17 Februari 2022

Alergi Sperma: Ketahui Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya agar Hubungan Intim Tetap Nyaman

Bisa sulit hamil jika tidak ditangani dengan tepat

Apa itu alergi sperma?

Alergi sperma atau alergi air mani merupakan alergi terhadap protein yang ditemukan di dalam air mani pria.

Kondisi ini juga disebut hipersensitivitas plasma mani.

Alergi ini memang langka, tapi ada beberapa orang yang mengalaminya dan bisa berdampak pada peluang hamil.

Baca Juga: Alergi Seafood: Gejala dan Cara Mengatasinya

Mengenal Alergi Sperma

alergi cairan semen
Foto: alergi cairan semen

Foto: nydailynews.com

Pada studi yang dipublikasikan di The Journal of Allergy and Clinical Immunology, reaksi elergi bisa terjadi setelah hubungan seksual pertama kali.

Namun, juga bisa juga terjadi secara tiba-tiba dengan pasangan yang telah lama bersama.

Alergi sperma juga bisa muncul setelah dalam waktu yang lama tidak berhubungan intim, seperti pascamelahirkan.

Seperti alergi lainnya, kondisi ini juga dapat berkembang mulai usia dewasa dan dapat berkurang atau menghilang secara alami dari waktu ke waktu.

Kondisi ini cukup jarang terjadi, sehingga sering disalah artikan sebagai vaginitis (radang vagina), infeksi jamur, atau infeksi menular seksual (IMS), seperti herpes.

Alergi sperma membuat frustrasi banyak pasangan dan dapat membuat hubungan antar pasangan menjadi rumit dan tegang.

Ini juga tentu dapat menyebabkan masalah untuk pasangan yang sedang ingin memiliki momongan.

Baca Juga: Mengenal Rhinitis Alergi, Peradangan di Rongga Hidung Akibat Alergi

Penyebab Alergi Sperma

Bolehkah Konsumsi Tempe Saat Sedang Promil? 3
Foto: Bolehkah Konsumsi Tempe Saat Sedang Promil? 3

Foto: Orami Photo Stock

Adapun penyebab alergi sperma yang paling umum adalah alergi terhadap kandungan protein yang terdapat dalam cairan sperma.

Selain itu, dilansir dari Dermnetnz.org, penyebab lainnya dari alergi ini, yaitu:

Pernah menjalani prosedur pada alat reproduksi

Seperti pernah menjalani tindakan histerektomi, penyisipan alat kontrasepsi, operasi pada prostat, tubektomi atau ligasi tuba, dan pembalikan vasektomi.

Adanya perubahan hormon yang terjadi pada tubuh

Jika pada wanita, perubahan hormon akan terjadi ketika sedang berada pada masa kehamilan, dan menopause.

Riwayat keluarga

Alergi pada sperma juga dapat disebabkan karena adanya riwayat keluarga lain yang juga mengalaminya.

Baca Juga: Bisakah Perempuan dengan Alergi Sperma Hamil?

Gejala Alergi Cairan Sperma

alergi cairan semen
Foto: alergi cairan semen

Foto: remediesexchange.com

Wanita yang memiliki alergi sperma biasanya akan mulai menunjukkan gejala dalam waktu 30 menit setelah terkena air mani pasangannya.

Bahkan terkadang reaksinya bisa langsung terjadi dalam lima menit saja.

Adapun tanda-tanda atau gejala alergi terhadap sperma, meliputi:

  • Adanya kemerahan, rasa terbakar, gatal, dan bengkak pada bagian tubuh atau kulit yang bersentuhan langsung dengan air mani.
  • Timbulnya gatal-gatal di seluruh tubuh, termasuk bagian kulit yang bahkan tidak bersentuhan dengan air mani.
  • Mengalami kesulitan bernapas.
  • Terjadi anafilaksis, ditandai dengan pembengkakan, mual muntah, hingga kesulitan bernapas pada kasus yang parah.

Baca Juga: Bisakah Perempuan dengan Alergi Sperma Hamil?

Alergi Sperma VS Fertilitas

alergi cairan semen
Foto: alergi cairan semen

Foto: healthline.com

Alergi cairan sperma merupakan salah satu hal yang cukup ditakuti oleh para penderitanya yang ingin memiliki keturunan.

Alergi tersebut dapat menimbulkan gejala-gejala yang sangat mengganggu bagi penderitanya, seperti gatal yang luar biasa, rasa terbakar, dan sejumlah gejala lainnya.

Memang alergi ini tidak secara langsung menyebabkan infertilitas.

Tapi karena penggunaan kontrasepsi untuk mencegah reaksi alergi saat berhubungan seksual, dapat membuat sulit terjadinya kehamilan.

Karena itu, meskipun dapat menjadi faktor menurunkan peluang kehamilan, alergi cairan sperma tidak memengaruhi kesuburan pada wanita.

Sehingga, Moms yang mengalami kondisi ini dapat tetap memiliki keturunan.

Untuk dapat melakukan program hamil meski memiliki alergi sperma, Moms dapat melakukan konsultasi ke dokter terkait kondisi tersebut.

Ini perlu dilakukan agar mendapatkan perawatan yang tepat.

Biasanya serangkaian tes akan dilakukan untuk memastikan keakuratan alergi terhadap sperma.

Setelah itu, Moms akan diberi pengobatan, hingga tips-tips yang dapat dilakukan ketika berhubungan dengan pasangan.

Baca Juga: Makan Kacang saat Hamil, Benarkah Bikin Anak Jadi Alergi?

Cara Mengatasi Alergi Sperma

Vagina Terasa Gatal? Mungkin Moms Mengalami Ini! 1.jpg
Foto: Vagina Terasa Gatal? Mungkin Moms Mengalami Ini! 1.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Terdapat berbagai cara dalam menangani alergi sperma tanpa harus berhenti berhubungan intim dengan pasangan.

Dilansir dari Whattoexpect.com, cara menangani alergi ini, yaitu:

1. Menghindari Kontak Langsung dengan Cairan Sperma

Sama seperti alergi lainnya, metode paling mudah untuk mencegah timbulnya reaksi alergi adalah dengan menghindari kontak dengan zat yang memicu gejala alergi tersebut.

Moms dapat melakukannya dengan cara menggunakan pengaman, atau menggunakan kondom setiap kali berhubungan intim dengan pasangan.

2. Melakukan Intravaginal Tantangan Bertingkat (Graded Challenge)

Intravaginal Graded Challenge merupakan suatu prosedur di mana ahli kesehatan akan memasukkan sperma encer pasangan sang pasien ke dalam vagina secara berkala atau bertahap.

Hal tersebut dilakukan kurang lebih setiap 15 - 20 menit selama 2 - 3 jam.

Setelah melakukan metode tersebut, pastikan agar rutin melakukan hubungan intim.

Lakukan sekitar 2 atau 3 kali selama seminggu, untuk mencegah sistem tubuh agar tidak menjadi lebih sensitif seperti sebelumnya.

Metode tersebut dianggap dapat membuat pasien dapat menoleransi cairan sperma tanpa memicu timbulnya reaksi alergi.

3. Mengonsumsi Antihistamin Sebelum Berhubungan Intim

Antihistamin yang dikonsumsi secara oral dapat mencegah gejala reaksi alergi yang berlebihan pada tubuh.

Meskipun begitu, obat-obatan antihistamin memiliki efek negatif pada ovulasi.

Sehingga mengonsumsi obat-obatan histamin bukan pilihan yang tepat untuk Moms dan Dads yang sedang merencanakan program kehamilan.

Selain tiga hal di atas, tentunya dokter juga mengetahui pilihan pengobatan terbaik berdasarkan tingkat keparahan gejala.

Terlepas dari pilihan pengobatan yang Moms pilih, dokter biasanya akan merekomendasikan untuk memakai injeksi otomatis epinefrin.

Ini berguna untuk mengatasi reaksi yang dapat mengancam jiwa seperti anafilaksis.

Baca Juga: Benarkah Seks Tiap Hari Bikin Sperma Lebih Sehat?

Diagnosis Alergi Sperma

Begini peluang hamil pasangan dengan diagnosis unexplained infertility 02.jpg
Foto: Begini peluang hamil pasangan dengan diagnosis unexplained infertility 02.jpg (family-inc.com)

Foto: Orami Photo Stock

Adapun cara mendiagnosis yang dilakukan oleh ahli kesehatan, meliputi:

  • Pemeriksaan pada vagina
  • Tes darah
  • Pengambilan sampel swab vagina
  • Melakukan tes serologis, atau tes skin prick, menggunakan protein yang berada pada cairan sperma.pasangan penderita.

Tes tusuk kulit menggunakan sampel cairan protein dari sperma pasangan yang telah didiamkan di dalam suhu ruangan selama 30 menit.

Setelah itu dilakukan sentrifugasi guna memisahkan spermatozoa dari cairan mani.

Sampel cairan tersebut akan disuntikkan ke kulit pasien yang dianggap memiliki alergi sperma, jika setelah disuntikkan timbul bentol atau ruam merah pada kulit, maka hal tersebut menunjukkan adanya alergi terhadap cairan tersebut.

Baca Juga: 7Jenis Alergi Langka di Dunia, Ada yang Alergi Sinar Matahari!

Setelah mengetahui penjelasan mengenai alergi pada sperma, jika Moms mengalami gejalanya, segera konsultasi ke dokter ya, Moms!

  • https://www.whattoexpect.com/getting-pregnant/prepping-for-pregnancy/sperm-semen-allergy-fertility/
  • https://www.issm.info/sexual-health-qa/what-is-a-sperm-allergy/#:~:text=Sperm%20allergy%2C%20sometimes%20called%20semen,sensation%20in%20the%20vaginal%20area.
  • https://www.news-medical.net/health/Semen-Allergy.aspx
  • https://dermnetnz.org/topics/semen-contact-allergy
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/326377#in-females
  • https://www.jaci-inpractice.org/article/S2213-2198(20)30468-2/fulltext

Konten di bawah ini disajikan oleh advertiser.
Tim Redaksi Orami tidak terlibat dalam materi konten ini.


FOLLOW US

facebook
twitter
instagram
spotify
tiktok

Orami Articles — Artikel Seputar Parenting, Kesehatan,
Gaya Hidup dan Hiburan

Copyright © 2024 Orami. All rights reserved.