2-3 tahun

15 Juli 2021

5 Tahap Perkembangan Psikoseksual pada Anak yang Menentukan Tumbuh Kembangnya, Catat!

Moms juga harus memahami perilaku seksual normal dan bermasalah pada anak
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apakah Moms pernah melihat Si Kecil memegang alat kelaminnya dan terlihat ‘keenakan’? Jangan langsung dimarahi Moms. Itu adalah hal yang normal dan termasuk dalam tahap perkembangan psikoseksual anak.

Psikoanalis terkenal Sigmund Freud, memiliki teori perkembangan psikoseksual. “Teori ini berasal dari Freud pada awal 1900-an sebagai cara untuk memahami dan menjelaskan penyakit mental dan gangguan emosional,” jelas psikoterapis Dana Dorfman, PhD.

Baca Juga: 3 Perkembangan Anak yang Butuh Perhatian Serius

Tahap Perkembangan Psikoseksual Anak

Tahap Perkembangan Psikoseksual -1

Foto: Orami Photo Stock

Setiap tahap perkembangan psikoseksual anak ini dikaitkan dengan bagian tubuh tertentu, atau lebih khusus lagi, zona sensitif seksual. Setiap zona adalah sumber kesenangan dan konflik dalam setiap tahapan masing-masing.

“Kemampuan seorang anak untuk menyelesaikan konflik itu menentukan apakah mereka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya atau tidak,” jelas konselor profesional berlisensi Dr Mark Mayfield, pendiri dan CEO Mayfield Counseling Centers.

Jika dapat menyelesaikan konflik dalam tahap tertentu, anak maju ke tingkat perkembangan berikutnya. Jika tidak, maka anak akan berada dalam fase ‘terjebak’.

Misalnya, seorang anak yang ‘terjebak’ dalam tahap oral mungkin terlalu menikmati sesuatu di dalam mulutnya. Dan ini akan mempengaruhi perkembangannya.

Oleh karena itu, Moms perlu memperhatikan tahap perkembangan psikoseksual anak, yakni:

1. Tahap Oral (0-1 Tahun)

Pada tahap ini, bayi mendapatkan kesenangan dari mulutnya. Selain menyusui, bayi akan memainkan mulutnya dengan jari misalnya, dan terus mengeksplor bagian tersebut dengan memasukkan segala jenis benda ke mulutnya.

Menurut Freud, selama tahap pertama perkembangan ini, libido manusia terletak di mulutnya. Artinya mulut adalah sumber utama kesenangan. “Tahap ini terkait dengan menyusui, menggigit, mengisap, dan menjelajahi dunia dengan memasukkan sesuatu ke dalam mulut,” kata Dr Dana.

Mengunyah permen karet berlebihan, menggigit kuku, dan mengisap jempol bisa jadi berawal dari terlalu sedikit atau terlalu banyak kepuasan oral anak pada tahapan ini. “Makan berlebihan dan merokok juga berakar pada perkembangan yang buruk dari tahap pertama ini,” tambahnya.

2. Tahap Anal (1-3 Tahun)

Pada tahap ini, kesenangan tidak diperoleh dari memasukkan ke dalam, tetapi mendorong keluar dari anus. Ya, itu kode untuk buang air besar Moms.

Freud percaya bahwa selama tahap ini, toilet training serta belajar mengendalikan buang air besar dan kandung kemih adalah sumber utama kesenangan dan ketegangan.

Teori tersebut mengatakan bahwa pendekatan orang tua terhadap proses toilet training akan mempengaruhi bagaimana seorang anak berinteraksi seiring bertambahnya usia.

Misalnya, toilet training yang keras dianggap menyebabkan orang dewasa menjadi retensi anal yakni perfeksionis, terobsesi dengan kebersihan, dan pengendalian.

Baca Juga: 4 Manfaat Istimewa Musik Untuk Perkembangan Anak

3. Tahap Phalik (3-6 Tahun)

Dalam tahap perkembangan psikoseksual ini, tahap ini melibatkan fiksasi pada penis. Di tahap ini, anak mulai memperhatikan dan senang memainkan alat kelaminannya sendiri.

Pada usia ini juga anak-anak sudah mulai menemukan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari jenis kelaminnya.​

Pusat kepuasan (kenikmatan) pada fase ini berada di kelamin. Dengan kata lain, anak sudah mulai melakukan masturbasi dengan mengusap-ngusap atau memijit-mijit organ seksualnya sendiri untuk menghasilkan rasa senang.

Penelitian Young Children mencatat bahwa anak-anak prasekolah sering bingung dengan perbedaan anatomi seksual, bahwa anak-anak membutuhkan nama untuk bagian tubuh seksual, dan masturbasi sesekali adalah normal.

4. Tahap Latens (7-10 Tahun)

Sigmund Freud berpendapat bahwa ini adalah saat energi seksual disalurkan ke aktivitas aseksual lain seperti belajar, hobi, dan hubungan sosial. Dia merasa bahwa tahap ini adalah saat orang mengembangkan keterampilan sosial dan komunikasi yang sehat.

Selama tahap ini, superego terus berkembang sementara energi seksual ditekan. Anak-anak mengembangkan keterampilan sosial, nilai-nilai dan hubungan dengan teman sebaya dan orang dewasa di luar keluarga.

Perkembangan ego dan superego berkontribusi pada periode ketenangan ini. Tahap ini dimulai sekitar waktu anak-anak masuk ke sekolah dan menjadi lebih peduli dengan hubungan teman sebaya, hobi, dan minat lainnya.

Dia percaya kegagalan untuk melewati tahap ini dapat mengakibatkan ketidakdewasaan seumur hidup, atau ketidakmampuan untuk memiliki dan mempertahankan kebahagiaan, kesehatan, dan memenuhi hubungan seksual dan non-seksual sebagai orang dewasa.

5. Tahap Genital (12 Tahun ke Atas)

Timbulnya pubertas menyebabkan libido menjadi aktif kembali. Selama tahap perkembangan psikoseksual akhir ini, individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Tahap ini dimulai selama masa pubertas tetapi berlangsung sepanjang sisa hidup seseorang.

Menurut Sigmund Freud, tahap perkembangan psikoseksual ini ditandai dengan matangnya organ reproduksi anak. Ini akan memberikan dampak yang beragam bagi perkembangan karakter anak nantinya.

Jika anak mampu melewati tahapan perkembangan psikoseksualnya ini dengan baik, maka anak akan memiliki kepribadian yang sehat.

Baca Juga: 5 Keuntungan Rutin Baby Spa Bagi Perkembangan Bayi

Memahami Perilaku Seksual pada Anak

Tahap Perkembangan Psikoseksual -2

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui tahap perkembangan psikoseksual anak, Moms tidak perlu canggung lagi untuk berbicara dengan anak-anak tentang perkembangan seksualnya.

Pada usia yang sangat muda, anak-anak mulai mengeksplorasi tubuhnya dengan menyentuh, mencolek, menarik, dan menggosok bagian tubuhnya, termasuk alat kelaminnya. Seiring bertambahnya usia, anak membutuhkan bimbingan dalam mempelajari bagian-bagian tubuh ini dan fungsinya.

Dilansir American Academy of Pediatrics (AAP), ada beberapa perilaku seksual ‘normal’ dan perilaku yang mungkin menandakan masalah pada anak. Apa saja?

1. Perilaku yang Normal

Berikut daftar apa yang dikatakan dokter anak sebagai perilaku seksual yang normal dan umum pada anak usia 2 hingga 6 tahun.

  • Menyentuh/memasturbasi alat kelamin di tempat umum atau pribadi,
  • Melihat atau menyentuh alat kelamin teman sebaya atau saudara baru,
  • Menampilkan alat kelamin kepada teman sebaya,
  • Berdiri atau duduk terlalu dekat dengan seseorang,
  • Mencoba melihat teman sebaya atau orang dewasa telanjang

2. Perilaku yang Menandakan Masalah

Moms juga perlu tahu kapan perilaku seksual anak muncul lebih dari sekadar rasa ingin tahu yang tidak berbahaya. Sebab, masalah perilaku seksual dapat menimbulkan risiko bagi keselamatan Si Kecil dan juga anak yang lain.

  • Sering terjadi dan tidak dapat dialihkan,
  • Menyebabkan rasa sakit emosional atau fisik atau cedera pada diri sendiri atau orang lain,
  • Diasosiasikan dengan agresi fisik,
  • Melibatkan paksaan,
  • Mensimulasikan tindakan seksual dewasa

Dengan mengetahui tahap perkembangan psikoseksual anak ini, diharapkan Moms bisa lebih bijak saat membimbing Si Kecil dalam melewati prosesnya.

  • https://www.healthline.com/health/psychosexual-stages#takeaway
  • https://www.verywellmind.com/freuds-stages-of-psychosexual-development-2795962
  • https://www.researchgate.net/publication/234604191_Psychosexual_Development_in_Infants_and_Young_Children_Implications_for_Caregivers
  • https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool/Pages/Sexual-Behaviors-Young-Children.aspx
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait