritis/symptoms-causes/syc-20353648
  • https://www.arthritis.org/diseases/rheumatoid-arthritis
  • https://www.cdc.gov/arthritis/basics/rheumatoid-arthritis.html
  • https://nras.org.uk/resource/rheumatoid-arthritis-pregnancy/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait