08 Oktober 2022

Voyeurisme, Kelainan Seksual Senang Mengintip Orang Lain Telanjang atau Berhubungan Intim

Harus ditangani dengan tepat oleh ahlinya

Moms, pernah mendengar istilah voyeurisme?

Ini adalah kondisi ketika seseorang dapat merasa terangsang saat melihat atau mengintip orang lain membuka baju, dalam keadaan telanjang, atau sedang melakukan kegiatan seksual.

Kondisi ini biasanya terbentuk sejak pada masa remaja atau dewasa awal, dan lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

Bila tidak ditangani, voyeurisme akan sangat berdampak untuk diri sendiri, dan juga orang lain.

Baca Juga: Menyelami Gangguan Kesehatan Mental pada Ibu Pascamelahirkan

Apa Itu Gangguan Voyeurisme?

Mengintip
Foto: Mengintip (Freepik.com/wayhomestudio)

Gangguan voyeurisme adalah salah satu dari gangguan parafilia. Ini merupakan gangguan yang membuat seseorang merasa tertarik atau terangsang pada hal yang tidak biasa.

Gangguan voyeurisme terjadi ketika seseorang menjadi begitu dikuasai oleh pikiran untuk memenuhi hasrat seksualnya, dengan mengintip seseorang atau suatu kegiatan seksual.

Bila tindakan tersebut tidak dilakukan, mereka akan menjadi tertekan, bertindak berdasarkan dorongan dan merugikan orang lain.

Selain mengintip, pemilik gangguan ini juga terkadang mengambil foto atau merekam untuk dapat dikonsumsi di lain waktu.

Baca Juga: 23+ Manfaat Kencur untuk Kesehatan dan Seksualitas, Menakjubkan!

Gejala Gangguan Voyeurisme

Pria Merekam
Foto: Pria Merekam (Freepik.com/shyachlo)

Untuk mengetahui seseorang mengidap gangguan voyeurisme, terdapat gejala-gejala yang dialami.

Melansir dari Very Well Mind, gejala gangguan voyeurisme yang paling umum, meliputi:

  • Merasa sangat terangsang ketika mengamati orang yang melakukan aktivitas seksual.
  • Menjadi tertekan dan tidak dapat beraktivitas dengan baik karena dorongan dan fantasi yang dimiliki.
  • Melakukan tindakan mengintip yang tidak mendapat persetujuan dari orang lain.
  • Kurangnya gairah seksual ketika tidak mengawasi atau mengintip orang lain.
  • Merasa bersalah setelah melakukan mengintip orang lain.

Dalam beberapa kasus, seseorang dengan kondisi ini mungkin juga melakukan tindakan seksual pada diri mereka sendiri sambil mengamati orang lain yang terlibat dalam aktivitas seksual.

Gejala-gejala tersebut juga sering terjadi bersamaan dengan kondisi lain, seperti depresi dan kecemasan.

Selain itu, bebepa orang dengan kondisi ini juga bahkan berisiko mengalami gangguan parafilia lain, seperti gangguan eksibisionis (menampilkan bagian tubuh pada orang lain).

Baca Juga: 14 Cara Tes Kesehatan Mental serta Manfaatnya, Bisa Dicoba!

Penyebab Gangguan Voyeurisme

Pria Mengintip
Foto: Pria Mengintip (Freepik.com/wavebreakmedia)

Tidak ada hal yang secara khusus menjadi penyebab gangguan voyeurisme.

Tetapi terdapat beberapa faktor risiko tertentu yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang untuk mengalami kondisi tersebut.

Adapun faktor-faktornya, seperti:

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Depresi, Pastikan Lakukan Konsultasi dengan Psikolog

Diagnosis Gangguan Voyeurisme

Konsultasi Kesehatan
Foto: Konsultasi Kesehatan (Freepik.com/vh-studio)

Diagnosis dari gangguan voyeurisma hanya dapat dilakukan oleh dokter ahli.

Gejala gangguan voyeurisme juga harus bertahan dan dialami selama 6 bulan atau lebih sebelum diagnosis konklusif dapat diberikan.

Penderitanya juga harus berusia minimal 18 tahun sebelum dapat didiagnosis dengan gangguan ini.

Hal tersebut karena mungkin akan terasa sulit untuk membedakan antara gangguan voyeurisme dan keingintahuan seksual pada anak-anak.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), menentukan kriteria dalam melakukan diagnosis gangguan ini, yakni:

  • Mengalami gangguan sekitar 6 bulan atau lebih.
  • Berusia minimal 18 tahun.
  • Melakukan tindakan seksual yang merugikan orang lain.

Biasanya, seseorang dengan kondisi ini jarang didiagnosis, hingga ketika mereka tertangkap melakukan tindakan seksual pada orang lain akibat dari kelainan yang mereka miliki.

Ini karena kebanyakan penderita dari gangguan ini tidak berbagi informasi mengenai kondisi yang mereka alami dengan ahli medis atau orang terdekat mereka.

Bila Moms melihat gejala gangguan voyeurisme pada seseorang, contohnya orang terdekat, bantulah mereka untuk mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.

Tindakan perawatan sedini mungkin dapat mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Baca Juga: 5 Bahaya Berhubungan saat Haid, Bisa Picu Penyakit Menular Seksual!

Pengobatan Gangguan Voyeurisme

Grup Terapi
Foto: Grup Terapi (Freepik.com/dcstudio)

Gangguan voyeurisme dapat diatasi dengan efektif melalui psikoterapi, penggunaan obat-obatan yang telah diresepkan, atau keduanya sekaligus, tergantung pada tingkat keparahannya.

Selain itu, berdasarkan penelitian pada tahun 2019 oleh Delcea Cristian, dari Sexology Institute of Romania, mengungkap bahwa, untuk keberhasilan perawatan, penderita gangguan ini harus memiliki keinginan untuk mengubah perilaku yang mereka miliki.

Sebagian pasien merasa bahwa langkah awal ini sulit untuk dilakukan. Sehingga, kebanyakan penderitanya pasti terpaksa menerima pengobatan.

Namun, hal tersebut bisa diatasi dengan terapi perilaku

1. Menyadari sedang Mengalami Gangguan

Kunci utama untuk mengatasi gangguan voyeurisme adalah dari penderitanya sendiri.

Penderitanya harus sadar dan berusaha mendapatkan atau mencari bantuan.

Ini bisa dimulai dengan menceritakan kepada orang tua, teman, atau orang terdekat lainnya yang akan mendukung dan dapat membantu penderita tersebut mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

2. Mengonsumsi Obat-obatan

Dokter akan meresepkan sejumlah obat, seperti obat-obatan yang dapat menurunkan kadar hormon testosteron.

Karena kebanyakan kondisi ini dialami oleh pria, maka obat penurun kada testosteron dibutuhkan untuk menurunkan gairah seks yang menjadi faktor utama seseorang melakukan voyeurisme.

Baca Juga: Mengenal Skizofrenia, Gangguan Mental akibat Fungsi Otak Terganggu

3. Psikoterapi

Berbagai bentuk psikoterapi dapat membantu seseorang dengan gangguan ini mengatasi kondisi yang dialami.

Terapi perilaku kognitif dapat membantu mereka belajar mengendalikan impuls dan memahami mengapa perilaku mereka tidak dapat diterima secara sosial.

Ini juga dapat membantu seseorang mengeksplorasi akar penyebab perilaku mereka dan membantu mereka menyadari bahwa beberapa perubahan perilaku perlu terjadi.

Selain itu, melakukan terapi dapat mengajari penderita gangguan ini mekanisme coping guna membantu mereka mengatasi dorongan seksual seperti mengintip orang lain.

Nah, itu dia Moms penjelasan lengkap mengenai gangguan voyeurisme. Bila mengalami sejumlah gejalanya, segera lakukan konsultasi pada ahlinya ya.

  • https://www.verywellmind.com/what-is-voyeuristic-disorder-5094124
  • https://www.researchgate.net/publication/341371667_Voyeurism_and_Scopophilia
  • https://www.psychologytoday.com/us/conditions/voyeuristic-disorder
  • https://psychcentral.com/disorders/voyeurism-what-it-is-and-what-it-isnt#symptoms

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.