27 November 2023

Tugu Lilin di Solo: Lokasi, Sejarah dan Makna Bangunannya

Logo Kota Solo yang menjadi cagar budaya nasional

Warga Solo pasti sudah tidak asing dengan Tugu Kebangkitan Nasional, atau lebih dikenal dengan Tugu Lilin.

Salah satu tujuan pembangunan tugu ini untuk memperingati 25 tahun lahirnya Hari Kebangkitan Nasional pada 1933.

Sejak saat itu, Tugu Lilin menjadi ikon yang dipakai sebagai lambang resmi Pemerintah Kota Surakarta.

Lalu, bagaimana asal usul berdirinya Tugu Lilin yang ada di Kota Solo ini? Simak artikelnya sampai selesai, ya Moms.

Baca Juga: Rekomendasi Cafe di Solo yang Murah dan Baru, Mampir Yuk!

Sejarah Tugu Lilin

Sejarah Tugu Lilin
Foto: Sejarah Tugu Lilin (Kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Sejarah pembangunan Tugu Lilin cukup panjang. Berikut selengkapnya.

1. Kongres Indonesia Raya I

Pembangunan Tugu Lilin pertama kali tercetus pada Kongres Indonesia Raya I pada 1931 di Surabaya.

Saat itu, perwakilan masyarakat Solo mengusulkan untuk membuat sebuah tugu dalam rangka memperingati 25 tahun Kebangkitan Nasional.

2. Rapat di Kota Surakarta

Setelah usulan tersebut diucapkan, Boedi Oetomo yang merupakan bagian dari Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPKI) mengadakan rapat di Surakarta.

Pada rapat tersebut, Boedi Oetomo mengemukakan usulan dari perwakilan masyarakat Solo pada Kongres Indonesia I.

Akhirnya, gagasan tersebut disepakati dan didirikan sebuah tugu yang digunakan untuk memperingati ke 25 tahun Kebangkitan Nasional di Kota Solo.

Saat itu, KRT Woerjaningrat yang merupakan menantu PB X serta wakil ketua Boedi Oetomo, diminta untuk menjadi penanggung jawab pembangunan tugu ini.

Baca Juga: Daftar Itinerary Singapura 2 Hari 1 Malam, Pastikan Kunjungi Gardens by The Bay, Moms!

3. Konsep Bangunan

Mengutip website Surakarta.go.id, konsep bangunan Tugu Lilin merupakan karya dari Ir.Soetedjo.

Menurut komite pembangunan saat itu, konsep bangunan tersebut dianggap memenuhi cita-cita kebangsaan dan mudah dimengerti masyarakat umum.

Bentuk tugu menggambarkan kekuatan, sedangkan lilin mempunyai arti penerang.

Hal ini menjadi harapan para pejuang di zaman dahulu yang berjuang mati-matian demi mencapai Hari Kemerdekaan Indonesia.

4. Ditolak Belanda

Peletakan batu pertama dilakukan pada awal Desember 1933 dan pembangunannya diserahkan kepada R.M. Sosrosaputro.

Namun, hal itu mendapat penolakan dari pemerintah Hindia Belanda.

Mereka menganggap tugu ini adalah simbol dari pemberontakan.

Residen Surakarta juga sempat menghambat pembangunan tugu ini.

Bahkan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, Bonifacius Cornelis de Jonge, mengundang Pakubuwono X untuk membicarakan masalah ini.

Baca Juga: Taman Balekambang Surakarta, Ruang Terbuka Favorit Warga Solo

5. Pembangunan Terus Berlanjut

Pembangunan masih terus dilanjutkan dan selesai pada Oktober 1934.

Tugu Solo ini kemudian diberi nama “Toegoe peringatan pergerakan kebangsaan 1908-1933”.

Lagi-lagi, Belanda melakukan penolakan.

Pemerintah Hindia Belanda tidak suka dengan nama dari tugu tersebut dan dan mengancam akan membongkarnya.

Pakubuwono X kemudian ikut turun tangan agar mendapatkan izin dari pemerintah.

6. Diminta Ganti Nama

Di akhir Januari 1935, PB X datang ke Batavia untuk bertemu Gubernur Jenderal, tetapi usahanya gagal.

Pada bulan April 1935, residen Treur kembali mengancam akan membongkar tugu ini jika usulan teksnya yang berbunyi “Toegoe peringatan kemadjoean ra’jat 1908-1933” tidak diterima.

Pada akhirnya, usulan dari Treur ini terpaksa diterima dan dituliskan pada prasasti di tugu.

Hal inilah yang akhirnya membuat Tugu Lilin masih berdiri hingga saat ini.

Baca Juga: Museum Kebangkitan Nasional: Sejarah, Alamat, Harga Tiket Masuk, dan Koleksi yang Ada di Dalamnya

7. Simbol Kebangkitan Nasional

Setelah Indonesia merdeka, Tugu Lilin pun dijadikan simbol peringatan Kebangunan Nasional yang kemudian disebut Kebangkitan Nasional.

Pada 1948, peringatan pembangunan Tugu Lilin untuk pertama kalinya diadakan oleh pemerintah.

Pada tahun 1953, Tugu Lilin dijadikan bagian dari logo Kota Solo.

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.

rbb