Rupa-rupa

31 Mei 2021

Mengapa Roti Buaya Selalu Ada di Pernikahan Betawi? Yuk Intip Sejarah dan Faktanya!

Bukan hanya sekedar roti!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Betawi tidak hanya terkenal kerak telor saja, tetapi juga roti buaya. Roti buaya sendiri menjadi salah satu seserahan wajib yang ada dalam pernikahan adat Betawi.

Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki adat istiadat atau budayanya masing-masing. Salah satunya upaca budaya, ritual ini terkait dengan kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Umumnya terdapat makanan yang disajikan sebagai ciri khas dari upacara tersebut.

Hal ini sama seperti roti buaya. Roti berbentuk buaya bukanlah roti biasa, karena roti ini merupakan “barang wajib” saat upacara pernikahan Betawi.

Biasanya roti berbentuk buaya itu panjangnya sekitar 50 sentimeter, terkadang sampai satu meter dan dibawa oleh pengantin pria pada acara pernikahan.

Selama ini buaya memiliki konotasi yang buruk. Buaya sering merujuk pada sebutan "buaya darat", yaitu simbol tidak setia.

Lantas mengapa roti berbentuk buaya diwajibkan dibawa untuk pernikahan masyarakat Betawi? Daripada salah paham, yuk Moms simak sejarah dan filosofi roti buaya.

Baca Juga: 5 Pulau Cantik Dekat Jakarta yang Layak Jadi Alternatif untuk Berlibur

Sejarah Roti Buaya

buaya.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Roti buaya tidak hanya bentuknya yang menarik, tetapi juga memilik sejarah dan fisolofis yang unik.

Kehadiran roti berbentuk buaya dalam pernikahan adat betawi dipengaruhi oleh datangnya bangsa Eropa ke Indonesia.

Jika orang Eropa menunjukkan cintanya dengan memberi bunga, maka orang Betawi menganggap perlu ada simbol lain untuk menyatakan cinta.

Roti berbentuk buaya dipilih sebagai simbol dari cinta.

Tidak ada yang tahu pasti kapan masyarakat Betawi mulai mengolah roti berbentuk buaya. Namun hal ini dipercaya sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Roti buaya bahkan dijadikan simbol sebuah tradisi masyarakat Betawi.

Melansir jakarta-tourism.go.id, dahulu banyak buaya di 13 sungai yang menyebar di berbagai daerah di Jakarta.

Buaya tersebut dianggap sebagai pelindung suci daerah yang dulunya berawa.

Buaya-buaya siluman oleh masyarakat Betawi dianggap sebagai penunggu sebuah entuk atau sumber mata air.

Pada zaman dahulu apabila ada tindakan anggota atau sekelompok masyarakat yang mengganggu kebersihan dan ketertiban sumber mata air, maka akan diberikan sanksi.

Karena buaya telah setia menunggu sumber mata air sekaligus sumber kehidupan masyarakat Betawi, maka buaya kemudian dianggap sebagai simbol kehidupan.

Masyarakat di sekitar sungai Jakarta memahami pola hidup buaya yang hanya kawin sekali dalam seumur hidupnya.

Hewan buas bergiigi tajam ini tak akan mencari betina lain saat betina pasangannya mati ataupun menghilang.

Sebuah penelitian Rockefeller Wildlife Refuge (RWR) di Louisiana, United States tahun 2008 yang diterbitkan ScienceDaily membuktikan bahwa, buaya jantan tidak mau berpaling ke betina lain, begitu pula sebaliknya.

Sejauh itu, buaya jantan akan selalu melindungi betina yang akan bertelur, dan jantan akan menjaga telur hingga saat bayi menetas.

Maka dari itu dipilih lah buaya sebagai roti untuk upacara pernikahan di Betawi.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Airbnb Jakarta yang Murah, Bisa Booking untuk Malam Tahun Baru!

Filosofi Roti Buaya

roti buaya 1.jpg

Foto: lyfwell.com

Roti buaya konon terinspirasi dari tingkah buaya yang hanya kawin sekali selama hidup mereka, roti tersebut dipercaya mewakili kesetiaan para pasangan yang akan menikah.

Buaya juga merupakan hewan perkasa yang dapat hidup di dua dunia. Artinya simbol buaya digunakan sebagai harapan agar rumah tangga menjadi tangguh dan dapat bertahan hidup dimanapun mereka tinggal.

Roti berbentuk buaya juga memiliki makna sebagai lambang kehandalan, karena dianggap roti merupakan makanan golongan atas.

Tak heran jika roti berbentuk buaya memiliki posisi penting dalam masyarakat Betawi karena bertujuan agar pasangan suami istri saling berbakti, memiliki masa depan yang lebih baik, dan dapat hidup sejahtera serta mapan samapi akhir hayat.

Oleh karena itu, setiap prosesi acara pernikahan Betawi, mempelai pria selalu membawa sepasang roti berbentuk buaya berukuran besar, dan roti buaya berukuran kecil yang diletakkan di atas roti yang disimbolkan sebagai Buaya Wanita.

Baca Juga: Berasa Nostalgia, Ini 5 Jajanan Khas Betawi yang Jadi Favorit Banyak Orang

Dulunya roti berbentuk buaya dibuat dengan tekstur keras. Hal ini menandakan harapan agar pernikahan kedua mempelai bisa langgeng sampai maut menjemput.

Seiring perkembangan zaman orang-orang lebih menyukai roti buaya yang bertekstur lembut.

Karena itu tak heran, jika sekarang kita lebih menikmati roti berbentuk buaya lembut dan lebih nyaman dimakan.

Roti buaya sekarang juga dibuat seindah mungkin dengan berbagai variasi rasa yang membuat siapapun ingin mencicipinya.

Saat ini, seiring dengan perkembangan jaman roti berbentuk buaya ini semakin banyak dibuat dari adonan roti yang manis dan juga mengandung coklat, keju atau strawberry.

Selain itu, sekarang dapat langsung dikonsumsi oleh keluarga mempelai wanita.

Membuat roti berbentuk buaya tidaklah sulit, karena bahan dasarnya sangat sederhana: tepung terigu, gula pasir, margarin, garam, ragi, susu bubuk, telur, dan pewarna.

Keseluruhan bahan diaduk dan diaduk sampai rata, kemudian dibentuk seperti buaya dan di panggang sampai matang.

Baca Juga: Ini 5 Hal yang Wajib Dibicarakan Sebelum Lakukan Pernikahan Beda Budaya

Mitos Roti Buaya

roti buaya 2.jpeg

Foto: coretan-gadogado.com

Moms ternyata dalam mengantarkan roti buaya sebagai makanan seserahan, ada hal yang harus diperhatikan. Roti berbentuk buaya harus diantar dengan hati-hati dalam keadaan mulus dan baik.

Artinya tidak boleh ada cacat sedikit pun sampai diterima oleh pihak mempelai wanita.

Masyarakat Betawi pun percaya semakin besar ukuran buaya, maka semakin baik maknanya.

Ukuran roti berbentuk buaya memengaruhi masa depan rumah tangga sang penganti.

Selain itu, ada juga kepercayaan bahwa seseorang yang belum menikah lalu memakan roti berbentuk buaya, maka akan cepat bertemu jodoh dan segera menikah.

Maka dari itu tak heran jika tamu atau keluarga yang belum nikah selalu berebut memakan roti buaya.

Umumnya roti berbentuk buaya yang dijadikan seserahan jumlahnya sepasang dan dilengkapi dengan telur serta anak buaya.

Hal ini karena masyarakat Betawi berharap kelah sang pengantin ini cepat diberi momongan.

Baca Juga: Orami Parenting Morning Class: Membuat Bento Roti untuk Anak! Live di Instagram @oramiparenting

Fakta Lain Roti Buaya

fakta roti buaya.jpg

Foto: pinterest.com

Saat ini roti buaya sudah disajikan dengan adonan yang segar dan bisa di makan.

Ternyata dahulu roti berbentuk buaya disajikan sudah dalam keadaan busuk dan bertekstur sangat keras.

Hal ini karena roti buaya hanyalah sebagai simbol semata pada upacara Betawi.

Roti berbentuk buaya yang busuk ini mengandung makna bahwa pasangan yang baru menikah akan langgeng seumur hidup bahkan samapi mau memisahkan mereka.

Selain itu, dahulu selesai acara roti berbentuk buaya langsung disimpan di lemari pasangan yang menikah agar tahan lama dan awet.

Sampai saat ini tradisi seserahan memberikan roti buaya masih dilestarikan oleh masyarakat Betawi.

Wah Moms ternyata roti buaya menyimpan fakta dan mitos yang menarik dan unik ya. Jadi sekarang Moms sudah tau ya alasan upacara masyarakat Betawi selalu membawa roti buaya.

  • https://jakartabytrain.com/2014/05/19/crocodile-bread-an-important-symbol-for-betawi-brides/
  • https://lyfwell.com/roti-buaya/
  • https://voi.id/en/memori/7659/the-most-faithful-animal-example-in-a-crocodile-slice-of-bread
  • https://www.sciencedaily.com/releases/2009/10/091007081534.htm
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait