ADVERTISEMENT

PARENTING
23 Juli 2022

Tahapan Pendidikan Seksual untuk Anak Usia Dini hingga Memasuki Masa Pubertas

Pendidikan seks bisa dikenalkan secara bertahap pada anak sesuai usianya
Artikel ditulis oleh Nurul Aulia Ahmad
Disunting oleh Aprillia

Dalam hal memberikan pendidikan seksual untuk anak, biasanya orang tua suka bingung harus mulai dari mana.

Ini terlepas apa yang harus dikatakan dan kapan harus mulai menjelaskan hal ini pada Si Kecil.

Untuk itu, mari ketahui bersama mengapa pendidikan seksual penting untuk anak dan bagaimana cara melakukannya, Moms!

Baca Juga: 6 Kelainan Seksual yang Mungkin Belum Kita Tahu

Pentingnya Pendidikan Seksual pada Anak

Sebenarnya, pendidikan seksual tidak bisa dilakukan dalam satu kali pembicaraan besar saja, Moms.

Zaman sekarang, pendidikan seksual harus diberikan melalui percakapan-percakapan kecil, sering, dan berulang-ulang.

ADVERTISEMENT

Dilansir dari Planned Parenthood penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang melakukan percakapan teratur, dinilai memiliki pemikiran terbuka terkait kesehatan seksual.

Ini berlaku percakapan dengan orang tua atau pengasuh pribadinya.

Lantas, apa fungsinya mengajarkan pendidikan seksual pada anak? Berikut 6 alasan yang bisa jadi pertimbangan.

1 . Anak Mendapat Bimbingan Tepat Sesuai Usianya

ADVERTISEMENT

Foto: Anak Akan Mengetahui Seks dengan Sendirinya

Foto: mendidik anak tentang seks (Orami Photo Stocks)

Mengajarkan pendidikan seksual untuk anak di keluarga akan lebih baik didiskusikan secara langsung dibanding jika Si Kecil mencarinya di internet dan mendapatkan sumber yang tidak jelas.

Informasi yang didapat bisa saja salah, tidak akurat, atau tidak sesuai porsi usianya.

Lewat internet, anak pun tidak mendapatkan bimbingan yang tepat sehingga bisa saja salah mengartikan informasi ya

Hal ini tentu tidak baik bagi dirinya sendiri, bahkan mungkin orang lain.

2. Orang Tua Jadi Lebih Mengenal Anaknya

Foto: Orang Tua Lebih Mengenal Anaknya

Foto: kedekatan ibu dan anak (Orami Photo Stocks)

Hubungan orang tua dan anak yang terjalin selama bertahun-tahun tentu membuat Moms dan Si Kecil jadi saling mengenal.

Orang tua yang punya komunikasi baik dengan anak, biasanya lebih mudah membicarakan hal apapun dan terbuka satu sama lain.

Sejumlah ahli menyebutkan anak-anak yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya, cenderung akan berpikir berkali-kali untuk melakukan hubungan seksual saat remaja nanti.

ADVERTISEMENT

Scroll untuk melanjutkan

3. Orang Tua Dapat Memberi Perlindungan pada Anak

Foto: Memberi Perlindungan pada Anak

Foto: anak-anak (Orami Photo Stocks)

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bila sebagian besar anak mengetahui informasi seputar seks melalui foto atau gambar di berbagai media yang diaksesnya.

Hal penting yang perlu orang tua tahu ialah dengan mengajarkan pendidikan seksual pada anak, bukan berarti menjerumuskannya pada pergaulan bebas.

Anak dengan pendidikan seksual yang memadai akan lebih bertanggung jawab dalam menjaga tubuhnya.

Untuk itu, menyampaikan pendidikan seksual untuk anak sangatlah penting. Ini perlu dilakukan walaupun terasa sulit dan sungkan dalam proses menjelaskannya.

Baca Juga: 5+ Prinsip dan Ciri Sekolah Ramah Anak, Moms Wajib Tahu!

ADVERTISEMENT

4. Anak Belajar Konsep "Persetujuan" Terhadap Tubuhnya

Foto: Anak Belajar "Persetujuan" Terhadap Tubuhnya

Foto: mengajari anak pendidikan seks (Orami Photo Stocks)

Pembelajaran tentang consent atau persetujuan terhadap tubuh juga sangat penting diajarkan, lho, Moms.

Jangan harap hal penting seperti ini akan didapatkan Si Kecil dari luar keluarga, sekalipun sudah mendapatkan pendidikan seks di sekolah.

Mengajarkan pendidikan personal seperti ini butuh komunikasi intens dua arah dan rutin antara orang tua dengan anak.

5. Menanamkan Nilai Keluarga

Foto: Menanamkan Nilai Keluarga (pashabelman.com)

Foto: menanamkan nilai keluarga (Orami Photo Stocks)

ADVERTISEMENT

Mengajarkan pendidikan seks untuk anak juga dapat orang tua manfaatkan sebagai komunikasi untuk menanamkan nilai keluarga.

Contohnya, orang tua dapat menjelaskan bahwa hubungan seksual hanya dilakukan untuk orang dewasa yang sudah siap menikah dan punya tanggung jawab besar.

Beri arahan bahwa dalam melakukan hubungan seks di luar nikah akan ada risiko yang menanti.

6. Anak dapat Menerima Perubahan

Foto: Anak dapat Menerima Perubahan

Foto: anak-anak bermain bersama (freepik.com/master1305)

Memberi anak pendidikan mengenai hal-hal seksual dapat membuat mereka lebih memahami dan menerima perubahan fisik dan emosional yang terjadi nantinya.

Sebab, banyak anak ketika mendekati masa pubertas merasa takut dengan perubahan yang terjadi pada tubuh mereka.

ADVERTISEMENT

Jika anak-anak tahu bahwa pubertas akan terjadi pada tubuh dan perasaan, maka mereka mungkina dapat lebih mudah menerima perubahan yang terjadi.

Mereka dapat menerimanya sebagai fakta kehidupan dan tidak takut atau menolak perubahan.

7. Mengurangi Terjadinya Pelecehan Seksual

Foto: Mengurangi Terjadinya Pelecehan Seksual

Foto: ilustrasi pelecehan pada anak (freepik.com/rawpixel-com)

Anak yang telah belajar pendidikan tentang seksual cenderung tidak terlalu rentan terhadap eksploitasi atau pelecehan seksual.

Sebab, salah satu faktor anak dapat menjadi target bagi pelaku pelecehan seksual adalah anak yang tidak tahu bagaimana menjaga diri mereka.

Tahapan Pendidikan Seksual Sesuai Usia Anak

Dilansir dari About Kids Health, rasa ingin tahu anak terhadap seks adalah tahapan belajar yang normal untuk mengenal tubuhnya.

Mengajarkan pendidikan seksual pada anak akan membantunya lebih mengenal kondisi, fungsi, dan harga diri tubuhnya.

Anak-anak biasanya juga akan lebih tertarik pada topik bayi dan kehamilan dibandingkan dengan cara melakukan hubungan seksual.

Lantas, seperti apa panduan mengenalkan pendidikan seksual untuk anak dari usia ke usia? Simak di bawah ini, ya.

1. Bayi (Usia 0 - 24 bulan): Kenalkan Bagian Tubuh

Foto: Bayi dan Balita (0-24 bulan)

Foto: ibu dan bayi (pixabay.com)

Berikan penjelasan tentang nama-nama bagian tubuh mereka, termasuk penis dan vagina.

Tidak masalah apabila anak mau menyentuh semua bagian tubuh mereka, biarkan mereka menyentuh vagina dan penisnya saat mandi atau mengganti popok.

Mulai tunjukkan perbedaan organ reproduksi anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki memiliki penis, anak perempuan memiliki vagina.

Mulai berbicara tentang fungsi bagian tubuh, misalnya urine keluar melalui penis atau vagina, kotoran keluar melalui anus.

Jika anak suka telanjang setiap saat, mulai kenalkan batasan-batasan tentang ketelanjangan.

Jelaskan bahwa ada waktu dan tempat untuk telanjang dan tentu saja telanjang tidak diperbolehkan di tempat umum.

2. Anak Usia Dini (2 - 5 tahun): Kenalkan Fungsi Tubuh Termasuk Organ Reproduksi dan Ajarkan Privasi

Foto: Anak Usia Dini (2-5 tahun)

Foto: anak usia dini (Orami Photo Stocks)

Beda halnya dengan mengajarkan pendidikan seksual untuk anak ketika usianya mulai 2 tahun ke atas.

Hal ini bisa dibedakan dari mengenalkan fungsi tubuh dan privasi terhadap dirinya.

Tentang Tubuh

  • Nama-nama bagian tubuh yang benar dan apa fungsinya.
  • Mengenalkan organ reproduksi perempuan dan laki-laki, yakni vagina dan penis.
  • Kenalkan Si Kecil bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki puting, bokong, hidung, tangan, dan lain-lain.

Ketahui bahwa tubuh setiap orang berbeda dan tidak masalah kalau terlihat berbeda, Moms.

Tentang Privasi

  • Beberapa bagian tubuh bersifat pribadi dan tidak untuk dilihat oleh banyak orang.
  • Ada organ tubuh yang sifatnya privasi.
  • Ajarkan pada anak untuk mengikuti adab berpakaian baik di rumah ataupun luar rumah.
  • Menghormati privasi orang lain. Misalnya jika pintu kamar mandi sedang ditutup, ketuklah dahulu kalau mau masuk.
  • Ketahui juga bahwa orang lain pun berhak memiliki privasi, seperti saat pergi ke toilet atau sedang mengganti baju.

Percakapan tentang tubuh adalah hal yang pribadi dan hanya boleh dilakukan di rumah bersama orang tua.

Kenalkan Si Kecil bahwa ia berhak mengatakan siapa yang boleh menyentuh tubuhnya.

Tidak boleh memeluk atau menyentuh orang lain apabila orang tersebut tidak menginginkannya (dan sebaliknya).

Mereka boleh menceritakan apa saja pada Moms tentang hal-hal yang membuatnya merasa buruk atau lucu.

Baca Juga: 6 Cara Bermain Rubik untuk Anak-Anak dan Manfaatnya

3. Anak Usia Menengah (5 - 8 tahun): Mulai Bicarakan Soal Pubertas

Foto: Anak Usia Menengah (5-8 tahun)

Foto: anak usia menengah (Orami Photo Stocks)

Pendidikan seksual untuk anak 5 tahun ke atas juga tak kalah penting, yakni meliputi masa pubertas.

Ketahui kalimat apa yang digunakan ketika berbicara tentang bagian tubuh (laki-laki dan perempuan).

Misalnya penis, testis, skrotum, anus, vulva, labia, vagina, klitoris uterus, dan ovarium.

Tentang Tubuh

  • Beri pengetahuan tentang organ reproduksi internal seperti uterus, ovarium, saluran tuba, uretra, kandung kemih, dan usus.
  • Tubuh memiliki beragam bentuk, ukuran, dan warna. Kita pun harus bisa saling menghargai perbedaan tersebut.
  • Baik laki-laki maupun perempuan punya bagian tubuh yang terasa nyaman saat disentuh, tetapi tidak boleh sembarang orang menyentuh bagian ini.
  • Ajari anak untuk bisa melakukan penolakan saat itu juga, seperti “Berhenti, saya tidak suka kamu melakukan itu.”

Masa Pubertas

  • Beritahu bahwa tubuh mereka akan berubah seiring bertambahnya usia.
  • Jelaskan kalau masa pubertas adalah masa perubahan fisik dan emosional, di mana mereka akan tumbuh menjadi orang dewasa.

Baca Juga: Moms, Ketahui 5 Pengaruh Gadget Terhadap Psikologi Anak

4. Anak Usia Puber (9 - 12 tahun): Mulai Jelaskan tentang Perilaku Seksual dan Proses Reproduksi

Foto: Anak Usia Puber (9-12 tahun)

Foto: anak usia puber (Orami Photo Stocks)

Nah, menginjak usianya lebih matang yakni mendekati pubertas, pendidikan seksual untuk anak ini sedikit lebih rumit.

Hal-hal mengenai hubungan seksual, di mana bayi bisa terbentuk ketika sperma bertemu telur perlu mulai dijelaskan.

Moms bisa menjelaskan bahwa orang yang sudah menikah memang berhubungan seksual dan hal itu normal.

Bahkan, terkadang orang dewasa memberikan pelukan dan ciuman untuk menunjukkan kasih sayang.

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui, antara lain:

Masa Pubertas

  • Berhubungan seks adalah aktivitas bagi orang dewasa atau yang sudah menikah, bukan untuk anak remaja.
  • Jelaskan tentang perubahan fisik, sosial, dan emosional yang akan dialami.
  • Anak perempuan perlu tahu dan bersiap untuk haid pertama mereka.
  • Anak laki-laki perlu tahu tentang ejakulasi dan mimpi basah.
  • Jelaskan bahwa kesuburan terjadi begitu anak perempuan mengalami menstruasi dan ketika anak laki-laki memproduksi sperma.

Perilaku Seksual

  • Jelaskan tentang penyakit menular seksual.
  • Informasi dasar tentang kehamilan, aborsi, dan cara mencegah kehamilan.
  • Nilai-nilai yang ditanamkan orang tua tentang cinta, pacaran, kontrasepsi, kapan anak diperbolehkan aktif secara seksual.
  • Begitu pubertas dimulai, anak akan mulai tertarik pada lawan jenis dan punya fantasi seksual.
  • Beritahu bahwa seksualitas itu sangat dilebih-lebihkan dalam pornografi.

Beberapa anak ingin tahu tentang seks dan beberapa tidak. Tentu, kedua hal ini normal.

Saat pubertas dimulai, perlahan-lahan anak akan berpikir tentang seks sebagai sesuatu yang ingin dilakukan suatu hari nanti.

Untuk itu, mulailah percakapan tentang seks dengan anak Moms, beritahu bahwa mereka bisa menanyakan apapun yang ada dalam benaknya.

Baca Juga: 3 Tips Penting Memilih Bra untuk Anak Perempuan yang Baru Puber

Moms, itulah panduan mengenalkan pendidikan seksual untuk anak.

Jadi, tidak ada yang namanya terlalu dini atau terlamat untuk mulai biacara dengan anak tentang pendidikan seksual, Moms.

Mudah-mudahan panduan di atas cukup membantu Moms dan Dads di rumah untuk bisa perlahan-lahan membuka pembicaraan tentang edukasi seks, ya.

  • https://www.plannedparenthood.org/learn/parents/tips-talking
  • https://www.aboutkidshealth.ca/Article?contentid=718&language=English
  • https://sexedrescue.com/advantages-of-sex-education/

Sebelumnya

30+ Kata-kata Ibu untuk Anak Laki-lakinya Tersayang yang Mengandung Nasihat Kehidupan
Orami • 23 Jul 2022

Selanjutnya

Kekerasan pada Anak: Tanda, Jenis, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Dresyamaya Fiona • 23 Jul 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT