18 Februari 2020

Serangan Jantung Terjadi Setelah Berolahraga, Benarkah Keduanya Berhubungan?

Pelari maraton juga bisa mengalaminya
Serangan Jantung Terjadi Setelah Berolahraga, Benarkah Keduanya Berhubungan?

Foto: Orami Photo Stock

Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Ada lebih banyak orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit kardiovaskular daripada penyakit lain.

Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2016 diperkirakan 17,9 juta orang meninggal karena penyakit ini. Dari kematian 17,9 juta ini, sekitar 85% disebabkan oleh serangan jantung dan stroke.

Para ahli mengatakan bahwa salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko serangan jantung adalah meningkatkan aktivitas fisik, seperti berjalan atau bersepeda.

Tetapi, ada beberapa kasus di mana orang-orang justru mendapatkan serangan jantung ketika sedang berolahraga. Lalu, apa hubungannya antara olahraga dan serangan jantung?

Baca Juga: Ketahui Gejala Awal Serangan Jantung, Penyebab Ashraf Sinclair Meninggal

Seseorang Bisa Meninggal Karena Olahraga dan Alami Serangan Jantung

hubungan olahraga dan serangan jantung-2
Foto: hubungan olahraga dan serangan jantung-2

Foto: Orami Photo Stock

Moms mungkin ingat dengan kabar meninggalnya Adjie Massaid pada Februari 2011 silam karena serangan jantung usai dirinya bermain futsal, yang merupakan olahraga kesukaannya.

Tidak hanya Adjie, Benyamin Sueb juga meninggal dunia pada September 1995 karena bermain bola, padahal kala itu ia dalam kondisi sehat.

Bahkan, atlet olahraga dengan kondisi kesehatan yang lebih baik dari orang lain pada umumnya juga dapat mengalami serangan jantung ketika sedang berolahraga.

Fabrice Muamba, pemain sepak bola profesional 23 tahun di Inggris, pingsan saat pertandingan setelah menderita serangan jantung pada Maret 2012, mengutip The Globe and Mail. Kini, ia telah pensiun.

Forbes mencatat, bahwa kegiatan maraton juga dianggap dapat memicu serangan jantung pada seseorang. Meskipun, angkanya bisa terbilang masih cukup langka.

Baca Juga: Ketahui 6 Manfaat Donor Darah, Tingkatkan Kesehatan Jantung hingga Hindari Kanker

Kematian Jantung Mendadak Bisa Terjadi pada Orang Biasa atau Atlet

hubungan olahraga dan serangan jantung-1
Foto: hubungan olahraga dan serangan jantung-1

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Health.org, meski olahraga teratur membantu menguatkan jantung dan menurunkan risiko penyakit kardiovaskular jangka panjang, melakukan aktivitas berat juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

Hal ini terutama berlaku untuk orang-orang yang sudah punya risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular, yang disebabkan baik karena gaya hidup atau faktor genetik.

Kondisi serangan jantung karena olahraga atau melakukan aktivitas berat ini disebut sebagai sudden cardiac death (kematian jantung mendadak).

Dalam Methodist DeBakey Cardiovascular Journal, disebutkan bahwa kematian jantung mendadak (SCD) adalah penyebab medis paling sering dari kematian mendadak pada atlet.

Pada tahun 2016, perkiraan kejadiannya berkisar dari 1 dalam 40.000 hingga 1 dalam 80.000 atlet per tahunnya.

Meski jarang, kematian jantung mendadak yang terjadi pada atlet sangat bervariasi, tergantung latar belakang atlet tersebut. Pada atlet yang lebih tua, kematian jantung mendadak bisa disebabkan oleh penyakit arteri koroner dan komplikasinya.

Sementara itu, pada atlet yang lebih muda, bisa disebabkan penyakit kardiovaskular bawaan atau penyakit lain, seperti kardiomiopati hipertrofik, anomali arteri koroner, kardiomiopati lain, atau gangguan aritmogenik primer.

Karena itu, sebelum Moms atau Dads melakukan olahraga ketahanan seperti lari maraton atau sepak bola, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter jika khawatir tentang kesehatan jantung.

Baca Juga: Ini 4 Jenis Olahraga yang Tidak Disarankan untuk Penderita Penyakit Jantung

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.